Terinspirasi dari Games Siswa, Guru PPN Tanjungsari Membuat Media Interaktif

Terinspirasi dari Games Siswa, Guru PPN Tanjungsari Membuat Media Interaktif

 

Terinspirasi dari Games Siswa, Guru PPN Tanjungsari Membuat Media Interaktif

Pengertian Media Interaktif

Media Interaktif merupakan bagian dari pembelajaran bagi guru dan siswa saat ini. Seorang guru dari SMK PPN Tanjungsari, Bahar Nurdini menggunakan kreasi software power point untuk mengajar di kelas. Ia adalah salah satu finalis yang Anugerah Atikan Jawa Barat 2018, yang lolos pada grand final. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari, mulai 10-12 Desember 2018.

Bahar mengatakan ia lebih memilih media power point

karena software tersebut lebih mudah digunakan oleh siswa maupun guru. Ketika menggunakan media tersebut, ia berharap guru-guru lebih tertarik menggunakan aplikasi atau membuat media pembelajaran tersebut karena lebih mudah untuk menduplikasikannya.

“Saya buat sebagai percontohan saja

Harapannya bisa dikembangkan lagi nanti, tergantung materi yang diinput atau materi yang akan disampaikan,” ujar Bahar saat ditemui seusai presentasi di Hotel Pesona Bamboe, Jalan Raya Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Selanjutnya Bahar menjelaskan, slide yang dibuat pada media tersebut dibuat cukup banyak. Tetapi agar file lebih ringan, media hanya mengandalkan transisi. Selain itu, jika dilihat dari perbandingan file, media power point lebih nyaman ketika di akses pada tab atau gadget.

“Media tersebut digunakan saat guru menyampaikan materi. Bida untuk mengajar untuk guru ataupun ketika siswa mau memperdalam lagi materi. Saya sebagai guru bisa memberikan filenya dan mereka bisa membaca kembali materi yang telah dipelajari,” ujar Bajar

Walaupun bukan berasal dari jurusan IT

tetapi Bahar tertarik mempelajari tentang media webside. Ia merupakan guru mata pelajaran perikanan yang mengadopsi power point untuk menjadi media interaktif yang lebih inovatif. Awalnya, ia ingin membuat media interaktif menggunakan kode html, tetapi kekurangannya adalah sulit diduplikasi.

Selain itu, Bahar terinspirasi dari berbagai macam games yang disukai anak-anak. Salah satunya adalah tebak gambar yang lebih nyaman dalam media presentasi. Tebak gambar tersebut dibuat dengan banyak tombol interaktif dan dibuat tidak akan bergerak ke slide selanjutnya saat di klik disembarang temapat.

“Seolah-olah media ini seperti games di android. Sempat kita coba pada siswa, ternyata mereka terkesan bagaimana bisa power point seperti ini. Ketika dispace atau enter itu tidak bisa ke slide selanjutnya,” tutup Bahar.

 

Artikel Terkait:

Game UUBS, Solusi Belajar Bahasa Sunda yang Mengasikkan

Game UUBS, Solusi Belajar Bahasa Sunda yang Mengasikkan

 

Game UUBS, Solusi Belajar Bahasa Sunda yang Mengasikkan

Belajar Bahasa Sunda mungkin terkesan sulit untuk sebagian orang. Zaman sekarang pun, banyak anak muda yang mulai meninggalkan kebiasaan menggunakan bahasa sunda yang baik dan benar.

Berlatar belakang hal tersebut

muncullah ide membuat game edukasi Undak Usuk Basa Sunda (UUBS). Game ini berhasil menjadi finalis dalam mata lomba Edu Game kegiatan Anugerah Atikan Jbaryang diselenggarakan oleh Balai Teknologi Informasi Dan Komunikasi Pendidikan (Tikomdik), Dinas Pendidikan Jawa Barat. Game ini diciptakan oleh siswa kelas 12 jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL),  Mohammad Ripan S, Rafli Rafiky dan guru pembimbing, Ferry Stephanus.

“Saya sendiri sebagai orang bandung

yang lahir di tanah sunda, tapi bahasa sunda jarang dipakai. Kalau pun dipakai bahasanya yang kasar, undak usuknya tidak cocok digunakan, dan belum tau nih kata mana yang harusnya untuk orang yang lebih tua atau yang sebaya,” ujar Ferry.

Rafli mengatakan

Game UUBS adalah sebuah aplikasi belajar bahasa sunda untuk masyarakat. Tujuannya agar masyarakat dapat belajar bahasa sunda dengan menyenangkan dan mengasah bahasa sunda agar lebih baik.

Persiapan siswa dalam membuat game sebenarnya begitu singkat

Ferry dan siswanya begitu senang mengetahui terpilih menjadi 10 besar. Apalagi menurutnya, game tidak dipelajari di kelas, siswa bimbingannya benar-benar mengulik dan belajar sendiri.

“Awalnya tidak menyangka juga kita bisa masuk 10 besar

dengan kategori game, yang sebenarnya tidak dipelajari di kelas, tidak ada mata pelajarannya. Jadi,  sebenarnya siswa lebih banyak mengulik sendiri. Ini anak-anaknya sukses nguliknya, mereka bisa membuktikan bahwa walaupun tidak ada mata pelajarannya, mereka bisa sampai pada tahap sekarang,” ujar Ferry saat ditemui di sela-sela acara grand final.

 

Sumber : https://pendidikan.co.id/

Struktur Kulit pada Manusia, Epidermis dan Dermis

Struktur Kulit pada Manusia, Epidermis dan Dermis

 

Struktur Kulit pada Manusia, Epidermis dan Dermis
Struktur Kulit pada Manusia, Epidermis dan Dermis

Kali ini akan dibahas materi mengenai Struktur Kulit pada Manusia, Epidermis dan Dermis. Sekitar 0,01 cm hingga 0,5 cm. Banyaknya keringat yang dihasilkan atau dikeluarkan seseorang dipengaruhi antara lain oleh aktivitas tubuh, suhu lingkungan, makanan, kondisi kesehatan, dan keadaan emosi.

Keringat manusia terdiri daari air, garam-garam, terutama garam dapur (NaCl),sisa metabolism sel, urea, serta asam. Kulit (integument) terdiri dari dua bagian, yaitu epidermis dan dermis. Perhatikan Gambar 7.8

Epidermis (Kulit Ari)

Ketebalan epidermis menentukan ketebalan kulit. Kulit yang tebal, misalnya pada telapak tangan, ujung jari, dan telapak kaki, memiliki lima lapis epidermis, yaitu stratum basal, stratum spinosum, stratum granulosum, stratum lusidum, dan stratum korneum. Kulit yang tipis, seperti yang melapisi tubuh, tidak memiliki stratum lusidum.

Sel-sel di stratum basal, stratum spinosum, dan stratum granulosum meru- pakan sel hidup karena mendapat nutrien dari kapiler di jaringan ikat (dalam hal ini adalah dermis). Sebaliknya, sel-sel di stra­tum lusidum dan stratum korneum meru- pakan sel mati karena kapiler tidak mencapai lapisan ini.

Dermis (Kulit Jatigat) atau Korium

Dalam dermis terdapat pembuluh darah, akar rambut, dan ujung saraf. Selain itu, terdapat pula kelenjar keringat (glan- dula sudorifcra) serta kelenjar minyak (glan- dula sebassea) yang terletak dekat akar rambut dan berfungsi meminyaki rambut.

Kelenjar keringat berupa pipa terpilin yang memanjang dari epidermis masuk ke bagian dermis. Pangkal kelenjarnya menggulung dan dikelilingi oleh kapiler darah dan serabut saraf simpatetik. Dari kapiler darah inilah kelenjar keringat menyerap cairan jaringan yang terdiri dari air dan ± 1% larutan garam beserta urea. Cairan jaringan tersebut dikeluarkan / sebagai keringat melalui saluran keringat ke permukaan kulit.

Kira-kira 2 juta kelenjar keringat yang tersebar di seluruh dermis manusia dewasa dapat menghasilkan keringat ±225 ml setiap harinya. Kerja kelenjar keringat berada di bawah pengaruh pusat peng- aturan suhu badan dari sistem saraf pusat (hipotalamus) dan enzim brandikinin. Pengaturan oleh saraf pusat ini dirangsang oleh perubahan suhu di pembuluh darah.

Fungsi Hipotalamus adalah

Fungsi hipotalamus adalah memonitor dan mengendalikan suhu darah. Jika darah yang melalui hipotalamus suhunya lebih rendah dari normal, maka saraf pusat pencapai panas akan mengeluarkan rangsangan ke kulit untuk menurunkan kecepatan hilangnya panas.

Hal itu dilakukan dengan cara mengurangi aliran darah yang melewati pembuluh darah permukaan dan mengurangi pembentukan keringat. Sebaliknya, jika darah yang melewati hipotalamus suhunya lebih tinggi, maka saraf pusat kehilangan panas dan akan mengurangi kecepatan metabolisme, menghentikan menggigil, dan meningkatkan kecepatan hilangnya panas lewat kulit.Demikianlah materi mengenai Struktur Kulit pada Manusia, Epidermis dan Dermis, semoga bermanfaat.

Sumber : https://www.dosenmatematika.co.id/

Menuju Indonesia 4.0 dan Membangun Budaya Penelitian Pada Kaum Milenial

Menuju Indonesia 4.0 dan Membangun Budaya Penelitian Pada Kaum Milenial – Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tahun ini mengusung tema ”Meneliti Itu Seru” dan dan dilangsungkan tanggal 15-20 Oktober 2018 di kota Semarang, Jawa Tengah.

OPSI 2018 dibuntuti 275 SMA dan 55 Madrasah Aliyah dari 30 provinsi. Dari 1.593 proposal riset tersaring sejumlah 900 naskah laporan riset di tahap evaluasi naskah dan lantas menjadi 105 naskah terbaik dari 199 murid di babak final.

Asep Sukmayadi, Kepala Seksi Bakat dan Prestasi Peserta Didik SMA Kemendikbud menyatakan tentang kendala dan potensi kebiasaan penelitian di kalangan generasi milenial ketika ini.

Tantangan mengarah ke Indonesia 4.0

“Indonesia 4.0 ialah kesempatan sekaligus tantangan untuk generasi post milenial umur SMA Indonesia yang sekarang berjumlah selama 4.7 juta. Mereka bakal manapaki puncak-puncak generasi bonus produktif di masa 2035-2045,” ungkap Asep.

Ia menambahkan, semua siswa mesti dipersiapkan memiliki keterampilan dasar computational thinking, nalar yang kuat, kreatif, kritis, dan inovatif.

“Anak-anak Indonesia mesti dilazimi tidak beranggapan kecil dan instan, namun senang berlatih beranggapan out of the box, bahkan beranggapan out of the mainstream logic. Jawaban-jawaban ilmiah atas segala keingintahuan mesti dilazimi sejak dini sebab generasi masa mendatang Indonesia mesti menjadi inventors dan industry disrupters,” tegasnya.

Generasi ini diinginkan ikut mengatur ulang kehidupan dengan lebih baik melalui keterampilan dalam urusan kecerdasan produksi (AI), bioscience, dan rekayasa energi.

“Mereka mesti diserahkan kesempatan berlatih guna menemukenali bakat dan potensinya dalam penguasaan basic knowledge of the sciences, math skills, engineering, ekonomi, dan seni,” tambahnya.

Hal tersebut sangatlah penting sebab Indonesia 4.0 tidak mungkin dijangkau tanpa didukung kreatifitas manufaktur dan industri kreatif.

Membangun kultur penelitian generasi milenial

Kepala Seksi Bakat dan Prestasi Peserta Didik SMA ini menyampaikan, kebiasaan penelitian di kalangan murid terlihat belum merata semua tanah air. Dilihat dari data kepersertaan dalam ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) misalnya, tampak baru sebagian wilayah saja yang mempunyai perhatian betul-betul terhadap penelitian.

“Di https://www.bukuinggris.co.id Jogjakarta, misalnya, mengerjakan penelitian tersebut sudah adalah tugas keseharian di sekolah Project-based learning ditanamkan di dalam proses pembelajaran di sekolah sampai-sampai anak-anak belajar guna terbiasa menganalisis dan menulis, mengupayakan menerapkan kaidah-kaidah ilmiah dalam mengisi tugas yang diserahkan oleh guru-gurunya,” kisah Asep.

Pemerintah DIY mengerjakan intervensi dengan mengalokasikan perkiraan memadai untuk pekerjaan pembinaan ekstrakurikuler dan bakat serta prestasi peserta didik, yang secara otomatis mendorong bobot pembelajaran tersebut sendiri.

Selain sebab perhatian pemerintah wilayah yang belum optimal, tantangan tersebut juga datang dari akibat negatif maraknya pemakaian gadget atau media sosial yang tidak sedikit dinilai ingin membawa generasi muda guna berbudaya pikir pendek dan usaha instan.

Kaidah ilmiah yang menghendaki upaya melewati tahapan yang runut dan terstruktur ingin tidak digemari oleh generasi milenial. Meneliti itu ingin dianggap kaku, rumit, dan menjemukkan. Padalah meniliti tersebut juga seru dan keren.

Potensi dan prestasi peneliti remaja kita

Padahal, bakat dan prestasi murid Indonesia di bidang riset sangatlah hebat, membanggakan dan sarat dengan harapan.

“Pada sejumlah tahun terakhir ini juga, anda telah memperlihatkan karya-karya terbaik anak-anak Indonesia mampu berkata di ajang sekelas INTEL-ISEF di Amerika. Sebuah perhelatan pameran dan lomba peneliltian terbesar di dunia dibuntuti oleh lebih dari 1500 karya ilmiah remaja yang datang dari lebih 100 negara,” katanya lebih lanjut.

Beberapa diantaranya terdapat yang pernah menyabet juara dan special award lembaga keilmuwan dan korporasi terkemuka di Amerika dan di dunia. Anak-anak Indonesia pun sangat bangga dapat berinteraksi bahkan dengan semua nobelis terkemuka dunia dan memperoleh peluang karyanya guna dinilai oleh semua nobelis itu, jelas Asep.

Karya-karya invensi anak-anak Indonesia pun sangat futuristik, di samping mempunyai nilai-nilai kepedulian terhadap penyelesaian atas persoalan-persoalan yang terdapat di lingkungannya. Karya mereka pun mempunyai potensi besar menjadi unsur dari penata ulang masa mendatang kehidupan insan yang lebih baik.

“Seperti yang dikutip Bill Gates bahwa terdapat 3 bidang iptek yang bakal mempengaruhi masa mendatang manusia, yaitu kepintaran buatan, bioscience, dan energi. Nah, karya-karya anak-anak Indonesia mempunyai harapan itu,” ujarnya.

Ia bercita-cita OPSI terus dikembangkan guna menjadi wahana efektif dalam ikut menambah mutu pembelajaran keseharian di sekolah sekaligus sebagai wahana penguatan edukasi karekter siswa melewati penanaman nilai-nilai sejati keilmuwan yang peduli dan empati.

“Dan yang penting pun adalah, OPSI sebagai peristiwa berjumpa anak-anak Indonesia guna menyemai dan menumbuhkan persatuan dan persahabatan sebagai generasi yang bakal menopang masa mendatang bangsa yang gemilang,” kata Kepala Seksi Bakat dan Prestasi Peserta Didik SMA memblokir penjelasannya.

baca juga: Menristek Dorong Generasi Milenial Jadi Dosen

Menristek Dorong Generasi Milenial Jadi Dosen

Menristek Dorong Generasi Milenial Jadi Dosen – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengucapkan pihaknya mempunyai sejumlah terobosan untuk menambah jumlah Doktor dan bahkan bakal menggandeng generasi milenial guna menjadi seorang dosen.

Hal ini dikatakan Menristekdikti Mohamad Nasir dalam Malam Anugerah Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Diktendik) Berprestasi tahun 2018 di Jakarta (29/10/2018).

Nasir mengungkapkan, eksistensi dosen dan tenaga kependidikan sangat memprovokasi mutu suatu perguruan tinggi. Bagi itu, ketika ini Kemenristekdikti sedang mendorong penambahan kualifikasi pendidikan, baik untuk para dosen maupun tenaga kependidikan.

Dorong milenial menjadi dosen

“Menjadi dosen dan tenaga kependidikan perlu perjuangan keras, untuk tersebut kami butuh mengapresiasi mereka yang berprestasi. Bagi semua dosen anda mendorong mereka untuk mencatat publikasi internasional,” ujar Menristekdikti.

Nasir menambahkan, sedangkan untuk para tenaga kependidikan, butuh untuk mengekor perkembangan teknologi di  https://www.sekolahan.co.id edukasi era revolusi industri 4.0 ketika ini.

Menteri Nasir menambahkan, Kemenristekdikti mempunyai sejumlah terobosan untuk menambah jumlah Doktor, bahkan menggandeng generasi milenial guna menjadi seorang dosen.

Dulu biasanya minim apresiasi

Salah satunya, melewati program Pendidikan Magister mengarah ke Doktor guna Sarjana Unggul (PMDSU) yang sekarang telah mencetuskan dosen-dosen muda, serta 261 publikasi internasional dari peserta etape I dan etape II.

Hal senada dikatakan Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti. “Capaiannya sungguh luar biasa, terdapat yang dapat menghasilkan delapan publikasi internasional. Kami pun melihat bahwa semua dosen berprestasi ketika ini tidak sedikit yang berasal dari generasi muda,” cerah Ghufron.

Dirjen Ghufron menjelaskan, eksistensi tenaga kependidikan biasanya minim apresiasi sampai-sampai tidak dapat mengindikasikan potensi secara optimal. Namun, sekarang Kemenristekdikti memberikan peluang beasiswa untuk tenaga kependidikan melanjutkan studi S2 dan S3 ke luar negeri untuk menambah kapasitas dan kompetensi.

Dengan begitu, ia menginginkan layanan dan pengelolaan perguruan tinggi bakal semakin baik.

Dosen dan tenaga pendidik berprestasi

Acara tahunan penghargaan dosen dan tenaga kependidikan ini adalahajang ke-15 dan diadakan sebagai format apresiasi untuk para dosen dan tenaga kependidikan yang sudah berdedikasi mengemban Tri Darma edukasi tinggi.

Tujuh penghargaan diberikan, 2 penghargaan diserahkan kepada dosen, yaitu dosen bidang sains dan teknologi (saintek) serta bidang sosial dan humaniora (soshum) Sedangkan 5 penghargaan lain dikaruniakan kepada tenaga kependidikan, mencakup pranata laboratoriun pendidikan, pustakawan, arsiparis, pengelola keuangan, dan administrasi akademik berprestasi.

“Jumlah peserta yang meregistrasi pada tahun ini menjangkau 265 orang. Dari jumlah tersebut sudah diseleksi menjadi 66 orang finalis, dan mereka semua muncul di sini guna kembali mengindikasikan prestasi-prestasi yang diunggulkan dari setiap perguruan tinggi asal,” ujar Ghufron.

baca juga: Gegar Otak Ringan Dapat Tingkatkan Risiko Terkena Parkinson, Benarkah?

TIPOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM DAN IMPLIKASINYA

TIPOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM DAN IMPLIKASINYA

TIPOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
TIPOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

 

BAB I
PENDAHULUAN

Satu hal yang paling penting dalam masalah pendidikan formal adalah pengaturan kurikulum. Karena kurikulumlah yang dijadikan sebagai acuan bagi berjalannya proses pendidikan. Bahkan termasuk sebagai acuan bagi evaluasi berhasil atau tidaknya proses pembelajaran yang dilakukan guru/ sekolah.
Dalam sistem pendidikan Islam, tentu kurikulum pendidikan wajib berlandaskan akidah Islam. Seluruh materi pelajaran dan metode pengajaran dalam pendidikan disusun agar tidak menyimpang dari landasan tersebut. Penyusunan kurikulum diatur sedemikian rupa, sehingga benar-benar bisa membentuk kepribadian Islam yang sempurna pada peserta didik. Mereka bukan hanya menguasai sainstek, cerdas secara intelektual saja, tetapi juga memahami hakekat diadakannya proses pendidikan itu sendiri.

Secara struktural, kurikulum pendidikan Islam formal dijabarkan dalam tiga komponen materi pendidikan utama yang sekaligus menjadi karakteristik, yaitu (1) pembentukan kepribadian islami), (2)Tsaqafah Islam, dan (3) Ilmu kehidupan (IPTEK, keahlian, dan ketrampilan). Selain muatan penunjang proses pembentukan kepribadian islam yang secara terus menerus pemberiannya untuk semua tingkat, muatan tsaqafah islam dan Ilmu terapan/ilmu kehidupan diberikan secara bertingkat sesuai dengan daya serap dan tingkat kemampuan anak didik berdasarkan jenjang pendidikannya masing-masing.

Bertolak dari asumsi bahwa life is education and education is life dalam arti pendidikan merupakan persoalan hidup dan kehidupan, dan seluruh proses hidup dan kehidupan manusia adalah proses pendidikan maka pendidikan Islam pada dasarnya hendak mengembangkan pandangan hidup Islami, yang diharapakan tercermin dalam sikap hidup dan keterampilan hidup orang Islam. Namun pertanyaan selanjutnya; apa saja aspek-aspek kehidupan itu ? Jawaban pertanyaan ini setidaknya muncul bebarapa paradigma pengembangan pendidikan Islam yaitu: pertama; paradigma Formisme; kedua; paradigma mekanisme dan ketiga paradigma organisme .


Pertama; paradigma Formisme; dalam paradigma ini aspek kehidupan dipandang dengan sangat sederhana, dan kata kuncinya adalah dikotomi atau distrit. Segala sesuatu hanya dilihat dari dua sisi yang berlawanan seperti; laki-laki dan perempuan, madrasah dan non Madrasah, pendidkan keagamaan dan non keagamaan, demikian seterusnya, pandangan ini berlanjut pada cara memandang aspek kehidupan dunia dan akherat. Kehidupan jasmani dan rohani sehingga pendidikan Islam hanya dietakkan pada kehidupan akherat saja atau kehidupan rohani saja. Oleh kerena itu pengembangannya (PAI) hanya berkisar pada aspek kehidupan ukhrawi yang terpisah dengan kehidupan duniawi, pendidikan (agama) Islam hanya berkutat mengurusi persoalan ritual dan priritual, sementara kehidupan sosial ekonomi politik, ilmu pengetahuan, teknologi dan lainya dianggap sebagai bidang duniawi yang menjadi bidang garap pendidikan umum.

 

Kedua; paradigma mekanisme, paradigma ini memandang kehidupan terdiri atas berbagai aspek, dan pendidikan dipandang sebagai penanaman dan pengembangan seperangkat nilai kehidupan, yang terdiri atas nilai agama, nilai individu, nilai sosial, nila politik, nilai ekonomi, nilai rasional dan sebagainya.sebagai impliksinya, pengembangan pendidikan Islam tersebut bergantung pada kemauan, kemampuan, dan political-will dari para pembinaya/pimpinan dari lembaga tersebut. Terutama dalam membangun kerjasama dengan mata pelajaran/kuliah lain. Hubungan antara pendidikan agama dengan beberapa metapelajaran dapat bersifat horisontal lateral (Indipendent), lateral-sekuensial, atau bahkan vertikal linear.

Ketiga paradigma organisme, paradigma ini memandang bahwa Islam adalah kesatuan atau sebagai sistem yang berusaha mengembangkan semangat hidup (weltanschanauung) Islam, yang dimanifestasikan pada sikap hidup dan keterampilan hidup yang Islami. Melalui upaya ini maka sistem pendidikan Islam diharapkan dapat diintegrasikan nilai-nilai Ilmu pengetahuan, ilmu agama dan etik, serta mampu melahir-kan manusia-manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memilki pematangan profesional, dan sekaligus hidup dalam nilai-nilai agama.
Dalam perspektif filsafat pendidikan berkembang pemikiran bahwa pendidikan semestinya mampu menjawab bagaimana dan mengapa pendidikan tersebut diselengga-rakan. Oleh karena itu alur bahasan tulisan ini adalah mengungkap keterkaitan pemikiran filosofis dalam proses perumusan dan pengembangan kurikulum, terutama kurikulum pendidikan Islam ?


BAB II
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

A. PENGERTIAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. Kata ini barasal dari dua kata “philos” dan “shopia” yang berarti pecinta pengetahuan. Konon yang per-tama kali menggunakan kata “philoshop” adalah Socrates . Dia menggunakan kata ini karena dua alasan, Pertama, kerendah-hatian dia. Meski-pun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya, dia tidak mau menyebut dirin-ya sebagai orang yang pandai. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan.
Kedua, pada waktu itu, di Yunani terdapat beberapa orang yang meng-anggap diri mereka orang yang pandai (shopis). Mereka pandai bersilat lidah, sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka katakan. Kebenaran yang riil tidak ada. Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis, artinya mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu, karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung orang-orang shopis. Dalam keadaan seperti ini, Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. Dia berhasil dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. Meski dia berhasil, ia tidak ingin dikatakan pandai, tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai.

 

Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni, filsafat teoritis dan filsafat praktis. Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam, seperti: fisika, biologi, ilmu pertambangan dan astronomi; (2) ilmu eksakta dan matematika; (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak); (2) urusan rumah tangga; (3) sosial dan politik. Filusuf adalah orang yang mengetahui semua cabang-cabang ilmu pengetahuan tadi.

Dalam konteks ke Indonesia, filsafat diasumsikan sebagai pemikiran yang berarti berarti proses, cara, atau perbuatan memikir; yaitu menggunakan akal budi untuk memutuskan suatu persoalan dengan mempertimbangkan segala sesuatu secara bijaksana. (Moeliono, 1988: 682-683) .
Sedangkan pendidikan berarti suatu proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang (peserta didik), melalui upaya pengajaran dan pelatihan, serta proses, perbuatan, dan cara-cara mendidik.(Moeliono, 1988: 232).
Maka pemikiran pendidikan Islam adalah serangkaian proses kerja akal dan kalbu yang dilakukan secara bersungguh-sungguh dalam melihat berbagai persoalan yang ada dalam pendidikan Islam dan berupaya untuk membangun sebuah paradigma pendidikan yang mampu menjadi wahana bagi pembinaan dan pengembangan peserta didik secara paripurna. (Nizar, 2001:7).


Filsafat pendidikan merupakan pola-pola pemikiran atau pendekatan filosofis terhadap permasalahan bidang pendidikan dan pengajaran. Filsafat pendidikan sebagai salah satu ilmu terapan adalah cabang ilmu pengetahuan yang memusatkan perhatiannya pada penerapan pendekatan filosofis pada bidang pendidikan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidup.
Dasar yang menjadi alasan-alasan bahwa filsafat pendidikan harus dipelajari oleh setiap pendidik atau guru adalah sebagai berikut :
1. Bahwa setiap manusia atau individu harus bertindak termasuk dalam pendidikan, secara sadar dan terarah tujuan yang pasti serta atas keputusan batinnya sendiri.
2. Bahwa demikian pula setiap individu harus bertanggung jawab dalam pendidikan, yang tinggi rendahnya nilai mutu tanggung jawab tersebut akan banyak ditentukan oleh system nilai dasar norma yang melandasinya.
3. Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa setiap manusia yang hidup tentu memiliki filsafat hidup, demikian pula setiap manusia yang hidup dalam bidang dan dunia pendidikan harus memiliki filsafat pendidikan yang merupakan guide post, tonggak papan penunjuk jalan sumber dasar dan tujuan tindakan dan tanggung jawabnya dalam kegiatan pendidikannya.
4. Suatu kenyataan pula bahwa terdapat keragaman aliran-aliran pendidikan, kearah mana individu pendidik harus menentukan pilihannya secara bebas dan bertanggung jawab, terbuka, kritis, dengan meninjaunya dari segala segi.
5. Pada suatu ketika individu pendidik telah menentukan pilihannya maka ia tidak netral lagi dan meyakininya serta mengamalkannya aliran filsafat pendidikannya secara penuh rasa tanggung jawab.


Pengertian Dan Jenis Penelitian

Pengertian Dan Jenis Penelitian

Jenis Penelitian
Jenis Penelitian

Pengertian Penelitian atau Riset adalah penyelidikan atau pencarian yang seksama untuk memperoleh fakta baru dalam cabang ilmu pengetahuan.

Macam-macam Penelitian :

PENELITIAN DESKRIPTIF adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel lain.

Contoh judul penelitian Deskriptif

  1. Kinerja Karyawan Yang Tidak Berpendidikan

Rumusan Masalah:

  1. a) Seberapa tinggi produktivitas kerja karyawan di Perusahaan A?
  2. b) Seberapa baik interaksi kerja di Perusahaan A?
  3. c) Bagaimana kinerja karyawan di perusahaan A?

Tujuan:

Untuk mengetahui kinerja karyawan yang tidak berpendidikan di Perusahaan A yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya produktivitas kerja karyawan.


  1. Kerugian Masyarakat di Porong Akibat Lumpur Lapindo

Rumusan Masalah:

  1. a) Seberapa besar kerugian masyarakat di Porong akibat Lumpur Lapindo?
  2. b) Seberapa besar masyarakat porong kehilangan lapangan pekerjaan?
  3. c) Bagaimana sikap masyarakat Porong akibat Lumpur Lapindo?

Tujuan:

Untuk mengetahui seberapa besar kerugian masyarakat porong akibat Lumpur lapindo.

PENELITIAN KOMPARATIF adalah suatu penelitian yang bersifat membandingkan disini. Variabelnya masih sama dengan penelitian variable mandiri tetapi untuk sample yang lebih dari satu atau dalam waktu yang berbeda.


Contoh judul Komparatif:

  1. Perbandingan Kerugian Petani di daerah Pedesaan dengan daerah Perkotaan

Rumusan masalah:

  1. a) Adakah perbandingan kualitas hasilnya di daerah pedesaan dengan daerah perkotaan?
  2. b) Adakah perbedaan factor alamnya ?
  3. c) Adakah perbedaan biaya yang di keluarkan oleh petani didaerah pedesaan dengan perkotaan?
  4. d) Adakah perbedaan jumlah penjualan yang ada di desa dan di kota?

Tujuan:

Untuk mengetahui sejauh mana kerugian para petani di desa dan di kota dalam menghasilkan laba.

  1. Perbandingan Menggunakan mesin dengan Manual di Perusahaan (Z)

Rumusan masalah:

  1. a) Adakah perbedaan kecepatan menghasilkan produk antara menggunakan mesin dengan menggunakan secara manual?
  2. b) Adakah perbedaan bentuk dan ketepatan dalam menghasilkan produk?
  3. c) Adakah perbedaan dalam mengeluarkan biaya yang di keluarkan?
  4. d) Adakah perbedaan kenyamanan menggunakan mesin dengan manual?

Tujuan :

Untuk membandingkan apakah perusahaan lebih efektif dan efesien dengan menggunakan mesin dengan secara manual sehingga dapat menghasilkan produk yang bagus, tepat, cepat dan berkualitas,

PENELITIAN ASOSIATIF adalah suatu pertanyaan penelitian yang bersifat antara dua variabel atau lebih.


Contoh judul Asosiatif:

  1. Pengaruh Iklan dalam Nilai Jual

Rumusan Masalah:

  1. a) Apa pengaruh iklan dalam nilai jual?
  2. b) Seberapah besar pengaruh iklan dalam meningkatkan penjualan?
  3. c) Iklan yang bagaimana yang dapat mempengarui nilai jual?

Tujuan:

Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh iklan dalam nilai jual

  1. Pengaruh Pelayanan Toko Terhadap nilai Penjualan

Rumusan Masalah :

  1. a) Apa pengaruh pelayanan terhadap nilai jual suatu produk?
  2. b) Bagaimana pelayanan yang dapat mempengaruinilai jual?
  3. c) Apa akibat pelayanan yang kurang baik terhadap nilai jual?

Tujuan:

Untuk mengetahui pelayanan yang bagaimana yang dapat mempengarui nilai jual suatu produk.


Sumber : Ngelag.Com

Pengertian dan Unsur Pendidikan

Pengertian dan Unsur Pendidikan

Pengertian dan Unsur Pendidikan
Pengertian dan Unsur Pendidikan

Seorang calon pendidik hanya dapat melaksanakan tugasnya denga nbaik jika memperoleh jawaban yang jelas dan benar tentang apa yang dimaksud pendidikan. Jawaban yang benar tentang pendidikan diperoleh melalui pemahaman terhadap unsur-unsurnya, konsepdasar yang melandasinya, dan wujud pendidikan sebagi sistem. Bab II ini akan mengkaji pengertian pendidikan,unsur-unsur pendidikan, dan sistem pendidikan.

  1. PENGERTIAN PENDIDIKAN
  2. Batasan tentang Pendidikan

Batasan tentang pendidikan yang dibuat oleh para ahli beraneka ragam, dan kandungannya berbeda yang satu dari yang lain. Perbedaan tersebut mungkin karena orientasinya, konsep dasar yang digunakan, aspek yang menjadi tekanan, atau karena falsafah yang melandasinya.

  1. Pendidikan sebagai Proses transformasi Budaya

Sebagai proses transformasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain. Nilai-nilai budaya tersebut mengalami proses transformasi dari generasi tua ke generasi muda. Ada tiga bentuk transformasi yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan misalnya nilai-nilai kejujuran, rasa tanggung jawab, dan lain-lain.


  1. Pendidikan sebagai Proses Pembentukan Pribadi

Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagi suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik. Proses pembentukan pribadi melalui 2 sasaran yaitu pembentukan pribadi bagi mereka yang belum dewasa oleh mereka yang sudah dewasa dan bagi mereka yang sudah dewasa atas usaha sendiri.

  1. Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Warganegara

Pendidikan sebagai penyiapan warganegara diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk membekali peserta didik agar menjadi warga negara yang baik.

  1. Pendidikan sebagai Penyiapan Tenaga Kerja

Pendidikan sebagai penyimpana tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar utuk bekerja. Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan kerja pada calon luaran. Ini menjadi misi penting dari pendidikan karena bekerja menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia.

  1. Definisi Pendidikan Menurut GBHN

GBHN 1988(BP 7 pusat, 1990: 105) memberikan batasan tentang pendidikan nasional sebagai berikut: pendidikan nasiaonal yang berakar pada kebudayaan bangsa indonesia dan berdasarkan pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 diarahkan untuk memingkatkan kecerdasan serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

  1. Tujuan dan proses Pendidikan
  2. Tujuan pendidikan

Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dazn merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.

  1. b. Proses pendidikan

Proses pendidikan merupakan kegiatan mobilitas segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan, Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya , pengelolaan proses pendidikan meliputi ruang lingkup makro, meso, mikro. Adapun tujuan utama pemgelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya proses belajar dan pengalaman belajar yang optimal.

  1. Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat (PSH)

PSH bertumpu pada keyakinan bahwa pendidikan itu tidak identik dengan persekolahan, PSH merupakan sesuatu proses berkesinambungan yang berlangsung sepanjang hidup. Ide tentang PSH yang hampir tenggelam, yang dicetuskan 14 abad yang lalu, kemudian dibangkitkan kembali oleh comenius 3 abad yang lalu (di abad 16). Selanjutnya PSH didefenisikan sebagai tujuan atau ide formal untuk pengorganisasian dan penstrukturan pengalaman pendidikan. Pengorganisasian dan penstruktursn ini diperluas mengikuti seluruh rentangan usia, dari usia yang paling muda sampai paling tua.(Cropley:67)


Berikut ini merupakan alasan-alasan mengapa PSH diperlukan:

  1. Rasional
  2. Alasan keadilan
  3. Alasan ekonomi
  4. Alasan faktor sosial yang berhubungan dengan perubahan peranan keluarga, remaja, dan emansipasi wanita dalam kaitannya dengan perkembangan iptek
  5. Alasan perkembangan iptek
  6. Alasan sifat pekerjaan
  7. Kemandirian dalam belajar
  8. Arti dan perinsip yang melandasi

Kemandirian dalam belajar diartikan sebagai aktivitas belajar yang berlangsungnya lebih didorong oleh kamauan sendiri, pilihan sendiri, dan tanggung jawab sendiri dari pembelajaran. Konsep kemandirian dalam belajar bertumpu pada perinsip bahwa individu yang belajar akan sampai kepada perolehan hasil belajar.

  1. ­Alasan yang menopang

Conny Semiawan, dan kawan-kawan (Conny S. 1988; 14-16) mengemukakan alasan sebagai berikut:

Ø      Perkembangan iptek berlangsung semakin pesat sehingga tidak mungkin lagi para pendidik(khususnya guru) mengajarkan semua konsep dan fakta kepada peserta didik.

Ø      Penemuan iptek tidak mutlak benar 100%, sifatnya relatif.

Ø      Para ahli psikologi umumnya sependapat, bahwa peserta didik mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh konkret dan wajar sesuai dengan situasi dan kondidi yang dihadapi dengan mengalami atau mempraktekannya sendiri.

Ø      Dalam proses pendidikan dan pembelajaran pengembangan konsep seyogyanya tidak dilepaskan dari pengembangan sikap dan penanaman nilai-nilai ke dalam diri peserta didik.

  1. UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN

Proses pendidikan melibatkan banyak hal yaitu:

  1. Subjek yang dibimbing (peserta didik).
  2. Orang yang membimbing (pendidik)
  3. Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
  4. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)
  5. Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan)
  6. Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode)
  7. Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan)

Penjelasan:

  1. Peserta Didik

Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Pandangan modern cenderung menyebutkan demikian oleh karena peserta didik adalah subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya.

Ciri khas peserta didik yang perlu dipahami oleh pendidik ialah:

  1. Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga merupakan insan yang unik.
  2. Individu yang sedang berkembang.
  3. Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi.
  4. Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri.
  5. Orang yang membimbing (pendidik)

Yang dimaksud pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkunga yaitu lingkungankeluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masayarakat. Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan ialah orang tua, guru, pemimpin program pembelajaran, latihan, dan masyarakat.

  1. Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)

Interaksi edukatif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antara peserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan manipulasi isi, metode, serta alat-alat pendidikan.

  1. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)
  2. Alat dan Metode

Alat dan metode diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan ataupun diadakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan. Secara khusus alat melihat jenisnya sedangkan metode melihat efisiensi dan efektifitasnya. Alat pendidikan dibedakan atas alat yang preventif dan yang kuratif.

  1. Tempat Peristiwa Bimbingan Berlangsung (lingkungan pendidikan)

Lingkungan pendidikan biasanya disebut tri pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Sumber : gurupendidikan.co.id

6 Ciri Anak dengan Kecerdasan Musikal, Apa Saja?

6 Ciri Anak dengan Kecerdasan Musikal, Apa Saja?

Kalau buah hati senang berdendang dan dapat ‘menembak’ nada dengan tepat, dapat jadi ia memiliki kepintaran musikal.

Tidak semua kepintaran harus bersangkutan dengan urusan sains laksana matematika, teknologi atau ilmu pengetahuan alam.

Ahli penelitian Amerika Prof. Howard Gardener memetakan ragam kepintaran atau ‘multiple intelligence’ anak dalam 8 kelompok utama.

Menurutnya, masing-masing orang memilki bermacam-macam kepintaran tetapi dengan kadar pengembangan yang berbeda.

Yang di maksud kepintaran menurut keterangan dari Gardener ialah suatu kumpulan keterampilan atau kemampuan yang bisa ditumbuhkembangkan. Gardener membagi kepintaran anak dalam 8 distrik kecerdasan: linguistik, logika matematik, visual dan spasial, musik, interpersonal, intrapersonal, kinestetik, dan naturalis.

Kecerdasan musikal ialah https://www.pelajaran.id kemampuan guna menikmati, mengamati, membedakan, mengarang, menyusun dan mengekspresikan bentuk-bentuk musik. Kecerdasan ini mencakup kepekaan terhadap ritme, melodi dan timbre dari musik yang didengar.

Ciri-ciri anak yang memiliki kepintaran musikal diantaranya:

1. Anak bisa memainkan perangkat musik.
2. Anak bisa menyanyi cocok dengan tinggi rendahnya kunci nada.
3. Anak dapat menilik sebuah irama melulu dengan mendengarkan sejumlah kali saja
4. Anak sering memperhatikan musik. Anak dapat menikmati konser atau peragaan musik.
5. Anak tampak sering memperhatikan lagu seraya belajar.
6. Anak dapat mengekor irama musik dengan baik dan tanpa sadar mengetuk-ngetukkan jari mengekor irama lagu itu.

Dikutip dari akun sah instagram Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), orangtua dapat memungut peran mengembangkan keterampilan musikal anak dengan cara:

1. Sering memutarkan lagu yang cocok dengan usianya.
2. Mengajak dan mengajarkan bermain perangkat musik.
3. Memperkenalkan pelbagai alat musik.
4. Mengajak menyaksikan pertunjukan musik.
5. Memberikan apresiasi positif ketika anak memainkan perangkat musik atau bernyanyi.

Baca Juga:

Pengertian, Fungsi Dan Aspek Bahasa

Pengertian, Fungsi Dan Aspek Bahasa

 

Pengertian Bahasa

Menurut Gorys Keraf (1997 : 1), Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Mungkin ada yang keberatan dengan mengatakan bahwa bahasa bukan satu-satunya alat untuk mengadakan komunikasi. Mereka menunjukkan bahwa dua orang atau pihak yang mengadakan komunikasi dengan mempergunakan cara-cara tertentu yang telah disepakati bersama. Lukisan-lukisan, asap api, bunyi gendang atau tong-tong dan sebagainya. Tetapi mereka itu harus mengakui pula bahwa bila dibandingkan dengan bahasa, semua alat komunikasi tadi mengandung banyak segi yang lemah.

Pengertian, Fungsi Dan Aspek Bahasa
Pengertian, Fungsi Dan Aspek Bahasa

Bahasa memberikan kemungkinan yang jauh lebih luas dan kompleks daripada yang dapat diperoleh dengan mempergunakan media tadi. Bahasa haruslah merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bukannya sembarang bunyi. Dan bunyi itu sendiri haruslah merupakan simbol atau perlambang.

 

  1. Aspek Bahasa

Bahasa merupakan suatu sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer, yang dapat diperkuat dengan gerak-gerik badaniah yang nyata. Ia merupakan simbol karena rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia harus diberikan makna tertentu pula. Simbol adalah tanda yang diberikan makna tertentu, yaitu mengacu kepada sesuatu yang dapat diserap oleh panca indra.

Berarti bahasa mencakup dua bidang, yaitu vokal yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, dan arti atau makna yaitu hubungan antara rangkaian bunyi vokal dengan barang atau hal yang diwakilinya,itu. Bunyi itu juga merupakan getaran yang merangsang alat pendengar kita (=yang diserap oleh panca indra kita, sedangkan arti adalah isi yang terkandung di dalam arus bunyi yang menyebabkan reaksi atau tanggapan dari orang lain).

Arti yang terkandung dalam suatu rangkaian bunyi bersifat arbitrer atau manasuka. Arbitrer atau manasuka berarti tidak terdapat suatu keharusan bahwa suatu rangkaian bunyi tertentu harus mengandung arti yang tertentu pula. Apakah seekor hewan dengan ciri-ciri tertentu dinamakan anjing, dog, hund, chien atau canis itu tergantung dari kesepakatan anggota masyarakat bahasa itu masing-masing.

  1. Benarkah Bahasa Mempengaruhi Perilaku Manusia?

Menurut Sabriani (1963), mempertanyakan bahwa apakah bahasa mempengaruhi perilaku manusia atau tidak? Sebenarnya ada variabel lain yang berada diantara variabel bahasa dan perilaku. Variabel tersebut adalah variabel realita. Jika hal ini benar, maka terbukalah peluang bahwa belum tentu bahasa yang mempengaruhi perilaku manusia, bisa jadi realita atau keduanya.

Kehadiran realita dan hubungannya dengan variabel lain, yakni bahasa dan perilaku, perlu dibuktikan kebenarannya. Selain itu, perlu juga dicermati bahwa istilah perilaku menyiratkan penutur. Istilah perilaku merujuk ke perilaku penutur bahasa, yang dalam artian komunikasi mencakup pendengar, pembaca, pembicara, dan penulis.

  1. 1. Bahasa dan Realita

Fodor (1974) mengatakan bahwa bahasa adalah sistem simbol dan tanda. Yang dimaksud dengan sistem simbol adalah hubungan simbol dengan makna yang bersifat konvensional. Sedangkan yang dimaksud dengan sistem tanda adalah bahwa hubungan tanda dan makna bukan konvensional tetapi ditentukan oleh sifat atau ciri tertentu yang dimiliki benda atau situasi yang dimaksud. Dalam bahasa Indonesia kata cecak memiliki hubungan kausal dengan referennya atau binatangnya. Artinya, binatang itu disebut cecak karena suaranya kedengaran seperti cak-cak-cak. Oleh karena itu kata cecak disebut tanda bukan simbol. Lebih lanjut Fodor mengatakan bahwa problema bahasa adalah problema makna. Sebenarnya, tidak semua ahli bahasa membedakan antara simbol dan tanda. Richards (1985) menyebut kata table sebagai tanda meskipun tidak ada hubungan kausal antara objek (benda) yang dilambangkan kata itu dengan kata table.

Dari uraian di atas dapat ditangkap bahwa salah satu cara mengungkapkan makna adalah dengan bahasa, dan masih banyak cara yang lain yang dapat dipergunakan. Namun sejauh ini, apa makna dari makna, atau apa yang dimaksud dengan makna belum jelas. Bolinger (1981) menyatakan bahwa bahasa memiliki sistem fonem, yang terbentuk dari distinctive features bunyi, sistem morfem dan sintaksis. Untuk mengungkapkan makna bahasa harus berhubungan dengan dunia luar. Yang dimaksud dengan dunia luar adalah dunia di luar bahasa termasuk dunia dalam diri penutur bahasa. Dunia dalam pengertian seperti inilah disebut realita.

Penjelasan Bolinger (1981) tersebut menunjukkan bahwa makna adalah hubungan antara realita dan bahasa. Sementara realita mencakup segala sesuatu yang berada di luar bahasa. Realita itu mungkin terwujud dalam bentuk abstraksi bahasa, karena tidak ada bahasa tanpa makna. Sementara makna adalah hasil hubungan bahasa dan realita.

3.2. Bahasa dan Perilaku

Seperti yang telah diuraikan di atas, dalam bahasa selalu tersirat realita. Sementara perilaku selalu merujuk pada pelaku komunikasi. Komunikasi bisa terjadi jika proses decoding dan encoding berjalan dengan baik. Kedua proses ini dapat berjalan dengan baik jika baik encoder maupun decoder sama-sama memiliki pengetahuan dunia dan pengetahuan bahasa yang sama. (Omaggio, 1986).

Dengan memakai pengertian yang diberikan oleh Bolinger(1981) tentang realita, pengetahuan dunia dapat diartikan identik dengan pengetahuan realita. Bagaimana manusia memperoleh bahasa dapat dijelaskan dengan teori-teori pemerolehan bahasa. Sedangkan pemerolehan pengetahuan dunia (realita) atau proses penghubungan bahasa dan realita pada prinsipnya sama, yakni manusia memperoleh representasi mental realita melalui pengalaman yang langsung atau melalui pemberitahuan orang lain. Misalnya seseorang menyaksikan sebuah kecelakaan terjadi, orang tersebut akan memiliki representasi mental tentang kecelakaan tersebut dari orang yang langsung menyaksikannya juga akan membentuk representasi mental tentang kecelakaan tadi. Hanya saja terjadi perbedaan representasi mental pada kedua orang itu.

  1. Fungsi Bahasa

Menurut Felicia (2001 : 1), dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Begitu dekatnya kita kepada bahasa, terutama bahasa Indonesia, sehingga tidak dirasa perlu untuk mendalami dan mempelajari bahasa Indonesia secara lebih jauh. Akibatnya, sebagai pemakai bahasa, orang Indonesia tidak terampil menggunakan bahasa. Suatu kelemahan yang tidak disadari.

Komunikasi lisan atau nonstandar yang sangat praktis menyebabkan kita tidak teliti berbahasa. Akibatnya, kita mengalami kesulitan pada saat akan menggunakan bahasa tulis atau bahasa yang lebih standar dan teratur. Pada saat dituntut untuk berbahasa’ bagi kepentingan yang lebih terarah dengan maksud tertentu, kita cenderung kaku. Kita akan berbahasa secara terbata-bata atau mencampurkan bahasa standar dengan bahasa nonstandar atau bahkan, mencampurkan bahasa atau istilah asing ke dalam uraian kita. Padahal, bahasa bersifat sangat luwes, sangat manipulatif. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Lihat saja, bagaimana pandainya orang-orang berpolitik melalui bahasa. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Agar dapat memanipulasi bahasa, kita harus mengetahui fungsi-fungsi bahasa.

Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf, 1997: 3).

Derasnya arus globalisasi di dalam kehidupan kita akan berdampak pula pada perkembangan dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dalam era globalisasi itu, bangsa Indonesia mau tidak mau harus ikut berperan di dalam dunia persaingan bebas, baik di bidang politik, ekonomi, maupun komunikasi. Konsep-konsep dan istilah baru di dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara tidak langsung memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Dengan demikian, semua produk budaya akan tumbuh dan berkembang pula sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu, termasuk bahasa Indonesia, yang dalam itu, sekaligus berperan sebagai prasarana berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan iptek itu (Sunaryo, 1993, 1995).

Menurut Sunaryo (2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan dapat berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar, menjadikan bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika cermat dalam menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa merupakan cermin dari daya nalar (pikiran).

Hasil pendayagunaan daya nalar itu sangat bergantung pada ragam bahasa yang digunakan. Pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan menghasilkan buah pemikiran yang baik dan benar pula. Kenyataan bahwa bahasa Indonesia sebagai wujud identitas bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi di dalam masyarakat modern. Bahasa Indonesia bersikap luwes sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai sarana komunikasi masyarakat modern. Referensi : kuliahbahasainggris.com