Sekolah di AS Tingkatkan Keamanan Pasca Pembunuhan Massal

Sekolah di AS Tingkatkan Keamanan Pasca Pembunuhan Massal

Sekolah di AS Tingkatkan Keamanan Pasca Pembunuhan Massal
Sekolah di AS Tingkatkan Keamanan Pasca Pembunuhan Massal

Sekolah-sekolah di Amerika bekerja sama dengan polisi dan konselor psikologis

untuk meningkatkan keamanan dan mengatasi ketakutan siswa.
MIAMI — Pengelola sekolah di seluruh Amerika telah bertekad menambah patroli polisi, mengkaji ulang rencana keamanan dan membuat konselor panduan tersedia di distrik mereka saat para siswa kembali ke sekolah Senin (17/12) menyusul pembunuhan massal di Sekolah Dasar Sandy Hook di Newtown, Connecticut.

Meski demikian, sulit bagi para orangtua untuk tidak khawatir dan gelisah karena berita pembunuhan yang menewaskan 20 anak-anak dan 6 orang dewasa tersebut.

“Di depan anak-anak, kita harus berpura-pura baik-baik saja. Namun ini sangat menakutkan,” ujar seorang ibu bernama Jessica Kornfeld dari Pinecrest, Florida.
Para guru merasakan kekhawatiran yang sama dan mempersiapkan diri untuk menghadapi Senin.

“Senin akan menjadi hari yang sulit. Ini seperti tragedi 9/11 untuk para guru,” ujar Richard Cantlupe, guru sejarah Amerika di Sekolah Menengah Pertama Westglades di Parkland, Florida.

Cantlupe mengatakan ia akan memberitahu muridnya bahwa tugasnya yang pertama adalah untuk membuat mereka selamat, dan seperti juga para guru di Connecticut, ia akan melakukan apapun untuk memastikan siswa jauh dari bahaya. Ia juga mulai mengajar mengenai Konstitusi dan bersiap menghadapi pertanyaan mengenai Amandemen Kedua yang menyebutkan hak memiliki senjata.

“Topik ini akan membawa pada kontroversi pengaturan senjata,” ujarnya.

 

Dalam upaya meyakinkan murid akan keselamatan mereka dan menenangkan kekhawatiran orangtua, distrik sekolah di seluruh Amerika telah meminta polisi untuk meningkatkan patroli dan mengirim pesan pada orangtua untuk menekankan bahwa ada mekanisme keselamatan di sekolah yang secara rutin dikaji dan dilatih.

Di Virginia utara, sekitar Fairfax County Public Schools, sistem sekolah terbesar di daerah Washington dengan 181.000 siswa, akan disediakan penambahan patroli polisi dan konselor.

Selain keselamatan siswa, para pengelola sekolah juga khawatir dengan dampak psikologis akibat penembakan tersebut. Dennis Carlson, pengawas distrik sekolah Anoka-Hennepin di Minnesota, mengatakan konsultan kesehatan jiwa akan bertemu dengan para pejabat sekolah Senin, dan akan ada tiga staff yang masing-masing ditempatkan untuk sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas.

Di Tucson, Arizona, tempat seorang pria bersenjata pada 2011

membunuh enam orang dan melukai 12 lainnya, termasuk senator Gabrielle Giffords, distrik sekolah terbesar meningkatkan keamanan menyusul penembakan di Connecticut pada Jumat.

Sementara itu, di rumah-rumah, banyak orangtua yang mencoba sebisa mungkin meredakan ketakutan anak-anaknya sambil mengatasi kekhawatiran mereka sendiri. Konferd mengatakan ia mengantar anak-anaknya ke sekolah pada akhir pekan untuk memperlihatkan bahwa situasi masih aman dan tidak ada yang berubah.

 

Baca Juga :

 

 

Kelompok Guardian Angels di AS Bantu Polisi Jaga Keamanan

Kelompok Guardian Angels di AS Bantu Polisi Jaga Keamanan

Kelompok Guardian Angels di AS Bantu Polisi Jaga Keamanan
Kelompok Guardian Angels di AS Bantu Polisi Jaga Keamanan

Sejak tahun 1979 kelompok Guardian Angels di Amerika aktif membantu polisi menjaga keamanan dan bahkan menangkap mereka yang melanggar hukum.
LaWanda White ikut aktif dalam organisasi Guardian Angels atau kelompok penjaga keamanan. Organisasi nirlaba itu didirikan sejak tahun 1979. Anggotanya adalah sukarelawan yang perduli terhadap keamanan dan ketertiban lingkungan tempat tinggal mereka.

“Hai, saya LaWanda White, Guardian Angels kawasan Washington, DC. Umur 22 tahun.

Kami akan berpatroli jalan kaki hari ini untuk menjaga komunitas kami dan memastikan daerah ini bebas kejahatan,” ujarnya.

LaWanda menjelaskan, para anggota yang bergabung dalam organisasi Guardian Angels sepenuhnya adalah sukarelawan. Mereka meluangkan waktunya dari kehidupan yang sangat sibuk untuk berpatroli keamanan.

Menurut White, ia selalu mendengar tanggapan positif tentang kontribusi Guardian Angels bagi komunitas,

terutama dalam memerangi kriminalitas seperti, copet, perkelahian, mabuk di muka umum dan sebagainya.

Sebagai sukarelawan yang ikut menjaga keamanan, White diberi pelatihan bela diri karena mereka tidak membawa senjata.White menuturkan, “Kami tidak membawa senjata, namun kami dilatih seni bela diri. Kami juga bekerja sama dengan kepolisian Metropolitan DC. Saya ingin keluarga saya merasa bangga. Saya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa saya punya keberanian untuk memberantas kejahatan di komunitas kami.”

Dari pengalamannya sebagai anggota Guardian Angels, White ingin terus memberi sumbangan

kepada komunitas, seperti menjaga keamanan dan memerangi kejahatan. Ia pun bercita-cita menjadi polisi dalam lima tahun mendatang. Apalagi, lingkungan tempat tinggalnya merupakan kawasan yang termasuk memiliki tingkat kejahatan tinggi.

 

Sumber :

https://www.edocr.com/v/rypqab5o/ojelhtcmandiri/Review-Text

Remaja di AS Kerjakan PR dengan Telepon Pintar

Remaja di AS Kerjakan PR dengan Telepon Pintar

Remaja di AS Kerjakan PR dengan Telepon Pintar
Remaja di AS Kerjakan PR dengan Telepon Pintar

Remaja AS menggunakan telepon pintar untuk mengerjakan pekerjaan rumah, salah satunya karena membantu memahami matematika dan sains lebih baik.
Sebuah survei yang hasilnya dirilis Rabu (28/11) menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga anak pra-remaja dan remaja di Amerika Serikat menggunakan telepon pintar untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya, dan siswa Hispanik menggunakannya lebih sering dibandingkan kawan-kawan mereka yang kulit hitam atau kulit putih.

“Murid-murid sekolah menengah pertama menggunakan perangkat bergerak lebih dari untuk hiburan semata,” ujar Kristi Sarmiento, direktur riset pada firma riset TRU. “Mereka tumbuh dengan teknologi ini.”

Telepon pintar digunakan di rumah untuk mengerjakan tugas sekolah oleh 39

persen remaja berusia 11-14 tahun, 31 persen responden mengatakan mengerjakan tugas pada tablet sementara 65 persen menggunakan laptop, menurut survei oleh TRU.

TRU sendiri memiliki spesialisasi data untuk pra-remaja, remaja dan mereka yang berusia 20an. Firma ini dimiliki oleh WPP Plc, kelompok perusahaan iklan terbesar di dunia.

Namun penggunaan alat-alat ini lebih rendah di sekolah, dengan 31 persen siswa mengatakan menggunakan laptop, 18 persen bekerja dengan tablet dan 6 persen memakai telepon pintar.

Jajak pendapat Internet nasional terhadap 1.000 siswa menunjukkan bahwa penggunaan telepon pintar meningkat sesuai umur, naik dari 42 persen untuk siswa kelas enam sampai 57 persen untuk siswa kelas delapan.

Tidak semua sekolah di AS mengijinkan siswa menggunakan perangkat bergerak ini,

namun di sekolah yang memperbolehkan, lebih dari tiga perempat murid megnatakan sekolah menyediakan laptop dan 55 persen menggunakan tablet dari sekolah.

Telepon pintar digunakan oleh 49 persen remaja Hispanik yang disurvei, 42 persen kelompok Afrika Amerika dan 36 persen kulit putih. Sementara itu tablet dipakai oleh 38 persen Hispanik, 30 persen Afrika Amerika dan 31 persen kulit putih.

Laptop digunakan oleh 68 persen Hispanik, 64 persen Afrika Amerika dan 62 persen kulit putih.

Sarmiento mengatakan para responden dalam jajak pendapat, yang disponsori

oleh Yayasan Verizon, badan amal perusahaan telekomunikasi Verizon Communications yang mendukung riset penggunaan teknologi ini, berkata mereka senang menggunakan perangkat bergerak ini, karena membantu mereka memahami matematika dan sains lebih baik

 

Sumber :

https://crooksandliars.com/user/danuaji88

Sejarah Singkat Musik Dangdut

Sejarah Singkat Musik Dangdut

Sejarah Singkat Musik Dangdut
Sejarah Singkat Musik Dangdut

Sejarah Singkat Musik Dangdut

Dangdut merupakan salah satu dari genre seni musik yang berkembang di Indonesia artis. Bentuk musik dangdut ini berakar dari musik Melayu pada tahun 1940-an. Dalam evolusi menuju bentuk kontemporer sekarang masuk pengaruh unsur-unsur musik India (terutama dari penggunaan tabla) dan Arab (pada cengkok dan harmonisasi).


Perubahan arus politik Indonesia di akhir tahun 1960-an

membuka masuknya pengaruh musik barat yang kuat pada dangdut indonesia termasuk dengan masuknya penggunaan gitar listrik dan juga bentuk pemasarannya. Sejak tahun 1970-an kumpulan artis dangdut boleh dikatakan telah matang dalam bentuknya yang kontemporer. Sebagai musik populer, penyanyi dangdut dan artis dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, gambus, rock, pop, bahkan house music

 

Penyebutan nama “dangdut” merupakan

onomatope dari suara permainan tabla (dalam dunia dangdut disebut gendang saja) yang khas dan didominasi oleh bunyi dang dan ndut. Nama ini sebetulnya adalah sebutan sinis dalam sebuah artikel majalah awal 1970-an bagi bentuk musik melayu yang sangat populer di kalangan masyarakat kelas pekerja saat itu. Hingga saat ini juga sudah banyak management artis dan untuk lagu dangdut di Indonesia

Baca Juga : 

Sejarah Kalender Jawa

Sejarah Kalender Jawa

Sejarah Kalender Jawa
Sejarah Kalender Jawa

Kalender Jawa adalah

sebuah kalender yang istimewa karena merupakan perpaduan antara budaya Islam, budaya Hindu-Buddha Jawa dan bahkan juga sedikit budaya Barat. Dalam sistem kalender Jawa, siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang, dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran. Pada tahun 1625 Masehi, Sultan Agung yang berusaha keras menyebarkan agama Islam di pulau Jawa dalam kerangka negara Mataram mengeluarkan dekrit untuk mengubah penanggalan Saka. Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender kamariah atau lunar, namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan. Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan. Sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka, diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.


Dekrit Sultan Agung berlaku di seluruh wilayah kerajaan Mataram II:

seluruh pulau Jawa dan Madura kecuali Banten, Batavia dan Banyuwangi (=Balambangan). Ketiga daerah terakhir ini tidak termasuk wilayah kekuasaan Sultan Agung. Pulau Bali dan Palembang yang mendapatkan pengaruh budaya Jawa, juga tidak ikut mengambil alih kalender karangan Sultan Agung ini

 

Orang Jawa pada masa pra Islam

mengenal pekan yang lamanya tidak hanya tujuh hari saja, namun dari 2 sampai 10 hari. Pekan-pekan ini disebut dengan nama-nama dwiwara, triwara, caturwara, pañcawara (pancawara), sadwara, saptawara, astawara dan sangawara. Zaman sekarang hanya pekan yang terdiri atas lima hari dan tujuh hari saja yang dipakai, namun di pulau Bali dan di Tengger, pekan-pekan yang lain ini masih dipakai.Pekan yang terdiri atas lima hari ini disebut sebagai pasar oleh orang Jawa.

Nama-nama hari:
1. Legi
2. Paing
3. Pon
4. Wage
5. Kliwon

Nama-nama bulan
1. Sura/suro
2. Sapar
3. Mulud
4. Bakda Mulud
5. Jumadi Awal
6. Jumadi Akhir
7. Rejeb
8. Ruwah
9. Pasa/poso
10. Sawal
11. Sela/selo
12. Besar

Sumber : https://www.okeynotes.com/blogs/212521/21234/cara-memilih-jam-tangan-pria-yang-bagus-dan-berkualitas

Sejarah Karet Alam Abad 19

Sejarah Karet Alam Abad 19

Sejarah Karet Alam Abad 19
Sejarah Karet Alam Abad 19

Pemanfaatan karet sebagai bahan baku Industri

semakin meluas di dunia didukung dengan hasil penelitian yang inovatif kala itu sehingga permintaan karet melonjak maka usaha budidaya karet diluar Amazon mulai digalakkan.

Karet yang digunakan oleh bangsa Eropa kala itu, seluruhnya didatangkan dari Brazil dalam bentuk koagulum karet sehingga pemanfaatnya dalam industri juga masih terbatas. Titik terang industri karet di eropa mulai tampak berkat penemuan Charles Manchintos di tahun 1818 bahwa coal tar naphta limbah dari pengolahan batu bara dapat dimanfaatkan sebagai pelarut karet yang efektif dan ekonomis. Dengan penemuannya, Manchintos mampu membuat jas hujan dengan melapisi permukaan lembaran karet dengan coal tar naptha kemudian merekatkan kedua permukaan karet yang telah terlapisi tadi. Manchintos kemudian mematenkan teknik pembuatan jas hujan ini pada tahun 1823.

Pada awalnya, penanaman Hevea di Indonesia kurang mendapat respon positif karena masyarakat telah lebih dahulu mengenal pohon lokal yang juga menghasilkan getah yaitu Fiscus elastica. Pohon berdaun lebar dan bersinar ini merupakan pohon favorit masyarakat Belanda. Selain itu juga pemerintah Belanda lebih menyukai menanam pohon karet jenis Manihot glaziovii yang tumbuh dengan baik di propinsi dengan iklim kering di Brasil yaitu Ceara dan Castiloa elastica yang aslinya berasal dari Mexico dengan anggapan bahwa pohon karet Hevea hanya mampu tumbuh didaerah dengan kelembaban tinggi. Tahun 1889, Pemerintah Belanda membuka perkebunan karet di daerah Pamanukan dan Ciasemlanden, Jawa Barat dengan karet yang ditanam jenis Fiscus elastica. Perkebunan ini dianggap sebagai perkebunan karet tertua di dunia. Hasil dari perkebunan kurang memuaskan karena produktivitas lateks rendah dan tanaman mudah terserang hama dan penyakit.

 

Pemerintah Belanda terus mengadakan perbaikan

mereka mulai mencari daerah di Indonesia yang cocok untuk ditanami karet jenis Hevea. Penamanan karet hevea komersial di Indonesia diawali pada tahun 1902 di Sumatera dan dilanjutkan di Jawa pada tahun 1906.

Karet yang digunakan oleh bangsa Eropa kala itu, seluruhnya didatangkan dari Brazil dalam bentuk koagulum karet sehingga pemanfaatnya dalam industri juga masih terbatas. Titik terang industri karet di eropa mulai tampak berkat penemuan Charles Manchintos di tahun 1818 bahwa coal tar naphta limbah dari pengolahan batu bara dapat dimanfaatkan sebagai pelarut karet yang efektif dan ekonomis. Dengan penemuannya, Manchintos mampu membuat jas hujan dengan melapisi permukaan lembaran karet dengan coal tar naptha kemudian merekatkan kedua permukaan karet yang telah terlapisi tadi. Manchintos kemudian mematenkan teknik pembuatan jas hujan ini pada tahun 1823.

Industrialis Inggris lainnya, Thomas Hancock menyadari kesulitan melarutkan karet dalam pelarut tertentu. Oleh karena itu beliau memikirkan cara lain dalam memproses karet yang jauh lebih mudah daripada dengan melarutkannya yaitu dengan melunakkan karet. Teknik ini dikenal dengan mastikasi dengan melewatkan karet pada roll silinder yang berputar pada arah dan kecepatan berlawanan. Alat mastikasi dinamakan mastikator. Pada tahun 1837, Hancock memantenkan mastikator.

Penemuan Hancock mengilhami industrialis di belahan benua lain dalam mengembangkan proses pengolahan karet, misalnya E.M. Chaffee dari Roxburg Rubber Company di Amerika Serikat yang mematenkan teknik calendering di tahun 1836 dan H. Bewley mematenkan ekstruder unuk gutta percha tahun 1845. Kembali ke Inggris, Hancock menyatakan tertarik dengan usaha yang dijalankan Manchintos, keduanya mengumumkan bekerja sama memproduksi Macintosh coats atau Mackintoshes.

 

Umumnya barang jadi karet termasuk jas hujan produksi perusahaan Hancock dan Manchintos

belum mampu memenuhi kepuasan konsumen karena mengeras di musim dingin dan melembek saat terkena suhu tinggi. Charles Goodyear melihat penonema ini sebagai peluang untuk membawa perubahan di industri karet. Goodyear terus melakukan penelitian agar dapat merubah sifat plastis karet. Pada tahun 1839, di laboratorium miliknya secara tidak sengaja Goodyear menumpahkan sulfur pada karet yang berada di dekat perapian dan pada keesokan harinya Goodyear menemukan bahwa karet berubah menjadi elastis. Goodyear menyadari jika sulfur dan panas dapat merubah sifat karet. Goodyear kemudian menamakan temuannya dengan vulkanisasi.

Selain penemuan Hancock dengan mastikasinya dan vulkanisasi oleh Goodyear, masih banyak hasil penemuan tentang teknologi pengolahan karet antara lain ditemukannya accelerator yang mempersingkat waktu vulkanisasi oleh Hofmann dan Goltop, Alexander Parkes menemukan teknik cold vulcanization yang menggunakan larutan sulfur klorida di dalam karbon disulfida, disusul oleh S.J. Peachey pada tahun 1918 menemkan cara vulkanisasi menggunakan sulfur aktif. Kemudian W. Oswald menemukan bahan pencegah degradasi pada barang jadi karet yaitu anilin dan bahan aromatis lainnya. Dan terakhir penggunaan carbon black dalam industri karet yang dapat meningkatkan sifat mekanik barang jadi karet. Hasil penelitian-penelitian tersebut menjadi pelopor perkembangan modernisasi dalam industri karet di dunia sehingga menyebabkan pemanfaatan karet di industri semakin luas antara lain sebagai ban, selang dan peralatan kedokteran.

Hal ini turut berimbas terhadap naiknya permintaan karet alam yang tidak dapat dipenuhi oleh Brazil sebagai satu-satunya produsen karet alam di dunia pada abad ke-19. Hancock yang mampu membaca situasi krisis karet ini mulai mempelopori penanaman karet Hevea brasilinsies. Pada tahun 1835, Hancock mendekati Direktur Botanical Garden Kew London, Sir William Hooker dan menasehatinya untuk turut membantu mengenalkan dan mulai menanam pohon karet Hevea di wilayah kolonial Inggris yang berada Asia. Namun ide ini kurang direspon oleh Sir William Hooker.

Beberapa tahun kemudian kesadaran untuk mulai membudidayakan pohon karet, diawali oleh Sir Clements Markham, pegawai pemerintahan Inggris di India. Beliau kemudian meminta James Collin yang telah terlebih dahulu mempelajari karet untuk mengerjakan proyek penanaman tersebut. Hasil studi Collin dipublikasikan tahun 1872 dan menjadi perhatian Direktur Kew Botanic Garden yang baru, Sir Joseph Hooker, putra dari Sir William Hooker. Selanjutnya Joseph Hooker berkerja sama dengan James Collin dalam usaha membudidayakan karet. Joseph Hooker membeli sekitar 2000 biji karet dari Farris atas permintaan Collin. Biji karet tersebut dicoba dikecambahkan namun pada akhirnya hanya 12 biji yang berhasil tumbuh hingga menjadi tanaman karet baru.

 

Ketertarikan untuk membudidayakan karet muncul dari bangsawan Inggris lainnya

Sir Henry Wickman yang menjelajahi hutan Amazon untuk mengumpulkan biji karet dan pada akhirnya berhasil membawa sekitar 70.000 biji karet ke Inggris tahun 1876. Biji karet Wickman kemudian dikecambahkan di Kew Botanical Garden namun hanya sekitar 2000 biji saja yang mampu berkecambah. Usaha budidaya karet juga terus dilakukan oleh Sir Clements Markham, beliau mengutus Robert Cross ke Amazon untuk mengumpulkan biji karet seperti yang dilakukan oleh Sir Wickman. Cross kembali ke Inggris dan berhasil membawa 1080 biji namun hanya 3% saja yang mampu bertahan selama perjalanan dari Brazil ke Inggris tanpa menjadi busuk.

Seratus buah biji karet Wickman yang berhasil tumbuh menjadi bibit perkecambahan kemudian dikirim ke Ceylon (sekarang Sri Langka) dari Kew Botanical Garden pada bulan September 1876. Selanjutnya di bulan Juni 1877, Kew Botanical Garden kembali mendistribusikan 22 tanaman karet dengan tujuan Singapore Botanical Garden. Tanaman karet tersebut diterima oleh Henry Ridley selaku Direktur Singapore Botanical Garden yang selanjutnya dijuluki ”mad Ridley” karena kegigihannya dalam membudidayakan tanaman karet di tanah Malaya. Henry Ridley menanam 75% dari tanaman itu di Residency Garden di Kuala Kangsar kemudian di tahun 1884, Frank Swettenham menanam 400 bijih di Perak dimana bijih ini merupakan hasil pohon karet yang ditanam di kuala kangsar dan selanjutnya antara tahun 1883 – 1885 ditanam di Selangor oleh T. H. Hill. Ridley juga mengenalkan teknik eksploitasi getah karet dengan penyadapan tanpa menebang pohon karetnya

Di tahun 1876 Kew Botanical Garden juga mengirimkan 18 buah biji karet ke pemerintahan kolonial India Belanda (sekarang Indonesia) namun demikian hanya dua buah biji yang berhasil tetap segar selama diperjalanan. Dua biji ini kemudian ditanam di Cultuurtuin Bogor sebagai koleksi dan menjadi pohon karet tertua di Indonesia.

Sumber : https://www.okeynotes.com/blogs/212521/21233/fungsi-sitoplasma

Sosialisasi Sistem Zonasi Sekolah PPDB Minim

Sosialisasi Sistem Zonasi Sekolah PPDB Minim

Sosialisasi Sistem Zonasi Sekolah PPDB Minim
Sosialisasi Sistem Zonasi Sekolah PPDB Minim

Sosialisasi penerapan sistem zonasi sekolah pada Penerimaan Peserta Didik Baru

(PPDB) dinilai kurang. Sehingga, masih banyak masyarakat terutama wali murid yang belum memahaminya.

Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Krisnadwipayana, Abdullah Sumrahadi menilai sistem zonasi sekolah PPDB itu membuahkan hasil.

“Tetapi dari situ memunculkam ekses yang kedua, kenapa itu seolah-olah dipaksakan,” ujar Abdullah dalam diskusi bertajuk Sistem Zonasi Sekolah Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), Polemik dan Kebermanfaatannya di Gado-gado Boplo, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (21/6/2019).

Baca Juga:

DPR Kritisi Praktik Manipulasi Domisili Demi Zonasi PPDB

634 PAUD di Daerah 3T Difasilitasi Media Audio Pembelajaran

Dia melanjutkan, sistem zonasi sekolah itu juga seolah tidak dikonsep dengan matang. “Di situ sebenarnya kita bisa melihat bahwa mungkin pada tahap sosialisasi atau pada tahap penelitian dan pengembangan suatu kebijakan itu tidak banyak orang yang tahu,” jelasnya.

Abdullah juga berpendapat perlu adanya integrasi sistem kebijakan dari sekolah dasar

yang dikelola pemerintah daerah. Sehingga, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pun dikritisinya terkait zonasi PPDB tersebut.

“Maka Kemendikbud ini sedari awal harusnya sudah memotret potensi-potensi bagaimana keintegrasian ini bisa disesuaikan. Nah ini yang menimbulkan kemudian polemik direkrutmen calon murid baru di sekolah-sekolah,” pungkasnya.
(kri)

 

Baca Juga :

 

 

Perkuat Jaringan, Alumni UNS Akan Kumpul Bareng di Hotel Sahid

Perkuat Jaringan, Alumni UNS Akan Kumpul Bareng di Hotel Sahid

Perkuat Jaringan, Alumni UNS Akan Kumpul Bareng di Hotel Sahid
Perkuat Jaringan, Alumni UNS Akan Kumpul Bareng di Hotel Sahid

Untuk memperkuat tali silaturahmi dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki para alumninya,

Ikatan Alumni Universitas Sebelas Maret (IKA UNS) akan menggelar kegiatan halal bihalal alumni UNS di Grand Ballroom Hotel Sahid, Jakarta, Minggu 23 Juni 2019 pukul 10.00-14.00 WIB.

Ketua Umum Pusat IKA UNS, Budi Harto mengharapkan semua alumni UNS dari berbagai angkatan hadir untuk bernostalgia, menyambung silaturahmi dan memperkuat jejaring sesama alumni UNS.

“Kami bangga banyak alumni UNS yang menempati posisi strategis di berbagai instansi pemerintah, swasta maupun sektor usaha. Kami yakin alumi UNS yang mencapai puluhan ribu orang ini memiliki banyak potensi untuk berkontribusi lebih besarbagi Indonesia,” kata Budi Harto di Jakarta, Rabu (19/6/2019).

Baca Juga:

DPR Kritisi Praktik Manipulasi Domisili Demi Zonasi PPDB

634 PAUD di Daerah 3T Difasilitasi Media Audio Pembelajaran

Budi menuturkan, UNS yang melewati usia lebih dari empat windu telah berhasil melahirkan ribuan alumni yang sukses di berbagai profesi. Hal ini menjadi salah satu indikasi kemampuan dan kapasitas alumni UNS memiliki daya saing dan kompetensi sangat baik.

“Saya sangat berharap teman-teman alumni, baik yang sepuh maupun yang baru lulus bisa rawuh di acara ini. Kita perkuat ikatan ini agar peran UNS semakin kokoh,” kata Budi.

Ketua Panitia Halal Bihalal IKA UNS Lasarus Bambang mengatakan,

sampai saat ini banyak rekan alumni dari berbagai angkatan siap untuk hadir dan temu kangen. Kegiatan Halal Bihalal tahun ini mengambil tema UNS Maju Untuk Persatuan Indonesia.

“Momentum Idul Fitri 1440 H ini bisa menjadi obat rindu dengan konco-konco lawas (teman-teman lama). Ayo nikmati lagi suasana dan masakan-masakan khas kota Solo yang dulu mungkin tak terbeli,” kata Lasarus, alumni Fakultas Teknik Sipil UNS angkatan 1990 yang kini berkarier di salah satu BUMN kontruksi.

 

Sumber :

https://www.deviantart.com/gimadelija/journal/Your-High-School-Diploma-Online-804324339

19 Peserta dari Negara Anggota Colombo Plan Ditatar Soal Iklim

19 Peserta dari Negara Anggota Colombo Plan Ditatar Soal Iklim

19 Peserta dari Negara Anggota Colombo Plan Ditatar Soal Iklim
19 Peserta dari Negara Anggota Colombo Plan Ditatar Soal Iklim

Sebanyak 19 orang peserta dari negara-negara yang tergabung dalam Colombo Plan

mengikuti pelatihan untuk menjadi pelatih tentang Sekolah Lapangan Iklim.

Program Kerja Sama Teknik Selatan-Selatan dan Triangular (KTSST) itu diselenggarakan Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg), dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Sekretariat Colombo Plan.

“Total peserta 19 orang, dari Laos, Myanmar, Indonesia sebagai tuan rumah, Papua Nugini, dan Srilangka,” tutur Kepala Bagian Kerja Sama Teknik Selatan Selatan dan Triangular pada Kemensetneg, Ricky Syailendra kepada SINDOnews usai acara pembukaan di Hotel Grand Mercure, Harmoni, Jakarta Pusat, Senin (17/6/2019).

Baca Juga:

634 PAUD di Daerah 3T Difasilitasi Media Audio Pembelajaran

Pelajar Indonesia Raih 14 Medali di Genius Olympiad Amerika

Dia mengatakan, program itu bagian dari kerja sama Teknik Selatan-Selatan dan Triangular yang dilaksanakan Pemerintah Indonesia.

“Program ini berupaya memberikan pengetahuan bagi para tenaga dari negara-negara Colombo plan mengenai iklim, dan juga mengenai cuaca, yang berguna bagi misalnya program pertanian, dan juga program infrastruktur, lingkungan hidup, kehutanan dan lain-lain,” katanya.

ADVERTISEMENT

Sekadar informasi, Colombo Plan adalah organisasi internasional yang berangotakan

25 negara berkembang dan negara maju yaitu, Afghanistan, Australia, Bangladesh, Bhutan, Fiji, India, Indonesia, Iran, Jepang, Korea Selatan, Laos, Malaysia, Maladewa, Mongolia, Myanmar, Nepal, Selandia Baru, Pakistan, Papua New Guinea, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Thailand, Amerika Serikat dan Vietnam.

Keberadaan organisasi ini untuk memperkuat pembangunan ekonomi dan sosial negara-negara anggotanya di wilayah Asia-Pasifik.

 

Sumber :

https://rahulraheja.atavist.com/school-education-completion-broadening-opportunities

Pengaruh Kebijakan Politik yang ditempuh Sultan Agung

Pengaruh Kebijakan Politik yang ditempuh Sultan Agung

Mataram di era Sultan Agung berkuasa sanggup mewujudkan suatu kemaharajaan. Mataram tumbuh jadi suatu kebolehan yang besar di tanah Jawa, disamping Banten dan Batavia. Sebagai hasil ekspansi yang dilaksanakan sejak Panembahan Senopati hingga jatuhnya Surabaya pada era Sultan Agung, lokasi Mataram sudah makin tambah berlipat ganda (Sartono Kartodirdjo, 1987: 148).

Pada awal berdirinya kerajaan Mataram, penguasa Mataram belum laksanakan politik ekspansi. Raja pada saat itu belum membawa kekuasaan yang besar dan luas layaknya semasa Sultan Agung. Karena tetap mencari wujud kekuasaan yang cocok. Hal itu kudu dilaksanakan mengingat nenek moyang raja Mataram yaitu Ki Ageng Pemanahan sebatas petani. Tentang asal dinasti Mataram sebagai keluarga petani diketahui berasal dari sumber berikut:”….Raja Mataram iku tak umpamaake tebu, pucuke maneh yen legiya, sanajan bongkote ing biyen yo adem bae, dikarenakan raja trahing wong tetanen, angur macula wae bari angon sapi” (G, Moedjanto, 1987: 19).

Kata-kata itu diucapkan oleh Trunajaya di dalam sebuah pertemuan melewan Mangkurat II raja Mataram. Dari kata-kata selanjutnya tersirat bahwa raja Mataram sebatas keturunan rakyat jelata (petani).
Setelah Senopati berkuasa, Mataram berdiri jadi kerajaan dan berkembang pesat. Usaha memperluas lokasi terasa dilakukan. Pada th. 1588 sanggup menaklukkan Panaraga. Madiun takluk pada th. 1590, menyerang Jipan dan Pasuruan di th. 1591. Usaha memperluas kerajaan Mataram selanjutnya sesuai bersama dengan rencana keagunganbinataraan yang kudu wiyar jajahanipun yang dimaksudnya kudu luas dan banyak tempat yang dibawahnya (Gray. Brotoningrat, 1992: 35).

Politik ekspansi Mataram meraih puncaknya pada era Sultan Agung. Pada masanya lokasi Mataram bertambah. Kekuasaan Mataram meraih nyaris seluruh Pulau Jawa. Surabaya merupakan tempat terakhir yang sukses dikuasai oleh Sultan Agung. Mataram tidak segera menyerang Surabaya tetapi berupaya mematahkan energi tahan kota itu bersama dengan perampasan dan perusakan daerah-daerah sekelilingnya yang dilaksanakan bertahun-tahun secara teratur. Dengan siasat itu Surabaya sanggup ditaklukkan (H. J. De Graaf, 1986: 96).
Keberhasilan penaklukkan dilaksanakan Sultan Agung ini tidak lepas berasal dari kekuasaan atas militer. Kekuasaan yang dimilikinya memberi komando di bidang kemiliteran juga memerintah untuk berperang. Penerapan kekuasaan raja atas militer sanggup diperjelas sebagai berikut:

Raja memerintahkan untuk menyerang orang-orang Pajang dan mengangkut mereka sebagai budak. Siapa yang menentang (melawan) dapat dibunuh. Dalam penyerangan selanjutnya Adipati Jayaraga, Tumenggung Tambak Baya dan Adipati Pajang melarikan diri (H. J. De Graaf, 1986: 45). Pajang terserang dikarenakan Tumenggung Tambak Baya tidak senang menyerahkan keduanya kepada raja bahkan menentang Sultan Agung.
Raja memerintahkan Tumenggung Surantani untuk menaklukan Lumajang, Pemalang dan Renong ( Sugiarta, Sriwibawa, 1983: 10).
Sebagai pemegang kekuasaan atas militer Sultan Agung sekali saat memimpin sendiri tentara Mataram. Hal ini ditunjukkan ketika menyerang Wirasaba. Dengan memimpin segera pasukan menimbulkan motivasi kepada tentara Mataram. (Sugiarta Sriwabawa, 1983: 14).
Penaklukkan Pasuruan pada th. 1617. Tumenggung Martalaya diperintahkan oleh raja untuk menaklukkan Pasuruan, untuk itu raja memerintahkan pasukan untuk berkemah di sebelah selatan kota, tetapi Martalaya diperintahkan berkemah di sebelah tenggara. Hal ini perlihatkan bahwa komando senantiasa tetap dipegang oleh Sultan Agung (H. J. de Graaf, 1986: 42).
Raja membawa wewenang untuk memerintah rakyatnya yang bertani kecuali di dalam keadaan darura dimobilisasi jadi tentara. Tentara ini tidak dibayar, seluruh dibaktikan sukarela kepada raja (H. J. de Graaf, 1986: 128).

Tindakan-tindakan raja bersama dengan perintah-perintahnya perlihatkan bahwa raja adalah pemegang otoritas tertinggi di bidang militer. Tidak ada kata tidak untuk perintah raja. Semua perintah kudu ditaati dan dipatuhi. Hal ini tidak dirasakan sebagai tindakan sewenang-wenang tetapi merupakan bakti rakyat kepada negara. Namun bukan artinya tindakan berasal dari Sultan Agung itu tanpa tantangan. Tahun 1617 rentetan kemenangan yang dialami oleh Mataram terputus bersama dengan adanya pemberontakan Pajang (Sudibjo, 1980: 152).

Berdasarkan pengalaman itu sehingga kedudukan raja jadi kuat dan tidak terancam maka orang-orang yang tidak sepaham disingkirkan. Disingkirkan artinya dibuang atau dilenyapkan (dibunuh) dan ini dilaksanakan sendiri, bisa saja sehingga tidak berkembang jadi ancaman yang lebih besar. Dengn bermacam langkah dan usaha, penyingkiran orang yang tidak sepaham terkesan senantiasa dibenarkan. Hal ini dikarenakan orang yang tidak sepaham dikategorikan sebagai pemberontak dan kudu dilenyapkan. Tindakan ini dilaksanakan dihadapan umum untuk jadi pelajaran bagi orang yang lain sehingga jangan sekali-kali untuk menentang raja. Penyingkiran orang yang dilaksanakan oleh Sultan Agung terlebih adalah pangeran Pekik yaitu Adipati Surabaya (G. Moedjanto, 1987: 87).

Perkembangan kerajaan pada era Sultan Agung membawa pada sebuah keadaan di mana Mataram tumbuh jadi salah satu kerajaan terbesar di tanah Jawa. Keadaan berubah setelah kehadiran VOC sebagai persekutuan dagang Belanda yang punya niat menguasai seluruh Jawa dan sekitarnya. Tahun 1916 Pulau Jawa jadi pusat perdagangan berasal dari VOC (Sutrisno Kutoyo, 1986: 51).

Selanjutnya Sultan Agung bersama dengan tegas menolak kerjasama bersama dengan VOC yang dinilai membahayakan Mataram. Sultan Agung pun punya niat untuk mengusir VOC berasal dari Batavia. Hubungan VOC dan Mataram tidak layaknya awal kehadiran Belanda di Jawa. Penghinaan yang dilaksanakan orang-orang Jan Pieter Zoon Coen dan pemerkosaan pada warga pribumi Islam makin menambah kemantapan Sultan Agung untuk menyerang Belanda (Suratmin, 1990: 33).

Koordinasi pasukan segera dilaksanakan Sultan Agung gunakan para wiratani untuk dilatih jadi prajurit. Untuk tingkat desa sedikitnya kudu berstatus prajurit, kepala desa sebagai pemimpin prajurit sehingga disebut paratus artinya pemimpin seratus prajurit. Sedangkan untuk tempat setingkat Kecamatan kudu membawa seribu prajurit dan pemimpinnya disebut penewu. Pembinaan militer dilaksanakan bersama dengan latihan perang yang dilaksanakan di alun-alun tiap satu minggu sekali (Pranata SSP, 1992: 17).

Para wiratani senang meninggalkan sawah untuk jadi prajurit sebagai wujud loyalitas kepada raja. Apalagi keadaan kerajaan terasa terancam oleh bangsa lain. Persediaan dan perbekalan disiapkan diberbagai tempat yang dapat dilalui pasukan Mataram layaknya Kendal, Pekalongan, Tegal, Cirebon, dan Krawang. Jawa lantas disatukan dibawah komando Mataram untuk menyerang Batavia ( Suratmin, 1990: 72).

Tahap pertama penyerangan dilaksanakan pada tanggal 22 Agustus 1628 bersama dengan 59 kapal yang menyamar dan sudah terkoordinasi dan seluruh dipersiapkan bersama dengan matang. Namun serangan pertama sanggup digagalkan oleh Belanda. Sultan Agung belum menyerah, ia lantas laksanakan persiapan untuk serangan kedua, tanggal 16 April 1629 Mataram lagi menyerang Batavia. Kali ini bersama dengan kebolehan yang lebih besar dan dibangun pos-pos untuk perbekalan disetiap kota. Namun serangan yang ke-2 ini juga mengalami kegagalan. Hal itu dikarenakan pos perbekalan pasukan Mataram dibakar habis oleh Belanda (H. J. de Graaf, 1986: 156).

Kegagalan yang dialami Sultan Agung di dalam menyerang Batavia ini membuat Mataram kehilangan banyak prajurit. Sebagian besar mereka tewas di dalam perjalanan pulang dan lebih dari satu lagi tewas dikarenakan mendapat hukuman sesampainya di Mataram. Banyak pasukan yang tewas menjadikan Mataram melemah dan memerlukan banyak saat untuk konsolidasi pasukan (Hussein Jajadiningrat, 1983: 72).

Dampak lain berasal dari kegagalan menyerang Batavia adalah turunnya kewibawaan berasal dari kerajaan Mataram. Sebagian berasal dari tempat tidak lagi yakin pada kesaktian Sultan Agung. Beberapa tempat tidak setia lagi kepada Mataram dan laksanakan pemberontakan yaitu Sumedang dan Ukur. Ketidaksetiaan mereka sudah dinilai sejak pengepungan Batavia. Hal ini dijadikan alasan Sultan Agung untuk mengirimkan pasukan untuk menyerang Sumedang dan Ukur (Mc. Ricklefs, 2002: 71).

Tetapi lepas berasal dari perihal itu keberhasilan Sultan Agung duduki Jawa dan kekelahan berasal dari VOC, beliau merupakan seorang raja yang sanggup membawa kejayaan Mataram berasal dari aspek politis. Berbagai kebijakan yang dilaksanakan sudah membawa Mataram jadi kerajaan yang disegani dan kuat.

Sumber : https://www.kumpulansurat.co.id/

Baca Juga :