Kenalkan KEK Singhasari ke Pemangku Kepentingan Malang Raya

Kenalkan KEK Singhasari ke Pemangku Kepentingan Malang Raya

 

Kenalkan KEK Singhasari ke Pemangku Kepentingan Malang Raya

Pemerintah Kabupaten Malang

Wakil Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi, MM mengatakan Pemerintah Kabupaten Malang tidak diam dan terus bergerak untuk memajukan Kabupaten Malang. Utamanya, terkait percepatan pembangunan di segala bidang demi mengantarkan masyarakat sejahtera. Tentunya, tetap fokus pada tiga strategi umum pembangunan yakni pengentasan kemiskinan, optimalisasi potensi sektor parwisata, dan optimalisasi daya dukung lingkungan hidup.

Hal tersebut disampaikan Pak Sanusi

Sapaan akrab Wabup saat memberikan sambutan dan paparan pada acara Seminar Sinergi Antar Pemangku Kepentingan dalam Kebijakan Pembangunan Malang raya yang diprakarsai Universitas Brawijaya (UB) dan media Jawa Pos Radar Malang. Serta, Launching Rubrik Klinik Kebijakan Publik milik Radar Malang yang digelar di auditorium Gedung E Lt 10 Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jumat (18/1) pagi.

Pemerintah Pusat melahirkan PP

”Insya Allah dalam dua minggu lagi, Pemerintah Pusat melahirkan PP (Peraturan Pemerintah) terkait pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari berbasis pariwisata berpusat di Kecamatan Singosari serta di dukung Kecamatan Lawang. Sudah digelar rapat koordinasi percepatan pembangunan KEK ini dengan dihadiri para stakeholder dan siap turut mendukung,” terangnya.

Nantinya, konsep destinasi wisata di KEK Singhasari meliputi distrik icon heritage tourisme

MICE (meeting, incentive, convention and exhibition) bisnis showbiss, distrik digital ekonomi, inkubator education center. KEK Singhasari memiliki luas 120,3 hektar dengan nilai investasi sekitar Rp 8,29 Triliun memiliki proyeksi serapan tenaga kerja sebesar 11.526 per tahun dengan rencana bisnis konsep pengembangan pariwisata dan ekonomi digital.

“Kami berharap dalam dua tahun KEK Singhasari sudah selesai dan kemudian bisa dirasakan dampak dan manfaatnya oleh masyarakat Kabupaten Malang dan Malang raya. Semua stakeholder siap mendukung program nasional ini baik sektor penunjang pariwisata, industri pengolahan, cluster komoditas, UMKM, potensi elektronifikasi, ekonomi syariah dan start up,” terang Pak Sanusi.

Pada acara yang dihadiri Rektor UB

Walikota-Wawalikota Malang dan Kota Batu serta sejumlah Kepala OPD di Malang Raya, Wabup juga meminta agar jajaran akademisi UB turut mengkaji Peraturan Pemerintah (PP) seputar pengolahan kawasan hutan milik Perhutani yang hasil kajiannya bisa dilanjutkan ke Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo. PP ini menjadikan Pemkab Malang tidak dapat secara utuh mengelola potensi wisata alam baik kawasan pantai Malang Selatan dan pegunungan. Bahkan, pihaknya pernah terbentur regulasi Perhutani itu ketika hendak membangun akses jalan menuju tempat wisata andalan Kabupaten Malang.

”Benturan regulasi itu pernah kami alami ketika membangun jalan yang ada di desa kami, tepatnya Desa Ngadas, sebagai desa wisata menuju kawasan nasional Bromo Tengger Semeru. Pihak Perhutani mengingatkan karena lokasi akses atau jalan yang dibangun tersebut dalam hak pengelolaan Perhutani. Harapannya, hasil kajian para akademisi tentang PP itu kelak berbuah hak pengelola dari Perhutani bisa diserahkan kepada Pemkab Malang,” pungkas Wabup.

Artikel Terkait:

Soft Launching Green Smart Living, Penunjang Desa Wisata Duwet Krajan

Soft Launching Green Smart Living, Penunjang Desa Wisata Duwet Krajan

 

Soft Launching Green Smart Living, Penunjang Desa Wisata Duwet Krajan

Drs H.M. Sanusi MM

Wakil Bupati Malang, Drs H.M. Sanusi MM, menghadiri soft launching Green Smart living pendukung desa wisata Duwet Krajan, di Balai Desa Duwet Krajan, Kecamatan Tumpang, Minggu (20/01) siang. Kegiatan yang diprakarsai oleh Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) tahun 2009, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat untuk pembangunan desa, komunitas masyarakat Duwet Krajan. “Green Smart Living” sebagai wadah beberapa komunitas dalam penunjang pembangunan desa.

Dalam sambutannya

Wabup menyampaikan apresiasinya yang tinggi terhadap kegiatan ini. “Saya mengapresiasi dan menyambut baik kegiatan ini, dimana nantinya dapat menjadikan masyarakat duwet ini semakin berkembang. Dengan diadakan Soft launching Green Smart Living ini juga bisa menggugah masyarakat desa agar bisa bergerak cepat dalam mengembangkan potensi-potensi yang ada di desanya, ” ucapnya.

Lanjutnya,Wabup mengatakan bahwa kehidupan ini harus berkembang dan harus lebih baik dari sekarang. ” Ke depan Kabupaten Malang akan lebih baik, berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Malang. Dengan berbagai potensi yang dimiliki, kedepan Duwet Krajan ini akan disiapkan menjadi desa wisata. Dengan berkembangnya desa wisata, memantapkan Kabupaten Malang sebagai destinasi wisata unggulan di Jawa Timur, ” tegasnya.

Sementara itu Kades duwet Krajan, H. Timbang menyampaikan ucapan terima kasihnya atas kegiatan ini. ” saya selaku kepala desa sekaligus mewakili masyarakat menyampaikan ucapan terima kasih, dimana Dengan kegiatan ini diharapkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan semakin tinggi. Dan juga masyarakat dapat mengenal apa yang dinamakan dengan teknologi informasi, ” ucapnya. https://bandarlampungkota.go.id/blog/contoh-report-text/

Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Harapan yang tinggi juga disampaikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. H. Abdul Haris. ” Saya berharap dengan adanya KKM ini dapat menjadi transformasi teknologi informasi kepada masyarakat desa, seperti halnya yang sudah diterapkan di UIN itu sendiri. Sehingga tidak menutup kemungkinan untuk desa-desa yang ada di Kabupaten Malang nantinya menjadi desa unggulan, ” pungkasnya.

Untuk diketahui Green smart living merupakan upaya pengelolaan penghijauan desa yang bebas dari sampah, menjadikan sampah secara produktif serta memiliki kompetensi dalam penggunaan Teknologi Informasi. UIN dan Desa setempat telah bekerjasama dalam penyediaan tempat, dimana nantinya akan diberikan pelatihan-pelatihan kepada pemudanya agar dapat memahami dan membuat program-program sehingga potensi-potensi yang dimiliki dapat terekspos.

Desa Duwet Krajan

Dalam kegiatan tersebut Wabup berkesempatan meninjau sekaligus mencicipi produk – produk yang dikembangkan oleh masyarakat Desa Duwet Krajan. Salah satu produk yang menarik perhatian Wabup adalah jamu, bersama Rektor UIN dan rombongan tampak cukup menikmati jamu yang diolah sendiri oleh ibu-ibu Desa Duwet Krajan. Hadir mendampingi, Camat Tumpang berserta Muspika, Kapolsek Tumpang, Tokoh Masyarakat, Karang Taruna desa.

Wabup Buka Sosialisasi Pengelolaan Keuangan Desa bagi Kades

Wabup Buka Sosialisasi Pengelolaan Keuangan Desa bagi Kades

 

Wabup Buka Sosialisasi Pengelolaan Keuangan Desa bagi Kades

Wakil Bupati Malang Drs. H. M. Sanusi, MM

Wakil Bupati Malang Drs. H. M. Sanusi, MM membuka dan memberi arahan sosialisasi pengelolaan keuangan desa bagi seluruh kepala desa yang digelar di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Senin (21/1) pagi. Hadir dalam kegiatan tersebut, Forkopimda Kabupaten Malang, diantaranya Dandim 0818 Malang-Batu, Letkol (inf) Ferry Muzawwad, Kepala Kejari Kepanjen, Abd Qohar, Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Camat serta Kepala Desa se-Kabupaten Malang.

Dalam sambutannya

Wabup mengucapkan terima kasih kepada seluruh Kepala Desa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan dan pembangunan desa. “Atas nama Pemerintah Kabupaten Malang, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh Kepala Desa yang telah melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam melaksanakan proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa,” ucapnya.

Lanjutnya, terkait dengan pengelolaan keuangan, dalam periode lalu, acuan pelaksanaan pengelolaan keuangan desa tersebut berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa serta Peraturan Bupati Malang Nomor 16 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Keuangan Desa. “Tujuan dari terbitnya peraturan dimaksud, tentu agar pengelolaan keuangan desa dilakukan secara transparan, akuntabel, partisipatif, tertib dan disiplin,” imbuhnya. https://bandarlampungkota.go.id/blog/kata-bijak-bahasa-inggris/

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2018

Ia menjelaskan, seiring dinamika yang terjadi, peraturan pun harus lebih dapat mengakomodir perubahan dan kondisi yang berkembang. “Untuk itu, peraturan terkait pengelolaan keuangan desa pun juga mengalami penyesuaian dengan terbitnya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Keuangan Desa dan Peraturan Bupati Malang Nomor 38 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Keuangan Desa,” jelasnya.

Sebagai penutup, Wabup menyampaikan bahwa pencapaian selama ini patut disyukuri dan ditingkatkan, terutama berkaitan dengan penggunaan anggaran yang tepat sasaran. “Perlu diingat, desa adalah ujung tombak pembangunan. Maka sebagai jajaran pemerintah yang paling dekat dengan masyarakat, para Kepala Desa harus mampu menjadi fasilitator, eksekutor dan koordinator utamanya di masing-masing desa. Selanjutnya, kepala desa juga harus mampu membangun dan memelihara hubungan harmonis dengan masyarakat, karena pada dasarnya hal ini dapat menjadi kekuatan tersendiri untuk mengakselerasi pencapaian semua target yang telah ditetapkan,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Malang

Drs. Suwadji menjelaskan bahwa Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Keuangan Desa dan Peraturan Bupati Malang Nomor 38 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Keuangan Desa sangat penting dan harus segera dilaksanakan. “Para Kepala Desa selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan desa, perangkat desa selaku pelaksana pengelolaan keuangan desa serta stakeholder yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan desa harus segera memahami dan melaksanakan peraturan tersebut,” pungkasnya.

700 Siswa SMK atau SMA Jawa Barat akan Berangkat ke Taiwan

700 Siswa SMK atau SMA Jawa Barat akan Berangkat ke Taiwan

 

700 Siswa SMK atau SMA Jawa Barat akan Berangkat ke Taiwan

700 siswa SMK/SMA di Jawa Barat

Sebanyak 700 siswa SMK/SMA di Jawa Barat akan diberangkatkan ke Taiwan untuk melaksanakan pendidikan dan program magang di Chien Hsin University of Science and Technology, Taiwan pada 2019 mendatang. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Ahmad Hadadi saat menghadiri Rapat Pembahasan Program Kerjasama Luar Negeri, di SMK Negeri 1 Pacet, Cianjur, pada Selasa, 9 Oktober 2018.

Lulusan SMK

Hadadi mengatakan, lulusan SMK seringkali disebut-sebut sebagai penyumbang pengangguran terbesar di Indonesia. Maka pemerintah berkomitmen untuk mengembangkan lulusan SMK agar lebih produktif dan aktif. Salah satunya dengan melakukan kerjasama antara sekolah dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) baik itu dalam ataupun luar negeri.

“Ketika setiap tahun banyak lulusan SMK yang berangkat ke luar negeri, untuk melanjutkan studi sambil kerja, atau mengikuti program magang dan lainnya ini sangat membanggakan. Dengan cara seperti ini, lulusan SMK akan lebih berkembang,” ujar Hadadi.

Siswa-siswa yang mengikuti program ini pun diharapkan bisa memotivasi siswa lainnya untuk terus berkembang. Hadadi mengatakan dengan komitmen dan tanggungjawab yang tinggi, siswa-siswa yang berangkat ke Taiwan nanti akan sukses dan berprestasi.

“Siswa-siswa yang terbaik yang punya komitmen dan kerja keras, semoga bisa jadi viral dan mempengaruhi teman-temannya yang lain, menjadi motivasi. Itu yang kami harapkan, sehingga SMK Bisa!,” ujar Hadadi.

440 siswa SMK

Sebelumnya, sebanyak 440 siswa SMK sudah diberangkatkan ke Taiwan dalam program yang sama. Di sana siswa akan meneruskan pendidikannya, sambil melakukan magang. Selama kurang lebih 4 tahun, siswa tidak hanya dilatih pendidikannya, akan tetapi bertanggungjawab bekerja.

Tujuan kami mengirim siswa ke Taiwan

“Tujuan kami mengirim siswa ke Taiwan adalah untuk mendidik jiwanya untuk mandiri, membangun jiwa yang profesional, dan disiplin.Alhamdulillah, SMK di Jawa Barat selama ini mencetak tenaga-tenaga yang profesional,” ujar Ilham Hamzah, perwakilan program kerjasama.

 

Artikel Terkait:

Bahan alami ini ternyata manjur banget sembuhkan penyakit tipes

Bahan Alami Ternyata Manjur Sembuhkan Tipes

Bahan Alami Ternyata Manjur Sembuhkan Tipes
Bahan Alami Ternyata Manjur Sembuhkan Tipes

Tipes atau demam tifoid adalah

penyakit yang terjadi karena infeksi bakteri Salmonella typhi. Penyakit ini umumnya menyebar melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi, biasanya akibat jajan sembarangan.

Tipes juga merupakan

Salah satu penyakit yang sering diderita orang di Indonesia baik anak-anak maupun dewasa. Penyebaran penyakit ini dapat menular dengan cepat dan dapat membahayakan nyawa jika tak ditangani dengan baik dan segera.

Setelah dinyatakan terkena penyakit tipes, dokter akan memberikan resep antiobiotik dan obat tertentu untuk membunuh bakteri penyebab tipes. Untuk mendukung pengobatan dari dokter, ada beberapa bahan alami yang dapat membantu tubuh agar semakin cepat pulih.

Namun tetap konsultasikan

terlebih dahulu dengan dokter atau perawat untuk mencegah reaksi yang tidak diinginkan dengan obat-obatan yang sedang dikonsumsi. Apa saja?

Oralit.

Oralit yang terbuat dari tiga bahan dasar yaitu gula, garam dan air pasti dapat dengan mudah kamu temukan di rumah. Nah, ternyata oralit dapat membantu mengurangi gejala tipes dan mempercepat pemulihan lho.

Cara membuat oralit juga mudah, cukup dengan mencampurkan setengah sendok teh garam dan enam sendok teh gula ke dalam 4 gelas air. Minum larutan oralit selama beberapa kali dalam sehari hingga tubuh benar-benar pulih.

Cuka sari apel

Bahan yang satu ini memang dikenal memiliki banyak manfaat bagi tubuh, termasuk mengembalikan energi pada orang yang terkena tipes. Sifat asam dari sari cuka apel dapat membantu mengeluarkan panas tubuh sehingga mengurangi suhu tubuh secara perlahan.

Kandungan mineralnya pun dapat menggantikan mineral yang hilang karena diare. Ada dua cara jika mau menggunakan cuka sari apel bagi penderita tipes, pertama campurkan setengah sendok teh cuka sari apel dan sedikit madu dalam segelas air.

Minum larutan ini sebelum makan selama 5-7 hari. Kedua, campurkan cuka sari apel dan air hangat dengan perbandingan 1:2. Rendam kain lap dalam cairan tersebut, peras dan letakkan di dahi dan perut. Ulangi terus sampai demam turun.

Bawang putih.

Sifat antimikroba yang terdapat pada bahan dapur ini berguna untuk membilas racun berbahaya dalam tubuh sehingga sistem kekebalan tubuh meningkat dan proses pemulihan tipes pun semakin cepat. Ada dua cara untuk mengonsumsi bawang putih sebagai obat alami tipes.

Pertama bisa dengan mengonsumsi dua siung bawang putih secara langsung ketika perut kosong. Lakukan cara ini selama beberapa minggu sampai mulai kembali pulih.

Kedua, dengan mencampurkan setengah sendok teh bawang putih yang sudah dihaluskan, secangkir susu dan empat gelas air. Rebus larutan in hingga tersisa seperempatnya dan minum sebanyak 3 kali sehari.

Namun perlu menjadi catatan, mengonsumsi bawang putih tidak dianjurkan bagi ibu hamil dan bayi.

Daun Selasih (daun basil)

Daun basil atau yang lebih dikenal dengan daun selasih merupakan salah satu bahan alami yang efektif mengobati tipes. Daun ini memiliki khasiat antibiotik dan antibakteri yang dapat menghambat bakteri Salmonella typhi dalam butuh.

Tidak hanya itu, bahan alami ini juga dapat membantu menurunkan demam, menghangatkan perut dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Cara meraciknya juga cukup mudah, dengan menyiapkan 20 helai daun selasih, 1 sendok teh jahe yang dihancurkan dan 1 gelas air.

Kemudian rebus semua bahan hingga larutan berkurang setengahnya. Tambahkan sedikit madu untuk menambah rasa manis. Minum larutan tersebut sebanyak 2-3 kali sehari hingga masa pemulihan.

Cengkeh

Kandungan minyak esensial pada cengkeh ternyata memiliki sifat antibakteri. Cengkeh dapat membantu mengurangi tingkat keparahan diare dan muntah yang disebabkan oleh tipes.

Cara membuatnya mudah, masukkan 5-7 kuncup cengkeh dalam air mendidih dan rebus hingga airnya tersisa setengah. Setelah larutan menjadi dingin, minum secara rutin disiang hari selama minimal satu minggu.

Baca Juga : 

 

Langgar Aturan Privasi, Prancis Denda Google 57 juta dolar

Langgar Aturan Privasi, Prancis Denda Google 57 juta dolar

 

Langgar Aturan Privasi, Prancis Denda Google 57 juta dolar

Regulator telekomunikasi Prancis menjatuhkan denda sebesar USD 57 atau sekitar Rp 811 miliar kepada raksasa teknologi, Google. Mereka menjatuhkan denda lantaran Google melanggar Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (GDPR).

Denda ini merupakan jumlah terbesar yang pernah dikenakan kepada perusahaan yang bermarkas di Mountain View.

Commission nationale de l’informatique et des libertés (CNIL) selaku regulator proteksi data di Prancis menyampaikan bahwa Google telah gagal memberikan transparansi dan kepastian dalam menginformasikan cara perusahaan mengelola data pribadi pengguna.

Selain itu, Google juga gagal mendapatkan persetujuan untuk pengaturan iklan di website-nya.

CNIL menindaklanjuti keluhan dari dua lembaha non-pemerintah yakni None of Your Business dan La Quadrature du Net yang mereka sebut mewakili 10.000 orang.

Otoritas Prancis dikenal memiliki aturan pricasi yang ketar dan sangat keras terhadap perusahaan internet asal Amerika tersebut.

GDPR sendiri mulai berlaku di Eropa pada bulan Mei tahun lalu, yang merupakan perombakan undang-undang privasi data terbesar selama lebih dari dua dekade.

Regulasi ini memungkinkan pengguna memiliki kendali lebih terhadap data pribadi mereka serta memberi regulator kekuatan menjatuhkan denda hingga 4% dari pendapatan global perusahaan yang melakukan pelanggaran.

Jumlah yang telah ditetapkan dan telah dipublikasikan

ditentukan dari pelanggaran yang terpantau berdasarkan prinsip esensial GDPR: transparansi, informasi, dan persetujuan,” tulis CNIL dalam pernyataan, seperti dikutip Reuters, Rabu (23/1/2019).

Tak tinggal diam

pihak Google juga mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa orang-orang berekspektasi dengan standar yang tinggi untuk transparasi dan pengendalian dari perusahaan.

“Kami sangat berkomitmen untuk memenuhi seluruh ekspektasi dan persyaratan yang ada dalam GDPR,” jelas Google. Mereka juga menambahkan bahwa perusahaan kini tengah berdiskusi mengenai langkah yang akan diambil selanjutnya.

 

Sumber : http://situsiphone.com/

Bahaya Naik Motor Siang Hari

Bahaya Naik Motor Siang Hari

Bahaya Naik Motor Siang Hari
Bahaya Naik Motor Siang Hari

Tuntutan beraktivitas di kota besar dengan mobilitas tinggi membuatmu nggak bisa lepas dari berkendara. Pergi ke mana pun selalu membutuhkan transportasi yang cepat dan praktis.

Pilihanmu pasti nggak jauh dari naik motor, baik berkendara sendiri maupun naik ojek. Maklum, motor menjadi pilihan favorit untuk segera sampai di tempat tujuan karena mudah bermanuver di antara mobil atau mengambil jalan pintas lewat jalan tikus.

Sayangnya, berkendara dengan motor bisa membawa dampak berbahaya bagi kesehatan kulitmu, Sobat Brilio. Kulit merupakan organ penting yang melindungi tubuh dari benda asing seperti radiasi ultraviolet, bahan kimia, dan kuman. Maka dari itu, penting sekali menjaga kulit tetap sehat.

Salah satu upaya melindungi kesehatan kulit dimulai dari mengenal faktor perusak kesehatan kulit yang selama ini nggak kamu sadari. Kamu beranggapan biasa saja padahal diam-diam bahaya tersebut menggerogoti kesehatan kulitmu. Duh!

Nah, kira-kira apa saja sih bahayanya? Disarikandari berbagai sumber, Kamis (1/3), berikut ulasan empat bahaya yang mengintai pengendara motor saat siang hari. Yuk simak!

Sisa gas pembuangan kendaraan bermotor.

Tantangan hidup di kota yang sesak dengan kendaraan bermotor adalah asap sisa gas pembuangannya yang jadi ‘makanan’ sehari-hari. Asap mengepul dan mengudara. Apalagi kalau kamu nggak memproteksi diri dengan pakaian yang tertutup dan masker, polusi ini bisa langsung memapar ke kulit. Bisa-bisa bikin kulit kusam, dan kalau terus menerus bisa bikin wajah jerawatan, lho.

Panas terik matahari dan polusi non kendaraan.

‘Makanan’ sehari-hari kamu yang sibuk beraktivitas di kota dan berkendara motor selanjutnya adalah terik matahari. Terpapar panasnya sinar surya memang mengganggu banget. Belum lagi sinar ultraviolet dari matahari bisa merusak serat kolagen dan elastin (lapisan dermis kulit).

Selain itu, polusi udara non kendaraan seperti polusi pembakaran sampah dan asap pabrik juga mengintai kulitmu kapan pun dan di mana pun di perkotaan. Perpaduan sinar matahari dan polusi udara tersebut bikin kulitmu keriput, kendur, dan pori-pori membesar. Singkat kata, tanda-tanda penuaan dini menghantuimu. Bahkan kalau terakumulasi lama-lama bisa memicu kanker kulit.

Itulah sebabnya saat berkendara motor kamu nggak boleh melupakan pakaian tertutup dan masker. Lebih penting lagi, pastikan kamu pakai body lotion yang melindungi kulit dengan SPF24 PA++ dan PPF seperti Vaseline Healthy White Sun+Pollution Protection. Bukan hanya melindungi kulit cantikmu dari paparan sinar matahari, Vaseline Healthy White Sun+Pollution Protection juga menjaganya dari polusi. Efeknya juga bikin kulitmu cerah, lho.

Helm yang kurang terawat.

Bahaya selanjutnya yang mengintai pengendara motor adalah helm yang kamu gunakan sehari-hari. Kok, bisa?

Jikalau helm yang kamu gunakan kotor, sudah pasti jadi sarang bakteri dan kuman. Belum lagi kalau kamu pakainya lama saat udara panas, lalu kepala berkeringat, alhasil bau busuk. Ujung-ujungnya kulit kepala dan wajah gatal banget.

Nah, karenanya penting buat kamu menjaga kebersihan helm. Setidaknya cucilah helm satu kali dalam seminggu atau saat helm sudah mulai samar-samar bau nggak sedap. Ini pertanda bakteri, kuman, debu, dan keringatmu sudah menumpuk jadi satu.

Debu yang berterbangan.

Naik motor pasti nggak lepas dari debu-debu yang berterbangan di jalanan. Debu juga mengintai kesehatan kulitmu, lho. Partikelnya yang super kecil dan sudah berbaur dengan polutan di udara, bisa masuk ke dalam pori-pori kulitmu. Kalau kena kulit badanmu, bisa bikin kusam. Kalau kena kulit wajahmu, bisa bikin jerawat dan komedo bertamu, terlebih kalau kamu malas mencuci wajah setelah beraktivitas di luar. Solusinya, selain pakai perlindungan pakaian dan masker, jangan lupa mandi dan cuci wajahmu biar semua debu yang menempel cepat hilang.

Nah, gimana, Sobat Brilio? Ternyata ada bahaya yang selama ini nggak kamu sadari mengintai kesehatan kulit tubuhmu. Maka dari itu, yuk lebih rajin lagi memproteksi kulit tubuh. Biar selalu sehat dan tampil menarik kapan pun dan di mana pun.

Sumber : http://www.ngegas.com/

Keanekaragaman Dalam Masyarakat Australia

Keanekaragaman Dalam Masyarakat Australia

Keanekaragaman Dalam Masyarakat Australia
Aspek yang paling bermakna ialah walaupun imigran

sudah tidak tinggal lagi di Inggris tapi ia sangat memengang  nilai – nilai dan sikap Inggris di negeri yang begitu besar. Australia dan New Zealand  memperlihatkan corak yang berbeda dengan negeri lain yang diduduki Inggris. Australia dan New Zealand tidak pernah bersaing hal ini disebebkan karena mereka berasal dari keturunan orang – orang Inggris dan orang Irlandia. Setelah convict Inggris berakhir, pemerintahan Inggris membantu imigrasi ke Australia dengan  maksud untuk membagun koloni – koloninya dibenua itu, sambil mengurangi kepadatan penduduk  dan masalah sosial yang dihadapi Inggris pada masa itu. hal ini yang menyebabkan pikiran – pikiran, adat istiadat, kebiasaan – kebiasaan dan pandangan hidup bangsa Australia  banyak yang bersal dari Inggris.

Imigran yang datang bukan hanya dari Inggris

saja tetapi juga dari Irlandia, mereka sudah tinggal sebelumnya  dimana sejak abad ke-17 orang Irlandia sudah beragama Khatolik Roma. Pemerintah Inggris tidak menganggap sah agama yang dimiliki oleh orang Irlandia sehingga bagi orang Irlandia tidak boleh menduduki perlemen  atau posisi yang tinggi dalam bidang meliter. Hanya orang – orang yang beragama Protestan saja yang dibolehkan duduk diperlemen. Orang Irlandia adalah orang yang hidup dari bertani dimana tanahnya disewa dari tuang – tuan tanah.

Hal ini meyebabkan pemerintah Inggris membuat undang – undang

perdagangan bebas  sehingga terjadilah prsaingan orang Irlandia dengan pedagang luar. Pedagang Irlandia hancur disebabkan  karena orang Irlandia kehilangan tanah dan pekerjaan ditambah lagi dengan adanya serang potato Blight sehingga banyak orang meninggal akibat kelaparan ( semacam jamur yang menyerang kentang ) namun tidak ada kota industri yang dapat menampung mereka. Hal ini yang menyebabkan orang Irlandia datang ke Australia. Kedatang ini merupakan hal yang penting dalam pandangan hidup di Australia dimana New South Wales dan Victoria dibangun sekolah – sekolah sedangkan gereja merupakan menjadi pimpinan gerakan perjuangan bantuan pemerintah terhadap sekolah – sekolah swasta.

Selain imigrasi dari Inggris dan Irlandia juga ada imigrasi yang datang   dari daratan Eropa lainya yaitu Jerman, Italia, Yunani, Yogoslavia, Turki, labanon, afganisatan, jepang, India dan Cina  yang menghuni beberapa daerah  koloni  untuk mencari kemakmuran. Ketika Commonwealth terbentuk masyarkat minoritas non Inggris yang terbesar jumlah di Australia adalah orang –orang berdarah Jerman  sehingga banyaknya muncul bangunan – banguna arsitektur Jerman. Namun dari banyak sekian migrasi yang datang diluar Inggris, koloni – koloni sangat tidak menyukai Cina hal ini disebabkan karena  faktor ekonomi apalagi sejak ditemukannya emas di New South Wales  migasi Cina membanjir sehingga menyebabkan katekutan bagi koloni apalagi bahasa orang Cina tidak mereka mengerti sama sekali.

Sehinnga apabila kandungan emas mulai

berkurang koloni melampiaskan kekecewaanya dengan mengubar curiga terhadap orang asing terutama Cina dan hal ini yang sering menyebabkan kericuhan dan pertentangan. Sehingga menyebakan koloni – koloni ingin membuat undang – undang imigrasi. Kebijaksanaan ini untuk mempertahankan White Australia  bertujuan mencegahnya masuknya  orang kulit bewarna terutama Yellow Perill sehingga terkenal dengan undang – undang “ Immigration Restriction Act “ hal ini meyebabkan terjadinya kepulangan orang yang berasal dari pulau – pulau pasifik ( Kanakas ) dikembalikan kenegeri asal namun bagi orang Cina yang telah mempunyai rumah dibiarkan saja oleh koloni begitu juga dengan  imigrasi kebangsaan Afganistan dan Jepang, namun stelah berakhir perang Vietnam  imigran Indo-Cina diterima kembali di Australia dengan maksud untuk menambah ragam budaya di Australia.

Sumber : https://dosen.co.id/

Gatot Subroto, Pahlawan dan Jenderal Pemberan

Gatot Subroto, Pahlawan dan Jenderal Pemberan

 

Gatot Subroto, Pahlawan dan Jenderal Pemberan

HARI ini, 109 tahun yang lalu, seorang pahlawan yang namanya selalu menghiasi nama jalan di seluruh kota Indonesia dilahirkan. Tepat, dialah Jenderal Gatot Subroto. Beliau lahir di Banyumas. Ia dikenal sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Sejak anak-anak, ia sudah menunjukkan watak seorang pemimpin. Dia memiliki keberanian, ketegasan, tanggung jawab, dan berpantang akan kesewenangan.

Karir Militer

Disitat dari Merdeka.com, Gatot Subroto mengawali karir militer dengan menjadi anggota KNIL, tentara Hindia Belanda, setelah sebelumnya sempat bekerja sebagai pegawai pemerintah yang hanya sebentar saja dilakoni, Gatot Subroto dikenal sebagai tentara yang solider terhadap rakyat kecil meski tengah bekerja sebagai tentara kependudukan Belanda dan Jepang. Ia merupakan contoh seorang pemimpin yang layak diapresiasi berkat jasa-jasanya.

Bergabung dengan KNIL membuat Gatot Subroto paham dan mengerti bagaimana seorang tentara harus bertindak. Sempat menjadi sersan kelas II saat dikirim di Padang Panjang selama lima tahun, Gatot Subroto kemudian dikirim ke Sukabumi untuk mengikuti pendidikan lanjutan, pendidikan masose.

Belanda berhasil didudukkan Jepang pada saat Perang Dunia II, tanpa komando Gatot Subroto bergabung dengan Pembela Tanah Air (Peta), organisasi militer milik Jepang yang merekrut tentara pribumi untuk berperang. Di sanalah karir Gatot Subroto mulai merangkak naik. Selepas lulus dari pendidikan Peta, ia diangkat menjadi komandan kompi di Banyumas sebelum akhirnya ditunjuk menjadi komandan batalyon.

Selama menjabat sebagai komandan kompi dan komandan batalyon, Gatot Subroto dinilai sering memihak kepada rakyat pribumi. Hal itulah yang sering kali membuat ia ditegur oleh atasannya. Alih-alih kapok, justru hal itulah yang membuat Gatot Subroto mendapatkan angin segar untuk sekedar ‘menakuti dan mengancam’ pihak Jepang.

Saat itu, ia mengancam bahwa dirinya mengundurkan diri sebagai komandan kompi dengan melemparkan atribut senjata perangnya. Melihat tindakan berani Gatot Subroto, atasannya kemudian meluluskan apa yang dikerjakan Gatot Subroto, yakni memihak pribumi terlebih rakyat kecil. Ia juga menentang Jepang jika berbuat semena-mena dan kasar terhadap anak buahnya.

Setelah kemerdekaan Indonesia berhasil didapat

Gatot Subroto kemudian membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang merupakan cikal bakal nama TNI yang ada kini. TKR dipimpin oleh Kol. Sudirman di mana saat itu Gatot Subroto menjabat sebagai Kepala Siasat dan berganti menjadi Komandan Devisi dengan pangkat Kolonel setelah prestasinya yang dianggap gemilang dalam pertempuran Ambarawa.

Pada tahun 1948 terdapat pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang didalangi Muso (DI/ TII). Pemberontakan tersebut berada di wilayah Madiun, Jawa Timur, yang kemudian berakhir diatasi dengan baik oleh TKR di bawah pimpinan Gatot Subroto. Saat melawan PKI, Gatot Subroto melancarkan operasi militer agar dapat memulihkan keamanan.

Tak berbeda jauh dengan pemberontakan yang ada di Jawa, di Sulawesi Selatan juga terdapat pemberontakan Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) yang dipimpin oleh Kahar Muzakar pada tahun 1952. Lagi-lagi karena dinilai pandai dalam memasang strategi, Gatot Subroto diserahi untuk menumpas pasukan pemberontak dan kembali pulang dengan membawa kemenangan. Tak hanya sekedar kemenangan, para pemberontak pun juga berhasil dibujuknya agar kembali dalam barisan TKR. Berkat usahanya tersebut, Gatot Subroto diangkat menjadi Panglima Tentara & Teritorium (T & T) IV Diponegoro di tahun yang sama.

Seorang Pemimpin

Selama memimpin, Gatot Subroto dikenal sebagai pemimpin yang disiplin, tegas, berani, dan membela kaum yang tertindas. Maka, pada tahun 1953, ketika terjadi kerusuhan di istana negara akibat tuntutan rakyat atas pembubaran parlemen ditolak, Gatot Subroto yang dituduh sebagai dalang kerusuhan tersebut langsung mengundurkan diri dari jabatannya sekaligus dari dinas militer. Namun, ia kembali dipanggil pemerintah untuk duduk dan menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) pada tahun 1956. Melalui tangannya, ia berhasil melumpuhkan pemberontakan PRRI/ Permesta yang ada di Sumatera dan Sulawesi Utara.

Dia juga berjasa sebagai penggagas pembetukan akademi militer di Indonesia

Melansir Tirto.id, Menurut Gatot, salah satu cara untuk membina perwira muda adalah dengan menyatukan akademi militer setiap angkatan yakni Angkatan Darat, Laut, dan Udara, menjadi satu akademi. Gagasan tersebut akhirnya terwujud dengan terbentuknya Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI).

Gatot Subroto akhirnya meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 11 Juni 1962, pada usia 55 tahun. Sang Jenderal ini dimakamkan di desa Sidomulyo, kecamatan Ungaran Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Atas jasa-jasanya yang begitu besar bagi negara, seminggu setelah kematiannya, Jenderal Gatot Subroto dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang dikuatkan dengan SK Presiden RI No.222 Tahun 1962, tgl 18 Juni 1962.

 

Sumber : https://pengajar.co.id/

Peperangan era Napoleon

Peperangan era Napoleon

Peperangan era Napoleon
Peperangan era Napoleon

Peperangan era Napoleon adalah serangkaian peperangan yang terjadi selama Napoleon Bonaparte memerintah Perancis (1799–1815).

Perang ini terjadi (khususnya) di benua Eropa, tetapi juga di beberapa tempat di benua lainnya dan merupakan kelanjutan dari perang yang dipicu oleh Revolusi Perancis pada tahun 1789.

Perang ini menyebabkan perubahan besar pada sistem militer di Eropa terutama artileri dan organisasi militer, dan juga pada masa inilah pertama kalinya diadakan wajib militer secara resmi sehingga jumlah tentara berlipat ganda.

Kekuatan Perancis dengan cepat berkembang, menaklukkan sebagian besar Eropa dan juga cepat ambruknya setelah mengalami kekalahan telak dari Rusia pada tahun 1812. Setelah kekalahan ini Napoleon menyerah total, sehingga dinasti Bourbon kembali berkuasa di Perancis. Sementara itu wilayah kekaisaran Spanyol satu persatu daerah jajahannya mulai lepas akibat invasi Perancis, yang mengakibatkan lemahnya Spanyol sehingga memicu timbulnya revolusi di Amerika Latin.

Tidak ada kesepakatan para sejarawan untuk memastikan kapan Perang Revolusi Perancis berakhir dan peperangan era Napoleon dimulai. Beberapa tanggal yang diajukan antara lain:

* Tanggal 9 November 1799, ketika Napoleon merebut kekuasaan di Perancis
* Tanggal 18 Mei 1803, ketika Inggris dan Perancis melanggar gencatan senjata yang mereka sepakati sebelumnya
* Tanggal 2 Desember 1804, ketika Napoleon mengangkat dirinya sendiri sebagai kaisar.

Peperangan era Napoleon berakhir ketika ia mengalami kekalahan dalam Pertempuran Waterloo (18 Juni 1815) dan disepakatinya pakta Paris yang kedua. Beberapa sumber sejarah (terutama di Inggris) menamakan peperangan dari tahun 1792 sampai 1815 ini dengan nama Perang Perancis Raya, atau sebagai babak penutup dari Perang 200 Tahun antara Inggris dan Perancis yang dimulai sejak tahun 1689 sampai dengan tahun 1815.

Latar belakang, 1789–1802

Revolusi Perancis mengancam kerajaan-kerajaan lain di benua Eropa, dan menjadi persoalan yang lebih serius dengan ditangkapnya raja Louis XVI pada tahun 1792 dan pelaksanaan hukuman mati terhadapnya di bulan Januari tahun 1793. Usaha pertama untuk menghancurkan Republik Perancis ini dimulai pada tahun 1792 ketika Austria, Kerajaan Sardinia, Kerajaan Napoli, Prusia, Spanyol, dan Kerajaan Britania Raya membentuk koalisi pertama. Dengan ditetapkan undang-undang Perancis yang baru, termasuk wajib militer secara serentak (levée en masse), pembaharuan sistem militer, dan perang secara total, memberikan kontribusi bagi kemenangan Perancis atas koalisi pertama. Perang berakhir ketika Austria dituntut oleh Napoleon menerima syarat-syarat dalam perjanjian Campo Formio. Kerajaan Britania Raya menjadi satu-satunya kerajaan yang tersisa dari koalisi pertama yang memerangi Perancis sampai dengan tahun 1797.

Koalisi kedua dibentuk pada tahun 1798, yang terdiri atas beberapa kerajaan: Austria, Britania Raya, Kerajaan Napoli, Kesultanan Utsmaniyah, Negara Kepausan, Portugal, dan Rusia. Napoleon Bonaparte, sang arsitek utama kemenangan Perancis pada tahun lalu atas koalisi pertama, melancarkan aksi militer ke Mesir (beberapa ilmuwan diikutsertakan dalam ekspedisi ini termasuk Jean Baptiste Joseph Fourier dan Jean-Francois Champollion).

Napoleon kembali ke Perancis pada tanggal 23 Agustus 1799. Kemudian ia mengambil alih pemerintahan pada tanggal 9 November 1799 dalam sebuah kudeta bernama 18 Brumaire. Napoleon menata ulang sistem militer dan membuat pasukan cadangan untuk mendukung aksi militer di sekitar Rhine dan Italia. Di semua pertempuran, Perancis lebih unggul. Di Italia, Napoleon memenangkan pertempuran dengan Austria dalam Marengo pada tahun 1800. Tetapi pertempuran yang menentukan terjadi di Rhein, wilayah Hohenlinden pada tahun 1800. Dengan kalahnya Austria ini, kekuatan koalisi kedua hancur. Akan tetapi Britania Raya tetap kuat dan memberi pengaruh yang besar kepada negara-negara lainnya agar dapat mengalahkan Perancis. Napoleon menyadari hal ini, tanpa kekalahan Inggris atau perjanjian damai dengannya maka ia tidak akan pernah mencapai perdamaian secara penuh di benua Eropa.

Perang Inggris dan Perancis, 1803–1814

Tidak seperti anggota koalisi lainnya, Inggris tetap berperang secara kecil-kecilan dengan Perancis. Dengan perlindungan dari armada lautnya yang sangat kuat (seperti yang diucapkan Admiral Jervis “Saya tidak menjamin bahwa Perancis tidak akan datang menyerang kita, tetapi saya menjamin bahwa mereka tidak akan datang lewat laut”), Inggris dapat tetap mensuplai dan mengadakan perlawanan didarat secara global selama lebih dari satu dekade. Bala tentara Inggris juga menyokong pemberontak di Spanyol melawan Perancis dalam perang Peninsular pada tahun 1808-1814. Dilindungi oleh kondisi alam yang menguntungkan, serta dibantu dengan pergerakan gerilyawan yang sangat aktif, pasukan Anglo-Portugis ini sukses mengganggu pasukan Perancis selama beberapa tahun. Puncaknya pada tahun 1815, tentara Inggris memainkan peran penting dalam mengalahkan pasukan Napoleon pada pertempuran Waterloo.

Sebenarnya perjanjian damai (Persetujuan Amiens) antara Inggris dan Perancis telah disepakati pada tanggal 25 Maret 1802. Tetapi kedua belah pihak tidak pernah mematuhinya. Aksi militer kedua belah pihak selalu merusak perjanjian ini seperti misalnya Perancis ikut andil dalam kericuhan sipil di Swiss (Stecklikrieg) dan menduduki beberapa kota di Italia, sementara Inggris menduduki Malta. Napoleon juga berusaha mengembalikan hukum kolonial di laut. Pada awal ekspedisi ini kelihatan sukses, akan tetapi dengan cepat berubah menjadi bencana. Komandan Perancis, juga saudara ipar Napoleon dan hampir sebagian besar tentaranya meninggal akibat wabah penyakit kuning, dan juga karena serangan musuh.

Napoleon menjadi Kaisar Perancis pada tanggal 18 Mei 1804 dan menobatkan dirinya sendiri sebagai penguasa Notre-Dame pada tanggal 2 Desember.

Koalisi ketiga, 1805

Pada bulan April 1805, Inggris dan Rusia menandatangani kesepakatan dengan tujuan mengusir Perancis dari Belanda dan Swiss. Austria ikut serta dalam aliansi ini setelah pencaplokan wilayah Genoa dan penobatan Napoleon sebagai Raja Italia pada tanggal 17 Maret 1805.

Austria memulai peperangan dengan menginvasi Bayern dengan bala tentaranya yang berjumlah 70 ribu jiwa di bawah pimpinan Karl Mack von Leiberich. Dengan segera tentara Perancis keluar dari Boulogne pada akhir Juli 1805 untuk menghadapinya. Keduanya bertemu di Ulm (25 September – 20 Oktober). Napoleon mengepung tentara Mack memaksanya menyerah. Dengan dikalahkannya tentara Austria di utara pegunungan Alpen (tentara lainnya di bawah pimpinan Adipati Agung Charles berputar balik sehingga bertemu tentara Perancis lainnya pimpinan marsekal André Masséna di Italia), Napoleon menduduki Wina. Jauh di belakang garis suplainya, ia berhadapan dengan bala tentara Austria-Rusia yang lebih besar di bawah komandan Mikhail Kutuzov, juga kaisar Alexander dari Rusia turut serta. Pada tanggal 2 Desember, Napoleon menyerbu gabungan tentara dua negara ini yang berada di Moravia, Austerlitz (inilah kemenangan terbesar Napoleon). Napoleon hanya kehilangan 7 ribu tentaranya, sementara kerugian tentara gabungan sekitar 25 ribu jiwa.

Austria menandatangani kesepakatan Pressburg pada tanggal 26 Desember 1805 dan keluar dari koalisi. Perjanjian ini meminta Austria menyerahkan Venesia kepada Kekaisaran Perancis yang meliputi Italia dan Tyrol sampai dengan Bayern.

Dengan mundurnya Austria dari perang ini, tentara Napoleon mencatat kemenangan terus-menerus di daratan, akan tetapi kekuatan penuh tentara Rusia belumlah ikut serta saat itu.

Koalisi keempat, 1806–1807

Koalisi keempat terbentuk beberapa bulan setelah runtuhnya koalisi ketiga dan terdiri dari Prusia, Rusia, Saxon, Swedia, dan Inggris. Pada bulan Juli 1806, Napoleon membentuk Konfederasi Rhein untuk menyatukan negara-negara kecil di Jerman.

Akibat terpecahnya kerajaan-kerajaan Jerman, dan atas desakan Napoleon, Kaisar Franz II dari Austria menyatakan bubarnya Kekaisaran Romawi Suci yang dipimpinnya pada tanggal 6 Agustus 1806. Sejak itu berakhirlah suatu imperium longgar bangsa-bangsa Jerman yang berlangsung hampir selama 850 tahun.

Karena tidak bisa menerima hal ini, Friedrich Wilhelm III dari Prusia, yang merupakan anggota imperium, pada bulan yang sama membuat keputusan yang berani dengan menyatakan perang secara terpisah melawan Perancis dan negara-negara koalisi. Di bulan September, Napoleon menggerakkan seluruh pasukannya yang berada di timur Rhein. Napoleon sendirilah yang mengalahkan tentara Prusia di Jena pada tanggal 14 Oktober 1806, dan Marsekal Davout mengalahkan lainnya di Auerstädt pada hari yang sama. Sekitar 160 ribu tentara Perancis (jumlah yang bertambah terus seiring dengan kemenangan-kemenangan yang diraih Napoleon) menyerang Prusia dengan strategi yang jitu disertai pergerakan yang cepat, sehingga berhasil menghancurkan kekuatan militer yang lebih besar dan kuat yaitu sekitar seperempat juta tentara Prusia; dengan korban jiwa 25 ribu orang, menahan sekitar 150 ribu orang, menyita 4 ribu artileri, serta lebih dari 100 ribu musket di Berlin.

Sebenarnya Napoleon hanya melawan satu detasemen tentara Prusia saja di Jena. Di Auerstädt-lah pertempuran besar terjadi, melibatkan satu korps tentara Perancis mengalahkan tentara Prusia yang berjumlah sangat besar. Napoleon memasuki Berlin pada tanggal 27 Oktober 1806. Dia mengunjungi makam Friedrich yang Agung dan menginstruksikan seluruh marsekalnya untuk melepas topi mereka untuk memberi penghormatan seraya berucap

Jika Friedrich yang Agung masih hidup, tentulah kita tidak akan sanggup berada di sini sekarang

Dalam perang melawan Prusia ini, Napoleon hanya membutuhkan waktu 19 hari saja untuk menyerang tentara Prusia di Jena dan Auerstädt, mengalahkannya, dan akhirnya menduduki Berlin. Hal ini sangat fantastis dan brilian, karena sebaliknya Prusia yang sudah bertempur selama 3 tahun sejak keiikutsertaan dalam koalisi pertama hanya sedikit saja memperoleh keberhasilan.

Selama konflik ini tercatat Malta mengirimkan bantuan kepada Rusia dan Prusia dengan harapan mereka mendapat aliansi politis melawan Napoleon dan Perancis, akan tetapi hal ini tidak berhasil karena bajak laut di sekitar Pantai Barbari menghadang dan merampas bantuan tersebut.

Babak selanjutnya dari peperangan era Napoleon ini, adalah dipaksanya Rusia keluar dari Polandia oleh Perancis dan didirikan negara baru bernama Kadipaten Warsawa. Kemudian Napoleon beralih ke utara untuk berhadapan dengan sisa-sisa tentara Rusia, dan berusaha untuk menduduki ibukota sementara Prusia, Koenigsberg. Dengan taktik berpindah di Pertempuran Eylau (7 Februari – 8 Februari 1807), Perancis berhasil memaksa Rusia mundur ke utara lebih jauh lagi. Lalu Napoleon mengepung mereka di Friedland (14 Juni 1807). Akibat kekalahan ini, Tsar Alexander terpaksa mengadakan perdamaian dengan Napoleon di Tilsit (7 Juli 1807). Pada bulan September, Marsekal Brune secara menyeluruh berhasil menduduki Pomerania. Meskipun demikian, dia tetap mengizinkan pasukan Swedia yang kalah untuk mundur bersama peralatan perang mereka.

Koalisi kelima, 1809

Koalisi kelima terdiri dari Britania Raya dan Austria yang dibentuk untuk melawan Perancis di daratan. Sementara di laut, sekali lagi Inggris berperang sendirian melawan sekutu-sekutu Napoleon. Tercatat sejak koalisi kelima terbentuk, angkatan laut kerajaan Inggris mencapai kesuksesan di daerah koloni Perancis dan memperoleh kemenangan yang besar melawan Denmark di Pertempuran Kopenhagen (2 September 1807).

Di daratan, koalisi kelima berusaha memperluas wilayah tetapi dengan pergerakan militer terbatas. Seperti yang terjadi pada ekspedisi Walcheren pada tahun 1809, yang melibatkan angkatan darat Inggris dibantu oleh angkatan lautnya untuk membebaskan tentara Austria yang berada dalam tekanan tentara Perancis. Ekpedisi ini berakhir menjadi bencana setelah tentara yang dikomandani oleh John Pitt (pangeran kedua dari Chatham) gagal mencapai target yaitu pangkalan angkatan laut Perancis di Antwerpen.

Dalam tahun-tahun selama koalisi kelima ini, pergerakan militer Inggris di daratan, terkecuali di jazirah Iberia (Al-Andalus), masih terbatas pada taktik serang dan lari dibantu oleh angkatan laut yang mendominasi laut setelah sukses menghancurkan hampir seluruh kemampuan angkatan laut Perancis dan sekutunya dan juga memblokade laut di sekitar pangkalan-pangkalan milik Perancis yang masih dipertahankan dengan kuat.

Serangan kilat ini mirip dengan metode serangan yang dilancarkan oleh para gerilyawan. Umumnya angkatan laut membantu angkatan darat untuk menghancurkan kapal-kapal Perancis, mengganggu pengiriman, komunikasi, dan garnisun-garnisun militer di sekitar pantai. Dan sering juga angkatan laut datang menolong dengan menurunkan tentara mereka untuk membantu operasi militer yang dilancarkan bermil-mil jauhnya dari pantai.

Kapal-kapal milik angkatan laut Inggris bahkan membantu dengan gempuran artileri dari moncong-moncong meriam mereka jika tentara Perancis yang bertempur tersesat hingga dekat dengan garis pantai. Tetapi bagaimanapun juga, kualitas dan kemampuan dari angkatan darat-lah yang sangat berpengaruh dari sukses tidaknya suatu operasi militer. Sebagai contoh, ketika taktik ini dilancarkan di Spanyol, kadangkala angkatan laut gagal mencapai target karena kurangnya kualitas dan kemampuan tentaranya.

Peperangan ini juga merembet ke perang ekonomi antara sistem kontinental yang diterapkan oleh Perancis menghadapi blokade laut oleh Inggris di setiap wilayah kekuasaan Perancis. Kedua belah pihak selalu membuat konflik baru agar sistem mereka bisa dilaksanakan. Inggris berperang dengan Amerika antara tahun 1812-1815, sementara Perancis ikut serta dalam perang di Semenanjung Eropa selama tahun 1808-1814. Konflik di Andalusia dimulai ketika Portugal melanjutkan perdagangan dengan Inggris meskipun ada larangan dari pihak Perancis. Ketika Spanyol mengalami kegagalan untuk mempertahankan aliansinya dengan Perancis, dengan segera tentara Perancis menyerang dan menduduki ibukota Madrid.

Austria yang sebelumnya menjadi sekutu Perancis, mengambil kesempatan untuk mengembalikan wilayah mereka di Jerman yang pernah dikuasainya sebelum mengalami kekalahan dalam perang di Austerlitz. Mereka memperoleh beberapa kemenangan atas tentara marsekal Davout yang memang terlalu sedikit dalam menjaga seluruh front timur. Napoleon hanya menempatkan sekitar 170.000 tentaranya untuk menjaga seluruh front timur ini. (bandingkan dengan tahun 1790-an, ada sekitar 800.000 tentara yang menjaga front timur ini bahkan lebih pendek jaraknya saat itu).

Napoleon sangat gembira dengan keberhasilan pasukannya merebut Spanyol dan menduduki Madrid dengan mudah, dan memaksa mundur sejumlah besar tentara Inggris dari Andalusia (Pertempuran Corunna, 16 Januari 1809). Akan tetapi serangan yang dilancarkan Austria mencegah Napoleon menyelesaikan pengusiran tentara Inggris dari Andalusia karena dia harus pergi ke Austria untuk memimpin pasukan dan tidak pernah kembali ke arena pertempuran di jazirah ini. Karena ketidakhadirannya beserta marshal terbaiknya (Davout tetap memimpin di timur selama peperangan), situasi di Spanyol makin memburuk, terutama ketika Jenderal Inggris Sir Arthur Wellesley yang terkenal itu tiba untuk memimpin pasukan.

Tentara Austria menyerbu ke kadipaten Warsawa tetapi mengalami kekalahan pada Pertempuran Radzyn pada tanggal 19 April 1809. Tentara Polandia menduduki Galicia barat menambah daftar kesuksesan mereka.

Kemudian Napoleon memimpin sendiri tentaranya untuk melakukan serangan balik ke Austria. Setelah melalui beberapa pertempuran kecil, Austria akhirnya dipaksa mundur dari Bayern, sementara Napoleon terus bergerak memasuki Austria. Akibat keinginannya untuk segera menyeberangi sungai Danube mengakibatkan pertempuran besar yang terkenal dengan nama Pertempuran Aspern-Essling (22 Mei 1809) — Kekalahan telak pertama yang diderita Napoleon dari pasukan Austria yang dipimpin oleh Jenderal Archduke Karl. Baru pada awal bulan Juli (5 Juli – 6 Juli), Napoleon berhasil merebut Vienna dengan mengalahkan tentara Austria pada Pertempuran Wagram. (Pada saat berlangsung pertempuran ini, Napoleon mencopot Marsekal Bernadotte dari jabatannya dan mempermalukan dia di hadapan marsekal senior lainnya. Segera setelah kejadian ini, Bernadotte menerima tawaran dari Swedia untuk mengisi posisi sebagai pangeran. Selanjutnya dia secara aktif berpartisipasi dalam peperangan ini melawan Napoleon.)

Perang koalisi kelima ini berakhir dengan kesepakatan Schönbrunn (14 Oktober 1809). Selanjutnya di timur hanya pemberontak Tyrol-lah yang dipimpin oleh Andreas Hofer yang tetap melanjutkan perlawanan terhadap tentara Perancis-Bayern sampai akhirnya mereka dikalahkan pada bulan November 1809, sementara itu perang di semenanjung Eropa Barat tetap berlanjut.

Kekaisaran Perancis mencapai puncak kejayaannya pada tahun 1810 dengan wilayah kekuasaan yang begitu luas. Sementara itu Inggris dan Portugal tetap menjaga area di sekitar Lisbon (di belakang garis depan di Torres Vedras) dan untuk mengepung Cadiz. Napoleon menikah dengan Marie-Louise, Putri dari Austria, dengan maksud untuk mempererat aliansi dengan Austria dan memperoleh keturunan untuk menjadi putra mahkota baru. Hal ini tidak didapatkannya dari istri pertama, Josephine. Sebagai kaisar Perancis, Napoleon mengontrol negara-negara konfederasi Swiss, konfederasi Rhine, kadipaten Warsawa dan kerajaan Italia. Wilayah-wilayah di bawah kekaisaraan Perancis termasuk:

* Kerajaan Spanyol (di bawah pimpinan Joseph Bonaparte, saudara laki-laki Napoleon)
* Kerajaan Westphalia (Jerome Bonaparte, saudara laki-laki Napoleon)
* Kerajaan Napoli (Joachim Murat, suami dari Caroline, saudara perempuan Napoleon)
* Kerajaan Lucca dan Piombino (saudara perempuan Napoleon Elisa Bonaparte dan suaminya Felice Bacciocchi)
* Bekas musuh Napoleon sebelumnya, Prusia dan Austria.

Invasi ke Rusia, 1812

Napoleon berencana menyerang Inggris , dan menyusun 180.000 tentara di Boulogne. Namun, untuk invasinya, ia membutuhkan keunggulan laut – atau paling tidak dapat memukul mundur Britania dari Selat Inggris. Rencana untuk menarik perhatian Britania dengan mengganggu jajahan mereka di India Barat gagal ketika armada Perancis-Spanyol di bawah Laksamana Villeneuve mundur setelah pertempuran Cape Finisterre pada 22 Juli 1805. Angkatan Laut Kerajaan memblokade Villeneuve di Cádiz sampai ia pergi menuju Naples pada 19 Oktober; skuadron Britania menangkap dan menaklukkan armadanya dalam Pertempuran Trafalgar tanggal 21 Oktober (komandan Britania, Lord Nelson, tewas dalam pertempuran). Napoleon tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk menantang Britania di laut. Napoleon membatalkan semua rencananya untuk menyerang Kepulauan Britania, dan membalikan perhatiannya ke musuhnya di Benua Eropa sekali lagi. Tentara Perancis meninggalkan Boulogne dan bergerak menuju Austria.

Seperti yang disebutkan di atas, hasil dari pakta Tilsit tahun 1807 mengakibatkan perang Anglo-Rusia 1807–1812. Tsar Alexander I menyatakan perang kepada Inggris setelah Inggris menyerang Denmark pada bulan September tahun 1807. Banyak pelaut Inggris yang ikut membantu armada laut Swedia selama perang Finlandia dan memperoleh kemenangan atas Rusia di teluk Finlandia pada bulan Juli tahun 1808 dan bulan Agustus tahun 1809, tetapi kemenangan tentara Rusia di daratan memaksa Swedia menandatangani perjanjian damai dengan Rusia pada tahun 1809 dan dengan Perancis pada tahun 1810 juga harus bergabung untuk memblokade Inggris.

Akan tetapi hubungan Perancis dan Rusia menjadi semakin buruk setelah tahun 1810, sementara perang Rusia dan Inggris telah berakhir. Pada bulan April tahun 1812, Rusia, Inggris dan Swedia menandatangani perjanjian rahasia untuk bergabung melawan Napoleon.

Napoleon menginvasi Rusia pada tahun 1812 dengan maksud memaksa kaisar Alexander I tetap mengikuti sistem kontinental yang diterapkannya dan memperkecil kemungkinan ancaman Rusia yang akan menginvasi Polandia. Dengan membawa pasukan dalam jumlah besar yaitu sekitar 650.000 orang (270.000 orang Perancis, sisanya tentara dari berbagai wilayah lain) pada tanggal 23 Juni 1812 mereka menyeberangi sungai Niemen. Rusia menyatakan ini sebagai perang patriotik membela negara sementara Napoleon menyatakannya sebagai perang Polandia Kedua. Hal ini tidak seperti harapan rakyat Polandia (ada sekitar 100.000 tentara Polandia yang bergabung dalam invasi ini) yakni Napoleon ternyata tidak ingin bernegosiasi dengan Rusia.

Rusia menerapkan strategi membumihanguskan kota sambil mundur teratur. Pertempuran hanya terjadi di Borodino pada tanggal 7 September 1812. Pada tanggal 14 September 1812, pasukan Napoleon berhasil masuk kota Moskwa yang sebenarnya sudah ditinggalkan penduduknya dan dibumihanguskan atas perintah gubernur-nya: Pangeran Fyodor Vasilievich Rostopchin.

Akhirnya dimulailah penarikan pasukan secara besar-besaran dari Kota Moskwa akibat cuaca yang sangat dingin dan juga makin hebatnya serangan Rusia yang memang memanfaatkan cuaca dingin sebagai senjata. Korban mencapai sekitar 380.000 jiwa (kebanyakan akibat kelaparan dan kedinginan) dan 100.000 ditawan. Korban jiwa pada pihak Rusia sekitar 210.000 jiwa. Pada bulan November, sisa dari pasukan besar ini menyeberangi sungai Berezina dan hanya sekitar 27.000 tentara yang masih dalam kondisi fit. Napoleon kemudian meninggalkan tentaranya dan kembali ke Perancis untuk menyiapkan pertahanan di Polandia dari serangan tentara Rusia.

Koalisi keenam, 1812-1814

Melihat adanya kemungkinan untuk mengalahkan Napoleon yang sudah lemah akibat kekalahan besar di Rusia, dengan segera Prusia, Swedia, Austria, dan beberapa negara kecil di Jerman ikut dalam peperangan lagi. Napoleon bersumpah dia akan membentuk tentara baru sebesar tentara yang dia kirimkan ke Rusia, dan memang dengan secara cepat dia membentuk tentaranya di timur dari 30.000 menjadi 130.000 dan pada akhirnya mencapai 400.000 orang. Pertempuran pun segera terjadi di Lützen (2 Mei 1813) dan Bautzen (20-21 Mei 1813) yang mengakibatkan kerugian besar di pihak koalisi yaitu sekitar 40 ribu jiwa. Tercatat lebih dari 250.000 tentara yang terlibat dalam dua pertempuran ini.

Sementara itu pada peperangan di semenanjung Eropa tepatnya di kota Vitoria ( 21 Juni 1813), pasukan Arthur Wellesley meraih kemenangan atas pasukan Joseph Bonaparte sehingga hancurlah kekuatan Perancis di Spanyol dan memaksa mereka mundur melewati pegunungan Pyrene.

Kedua belah pihak menyatakan gencatan senjata yang mulai efektif tanggal 4 Juni sampai dengan 13 Agustus 1813. Selama masa damai ini kedua belah pihak berusaha pulih dari kerugian yang dideritanya sejak bulan April yang telah menelan korban jiwa hampir seperempat juta. Pihak koalisi juga berhasil memengaruhi Austria agar berperang melawan Perancis. Akhirnya dua inti dari pasukan Austria yang berjumlah 300.000 orang ikut serta dalam koalisi sehingga menambah kekuatan mereka di Jerman. Total jumlah pasukan koalisi saat itu mencapai 800.000 tentara di garis depan Jerman, dengan cadangan mencapai 350.000 tentara.

Kesuksesan Napoleon dalam dua pertempuran melawan koalisi keenam di atas ternyata membawa pengaruh besar pada kekuatan angkatan perangnya sehingga menjadi sekitar 650.000 tentara  meskipun sebenarnya hanya 250.000 tentara yang langsung di bawah komandonya, sementara lainnya 120 ribu tentara di bawah komando marsekal Nicolas Charles Oudinot dan 30.000 di bawah komando marsekal Davout.

Negara-negara yang bergabung dalam konfederasi Rhine, terutama Saxon dan Bayern adalah penyumbang tentara terbesar untuk Napoleon. Di selatan, Kerajaan Napoli dan Kerajaan Italia turut menambah kekuatan dengan menyediakan sekitar 100.000 tentara. Sementara di Spanyol masih ada sekitar 150-200 ribuan tentara Perancis meskipun saat itu mereka sudah dipaksa mundur oleh Inggris dari wilayah tersebut. Jadi ada sekitar 900.000 tentara Perancis yang tersebar di semua medan pertempuran berhadapan dengan sekitar 1 juta tentara koalisi (belum termasuk tentara cadangan di Jerman).

Setelah masa gencatan senjata selesai, tampaknya Napoleon akan meraih kembali masa kejayaannya setelah meraih kemenangan besar atas tentara koalisi di Dresden pada bulan Agustus tahun 1813. Akan tetapi di medan pertempuran lain semua marsekalnya mengalami kekalahan sehingga kemenangan ini menjadi tidak ada artinya lagi. Pada Pertempuran Leipzig di Saxon (16-19 Oktober 1813) yang juga dikenal dengan nama pertempuran banyak bangsa, sekitar 190.000 tentara Perancis berhadapan dengan 300.000 tentara koalisi, yang pada akhirnya memaksa mereka mundur sampai ke kampung halamannya sendiri, Perancis. Kemudian Napoleon masih memimpin beberapa pertempuran lagi termasuk pertempuran Arcis-sur-Aube di Perancis sendiri, akan tetapi karena banyaknya jumlah tentara koalisi yang terlibat pertempuran membuat mereka kewalahan.

Akhirnya pasukan koalisi memasuki Paris pada tanggal 30 Maret 1814. Tercatat Napoleon masih memimpin pasukannya dan mendapat kemenangan berkali-kali atas pasukan koalisi yang maju terus menuju Paris. Akan tetapi dia hanya memimpin sekitar 70.000 tentara melawan 500.000 tentara koalisi, suatu jumlah yang tidak sebanding. Pada tanggal 9 Maret 1814 diadakan perjanjian Chaumont yang menyetujui agar koalisi tetap dipertahankan sampai pasukan Napoleon dapat dikalahkan seluruhnya.

Napoleon memutuskan tetap bertempur, meskipun dia sudah di ambang kekalahan. Selama masa ini tercatat dia mengeluarkan 900.000 surat keputusan wajib militer tetapi hanya beberapa saja yang berhasil dilaksanakan. Akhirnya Napoleon kalah dan turun takhta pada tanggal 6 April 1814, tetapi pasukannya di Italia, Spanyol dan Belanda masih terus melakukan perlawan selama musim semi tahun 1814.

Pihak koalisi memutuskan untuk mengasingkan Napoleon ke pulau Elba, dan mengembalikan Perancis menjadi kerajaan serta mengangkat Louis XVIII sebagai raja. Mereka juga mengadakan perjanjian di Fontainebleau (11 April 1814) serta kongres di Wina untuk menata ulang peta wilayah di Eropa.

Perang Denmark-Inggris, 1807-1814

Selama peperangan era Napoleon, sebenarnya Denmark – Norwegia menyatakan sebagai negara netral dan hanya mengadakan perdagangan dengan Perancis. Akan tetapi pihak Inggris yang terus-menerus menyerang, menangkap dan menghancurkan sebagian besar armada laut Denmark pada pertempuran Kopenhagen pertama (2 April 1801) dan hal ini diulangi lagi pada pertempuran Kopenhagen kedua (Agustus-September 1807) mengakibatkan Denmark melakukan perang gerilya terhadap armada Inggris di laut Denmark-Norwegia dengan menggunakan kapal-kapal kecil yang dilengkapi meriam. Perang ini akhirnya berhenti setelah Inggris meraih kemenangan pada pertempuran Lyngor pada tahun 1812, yang mengakibatkan kerusakan pada kapal Denmark yang terakhir, yaitu kapal perang Najaden.

Koalisi ketujuh, 1815

Koalisi ketujuh yang terdiri atas Britania Raya, Rusia, Prusia,Swedia, Austria, dan Belanda serta sejumlah negara kecil di Jerman terbentuk pada tahun 1815 setelah larinya Napoleon dari pulau Elba (tercatat sekitar seratus hari dia kembali memimpin Perancis). Napoleon mendarat di Cannes pada tanggal 1 Maret 1815. Dalam perjalanannya ke Paris, ia mengumpulkan tentara yang masih setia kepadanya, dan akhirnya menggulingkan raja Louis XVIII. Pihak koalisi segera mengumpulkan pasukan kembali untuk berhadapan dengannya. Napoleon berhasil mengumpulkan 280.000 orang, yang ia pecah menjadi beberapa kesatuan. Untuk menambah kekuatan, Napoleon memanggil kembali seperempat juta veteran perang serta membuat keputusan untuk mengadakan kembali wajib militer agar dapat menambah jumlah pasukan menjadi 2,5 juta tentara yang pada kenyataannya tidak berhasil dilakukan. Hal ini dilakukan untuk menghadapi pasukan koalisi yang berjumlah sekitar 700.000 tentara.

Dengan membawa 124.000 pasukannya yang berada di utara, Napoleon melakukan serangan kejutan ke posisi pasukan koalisi yang berada di Belgia. Serangan ini dia lakukan dengan harapan mendorong Inggris mundur ke laut dan memaksa Prusia keluar dari peperangan. Serangan kejutan ini mencapai sukses, memaksa Prusia bertempur di Ligny pada tanggal 16 Juni 1815 dan berhasil mengalahkan mereka sehingga mundur dalam keadaan kacau-balau. Pada hari yang sama tetapi di lain tempat, pasukan sayap kiri pimpinan marsekal Michel Ney sukses menahan bala bantuan yang akan datang dari tentara Wellington dalam Pertempuran Quatre Bras. Tetapi Ney gagal membersihkan persimpangan jalan Quatre Bras ini sehingga tentara Wellington dapat memperkuat kembali posisinya.

Dengan mundurnya Prusia, pasukan Welington yang tadinya ingin membantu menjadi mundur juga. Mereka kembali ke posisi semula di tebing Gunung Santa Jean, beberapa mil di selatan desa Waterloo. Napoleon membawa cadangan pasukannya yang ada di utara, dan bergabung dengan pasukan Ney untuk mengejar Wellington. Tetapi hal ini dia lakukan sebelum menginstruksikan kepada marsekal Grouchy untuk memimpin pasukan sayap kanan menahan tentara Prusia yang sudah bersatu kembali.

Grouchy gagal melaksanakan perintah ini, meskipun sebenarnya pasukan von Thielmann berhasil mengalahkan barisan belakang pasukan Prusia di Pertempuran Wavre pada tanggal 18-19 Juni, sisa pasukan Prusia tetap menuju Waterloo. Napoleon menunda Pertempuran Waterloo beberapa jam di pagi hari pada tanggal 18 Juni karena belum mengeringnya tanah akibat hujan pada malam sebelumnya. Ternyata sampai petang hari, pasukan Perancis belum mampu menaklukkan pasukan Wellington. Ketika pasukan Prusia akhirnya datang dan menyerang sayap kanan Perancis dalam jumlah besar, gagallah strategi Napoleon untuk tetap memecah kekuatan koalisi.

Marsekal Grouchy menebus kesalahannya di atas dengan sukses mengorganisasikan pasukan yang mundur dari kota Paris, sementara marsekal Davout dengan 117.000 tentaranya berhadapan dengan 116.000 tentara Blucher-Wellington. Secara militer sangat dimungkinkan Perancis mengalahkan gabungan kedua tentara ini akan tetapi situasi politik membuktikan bahwa kekaisaran sudah mulai jatuh. Jadi, meskipun akhirnya Davout sukses mengalahkan kedua gabungan pasukan ini, sekitar 400.000 tentara Rusia dan Austria tetap maju terus dari arah timur tidak terpengaruh akan kekalahan ini.

Ketika tiba di Paris pada hari ketiga sesudah kekalahan di Waterloo, Napoleon sebenarnya masih berharap timbulnya perlawanan rakyat untuk membela negara terhadap datangnya pasukan asing yang ingin menguasai Perancis. Akan tetapi hal ini tidak menjadi kenyataan karena secara umum rakyat Perancis menolak. Para politisi memaksa Napoleon untuk turun takhta lagi pada tanggal 22 Juni 1815. Meskipun akhirnya kaisar turun takhta, pertempuran sporadis masih terus berlanjut di sepanjang perbatasan timur dan di luar kota Paris sampai disepakatinya gencatan senjata tanggal 4 Juli. Baru pada tanggal 15 Juli, Napoleon menyerahkan dirinya ke skuadron Inggris di Rochefort yang selanjutnya membuangnya kembali ke pulau Saint Helena, tempat dia akhirnya meninggal dunia pada tanggal 5 Mei 1821.

Sementara itu di Italia, Joachim Murat yang masih menjadi Raja Napoli setelah menyerahnya Napoleon, sekali lagi menunjukkan loyalitas yang tinggi kepada saudara iparnya itu dengan melancarkan perang Neapolitan (bulan Maret sampai Mei 1815). Dia berharap mendapat dukungan para nasionalis yang saat itu sedang dilanda ketakutan atas berkembangnya pengaruh Habsburg. Tetapi dukungan yang diharapkannya tidaklah datang, dan akhirnya datanglah pasukan Austria sehingga pecah pertempuran Tolentino pada tanggal 2-3 Mei 1815 yang memaksanya untuk melarikan diri. Dinasti Bourbon akhirnya kembali menduduki takhta Napoli pada tanggal 20 Mei 1815. Murat dieksekusi di depan regu tembak pada tanggal 13 Oktober 1815.

Pengaruh politik

Peperangan era Napoleon membawa perubahan besar di Eropa. Meskipun hampir semua wilayah di Eropa Barat di bawah kekuasaan Napoleon (prestasi yang hanya bisa dibandingkan dengan kekaisaran Romawi tempo dulu), peperangan antara Perancis dengan kekuatan lain di benua Eropa selama lebih dari dua dekade akhirnya sampai pada titik penghabisan. Setelah peperangan era Napoleon berakhir, dominasi Perancis di Eropa praktis lenyap, dan kembali lagi seperti pada masa Louis XIV.

Inggris akhirnya muncul sebagai negara superpower di dunia dan tidak dapat dibantah lagi bahwa angkatan laut Inggris menjadi yang terkuat di dunia, demikian juga mereka menjadi negara maju di bidang ekonomi dan industri.

Hampir di semua negara Eropa, cita-cita dari Revolusi Perancis (seperti demokrasi, hak dan persamaan dalam bidang hukum, dll.) mulai diadopsi. Hal ini mengakibatkan sulitnya para raja di Eropa mengembalikan hukum lama mereka dan terpaksa tetap memegang hukum-hukum yang diterapkan oleh Napoleon. Bahkan hingga hari ini beberapa dari hukum tersebut masih dipakai, misalnya di banyak negara Eropa hukum sipilnya jelas-jelas mengadopsi kode Napoleon.

Faham nasionalisme yang relatif baru saat itu dengan cepat berkembang di Eropa dan nantinya banyak memengaruhi jalannya sejarah di sana, mulai dari berdirinya negara baru atau berakhirnya suatu negara. Peta politik di Eropa berubah drastis setelah era Napoleon, tidak lagi berbasis aristrokat atau monarki mutlak tetapi berdasarkan kerakyatan. Era Napoleon telah menyebarkan benih bagi berdirinya negara Jerman modern dan Italia modern dengan bergabungnya negara-negara bagian dan juga kerajaan-kerajaan kecil.

Ide lain yang diadopsi dari Napoleon (walaupun dia sendiri gagal mewujudkannya) adalah harapannya untuk mewujudkan Eropa yang bersatu (ide ini digulirkan lagi setelah berakhirnya Perang Dunia II. Ide ini kini sudah diwujudkan dengan adanya mata uang tunggal Uni Eropa, Euro.

Warisan militer

Peperangan era Napoleon juga memberikan perubahan yang sangat besar di dunia militer. Sebelum era Napoleon, negara-negara di Eropa biasanya memiliki tentara dalam jumlah sedikit dan itu pun banyak diisi oleh tentara bayaran – kadangkala mereka bertempur melawan negara asalnya sendiri. Inovasi militer yang timbul dalam era Napoleon yaitu mulai dikenalnya kekuatan rakyat yaitu jika seluruh rakyat ikut berperang.

Napoleon mempraktikkan inovasinya seperti yang dipertunjukkan pada pertempuran Austerlitz tahun 1805. Dengan taktik yang brilian untuk menghadapi musuh yang berjumlah lebih besar, ia memerintahkan pasukannya untuk senantiasa berpindah posisi secara cepat dari satu tempat ke tempat lainnya.

Tentara Perancis juga memperbaiki aturan main untuk divisi artileri mereka, menjadi kesatuan terpisah dan dapat bergerak cepat. Hal ini mengubah tradisi sebelumnya, yaitu tradisi artileri hanya digunakan sebagai alat untuk mendukung suatu pasukan. Napoleon juga membuat standardisasi ukuran bola-bola meriam agar mudah dibawa dan bisa dipakai di semua jenis artileri.

Dengan populasi jiwa terbesar keempat di dunia saat itu, yaitu sekitar 27 juta jiwa (seperti juga Inggris yang berjumlah 12 juta jiwa dan Rusia sekitar 30 sampai 40 juta jiwa), Napoleon dapat mengambil keuntungan dari diberlakukannya wajib militer. Banyak pengamat militer saat ini yang salah persepsi dengan menyatakan bahwa ide wajib militer ini sudah berkembang sejak revolusi Perancis bukan dari Napoleon. Memang tidak semua inovasi militer dari era Napoleon. Adalah Lazare Carnot yang memberi sumbangan besar dalam menata ulang tentara Perancis dari tahun 1793 sampai dengan tahun 1794.

Besarnya jumlah pasukan yang terlibat telah mengubah dunia militer saat itu. Sebelum era Napoleon, pada saat perang 7 tahun (1756-1763), hanya sedikit yang terlibat, paling banyak 200 ribu orang saja. Bandingkan dengan Perancis pada tahun 1790-an, telah memperbanyak jumlah personel-nya menjadi 1,5 juta jiwa. Dan total sekitar 2,8 juta personel yang bertempur di daratan dan 150 ribu di laut, sehingga jumlah keseluruhan tentara yang terlibat menjadi hampir 3 juta personel.

Inggris memiliki 747.670 tentara antara tahun 1792 sampai dengan 1815. Ditambah lagi dengan seperempat juta personel di laut. Pada bulan September 1812, Rusia memiliki sekitar 904 ribu tentara yang terdaftar, dan antara tahun 1799 sampai dengan 1815 memiliki total 2,1 juta personel, kemungkinan sekitar 400 ribu bergabung antara tahun 1792 sampai dengan 1799. Sedangkan di laut, Rusia memiliki 200 ribu tentara sejak tahun 1792 hingga 1815.

Austria memiliki 576 ribu tentara dan hanya sedikit atau tidak memiliki kekuatan di lautan. Mereka memberikan perlawanan terus-menerus kepada Perancis sehingga kemungkinan besar tentara yang terlibat bisa mencapai 1 juta sampai berakhirnya perang. Prusia hanya mempunyai 320 ribu tentara saja selama perang ini, sedangkan Spanyol sekitar 300 ribu ditambah beberapa unit pasukan yang bergerilya.

Amerika Serikat mengirim 286.730 personel, sedangkan konfederasi Maratha, Kesultanan Utsmaniyah, Italia, Napoli dan Kadipaten Warsawa menyumbang lebih dari 100 ribu personel. Bahkan setelah perang berakhir, banyak negara-negara kecil yang memiliki pasukan berkekuatan besar juga.

Tetapi data jumlah tentara yang disebutkan tadi berasal dari sumber militer resmi dan sering pada kenyataannya jumlahnya jauh lebih sedikit dikarenakan banyaknya tentara yang desersi, penipuan oleh komandan lapangan yang menyetor daftar prajurit yang dilebih-lebihkan untuk mengambil keuntungan dari gaji yang diberikan pemerintah kepada unitnya, kematian, dan di beberapa negara bahkan terang-terangan berbohong untuk memenuhi jumlah tentara yang ditargetkan.

Bangkitnya Revolusi Industri sendiri pada tahap awal banyak dipengaruhi oleh besarnya jumlah pasukan militer. Karena hal ini menjadikan banyak pabrik yang harus memproduksi senjata dan peralatan militer lainnya dalam jumlah besar. Inggris merupakan produsen peralatan perang yang terbesar selama konflik ini, mereka mengirimkan sebagian besar senjata ini kepada sekutu-sekutunya (dan hanya memakainya sedikit). Sebaliknya Perancis yang juga menjadi produsen peralatan perang nomor dua terbesar, memproduksinya untuk memperlengkapi pasukannya sendiri dan juga sekutu-sekutunya.

Warisan untuk dunia militer lainnya adalah digunakannya semaphore oleh Perancis untuk saling berkomunikasi antara Menteri Perang, Carnot, dengan pasukan di perbatasan selama tahun 1790-an. Dan Perancis tetap mempergunakan sistem ini sampai peperangan era Napoleon berakhir. Dan perlu ditambahkan pula bahwa pada konflik inilah pertama kali Perancis menggunakan balon udara untuk memantau posisi musuh pada pertempuran Fleurus, 26 Juni 1794, juga digunakannya roket serta meriam yang telah disempurnakan.

Baca Artikel Lainnya: