Sejarah Singkat Musik Dangdut

Sejarah Singkat Musik Dangdut

Sejarah Singkat Musik Dangdut
Sejarah Singkat Musik Dangdut

Sejarah Singkat Musik Dangdut

Dangdut merupakan salah satu dari genre seni musik yang berkembang di Indonesia artis. Bentuk musik dangdut ini berakar dari musik Melayu pada tahun 1940-an. Dalam evolusi menuju bentuk kontemporer sekarang masuk pengaruh unsur-unsur musik India (terutama dari penggunaan tabla) dan Arab (pada cengkok dan harmonisasi).


Perubahan arus politik Indonesia di akhir tahun 1960-an

membuka masuknya pengaruh musik barat yang kuat pada dangdut indonesia termasuk dengan masuknya penggunaan gitar listrik dan juga bentuk pemasarannya. Sejak tahun 1970-an kumpulan artis dangdut boleh dikatakan telah matang dalam bentuknya yang kontemporer. Sebagai musik populer, penyanyi dangdut dan artis dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, gambus, rock, pop, bahkan house music

 

Penyebutan nama “dangdut” merupakan

onomatope dari suara permainan tabla (dalam dunia dangdut disebut gendang saja) yang khas dan didominasi oleh bunyi dang dan ndut. Nama ini sebetulnya adalah sebutan sinis dalam sebuah artikel majalah awal 1970-an bagi bentuk musik melayu yang sangat populer di kalangan masyarakat kelas pekerja saat itu. Hingga saat ini juga sudah banyak management artis dan untuk lagu dangdut di Indonesia

Baca Juga : 

Sejarah Kalender Jawa

Sejarah Kalender Jawa

Sejarah Kalender Jawa
Sejarah Kalender Jawa

Kalender Jawa adalah

sebuah kalender yang istimewa karena merupakan perpaduan antara budaya Islam, budaya Hindu-Buddha Jawa dan bahkan juga sedikit budaya Barat. Dalam sistem kalender Jawa, siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang, dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran. Pada tahun 1625 Masehi, Sultan Agung yang berusaha keras menyebarkan agama Islam di pulau Jawa dalam kerangka negara Mataram mengeluarkan dekrit untuk mengubah penanggalan Saka. Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender kamariah atau lunar, namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan. Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan. Sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka, diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.


Dekrit Sultan Agung berlaku di seluruh wilayah kerajaan Mataram II:

seluruh pulau Jawa dan Madura kecuali Banten, Batavia dan Banyuwangi (=Balambangan). Ketiga daerah terakhir ini tidak termasuk wilayah kekuasaan Sultan Agung. Pulau Bali dan Palembang yang mendapatkan pengaruh budaya Jawa, juga tidak ikut mengambil alih kalender karangan Sultan Agung ini

 

Orang Jawa pada masa pra Islam

mengenal pekan yang lamanya tidak hanya tujuh hari saja, namun dari 2 sampai 10 hari. Pekan-pekan ini disebut dengan nama-nama dwiwara, triwara, caturwara, pañcawara (pancawara), sadwara, saptawara, astawara dan sangawara. Zaman sekarang hanya pekan yang terdiri atas lima hari dan tujuh hari saja yang dipakai, namun di pulau Bali dan di Tengger, pekan-pekan yang lain ini masih dipakai.Pekan yang terdiri atas lima hari ini disebut sebagai pasar oleh orang Jawa.

Nama-nama hari:
1. Legi
2. Paing
3. Pon
4. Wage
5. Kliwon

Nama-nama bulan
1. Sura/suro
2. Sapar
3. Mulud
4. Bakda Mulud
5. Jumadi Awal
6. Jumadi Akhir
7. Rejeb
8. Ruwah
9. Pasa/poso
10. Sawal
11. Sela/selo
12. Besar

Sumber : https://www.okeynotes.com/blogs/212521/21234/cara-memilih-jam-tangan-pria-yang-bagus-dan-berkualitas

Sejarah Karet Alam Abad 19

Sejarah Karet Alam Abad 19

Sejarah Karet Alam Abad 19
Sejarah Karet Alam Abad 19

Pemanfaatan karet sebagai bahan baku Industri

semakin meluas di dunia didukung dengan hasil penelitian yang inovatif kala itu sehingga permintaan karet melonjak maka usaha budidaya karet diluar Amazon mulai digalakkan.

Karet yang digunakan oleh bangsa Eropa kala itu, seluruhnya didatangkan dari Brazil dalam bentuk koagulum karet sehingga pemanfaatnya dalam industri juga masih terbatas. Titik terang industri karet di eropa mulai tampak berkat penemuan Charles Manchintos di tahun 1818 bahwa coal tar naphta limbah dari pengolahan batu bara dapat dimanfaatkan sebagai pelarut karet yang efektif dan ekonomis. Dengan penemuannya, Manchintos mampu membuat jas hujan dengan melapisi permukaan lembaran karet dengan coal tar naptha kemudian merekatkan kedua permukaan karet yang telah terlapisi tadi. Manchintos kemudian mematenkan teknik pembuatan jas hujan ini pada tahun 1823.

Pada awalnya, penanaman Hevea di Indonesia kurang mendapat respon positif karena masyarakat telah lebih dahulu mengenal pohon lokal yang juga menghasilkan getah yaitu Fiscus elastica. Pohon berdaun lebar dan bersinar ini merupakan pohon favorit masyarakat Belanda. Selain itu juga pemerintah Belanda lebih menyukai menanam pohon karet jenis Manihot glaziovii yang tumbuh dengan baik di propinsi dengan iklim kering di Brasil yaitu Ceara dan Castiloa elastica yang aslinya berasal dari Mexico dengan anggapan bahwa pohon karet Hevea hanya mampu tumbuh didaerah dengan kelembaban tinggi. Tahun 1889, Pemerintah Belanda membuka perkebunan karet di daerah Pamanukan dan Ciasemlanden, Jawa Barat dengan karet yang ditanam jenis Fiscus elastica. Perkebunan ini dianggap sebagai perkebunan karet tertua di dunia. Hasil dari perkebunan kurang memuaskan karena produktivitas lateks rendah dan tanaman mudah terserang hama dan penyakit.

 

Pemerintah Belanda terus mengadakan perbaikan

mereka mulai mencari daerah di Indonesia yang cocok untuk ditanami karet jenis Hevea. Penamanan karet hevea komersial di Indonesia diawali pada tahun 1902 di Sumatera dan dilanjutkan di Jawa pada tahun 1906.

Karet yang digunakan oleh bangsa Eropa kala itu, seluruhnya didatangkan dari Brazil dalam bentuk koagulum karet sehingga pemanfaatnya dalam industri juga masih terbatas. Titik terang industri karet di eropa mulai tampak berkat penemuan Charles Manchintos di tahun 1818 bahwa coal tar naphta limbah dari pengolahan batu bara dapat dimanfaatkan sebagai pelarut karet yang efektif dan ekonomis. Dengan penemuannya, Manchintos mampu membuat jas hujan dengan melapisi permukaan lembaran karet dengan coal tar naptha kemudian merekatkan kedua permukaan karet yang telah terlapisi tadi. Manchintos kemudian mematenkan teknik pembuatan jas hujan ini pada tahun 1823.

Industrialis Inggris lainnya, Thomas Hancock menyadari kesulitan melarutkan karet dalam pelarut tertentu. Oleh karena itu beliau memikirkan cara lain dalam memproses karet yang jauh lebih mudah daripada dengan melarutkannya yaitu dengan melunakkan karet. Teknik ini dikenal dengan mastikasi dengan melewatkan karet pada roll silinder yang berputar pada arah dan kecepatan berlawanan. Alat mastikasi dinamakan mastikator. Pada tahun 1837, Hancock memantenkan mastikator.

Penemuan Hancock mengilhami industrialis di belahan benua lain dalam mengembangkan proses pengolahan karet, misalnya E.M. Chaffee dari Roxburg Rubber Company di Amerika Serikat yang mematenkan teknik calendering di tahun 1836 dan H. Bewley mematenkan ekstruder unuk gutta percha tahun 1845. Kembali ke Inggris, Hancock menyatakan tertarik dengan usaha yang dijalankan Manchintos, keduanya mengumumkan bekerja sama memproduksi Macintosh coats atau Mackintoshes.

 

Umumnya barang jadi karet termasuk jas hujan produksi perusahaan Hancock dan Manchintos

belum mampu memenuhi kepuasan konsumen karena mengeras di musim dingin dan melembek saat terkena suhu tinggi. Charles Goodyear melihat penonema ini sebagai peluang untuk membawa perubahan di industri karet. Goodyear terus melakukan penelitian agar dapat merubah sifat plastis karet. Pada tahun 1839, di laboratorium miliknya secara tidak sengaja Goodyear menumpahkan sulfur pada karet yang berada di dekat perapian dan pada keesokan harinya Goodyear menemukan bahwa karet berubah menjadi elastis. Goodyear menyadari jika sulfur dan panas dapat merubah sifat karet. Goodyear kemudian menamakan temuannya dengan vulkanisasi.

Selain penemuan Hancock dengan mastikasinya dan vulkanisasi oleh Goodyear, masih banyak hasil penemuan tentang teknologi pengolahan karet antara lain ditemukannya accelerator yang mempersingkat waktu vulkanisasi oleh Hofmann dan Goltop, Alexander Parkes menemukan teknik cold vulcanization yang menggunakan larutan sulfur klorida di dalam karbon disulfida, disusul oleh S.J. Peachey pada tahun 1918 menemkan cara vulkanisasi menggunakan sulfur aktif. Kemudian W. Oswald menemukan bahan pencegah degradasi pada barang jadi karet yaitu anilin dan bahan aromatis lainnya. Dan terakhir penggunaan carbon black dalam industri karet yang dapat meningkatkan sifat mekanik barang jadi karet. Hasil penelitian-penelitian tersebut menjadi pelopor perkembangan modernisasi dalam industri karet di dunia sehingga menyebabkan pemanfaatan karet di industri semakin luas antara lain sebagai ban, selang dan peralatan kedokteran.

Hal ini turut berimbas terhadap naiknya permintaan karet alam yang tidak dapat dipenuhi oleh Brazil sebagai satu-satunya produsen karet alam di dunia pada abad ke-19. Hancock yang mampu membaca situasi krisis karet ini mulai mempelopori penanaman karet Hevea brasilinsies. Pada tahun 1835, Hancock mendekati Direktur Botanical Garden Kew London, Sir William Hooker dan menasehatinya untuk turut membantu mengenalkan dan mulai menanam pohon karet Hevea di wilayah kolonial Inggris yang berada Asia. Namun ide ini kurang direspon oleh Sir William Hooker.

Beberapa tahun kemudian kesadaran untuk mulai membudidayakan pohon karet, diawali oleh Sir Clements Markham, pegawai pemerintahan Inggris di India. Beliau kemudian meminta James Collin yang telah terlebih dahulu mempelajari karet untuk mengerjakan proyek penanaman tersebut. Hasil studi Collin dipublikasikan tahun 1872 dan menjadi perhatian Direktur Kew Botanic Garden yang baru, Sir Joseph Hooker, putra dari Sir William Hooker. Selanjutnya Joseph Hooker berkerja sama dengan James Collin dalam usaha membudidayakan karet. Joseph Hooker membeli sekitar 2000 biji karet dari Farris atas permintaan Collin. Biji karet tersebut dicoba dikecambahkan namun pada akhirnya hanya 12 biji yang berhasil tumbuh hingga menjadi tanaman karet baru.

 

Ketertarikan untuk membudidayakan karet muncul dari bangsawan Inggris lainnya

Sir Henry Wickman yang menjelajahi hutan Amazon untuk mengumpulkan biji karet dan pada akhirnya berhasil membawa sekitar 70.000 biji karet ke Inggris tahun 1876. Biji karet Wickman kemudian dikecambahkan di Kew Botanical Garden namun hanya sekitar 2000 biji saja yang mampu berkecambah. Usaha budidaya karet juga terus dilakukan oleh Sir Clements Markham, beliau mengutus Robert Cross ke Amazon untuk mengumpulkan biji karet seperti yang dilakukan oleh Sir Wickman. Cross kembali ke Inggris dan berhasil membawa 1080 biji namun hanya 3% saja yang mampu bertahan selama perjalanan dari Brazil ke Inggris tanpa menjadi busuk.

Seratus buah biji karet Wickman yang berhasil tumbuh menjadi bibit perkecambahan kemudian dikirim ke Ceylon (sekarang Sri Langka) dari Kew Botanical Garden pada bulan September 1876. Selanjutnya di bulan Juni 1877, Kew Botanical Garden kembali mendistribusikan 22 tanaman karet dengan tujuan Singapore Botanical Garden. Tanaman karet tersebut diterima oleh Henry Ridley selaku Direktur Singapore Botanical Garden yang selanjutnya dijuluki ”mad Ridley” karena kegigihannya dalam membudidayakan tanaman karet di tanah Malaya. Henry Ridley menanam 75% dari tanaman itu di Residency Garden di Kuala Kangsar kemudian di tahun 1884, Frank Swettenham menanam 400 bijih di Perak dimana bijih ini merupakan hasil pohon karet yang ditanam di kuala kangsar dan selanjutnya antara tahun 1883 – 1885 ditanam di Selangor oleh T. H. Hill. Ridley juga mengenalkan teknik eksploitasi getah karet dengan penyadapan tanpa menebang pohon karetnya

Di tahun 1876 Kew Botanical Garden juga mengirimkan 18 buah biji karet ke pemerintahan kolonial India Belanda (sekarang Indonesia) namun demikian hanya dua buah biji yang berhasil tetap segar selama diperjalanan. Dua biji ini kemudian ditanam di Cultuurtuin Bogor sebagai koleksi dan menjadi pohon karet tertua di Indonesia.

Sumber : https://www.okeynotes.com/blogs/212521/21233/fungsi-sitoplasma

Sosialisasi Sistem Zonasi Sekolah PPDB Minim

Sosialisasi Sistem Zonasi Sekolah PPDB Minim

Sosialisasi Sistem Zonasi Sekolah PPDB Minim
Sosialisasi Sistem Zonasi Sekolah PPDB Minim

Sosialisasi penerapan sistem zonasi sekolah pada Penerimaan Peserta Didik Baru

(PPDB) dinilai kurang. Sehingga, masih banyak masyarakat terutama wali murid yang belum memahaminya.

Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Krisnadwipayana, Abdullah Sumrahadi menilai sistem zonasi sekolah PPDB itu membuahkan hasil.

“Tetapi dari situ memunculkam ekses yang kedua, kenapa itu seolah-olah dipaksakan,” ujar Abdullah dalam diskusi bertajuk Sistem Zonasi Sekolah Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), Polemik dan Kebermanfaatannya di Gado-gado Boplo, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (21/6/2019).

Baca Juga:

DPR Kritisi Praktik Manipulasi Domisili Demi Zonasi PPDB

634 PAUD di Daerah 3T Difasilitasi Media Audio Pembelajaran

Dia melanjutkan, sistem zonasi sekolah itu juga seolah tidak dikonsep dengan matang. “Di situ sebenarnya kita bisa melihat bahwa mungkin pada tahap sosialisasi atau pada tahap penelitian dan pengembangan suatu kebijakan itu tidak banyak orang yang tahu,” jelasnya.

Abdullah juga berpendapat perlu adanya integrasi sistem kebijakan dari sekolah dasar

yang dikelola pemerintah daerah. Sehingga, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pun dikritisinya terkait zonasi PPDB tersebut.

“Maka Kemendikbud ini sedari awal harusnya sudah memotret potensi-potensi bagaimana keintegrasian ini bisa disesuaikan. Nah ini yang menimbulkan kemudian polemik direkrutmen calon murid baru di sekolah-sekolah,” pungkasnya.
(kri)

 

Baca Juga :

 

 

Perkuat Jaringan, Alumni UNS Akan Kumpul Bareng di Hotel Sahid

Perkuat Jaringan, Alumni UNS Akan Kumpul Bareng di Hotel Sahid

Perkuat Jaringan, Alumni UNS Akan Kumpul Bareng di Hotel Sahid
Perkuat Jaringan, Alumni UNS Akan Kumpul Bareng di Hotel Sahid

Untuk memperkuat tali silaturahmi dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki para alumninya,

Ikatan Alumni Universitas Sebelas Maret (IKA UNS) akan menggelar kegiatan halal bihalal alumni UNS di Grand Ballroom Hotel Sahid, Jakarta, Minggu 23 Juni 2019 pukul 10.00-14.00 WIB.

Ketua Umum Pusat IKA UNS, Budi Harto mengharapkan semua alumni UNS dari berbagai angkatan hadir untuk bernostalgia, menyambung silaturahmi dan memperkuat jejaring sesama alumni UNS.

“Kami bangga banyak alumni UNS yang menempati posisi strategis di berbagai instansi pemerintah, swasta maupun sektor usaha. Kami yakin alumi UNS yang mencapai puluhan ribu orang ini memiliki banyak potensi untuk berkontribusi lebih besarbagi Indonesia,” kata Budi Harto di Jakarta, Rabu (19/6/2019).

Baca Juga:

DPR Kritisi Praktik Manipulasi Domisili Demi Zonasi PPDB

634 PAUD di Daerah 3T Difasilitasi Media Audio Pembelajaran

Budi menuturkan, UNS yang melewati usia lebih dari empat windu telah berhasil melahirkan ribuan alumni yang sukses di berbagai profesi. Hal ini menjadi salah satu indikasi kemampuan dan kapasitas alumni UNS memiliki daya saing dan kompetensi sangat baik.

“Saya sangat berharap teman-teman alumni, baik yang sepuh maupun yang baru lulus bisa rawuh di acara ini. Kita perkuat ikatan ini agar peran UNS semakin kokoh,” kata Budi.

Ketua Panitia Halal Bihalal IKA UNS Lasarus Bambang mengatakan,

sampai saat ini banyak rekan alumni dari berbagai angkatan siap untuk hadir dan temu kangen. Kegiatan Halal Bihalal tahun ini mengambil tema UNS Maju Untuk Persatuan Indonesia.

“Momentum Idul Fitri 1440 H ini bisa menjadi obat rindu dengan konco-konco lawas (teman-teman lama). Ayo nikmati lagi suasana dan masakan-masakan khas kota Solo yang dulu mungkin tak terbeli,” kata Lasarus, alumni Fakultas Teknik Sipil UNS angkatan 1990 yang kini berkarier di salah satu BUMN kontruksi.

 

Sumber :

https://www.deviantart.com/gimadelija/journal/Your-High-School-Diploma-Online-804324339

19 Peserta dari Negara Anggota Colombo Plan Ditatar Soal Iklim

19 Peserta dari Negara Anggota Colombo Plan Ditatar Soal Iklim

19 Peserta dari Negara Anggota Colombo Plan Ditatar Soal Iklim
19 Peserta dari Negara Anggota Colombo Plan Ditatar Soal Iklim

Sebanyak 19 orang peserta dari negara-negara yang tergabung dalam Colombo Plan

mengikuti pelatihan untuk menjadi pelatih tentang Sekolah Lapangan Iklim.

Program Kerja Sama Teknik Selatan-Selatan dan Triangular (KTSST) itu diselenggarakan Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg), dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Sekretariat Colombo Plan.

“Total peserta 19 orang, dari Laos, Myanmar, Indonesia sebagai tuan rumah, Papua Nugini, dan Srilangka,” tutur Kepala Bagian Kerja Sama Teknik Selatan Selatan dan Triangular pada Kemensetneg, Ricky Syailendra kepada SINDOnews usai acara pembukaan di Hotel Grand Mercure, Harmoni, Jakarta Pusat, Senin (17/6/2019).

Baca Juga:

634 PAUD di Daerah 3T Difasilitasi Media Audio Pembelajaran

Pelajar Indonesia Raih 14 Medali di Genius Olympiad Amerika

Dia mengatakan, program itu bagian dari kerja sama Teknik Selatan-Selatan dan Triangular yang dilaksanakan Pemerintah Indonesia.

“Program ini berupaya memberikan pengetahuan bagi para tenaga dari negara-negara Colombo plan mengenai iklim, dan juga mengenai cuaca, yang berguna bagi misalnya program pertanian, dan juga program infrastruktur, lingkungan hidup, kehutanan dan lain-lain,” katanya.

ADVERTISEMENT

Sekadar informasi, Colombo Plan adalah organisasi internasional yang berangotakan

25 negara berkembang dan negara maju yaitu, Afghanistan, Australia, Bangladesh, Bhutan, Fiji, India, Indonesia, Iran, Jepang, Korea Selatan, Laos, Malaysia, Maladewa, Mongolia, Myanmar, Nepal, Selandia Baru, Pakistan, Papua New Guinea, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Thailand, Amerika Serikat dan Vietnam.

Keberadaan organisasi ini untuk memperkuat pembangunan ekonomi dan sosial negara-negara anggotanya di wilayah Asia-Pasifik.

 

Sumber :

https://rahulraheja.atavist.com/school-education-completion-broadening-opportunities

Pengaruh Kebijakan Politik yang ditempuh Sultan Agung

Pengaruh Kebijakan Politik yang ditempuh Sultan Agung

Mataram di era Sultan Agung berkuasa sanggup mewujudkan suatu kemaharajaan. Mataram tumbuh jadi suatu kebolehan yang besar di tanah Jawa, disamping Banten dan Batavia. Sebagai hasil ekspansi yang dilaksanakan sejak Panembahan Senopati hingga jatuhnya Surabaya pada era Sultan Agung, lokasi Mataram sudah makin tambah berlipat ganda (Sartono Kartodirdjo, 1987: 148).

Pada awal berdirinya kerajaan Mataram, penguasa Mataram belum laksanakan politik ekspansi. Raja pada saat itu belum membawa kekuasaan yang besar dan luas layaknya semasa Sultan Agung. Karena tetap mencari wujud kekuasaan yang cocok. Hal itu kudu dilaksanakan mengingat nenek moyang raja Mataram yaitu Ki Ageng Pemanahan sebatas petani. Tentang asal dinasti Mataram sebagai keluarga petani diketahui berasal dari sumber berikut:”….Raja Mataram iku tak umpamaake tebu, pucuke maneh yen legiya, sanajan bongkote ing biyen yo adem bae, dikarenakan raja trahing wong tetanen, angur macula wae bari angon sapi” (G, Moedjanto, 1987: 19).

Kata-kata itu diucapkan oleh Trunajaya di dalam sebuah pertemuan melewan Mangkurat II raja Mataram. Dari kata-kata selanjutnya tersirat bahwa raja Mataram sebatas keturunan rakyat jelata (petani).
Setelah Senopati berkuasa, Mataram berdiri jadi kerajaan dan berkembang pesat. Usaha memperluas lokasi terasa dilakukan. Pada th. 1588 sanggup menaklukkan Panaraga. Madiun takluk pada th. 1590, menyerang Jipan dan Pasuruan di th. 1591. Usaha memperluas kerajaan Mataram selanjutnya sesuai bersama dengan rencana keagunganbinataraan yang kudu wiyar jajahanipun yang dimaksudnya kudu luas dan banyak tempat yang dibawahnya (Gray. Brotoningrat, 1992: 35).

Politik ekspansi Mataram meraih puncaknya pada era Sultan Agung. Pada masanya lokasi Mataram bertambah. Kekuasaan Mataram meraih nyaris seluruh Pulau Jawa. Surabaya merupakan tempat terakhir yang sukses dikuasai oleh Sultan Agung. Mataram tidak segera menyerang Surabaya tetapi berupaya mematahkan energi tahan kota itu bersama dengan perampasan dan perusakan daerah-daerah sekelilingnya yang dilaksanakan bertahun-tahun secara teratur. Dengan siasat itu Surabaya sanggup ditaklukkan (H. J. De Graaf, 1986: 96).
Keberhasilan penaklukkan dilaksanakan Sultan Agung ini tidak lepas berasal dari kekuasaan atas militer. Kekuasaan yang dimilikinya memberi komando di bidang kemiliteran juga memerintah untuk berperang. Penerapan kekuasaan raja atas militer sanggup diperjelas sebagai berikut:

Raja memerintahkan untuk menyerang orang-orang Pajang dan mengangkut mereka sebagai budak. Siapa yang menentang (melawan) dapat dibunuh. Dalam penyerangan selanjutnya Adipati Jayaraga, Tumenggung Tambak Baya dan Adipati Pajang melarikan diri (H. J. De Graaf, 1986: 45). Pajang terserang dikarenakan Tumenggung Tambak Baya tidak senang menyerahkan keduanya kepada raja bahkan menentang Sultan Agung.
Raja memerintahkan Tumenggung Surantani untuk menaklukan Lumajang, Pemalang dan Renong ( Sugiarta, Sriwibawa, 1983: 10).
Sebagai pemegang kekuasaan atas militer Sultan Agung sekali saat memimpin sendiri tentara Mataram. Hal ini ditunjukkan ketika menyerang Wirasaba. Dengan memimpin segera pasukan menimbulkan motivasi kepada tentara Mataram. (Sugiarta Sriwabawa, 1983: 14).
Penaklukkan Pasuruan pada th. 1617. Tumenggung Martalaya diperintahkan oleh raja untuk menaklukkan Pasuruan, untuk itu raja memerintahkan pasukan untuk berkemah di sebelah selatan kota, tetapi Martalaya diperintahkan berkemah di sebelah tenggara. Hal ini perlihatkan bahwa komando senantiasa tetap dipegang oleh Sultan Agung (H. J. de Graaf, 1986: 42).
Raja membawa wewenang untuk memerintah rakyatnya yang bertani kecuali di dalam keadaan darura dimobilisasi jadi tentara. Tentara ini tidak dibayar, seluruh dibaktikan sukarela kepada raja (H. J. de Graaf, 1986: 128).

Tindakan-tindakan raja bersama dengan perintah-perintahnya perlihatkan bahwa raja adalah pemegang otoritas tertinggi di bidang militer. Tidak ada kata tidak untuk perintah raja. Semua perintah kudu ditaati dan dipatuhi. Hal ini tidak dirasakan sebagai tindakan sewenang-wenang tetapi merupakan bakti rakyat kepada negara. Namun bukan artinya tindakan berasal dari Sultan Agung itu tanpa tantangan. Tahun 1617 rentetan kemenangan yang dialami oleh Mataram terputus bersama dengan adanya pemberontakan Pajang (Sudibjo, 1980: 152).

Berdasarkan pengalaman itu sehingga kedudukan raja jadi kuat dan tidak terancam maka orang-orang yang tidak sepaham disingkirkan. Disingkirkan artinya dibuang atau dilenyapkan (dibunuh) dan ini dilaksanakan sendiri, bisa saja sehingga tidak berkembang jadi ancaman yang lebih besar. Dengn bermacam langkah dan usaha, penyingkiran orang yang tidak sepaham terkesan senantiasa dibenarkan. Hal ini dikarenakan orang yang tidak sepaham dikategorikan sebagai pemberontak dan kudu dilenyapkan. Tindakan ini dilaksanakan dihadapan umum untuk jadi pelajaran bagi orang yang lain sehingga jangan sekali-kali untuk menentang raja. Penyingkiran orang yang dilaksanakan oleh Sultan Agung terlebih adalah pangeran Pekik yaitu Adipati Surabaya (G. Moedjanto, 1987: 87).

Perkembangan kerajaan pada era Sultan Agung membawa pada sebuah keadaan di mana Mataram tumbuh jadi salah satu kerajaan terbesar di tanah Jawa. Keadaan berubah setelah kehadiran VOC sebagai persekutuan dagang Belanda yang punya niat menguasai seluruh Jawa dan sekitarnya. Tahun 1916 Pulau Jawa jadi pusat perdagangan berasal dari VOC (Sutrisno Kutoyo, 1986: 51).

Selanjutnya Sultan Agung bersama dengan tegas menolak kerjasama bersama dengan VOC yang dinilai membahayakan Mataram. Sultan Agung pun punya niat untuk mengusir VOC berasal dari Batavia. Hubungan VOC dan Mataram tidak layaknya awal kehadiran Belanda di Jawa. Penghinaan yang dilaksanakan orang-orang Jan Pieter Zoon Coen dan pemerkosaan pada warga pribumi Islam makin menambah kemantapan Sultan Agung untuk menyerang Belanda (Suratmin, 1990: 33).

Koordinasi pasukan segera dilaksanakan Sultan Agung gunakan para wiratani untuk dilatih jadi prajurit. Untuk tingkat desa sedikitnya kudu berstatus prajurit, kepala desa sebagai pemimpin prajurit sehingga disebut paratus artinya pemimpin seratus prajurit. Sedangkan untuk tempat setingkat Kecamatan kudu membawa seribu prajurit dan pemimpinnya disebut penewu. Pembinaan militer dilaksanakan bersama dengan latihan perang yang dilaksanakan di alun-alun tiap satu minggu sekali (Pranata SSP, 1992: 17).

Para wiratani senang meninggalkan sawah untuk jadi prajurit sebagai wujud loyalitas kepada raja. Apalagi keadaan kerajaan terasa terancam oleh bangsa lain. Persediaan dan perbekalan disiapkan diberbagai tempat yang dapat dilalui pasukan Mataram layaknya Kendal, Pekalongan, Tegal, Cirebon, dan Krawang. Jawa lantas disatukan dibawah komando Mataram untuk menyerang Batavia ( Suratmin, 1990: 72).

Tahap pertama penyerangan dilaksanakan pada tanggal 22 Agustus 1628 bersama dengan 59 kapal yang menyamar dan sudah terkoordinasi dan seluruh dipersiapkan bersama dengan matang. Namun serangan pertama sanggup digagalkan oleh Belanda. Sultan Agung belum menyerah, ia lantas laksanakan persiapan untuk serangan kedua, tanggal 16 April 1629 Mataram lagi menyerang Batavia. Kali ini bersama dengan kebolehan yang lebih besar dan dibangun pos-pos untuk perbekalan disetiap kota. Namun serangan yang ke-2 ini juga mengalami kegagalan. Hal itu dikarenakan pos perbekalan pasukan Mataram dibakar habis oleh Belanda (H. J. de Graaf, 1986: 156).

Kegagalan yang dialami Sultan Agung di dalam menyerang Batavia ini membuat Mataram kehilangan banyak prajurit. Sebagian besar mereka tewas di dalam perjalanan pulang dan lebih dari satu lagi tewas dikarenakan mendapat hukuman sesampainya di Mataram. Banyak pasukan yang tewas menjadikan Mataram melemah dan memerlukan banyak saat untuk konsolidasi pasukan (Hussein Jajadiningrat, 1983: 72).

Dampak lain berasal dari kegagalan menyerang Batavia adalah turunnya kewibawaan berasal dari kerajaan Mataram. Sebagian berasal dari tempat tidak lagi yakin pada kesaktian Sultan Agung. Beberapa tempat tidak setia lagi kepada Mataram dan laksanakan pemberontakan yaitu Sumedang dan Ukur. Ketidaksetiaan mereka sudah dinilai sejak pengepungan Batavia. Hal ini dijadikan alasan Sultan Agung untuk mengirimkan pasukan untuk menyerang Sumedang dan Ukur (Mc. Ricklefs, 2002: 71).

Tetapi lepas berasal dari perihal itu keberhasilan Sultan Agung duduki Jawa dan kekelahan berasal dari VOC, beliau merupakan seorang raja yang sanggup membawa kejayaan Mataram berasal dari aspek politis. Berbagai kebijakan yang dilaksanakan sudah membawa Mataram jadi kerajaan yang disegani dan kuat.

Sumber : https://www.kumpulansurat.co.id/

Baca Juga :

Kemenangan Sultan Agung Atas Surabaya 1620-1625

Kemenangan Sultan Agung Atas Surabaya 1620-1625

Setelah Sultan Agung sukses menundukan Tuban, membawa dampak dorongan orang Surabaya melemah. Hal ini membawa dampak mereka tidak lagi berani menanti kedatangan raja Mataram di kota mereka. Akan tetapi perihal itu tidak terjadi lama karena ternyata Surabaya bersama ulet dan penuh keberanian mempertahankan diri. Tidak lama lantas kota berikut menyerah bukan karena kalah didalam perang, melainkan karena keletihan, tak sekedar itu tidak bisa saja melaksanakan pengepungan di kota tersebut. Kenapa tidak mungkin? Dahulu, letak Surabaya sebagian di sebuah pulau pada sungai Mas dan sungai Pegirian dan sebagian lagi disebelah baratnya. Bagian itu, tempat keraton berada yang dilindungi tembok-tembok tinggi. Selain itu juga disekitarnya dipenuhi rawa-rawa dan sama sekali tidak sehat, maka dari itu mampu dimengerti betapa sulitnya mengepung Surabaya.

Dengan kecerdikannya Sultan Agung membawa dampak kiat untuk mematahkan kekuatan tahan kota Surabaya bersama merampas dan melaksanakan perusakan daerah-daerah sekelilingnya yang dikerjakan bertahun-tahun secara teratur. Hal itu dikerjakan seandainya setelah hasil panen padi masuk, begitu musim hujan mulai, perampok-perampok pulang kembali. Raja Mataram berikut juga dulu berencana mendirikan benteng di dekat Surabaya, dan berkesinambungan mengumpulkan orang didalamnya, dan merusakkan segala-galannya di kurang lebih Surabaya. Namun tidak ada bukti-bukti berkaitan bahwa raja Mataram terlalu melaksanakan konsep tersebut. Keberhasilan raja Mataram didalam menaklukan Surabaya ialah bersama penutupan saluran air, yang merupakan kasus bagi Surabaya sampai abad ke-19, kelanjutannya mematahkan kekuatan tahan kota, karena kekurangan air membawa dampak rakyat Surabaya menderita.

Serangan pertama, 1620
Kemudian terhadap tahun 1620 nampaknya raja Mataram mengumpulkan seratus ribu orang dikotanya untuk bergerak ke Batavia dan sang raja juga ikut serta. Hal ini berdasarkan berita dari orang-orang Belanda yang ditahan di Taji (Mataram) terhadap tanggal 20 Maret 1620. Dengan pertimbangan bahwa raja Mataram marah terhadap orang-orang belanda terhadap tahun itu, belanda berfikir bahwa ada bisa saja besar bahwa Mataram bersama pasukannya yang begitu banyak bertujuan untuk menyerang Batavia yang baru saja didirikan. Tetapi sebetulnya justru tidak demikian, target Mataram adalah untuk menaklukan Surabaya baik melalui darat maupun laut.

Gubernur Jepara setelah sukses menaklukan Tuban diperintahkan raja membawa 80 Kapal ke arah Timur bersama maksud, demikianlah pendapat Coen, memusnahkan loji Belanda di Gresik. Namun seandainya dipertimbangkan bahwa ada 1000 awak kapal agak berlebihan untuk duduki loji yang tidak mencapai lima orang Belanda. Nampak menyadari sekali bahwa target armada Mataram adalah perihal yang lebih besar.

Mengenai gerakan tentara darat, Artus Gysels, yang kebetulan terhadap sementara itu tiba di Selat Madura bersama 3 kapal dari kepulauan rempah-rempah, melaporkan bahwa terhadap sementara ia didalam bulan Agustus 1630 berada di Surabaya, raja Mataram menyerang kota bersama 70.000 pasukan. Surabaya mengerahkan 30.000 pasukan yang direncanakan akan menghentikan serangan Mataram di terhadap sebuah Sungai. Namun karena munculnya Neptunes secara kebetulan lumayan mengacaukan konsep Mataram didalam melaksanakan penyerangan. Saat itu Gresik tidak diduduki, maka tidak bisa saja memberi tambahan suplai beras kepada orang-orang Mataram baik melalui laut maupun Bengawan Solo

Karena kasus suplai beras berikut membawa dampak tentara Mataram yang berjumlah besa tidak bisa saja menetap di kurang lebih Surabaya untuk jangka sementara lama. Pada tahun 1620 jadi catatan sukses bagi Mataram, yang terlalu kecil.

Serangan Kedua, 1621
Pada tahun 1621 raja Mataram nampaknya tidak mengirimkan pasukan ke Surabaya. Hal itu kemungkinanan disebabkan senantiasa ada kapal-kapal Belanda di Gresik, dan karena itu Mataram tidak mampu gunakan jalur laut. Tentu dugaan ini terlalu masuk akal, dan terhadap suasana itu pula hanya sebagian gerombolan Mataram, yang mengusahakan membakar Kota Gresik yang telah ditinggalkan penduduknya, ditangkap dan dicegah Belanda untuk melanjutkan kegiatan mereka. Hal ini tentu mengganggu anggapan raja Mataram, dan membuatnya menghentikan pengiriman kebutuhan bahan makanan nampak dari negerinya selama sebagian bulan, dan ini mampu dianggap pembalasan. Dalam tahun ini nampak tercapai perdamaian pada Mataram dan Batavia. Raja Mataram bersedia melewatkan tahanan-tahanan orang Belanda tanpa tebusan, kendati ia dulu mengalami kerugian yang dialami di Jepara dilewatkan begitu saja. Sikap layaknya ini nampaknya di ambil raja Mataram, yaitu sikap bersabar yang ada hubungannya bersama keinginan raja sehingga orang-orang Belanda bersikap netral didalam pertempuran di Surabaya. Orang-orang Belanda lantas meninggalkan kota pelabuhan besar ini didalam perangnya melawan Mataram. Alasan Belanda meninggalkan tempat itu, karena kota pantai itu kelanjutannya tidak mampu bertahan oleh kapabilitas yang lebih besar, berhubung juga ada kesulitan-kesulitan di kepulauan Banda, dan Belanda menjadi Surabaya sebagai saingan Mataram pantas dilenyapkan. Tetapi, kantor yang berada di Gresik senantiasa dipertahankan, kendati tidak ada kapal perang yang melindunginya setelah Agustus 1621.
Sebelum raja Mataram menyerang Surabaya lagi, ia memerintahkan sebuah ekspedisi menuju ke keliru satu tempat kekuasaan Surabaya, yaitu bernama Sukadana.pada akhir tahun 1621 orang-orang Mataram membawa konsep menyerang Sukadana. Gubernur Kedal bersama 70 kapal membawa prajurit hendak menyerbu kota secara tiba-tiba, tetapi diketahui, dan lagi tidak menunda untuk berperang. Setengah tahun kemudian, usaha itu diulangi, terhadap tanggal 6 Mei 1622 nampak lagi di depan kota sebuah armada Jawa yang terdiri dari 100 kapal berisi 2000 pasukan melaksanakan serangan terhadap malam hari. Dalam peperangan itu Mataram mampu menguasainya kendati banyak korban di pihak Mataram karena terkena sumpit panah beracun. Ketika matahari terbit, nampak kota itu kosong di tinggal oleh pemiliknya. Kemudian De Haen mendengar bahwa kekalahan pihak Jawa tetap lebih berat yaitu tak sekedar 300 yang tewas, tetap terkandung juga 400 orang luka-luka berat terkena panah. Dari mereka tiap hari tiga sampai empat orang tewas karena racun. Hanya sedikit yang tinggal untuk menghadap raja secara resmi. Ratu yang telah tua bersama 8 sampai 900 Jiwa, kebanyakan wanita dan anak-anak di tahan oleh orang-orang Jawa dan di bawa ke Jawa beserta hasil rampasannya.

Dari serangan berikut membawa dampak loji Belanda hancur, kendati demikianlah para pejabat sukses menyembunyikan intan-intan mereka di didalam pot (dengan menanam intan didalam pot), dan lantas mampu ditemukan kembali. Sedangkan busana yang berada di rumah Gubernur dibawa orang-orang Mataram.

Sultan Agung menjadi tidak suka bersama intan intan yang dirampas, tidak cocok bersama apa yang beliau dengar dari para tahanan dan dari ratu Sukadana yang dibawa ke Jawa, bahwa memang tetap ada intan yang lebih banyak lagi. Ratu Sukadana dipindahkan ke Desa Pingit, dibawah pengawasan Kendal, tetapi setelah bulan Agustus 1622 (setelah bulan Puasa) ia diperbolehkan untuk lagi ke Sukadana, bersama didahulukan budak beliau kesana lebih dulu.

Saat di Pingit, sempat De Haen mengadakan perbicaraan bersama Ratu, “seorang wanita yang telah lanjut usia, kurang lebih 80 atau 90 tahun, beruban”, yang di Sukadana senantiasa berdiam di istananya. De Haen dambakan menanyakan perihal orang-orang kompeni dan milik mereka kepadanya.

Sultan Agung memberi tambahan keliru satu istrinya kepada Tumenggung Baureksa dari Kendal, sebagai jasa telah sukses menaklukkan Sukadana sebagai isyarat penghormatan.

Demikianlah di tahun itu Surabaya kehilangan keliru satu pengkalan di luar daerahnya, namun lainnya, Landak dan Banjarmasin, juga terancam jatuh ke tangan Kerajaan Mataram.

Serangan Ketiga, 1622
Raja Mataram tahun yang sama yaitu tahun 1622, orang-orang Mataram melaksanakan ekspedisi militer ke Surabaya yang ketiga. Tumenggung Baureksa, musim semi 1622 memperingatkan Gubernur Jenderal Belanda perihal bahaya yang akan mengancam orang-orang Belanda dari serbuan yang akan mampir oleh pasukan Mataram, bersama target sehingga Belanda melewatkan keperluan mereka di Jawa Timur dan tidak lagi mencampuri urusan Mataram bersama Surabaya. Pada tanggal 15 Agustus raja akan memberi tambahan perintah untuk berangkat kesurabaya dan menghendaki Surabaya mampu ditaklukan.
Raja Mataram terhadap tanggal 24 Desember 1622, ada di depan Surabaya bersama kapabilitas tempur yang besar. Gresik dan Jortan di kuasai , pegawai kantor Belanda di tahan Mataram, yang lantas diminta lagi oleh De Haen terhadap perjalanannya yang ke dua ke kota istana tahun 1623. Pasukan Mataram kurang lebih 80.000 orang mundur karena kekurangan persediaan makanan.

Serangan keempat, 1623
Persiapan-persiapan terhadap 1623, yaitu tanggal 19 Juni raja Mataram memerintahkan membawa dampak kapal (gorab). Sesudah bulan puasa raja Mataram bersama pasukannya yang hebat akan menyerang Surabaya, baik darat ataupun melalui laut. Pasukan dipimpin olah panglima Kiai Adipati Mandurareja yang merupakan keturunan Mandoraka. Kiai Adipati Mandurareja diperintah untuk selesaikan terhadap akhir bulan Puasa, bersama ancaman akan dihukum mati seandainya tidak langsung menuntaskan. Raja Mataram menghendaki terputusnya segala jalinan laut Surabaya. Beliau juga punya kiat cadangan seandainya tidak mampu merebut Surabaya, yaitu bersama dipertimbangkan untuk menyerang Madura. Pada tanggal 3 Januari 1624 dari laporan lazim Gubernur Jenderal De Carpentier menginformasikan bahwa didalam musim kemarau yang lalu, raja Mataram mengepung Surabaya dari darat, akan tetapi lagi lagi tanpa berbuat sesuatu yang penting. Gresik lantas disergapnya bersama sebagian kapal, mendarat dan membakarnya. Dari berita berikut terlalu sukar disimpulkan apakah pengepungan Surabaya itu terjadi cocok bersama apa yang dikehendaki. Nampaknya serangan ke Surabaya tidak terjadi mulus, karena terhadap tahun seterusnya Mataram justru melaksanakan serangan ke Madura bersama target untuk menghambat persediaan makanan yang biasa di kirim ke pelabuhan Surabaya.

Serangan kelima, 1624
Mataram menaklukan Madura dari sumber serat kandha (halaman 781-782) yang menginformasikan bahwa suatu bagian pasukan Jawa di bawah pimpinan Tumenggung Ketawangan dan Tumenggung Alap-Alap mengadakan penjagaan kurang lebih Kota Surabaya. Penduduk sekeliling melarikan diri ke kota dan pasukan Mataram sukses duduki desa-desa mereka. Dari sumber belanda Gubernur Jenderal De Carpentier 22 Agustus 1624, di informasikan bahwa orang-orang Mataram hadapi suasana yang berat di Madura, perihal berikut memberi tambahan dorongan kepada orang-orang Surabaya untuk mengadakan serangan di pagi hari bersama 800 pasukan, dan sukses menewaskan perampok Mataram. Namun pasukan Mataram mampu merebut kemenangan terhadap serangan tersebut. Surabaya mengalami banyak ada problem baik di laut maupun di darat. Persawahan ladang disekitarnya di rusak Mataram, bersama target sehingga orang-orang Surabaya menyerah atas kemauan sendiri. Situasi Surabaya sementara itu terlalu kritis, pasukan Mataram yang berjumlah 80.000 orang mengepung kota tersebut. Di suasana yang sukar berikut bahan makanan tetap mampu di dapat, tetapi hanya mampu di mampu dari sebagian pelabuhan lainnya dan Makassar.
Raja Mataram menghendaki bantun kepada utusan Belanda, Jan Vos yang sementara itu berada di istana untuk tidak memberi tambahan perlindungan lagi kepada Surabaya dan tidak mengirim kapal-kapal kesana untuk keperluan berdagang. Kemudian Jan Vos mempersilakahkan Raja menghubungi Batavia. Namun Raja risau kehilangan muka seandainya permintaannya ditolak. Permintaannya berikut tidak dikabulkan dan terhadap tahun-tahun seterusnya akibat penolakan itu dirasakan oleh orang-orang Belanda.

Jatuhnya Surabaya, 1625
Raja Mataram memerintahkan Tumenggung Mangun Oneng untuk menaklukan Surabaya. Tumenggung Yuda Prana dan Tumenggung Ketawangan diikutsertakan pula sebagian orang Sampang (Serat kandha, hal. 782).

Pasukan Mataram bergerak maju melalui Japan (Mojokerto) ke Terres (Serat Kandha, hal. 783) atau Terusan (Babad B.P. jil. IX, hal. 16), tempat mereka berkemah untuk sementara. Pasukan Mataram menghambat diri bersama bertahan dan membendung sungai untuk sementara. Hanya sebagian dari air berikut lewat bendungan. Air sedikit ini dicemari bersama keranjang-keranjan yang diisi bangkai dan buah aren, yang diikat terhadap tonggak-tonggak di didalam sungai. Dari pencemaran berikut membawa dampak orang-orang Surabaya menderita berbagai macam penyakit; batuk, gatal, dan sakit perut.

Akibat pembendungan sungai itu, menjadi di didalam kota, raja Surabaya memanggil para bangsawannya. Berdiskusi apakah akan menyerah atau konsisten bertempur melawan Mataram. Maka disepakati untuk menyerah, bersama begitu raja Surabaya mengirim putranya, Raden Pekik, bersama membawa hadiah-hadiah yang bernilai untuk Tumenggung Mangun Oneng. Utusan disertai 1.000 pasukan, tetapi Pangeran Pekik juga tidak berani menampilkan diri begitu saja di hadapan panglima musuh. Karena menjadi malu ia mengirim Demang Urawan atau Ngurawan untuk memberitahukan bersama surat perihal kedatangannya dan surat berikut disambut bersama baik.

Tumenggung Mangun Oneng lantas mengirim dua utusan ke Mataram untuk memberitahukan kepada Raja Mataram. Mataram mampu menaklukan Surabaya hanya bersama membendung Sungai Mas (kali Mas). Bendungan ini terdiri dari batang-batang pohon kelapa, bambu-bambu besar, dan batu-batu. Bahan berikut ringan didapatkan di kurang lebih Terusan. Raja Mataram gunakan bagian yang bocor (mrembes) tersebut. Air yang banyak merembes jadi busuk karena keranjang-keranjang yang berisi bangkai binatang dan buah aren, membawa dampak air tercemar, sehingga tidak layak dipakai. Buah aren yang kuning kecoklatan dan banyak punya kandungan air tidak mampu dimakan, karena mampu mengakibatkan rasa pedas dan gatal.

Menyerahnya Surabaya sendiri, justu terhadap tingkatan paling akhir tidak terjadi pertempuran untuk merebut kota. Kota Surabaya didalam suasana utuh jatuh ditangan Mataram. Pihak yang kalah diperlakukan bersama baik, jikalau yang dendam kepada Raja Mataram.
Berita berkaitan kalahnya Surabaya sampai di Negeri Belanda terhadap tanggal 27 Oktober 1625 yang beritanya hanya singkat “ terhadap musim panas ini Surabaya menyerah kepada Raja Mataram, tanpa perlawanan, hanya karena berkurangnya rakya dan karena kelaparan, sehingga juga…dari 50-60 ribu jiwa tinggal tidak lebih dari seribu”. Dengan jatuhnya Surabaya, maka Raja Mataram sukses menaklukan bagian lokasi timur Jawa yang beragama Islam.

Demikianlah yang mampu Situs Pelajaran Oke sampaikan kurang lebihnya mohon maaf, semoga gambaran perihal Kemenangan Sultan Agung didalam usaha menaklukan Surabaya mampu dimengerti dan di mengerti. Terimakasih telah menyempatkan diri anda untuk mampir serta membaca. Bye..bye..

Baca Juga :

FUNGSI BAHASA

FUNGSI BAHASA

FUNGSI BAHASA
FUNGSI BAHASA

Bahasa merupakan bagian dari kehidupan masyarakat penentunya.

Bagi masyarakat Indonesia bahasa indonesia mempunyai kedudukan dan fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Fungsi bahasa merupakan sistem lambang bunyi ujaran yang di gunakan untuk berkomunikasi bagi masyarakat.

 

Berikut adalah Fungsi Bahasa menurut para ahli.

Menurut DEL HYMES Bahasa berfungsi sebagai :

1. Konsteksual : Situasi, jadi penyampaian bahasa dengan fungsi ini tergantung dari situasi saat berbicara.
2. Referensial : Pesan, jadi penyampain bahasa secara Referensial ada dalam bentuk pesan
3.Emotif atau Penutur
4. Konatif : Mitra Tutur
5. Fatis : Jalur

Menurut NEWMARK

1. Fungsi Ekspresif
2. Fungsi Informatif
3. Fungsi Vokatif
4. Fungsi Estetik
5. Fungsi Fatis

Menurut ERNAWATI

1. Sebagai Pemersatu
2. Sebagai Pemberi Kekhasan
3. Sebagai Pembawa Kewibawaan
4. Sebagai Kerangka Acuan

Jadi Fungsi Bahasa itu adalah cara penyampaian bahasa dengan mengungkapkan gambaran, gagasan, dan perasaan. dengan fungsi bahasa kita dapat menyatakan segala sesuatu yang tersirat di dalam hati kita yang ingin kita ungkapkan.

Ada 2 unsur yang mendorong untuk mendeskripsikan diri.

1. Agar menarik perhatian orang lain
2. Membebaskan diri dari tekanan emosi.

Baca Juga : 

KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA

KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA

KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA
KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA

Kedudukan Bahasa Indonesia terdiri dari :

1. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional

Fungsi Bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional:

1). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai Lambang kebanggaan kebangsaan
Bahasa Indonesia mencerminkan nilai – nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan kita. Atas dasar kebanggaan ini , Bahasa Indonesia harus kita pelihara dan kita kembangkan.

Serta harus senantiasa kita bina rasa bangga dalam menggunakan Bahasa Indonesia.

2). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang identitas nasional
Bahasa Indonesia dapat memiliki identitasnya apabila masyarakat pemakainya/yang menggunakannya membina dan mengembangkannya sehingga bersih dari unsur – unsur bahasa lain.
3). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat perhubungan antar warga, antar daerah, dan antar budaya
Dengan adanya Bahasa Indonesia kita dapat menggunakannya sebagai alat komunikasi dalam berinteraksi/berkomunikasi dengan masyarakat-masyarakat di daerah (sebagai bahasa penghubung antar warga, daerah, dan buadaya).

4). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat yang memungkinkan penyatuan berbagai – bagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasanya masing – masing kedalam kesatuan kebangsaan Indonesia.
Dengan bahasa Indonesia memungkinkan berbagai suku bangsa mencapai keserasian hidup sebagai bangsa yang bersatu dengan tidak perlu meninggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai – nilai sosial budaya serta latar belakang bahasa daerah yang bersangkutan.

 

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara

Fungsi Bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa Negara:

1). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan
Sebagai bahasa resmi kenegaraan , bahasa Indonesia dipakai didalam segala upacara, peristiwa dan kegiatan kenegaraan baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.
2). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa pengantar didalam dunia pendidikan
Bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar yang digunakan di lembaga – lembaga pendidikan mulai dari taman kanak – kanak sampai dengan perguruan tinggi diseluruh Indonesia.
3). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan
Bahasa Indonesia dipakai bukan saja sebagai alat komunikasi timbal – balik antara pemerintah dan masyarakat luas, dan bukan saja sebagai alat perhubungan antar daerah dan antar suku , melainkan juga sebagai alat perhubungan didalam masyarakat yang sama latar belakang sosial budaya dan bahasanya.

Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat pengembangan kebudayaan

Bahasa Indonesia adalah satu – satunya alat yang memungkinkan kita membina dan mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga ia memikili ciri – ciri dan identitasnya sendiri ,yang membedakannya dari kebudayaan daerah.

Sumber : https://uberant.com/article/556674-understanding-and-examples-of-explanatory-texts/