6 Teknologi Canggih yang Membantu Tunanetra Beraktivitas

6 Teknologi Canggih yang Membantu Tunanetra Beraktivitas

Tunanetra adalah makna umum yang digunakan untuk keadaan seseorang yang mengalami problem atau rintangan didalam indra penglihatannya. Akibat berkurangnya kegunaan indra penglihatannya maka tunanetra berupaya memaksimalkan kegunaan indra-indra yang lainnya layaknya perabaan, penciuman, pendengaran dan lain sebagainya sehingga tidak sedikit penyandang tunanetra yang punya kemampuan luar biasa kalau di bidang musik atau ilmu pengetahuan.

6 Teknologi Canggih yang Membantu Tunanetra Beraktivitas

Menurut data badan kesegaran dunia (WHO), kuantitas penyandang tunanetra di dunia pada tahun 2017 mencapai 253 juta jiwa. Jumlah ini diprediksi oleh Lancet Global Health bakal tetap meningkat tiga kali lipat pada tahun 2050. Beberapa inovasi teknologi diciptakan untuk menolong aktivitas mereka sehari-hari, dikarenakan mengetahui populasi tunanetra yang tidak sedikit.

Augmented Reality

Bagi tunanetra, dambaan untuk menyaksikan dunia bukan tak bisa saja bakal terwujud didalam pas dekat bersama dengan kian disempurnakannya teknologi Augmented Reality. Para peneliti di Universitas Oxford di Inggris menggunakan AR untuk menolong meningkatkan energi penglihatan para penyandang problem penglihatan.

Teknologi tersebut terpasang didalam kacamata pintar bernama “OxSight” yang sanggup menarik titik terlemah berasal dari penglihatan seseorang. Saat ini, ukuran kacamata pintar tersebut masih lumayan besar sehingga masih agak mencolok kecuali dipakai sehari-hari. Namun para peneliti menjanjikan produk finalnya bakal lebih sama kacamata biasa.

Penerjemah Huruf Braille

Teknologi pun menolong mereka yang punya kebutuhan tertentu untuk membaca huruf normal ke huruf braille. Huruf braille adalah huruf yang dibikin bersama dengan proses taktil yang ditujukan bagi orang bersama dengan problem penglihatan. kode-kode timbul yang kini dikenal untuk menolong sahabat-sahabat tunanetra itu dinamakan bersama dengan nama seorang pria Prancis kelahiran 4 Januari 1809, Louis Braille.

Para peneliti berasal dari Massachusetts Institute of Technology, AS mencoba mengembangkan proses huruf taktil ke sebuah perangkat yang sanggup menerjemahkan huruf biasa ke huruf braille secara real-time. Perangkat ini bakal dibekali fitur pemindai. Fungsinya sama bersama dengan yang terdapat di banyak mesin penerjemah, yakni menangkap gambar yang tertera bersama dengan huruf biasa, lalu menerjemahkannya ke huruf braille.

Teknologi Navigasi Dalam Ruangan berasal dari Objek Bersuara

“Seeing I App” di sediakan oleh Microsoft bagi penyandang tunanetra. Tapi peneliti berasal dari Institut Teknologi California menggunakan HoloLens besutan Microsoft untuk memandu tunanetra di bangunan indoor yang kompleks. Mereka memadukan suara dan pengamatan ruangan dan juga objek 360 derajat secara real-time. Perangkat yang mereka kembangkan sanggup menolong untuk mendapatkan benda tertentu atau menuntun mereka lewat jalan yang telah di pre-set sebelumnya.

“Subtitle” Huruf Braille

Saat jadi dewasa atau tua yang jadi sukar untuk mempelajari huruf braille, proyek ini menolong mereka yang mengalami problem penglihatan. Huruf braille yang dinamakan “ELIA Frames” ini menolong para penyandang tunanetra baru untuk lebih cepat beradaptasi bersama dengan huruf braille. Penemuan ini terhitung bermanfaat bagi mereka yang idamkan mempelajari huruf braille bersama dengan cepat dan mudah.

Wearable Device Penanda Bahaya

Wearable device yang bakal berikan mengetahui penyandang tunanetra kecuali tersedia rintangan pas terjadi dan digunakan untuk berikan panduan kepada pengguna kecuali tersedia problem atau rintangan di sekitarnya, khususnya pas berjalan. Perangkat yang dikembangkan oleh VTT Technical Reseacrh Center asal Finlandia ini berjuluk Guidesense.

Guidesense mengandalkan sensor radar gelombag berukuran milimeter untuk mendeteksi rintangan sekecil apapun, layaknya ranting ranting pohon yang bergeser. Alat berwujud kotak ini ditempekan di anggota bawah dada, tepat di area kira-kira ulu hati. Dalam uji cobanya, para peneliti mengklaim 92 persen pengnguna mulai terbantu bersama dengan Guidesense, pas 80 persen mulai lebih yakin diri berjalan-jalan sendiri bersama dengan alat ini.

Mata “Bionic” dan “Bioprinting” Tiga Dimensi

Teknologi yang ini sanggup jadi yang paling baru di antara daftar sebelumnya. Peneliti berasal dari Universitas Newcastle di Inggris mencampur sel punca (stem cell) bersama dengan molekul alga yang jadi tinta biologis. Kemudian tinta tersebut jadi bahan utama untuk mencetak kornea buatan tiga dimensi.

Alat tersebut sanggup mengembalikan sebagian penglihatan pasien. Semua teknologi di atas diinginkan sanggup digunakan lebih luas ulang bagi para penyandang tunanetra di seluruh dunia. Penemuan sama terhitung dikembangkan oleh perusahaan VisionCare telah mengembangkan pengganti lensa bola mata biasa yakni “Implantable Miniature Telescope”.