Kemenangan Sultan Agung Atas Surabaya 1620-1625

Kemenangan Sultan Agung Atas Surabaya 1620-1625

Setelah Sultan Agung sukses menundukan Tuban, membawa dampak dorongan orang Surabaya melemah. Hal ini membawa dampak mereka tidak lagi berani menanti kedatangan raja Mataram di kota mereka. Akan tetapi perihal itu tidak terjadi lama karena ternyata Surabaya bersama ulet dan penuh keberanian mempertahankan diri. Tidak lama lantas kota berikut menyerah bukan karena kalah didalam perang, melainkan karena keletihan, tak sekedar itu tidak bisa saja melaksanakan pengepungan di kota tersebut. Kenapa tidak mungkin? Dahulu, letak Surabaya sebagian di sebuah pulau pada sungai Mas dan sungai Pegirian dan sebagian lagi disebelah baratnya. Bagian itu, tempat keraton berada yang dilindungi tembok-tembok tinggi. Selain itu juga disekitarnya dipenuhi rawa-rawa dan sama sekali tidak sehat, maka dari itu mampu dimengerti betapa sulitnya mengepung Surabaya.

Dengan kecerdikannya Sultan Agung membawa dampak kiat untuk mematahkan kekuatan tahan kota Surabaya bersama merampas dan melaksanakan perusakan daerah-daerah sekelilingnya yang dikerjakan bertahun-tahun secara teratur. Hal itu dikerjakan seandainya setelah hasil panen padi masuk, begitu musim hujan mulai, perampok-perampok pulang kembali. Raja Mataram berikut juga dulu berencana mendirikan benteng di dekat Surabaya, dan berkesinambungan mengumpulkan orang didalamnya, dan merusakkan segala-galannya di kurang lebih Surabaya. Namun tidak ada bukti-bukti berkaitan bahwa raja Mataram terlalu melaksanakan konsep tersebut. Keberhasilan raja Mataram didalam menaklukan Surabaya ialah bersama penutupan saluran air, yang merupakan kasus bagi Surabaya sampai abad ke-19, kelanjutannya mematahkan kekuatan tahan kota, karena kekurangan air membawa dampak rakyat Surabaya menderita.

Serangan pertama, 1620
Kemudian terhadap tahun 1620 nampaknya raja Mataram mengumpulkan seratus ribu orang dikotanya untuk bergerak ke Batavia dan sang raja juga ikut serta. Hal ini berdasarkan berita dari orang-orang Belanda yang ditahan di Taji (Mataram) terhadap tanggal 20 Maret 1620. Dengan pertimbangan bahwa raja Mataram marah terhadap orang-orang belanda terhadap tahun itu, belanda berfikir bahwa ada bisa saja besar bahwa Mataram bersama pasukannya yang begitu banyak bertujuan untuk menyerang Batavia yang baru saja didirikan. Tetapi sebetulnya justru tidak demikian, target Mataram adalah untuk menaklukan Surabaya baik melalui darat maupun laut.

Gubernur Jepara setelah sukses menaklukan Tuban diperintahkan raja membawa 80 Kapal ke arah Timur bersama maksud, demikianlah pendapat Coen, memusnahkan loji Belanda di Gresik. Namun seandainya dipertimbangkan bahwa ada 1000 awak kapal agak berlebihan untuk duduki loji yang tidak mencapai lima orang Belanda. Nampak menyadari sekali bahwa target armada Mataram adalah perihal yang lebih besar.

Mengenai gerakan tentara darat, Artus Gysels, yang kebetulan terhadap sementara itu tiba di Selat Madura bersama 3 kapal dari kepulauan rempah-rempah, melaporkan bahwa terhadap sementara ia didalam bulan Agustus 1630 berada di Surabaya, raja Mataram menyerang kota bersama 70.000 pasukan. Surabaya mengerahkan 30.000 pasukan yang direncanakan akan menghentikan serangan Mataram di terhadap sebuah Sungai. Namun karena munculnya Neptunes secara kebetulan lumayan mengacaukan konsep Mataram didalam melaksanakan penyerangan. Saat itu Gresik tidak diduduki, maka tidak bisa saja memberi tambahan suplai beras kepada orang-orang Mataram baik melalui laut maupun Bengawan Solo

Karena kasus suplai beras berikut membawa dampak tentara Mataram yang berjumlah besa tidak bisa saja menetap di kurang lebih Surabaya untuk jangka sementara lama. Pada tahun 1620 jadi catatan sukses bagi Mataram, yang terlalu kecil.

Serangan Kedua, 1621
Pada tahun 1621 raja Mataram nampaknya tidak mengirimkan pasukan ke Surabaya. Hal itu kemungkinanan disebabkan senantiasa ada kapal-kapal Belanda di Gresik, dan karena itu Mataram tidak mampu gunakan jalur laut. Tentu dugaan ini terlalu masuk akal, dan terhadap suasana itu pula hanya sebagian gerombolan Mataram, yang mengusahakan membakar Kota Gresik yang telah ditinggalkan penduduknya, ditangkap dan dicegah Belanda untuk melanjutkan kegiatan mereka. Hal ini tentu mengganggu anggapan raja Mataram, dan membuatnya menghentikan pengiriman kebutuhan bahan makanan nampak dari negerinya selama sebagian bulan, dan ini mampu dianggap pembalasan. Dalam tahun ini nampak tercapai perdamaian pada Mataram dan Batavia. Raja Mataram bersedia melewatkan tahanan-tahanan orang Belanda tanpa tebusan, kendati ia dulu mengalami kerugian yang dialami di Jepara dilewatkan begitu saja. Sikap layaknya ini nampaknya di ambil raja Mataram, yaitu sikap bersabar yang ada hubungannya bersama keinginan raja sehingga orang-orang Belanda bersikap netral didalam pertempuran di Surabaya. Orang-orang Belanda lantas meninggalkan kota pelabuhan besar ini didalam perangnya melawan Mataram. Alasan Belanda meninggalkan tempat itu, karena kota pantai itu kelanjutannya tidak mampu bertahan oleh kapabilitas yang lebih besar, berhubung juga ada kesulitan-kesulitan di kepulauan Banda, dan Belanda menjadi Surabaya sebagai saingan Mataram pantas dilenyapkan. Tetapi, kantor yang berada di Gresik senantiasa dipertahankan, kendati tidak ada kapal perang yang melindunginya setelah Agustus 1621.
Sebelum raja Mataram menyerang Surabaya lagi, ia memerintahkan sebuah ekspedisi menuju ke keliru satu tempat kekuasaan Surabaya, yaitu bernama Sukadana.pada akhir tahun 1621 orang-orang Mataram membawa konsep menyerang Sukadana. Gubernur Kedal bersama 70 kapal membawa prajurit hendak menyerbu kota secara tiba-tiba, tetapi diketahui, dan lagi tidak menunda untuk berperang. Setengah tahun kemudian, usaha itu diulangi, terhadap tanggal 6 Mei 1622 nampak lagi di depan kota sebuah armada Jawa yang terdiri dari 100 kapal berisi 2000 pasukan melaksanakan serangan terhadap malam hari. Dalam peperangan itu Mataram mampu menguasainya kendati banyak korban di pihak Mataram karena terkena sumpit panah beracun. Ketika matahari terbit, nampak kota itu kosong di tinggal oleh pemiliknya. Kemudian De Haen mendengar bahwa kekalahan pihak Jawa tetap lebih berat yaitu tak sekedar 300 yang tewas, tetap terkandung juga 400 orang luka-luka berat terkena panah. Dari mereka tiap hari tiga sampai empat orang tewas karena racun. Hanya sedikit yang tinggal untuk menghadap raja secara resmi. Ratu yang telah tua bersama 8 sampai 900 Jiwa, kebanyakan wanita dan anak-anak di tahan oleh orang-orang Jawa dan di bawa ke Jawa beserta hasil rampasannya.

Dari serangan berikut membawa dampak loji Belanda hancur, kendati demikianlah para pejabat sukses menyembunyikan intan-intan mereka di didalam pot (dengan menanam intan didalam pot), dan lantas mampu ditemukan kembali. Sedangkan busana yang berada di rumah Gubernur dibawa orang-orang Mataram.

Sultan Agung menjadi tidak suka bersama intan intan yang dirampas, tidak cocok bersama apa yang beliau dengar dari para tahanan dan dari ratu Sukadana yang dibawa ke Jawa, bahwa memang tetap ada intan yang lebih banyak lagi. Ratu Sukadana dipindahkan ke Desa Pingit, dibawah pengawasan Kendal, tetapi setelah bulan Agustus 1622 (setelah bulan Puasa) ia diperbolehkan untuk lagi ke Sukadana, bersama didahulukan budak beliau kesana lebih dulu.

Saat di Pingit, sempat De Haen mengadakan perbicaraan bersama Ratu, “seorang wanita yang telah lanjut usia, kurang lebih 80 atau 90 tahun, beruban”, yang di Sukadana senantiasa berdiam di istananya. De Haen dambakan menanyakan perihal orang-orang kompeni dan milik mereka kepadanya.

Sultan Agung memberi tambahan keliru satu istrinya kepada Tumenggung Baureksa dari Kendal, sebagai jasa telah sukses menaklukkan Sukadana sebagai isyarat penghormatan.

Demikianlah di tahun itu Surabaya kehilangan keliru satu pengkalan di luar daerahnya, namun lainnya, Landak dan Banjarmasin, juga terancam jatuh ke tangan Kerajaan Mataram.

Serangan Ketiga, 1622
Raja Mataram tahun yang sama yaitu tahun 1622, orang-orang Mataram melaksanakan ekspedisi militer ke Surabaya yang ketiga. Tumenggung Baureksa, musim semi 1622 memperingatkan Gubernur Jenderal Belanda perihal bahaya yang akan mengancam orang-orang Belanda dari serbuan yang akan mampir oleh pasukan Mataram, bersama target sehingga Belanda melewatkan keperluan mereka di Jawa Timur dan tidak lagi mencampuri urusan Mataram bersama Surabaya. Pada tanggal 15 Agustus raja akan memberi tambahan perintah untuk berangkat kesurabaya dan menghendaki Surabaya mampu ditaklukan.
Raja Mataram terhadap tanggal 24 Desember 1622, ada di depan Surabaya bersama kapabilitas tempur yang besar. Gresik dan Jortan di kuasai , pegawai kantor Belanda di tahan Mataram, yang lantas diminta lagi oleh De Haen terhadap perjalanannya yang ke dua ke kota istana tahun 1623. Pasukan Mataram kurang lebih 80.000 orang mundur karena kekurangan persediaan makanan.

Serangan keempat, 1623
Persiapan-persiapan terhadap 1623, yaitu tanggal 19 Juni raja Mataram memerintahkan membawa dampak kapal (gorab). Sesudah bulan puasa raja Mataram bersama pasukannya yang hebat akan menyerang Surabaya, baik darat ataupun melalui laut. Pasukan dipimpin olah panglima Kiai Adipati Mandurareja yang merupakan keturunan Mandoraka. Kiai Adipati Mandurareja diperintah untuk selesaikan terhadap akhir bulan Puasa, bersama ancaman akan dihukum mati seandainya tidak langsung menuntaskan. Raja Mataram menghendaki terputusnya segala jalinan laut Surabaya. Beliau juga punya kiat cadangan seandainya tidak mampu merebut Surabaya, yaitu bersama dipertimbangkan untuk menyerang Madura. Pada tanggal 3 Januari 1624 dari laporan lazim Gubernur Jenderal De Carpentier menginformasikan bahwa didalam musim kemarau yang lalu, raja Mataram mengepung Surabaya dari darat, akan tetapi lagi lagi tanpa berbuat sesuatu yang penting. Gresik lantas disergapnya bersama sebagian kapal, mendarat dan membakarnya. Dari berita berikut terlalu sukar disimpulkan apakah pengepungan Surabaya itu terjadi cocok bersama apa yang dikehendaki. Nampaknya serangan ke Surabaya tidak terjadi mulus, karena terhadap tahun seterusnya Mataram justru melaksanakan serangan ke Madura bersama target untuk menghambat persediaan makanan yang biasa di kirim ke pelabuhan Surabaya.

Serangan kelima, 1624
Mataram menaklukan Madura dari sumber serat kandha (halaman 781-782) yang menginformasikan bahwa suatu bagian pasukan Jawa di bawah pimpinan Tumenggung Ketawangan dan Tumenggung Alap-Alap mengadakan penjagaan kurang lebih Kota Surabaya. Penduduk sekeliling melarikan diri ke kota dan pasukan Mataram sukses duduki desa-desa mereka. Dari sumber belanda Gubernur Jenderal De Carpentier 22 Agustus 1624, di informasikan bahwa orang-orang Mataram hadapi suasana yang berat di Madura, perihal berikut memberi tambahan dorongan kepada orang-orang Surabaya untuk mengadakan serangan di pagi hari bersama 800 pasukan, dan sukses menewaskan perampok Mataram. Namun pasukan Mataram mampu merebut kemenangan terhadap serangan tersebut. Surabaya mengalami banyak ada problem baik di laut maupun di darat. Persawahan ladang disekitarnya di rusak Mataram, bersama target sehingga orang-orang Surabaya menyerah atas kemauan sendiri. Situasi Surabaya sementara itu terlalu kritis, pasukan Mataram yang berjumlah 80.000 orang mengepung kota tersebut. Di suasana yang sukar berikut bahan makanan tetap mampu di dapat, tetapi hanya mampu di mampu dari sebagian pelabuhan lainnya dan Makassar.
Raja Mataram menghendaki bantun kepada utusan Belanda, Jan Vos yang sementara itu berada di istana untuk tidak memberi tambahan perlindungan lagi kepada Surabaya dan tidak mengirim kapal-kapal kesana untuk keperluan berdagang. Kemudian Jan Vos mempersilakahkan Raja menghubungi Batavia. Namun Raja risau kehilangan muka seandainya permintaannya ditolak. Permintaannya berikut tidak dikabulkan dan terhadap tahun-tahun seterusnya akibat penolakan itu dirasakan oleh orang-orang Belanda.

Jatuhnya Surabaya, 1625
Raja Mataram memerintahkan Tumenggung Mangun Oneng untuk menaklukan Surabaya. Tumenggung Yuda Prana dan Tumenggung Ketawangan diikutsertakan pula sebagian orang Sampang (Serat kandha, hal. 782).

Pasukan Mataram bergerak maju melalui Japan (Mojokerto) ke Terres (Serat Kandha, hal. 783) atau Terusan (Babad B.P. jil. IX, hal. 16), tempat mereka berkemah untuk sementara. Pasukan Mataram menghambat diri bersama bertahan dan membendung sungai untuk sementara. Hanya sebagian dari air berikut lewat bendungan. Air sedikit ini dicemari bersama keranjang-keranjan yang diisi bangkai dan buah aren, yang diikat terhadap tonggak-tonggak di didalam sungai. Dari pencemaran berikut membawa dampak orang-orang Surabaya menderita berbagai macam penyakit; batuk, gatal, dan sakit perut.

Akibat pembendungan sungai itu, menjadi di didalam kota, raja Surabaya memanggil para bangsawannya. Berdiskusi apakah akan menyerah atau konsisten bertempur melawan Mataram. Maka disepakati untuk menyerah, bersama begitu raja Surabaya mengirim putranya, Raden Pekik, bersama membawa hadiah-hadiah yang bernilai untuk Tumenggung Mangun Oneng. Utusan disertai 1.000 pasukan, tetapi Pangeran Pekik juga tidak berani menampilkan diri begitu saja di hadapan panglima musuh. Karena menjadi malu ia mengirim Demang Urawan atau Ngurawan untuk memberitahukan bersama surat perihal kedatangannya dan surat berikut disambut bersama baik.

Tumenggung Mangun Oneng lantas mengirim dua utusan ke Mataram untuk memberitahukan kepada Raja Mataram. Mataram mampu menaklukan Surabaya hanya bersama membendung Sungai Mas (kali Mas). Bendungan ini terdiri dari batang-batang pohon kelapa, bambu-bambu besar, dan batu-batu. Bahan berikut ringan didapatkan di kurang lebih Terusan. Raja Mataram gunakan bagian yang bocor (mrembes) tersebut. Air yang banyak merembes jadi busuk karena keranjang-keranjang yang berisi bangkai binatang dan buah aren, membawa dampak air tercemar, sehingga tidak layak dipakai. Buah aren yang kuning kecoklatan dan banyak punya kandungan air tidak mampu dimakan, karena mampu mengakibatkan rasa pedas dan gatal.

Menyerahnya Surabaya sendiri, justu terhadap tingkatan paling akhir tidak terjadi pertempuran untuk merebut kota. Kota Surabaya didalam suasana utuh jatuh ditangan Mataram. Pihak yang kalah diperlakukan bersama baik, jikalau yang dendam kepada Raja Mataram.
Berita berkaitan kalahnya Surabaya sampai di Negeri Belanda terhadap tanggal 27 Oktober 1625 yang beritanya hanya singkat “ terhadap musim panas ini Surabaya menyerah kepada Raja Mataram, tanpa perlawanan, hanya karena berkurangnya rakya dan karena kelaparan, sehingga juga…dari 50-60 ribu jiwa tinggal tidak lebih dari seribu”. Dengan jatuhnya Surabaya, maka Raja Mataram sukses menaklukan bagian lokasi timur Jawa yang beragama Islam.

Demikianlah yang mampu Situs Pelajaran Oke sampaikan kurang lebihnya mohon maaf, semoga gambaran perihal Kemenangan Sultan Agung didalam usaha menaklukan Surabaya mampu dimengerti dan di mengerti. Terimakasih telah menyempatkan diri anda untuk mampir serta membaca. Bye..bye..

Baca Juga :

FUNGSI BAHASA

FUNGSI BAHASA

FUNGSI BAHASA
FUNGSI BAHASA

Bahasa merupakan bagian dari kehidupan masyarakat penentunya.

Bagi masyarakat Indonesia bahasa indonesia mempunyai kedudukan dan fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Fungsi bahasa merupakan sistem lambang bunyi ujaran yang di gunakan untuk berkomunikasi bagi masyarakat.

 

Berikut adalah Fungsi Bahasa menurut para ahli.

Menurut DEL HYMES Bahasa berfungsi sebagai :

1. Konsteksual : Situasi, jadi penyampaian bahasa dengan fungsi ini tergantung dari situasi saat berbicara.
2. Referensial : Pesan, jadi penyampain bahasa secara Referensial ada dalam bentuk pesan
3.Emotif atau Penutur
4. Konatif : Mitra Tutur
5. Fatis : Jalur

Menurut NEWMARK

1. Fungsi Ekspresif
2. Fungsi Informatif
3. Fungsi Vokatif
4. Fungsi Estetik
5. Fungsi Fatis

Menurut ERNAWATI

1. Sebagai Pemersatu
2. Sebagai Pemberi Kekhasan
3. Sebagai Pembawa Kewibawaan
4. Sebagai Kerangka Acuan

Jadi Fungsi Bahasa itu adalah cara penyampaian bahasa dengan mengungkapkan gambaran, gagasan, dan perasaan. dengan fungsi bahasa kita dapat menyatakan segala sesuatu yang tersirat di dalam hati kita yang ingin kita ungkapkan.

Ada 2 unsur yang mendorong untuk mendeskripsikan diri.

1. Agar menarik perhatian orang lain
2. Membebaskan diri dari tekanan emosi.

Baca Juga : 

KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA

KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA

KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA
KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA

Kedudukan Bahasa Indonesia terdiri dari :

1. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional

Fungsi Bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional:

1). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai Lambang kebanggaan kebangsaan
Bahasa Indonesia mencerminkan nilai – nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan kita. Atas dasar kebanggaan ini , Bahasa Indonesia harus kita pelihara dan kita kembangkan.

Serta harus senantiasa kita bina rasa bangga dalam menggunakan Bahasa Indonesia.

2). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang identitas nasional
Bahasa Indonesia dapat memiliki identitasnya apabila masyarakat pemakainya/yang menggunakannya membina dan mengembangkannya sehingga bersih dari unsur – unsur bahasa lain.
3). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat perhubungan antar warga, antar daerah, dan antar budaya
Dengan adanya Bahasa Indonesia kita dapat menggunakannya sebagai alat komunikasi dalam berinteraksi/berkomunikasi dengan masyarakat-masyarakat di daerah (sebagai bahasa penghubung antar warga, daerah, dan buadaya).

4). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat yang memungkinkan penyatuan berbagai – bagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasanya masing – masing kedalam kesatuan kebangsaan Indonesia.
Dengan bahasa Indonesia memungkinkan berbagai suku bangsa mencapai keserasian hidup sebagai bangsa yang bersatu dengan tidak perlu meninggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai – nilai sosial budaya serta latar belakang bahasa daerah yang bersangkutan.

 

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara

Fungsi Bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa Negara:

1). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan
Sebagai bahasa resmi kenegaraan , bahasa Indonesia dipakai didalam segala upacara, peristiwa dan kegiatan kenegaraan baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.
2). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa pengantar didalam dunia pendidikan
Bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar yang digunakan di lembaga – lembaga pendidikan mulai dari taman kanak – kanak sampai dengan perguruan tinggi diseluruh Indonesia.
3). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan
Bahasa Indonesia dipakai bukan saja sebagai alat komunikasi timbal – balik antara pemerintah dan masyarakat luas, dan bukan saja sebagai alat perhubungan antar daerah dan antar suku , melainkan juga sebagai alat perhubungan didalam masyarakat yang sama latar belakang sosial budaya dan bahasanya.

Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat pengembangan kebudayaan

Bahasa Indonesia adalah satu – satunya alat yang memungkinkan kita membina dan mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga ia memikili ciri – ciri dan identitasnya sendiri ,yang membedakannya dari kebudayaan daerah.

Sumber : https://uberant.com/article/556674-understanding-and-examples-of-explanatory-texts/

KALIMAT AKTIF DAN KALIMAT PASIF

KALIMAT AKTIF DAN KALIMAT PASIF

KALIMAT AKTIF DAN KALIMAT PASIF
KALIMAT AKTIF DAN KALIMAT PASIF

Kalimat dapat diartikan sebagai urutan kata, frase, klausa

atau kombinasi unsur-unsur tersebut yang minimal memiliki subjek dan predikat, diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan intonasi final (diakhiri denga tanda (.), (?), atau (!)), serta membentuk suatu kesatuan makna.

 

Kalimat dilihat dari peran subjeknya dibedakan menjadi 2, yaitu kalimat aktif dan pasif.

1. kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya melakukan suatu hal atau kegiatan.

Contoh: Cahyadi memakan buah.
S P O

Dalam kalimat diatas, subjek (Reza) berperan sebagai pelaku suatu kegiatan, yaitu bermain. oleh karenanya, kalimat di atas termasuk kalimat aktif. Subjek (S) dalam kalimat aktif melakukan aktifitas, hal ini membawa konsekuensi predikat (P) dalam kalimat aktif harus diisi oleh kata kerja aktif. Kata kerja aktif ini biasanya berimbuhan meN-dan ber-.

2. Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai suatu hal atau tindakan, baik itu disengaja ataupun tidak.

 

Contoh: Batu dilempar Cahyadi.
S P O

Dalam kalimat diatas, subjek (Bola) berperan sebagai sesuatu yang dikenai hal atau tindakan tidak sengaja terinjak. Dengan kata lain, subjek dalam kalimat pasif berperan menjadi penderita. Karena subjeknya berperan menjadi penderita, predikatnya harus diisi oleh kata kerja bentuk pasif. Kata kerja bentuk pasif biasanya berimbuhan ter-, di-, dan ke-an.

Sumber : https://uberant.com/article/556673-how-to-prevent-air-and-soil-pollution/

Belajar Kenal dan Sayang Hewan di Bunbin Mini Sekolah Alam KB-TK Agripina

Belajar Kenal dan Sayang Hewan di Bunbin Mini Sekolah Alam KB-TK Agripina

Belajar Kenal dan Sayang Hewan di Bunbin Mini Sekolah Alam KB-TK Agripina
Belajar Kenal dan Sayang Hewan di Bunbin Mini Sekolah Alam KB-TK Agripina

Siswa umumnya lebih mudah mencerna pelajaran yang disampaikan secara langsung. Sekolah Alam KB-TK Agripina memegang prinsip tersebut. Di sekolah itu, hadir pembelajaran dengan praktik. Termasuk pengetahuan dan pengalaman tentang binatang.

KEBUN binatang mini di halaman belakang sekolah, rupanya, merupakan trik jitu untuk menarik perhatian anak. Ada berbagai jenis binatang, unggas, ikan, dan hewan ternak berkaki empat. Semua adalah binatang yang jinak sehingga aman bagi siswa.

Setiap siswa mendapatkan giliran yang sama untuk berinteraksi langsung dengan binatang. Pengaturannya, piket antarkelas. Dalam sehari, ada satu kelas yang piket. Di Agripina, terdapat lima kelas sehingga rata mulai Senin hingga Jumat.

Kegiatan dimulai pagi sebelum mereka masuk kelas. Para siswa menuju ke halaman belakang untuk memberi makan hewan-hewan ternak. Mereka melakukan kegiatan tersebut dengan didampingi guru kelas. Satu kelas disebar menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah jenis binatang.

Misalnya, yang dilakukan Lintar Janadi Hafizudin dan kawan-kawan

. Mereka mengikuti Kepala Sekolah Alam KB-TK Agripina Khuliyatul Nusroh memberi makan rusa. Sembari berjalan, perempuan yang akrab disapa Nia itu memberikan materi kepada siswanya. ’’Anak-anak, kenapa binatang harus dikasih makan?’’ tanyanya. Berbagai jawaban mengalir dari bibir mungil para siswa. Ada yang menjawab karena binatangnya lapar. Ada pula yang menjawab supaya kuat.

Setelah mendengar jawaban para siswa, Nia menyampaikan apresiasi. ’’Karena kita sayang binatang ya,’’ katanya kepada mereka. Anak-anak makin bersemangat untuk segera bertemu dengan binatang-binatang lain di halaman belakang sekolah.

Sambil membagikan makanan, Nia bertanya lagi. ’’Siapa yang menciptakan binatang?’’ tanyanya. Anak-anak kompak menjawab, ’’Tuhan’’. Dengan merawat binatang, berarti para siswa telah menjalankan perintah Tuhan. Yakni, menyayangi semua makhluk ciptaan-Nya.

Setelah menerima pakan hewan, para siswa memberikannya kepada binatang

. Lintar dan kawan-kawan kebagian memberi makan rusa. Ada wortel, mentimun, kacang panjang, serta rumput-rumputan.

Selain rusa, ada kuda, kambing, dan sapi. Tidak hanya memberikan makan, siswa juga diajari cara memegang dan memandikannya. Untuk jenis unggas, ada ayam, bebek, angsa, dan kasuari. Meski diajari memberikan makan, siswa tidak boleh terlalu dekat dengan hewan-hewan tersebut. Unggas mudah mematuk saat merasa dalam bahaya.

Kegiatan memberi makan binatang pun selesai. Anak-anak

kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Namun, sebelum belajar, mereka mencuci tangan. Tidak lupa, mereka memakai sabun untuk menghilangkan kuman-kuman yang menempel.

Nia menjelaskan, kebun binatang mini digagas Agripina sejak awal sekolah itu berdiri. Harapannya, mereka bisa menjadi sekolah alam yang benar-benar memberikan pengalaman langsung kepada siswa. ’’Kalau belajar begini, mereka akan mudah ingat,’’ tuturnya

 

Baca Juga :

 

 

Jika Anak Harus Mondok

Jika Anak Harus Mondok

Jika Anak Harus Mondok
Jika Anak Harus Mondok

Banyak orang tua yang mendaftarkan anak ke sekolah dengan asrama

atau mahad atau pondok pesantren. Sistem, peraturan, hingga jadwal hariannya tentu berbeda dengan sekolah biasa. Nah, berikut tip yang bisa diterapkan agar anak bisa menikmati asrama atau pondok nantinya.

Rundingkan dengan anak – Pastikan keputusan mendaftarkan anak ke sekolah asrama adalah hasil kesepakatan dengan anak. Jangan sampai dia tidak tahu atau tidak suka. Pelajari calon sekolah bersama si kecil sebelum mengambil keputusan final.

Pastikan anak siap – Jika anak terbiasa mandiri dan melakukan tugas rumah,

mereka bakal lebih mudah menyesuaikan diri. Satu-satunya yang harus disiapkan adalah menahan rasa kangen rumah.

Ajari anak bertoleransi – Orang tua wajib memberi pemahaman bahwa anak akan tinggal dengan teman-teman yang punya latar belakang, kebiasaan, dan nilai berbeda. Karena itu, anak tidak dengan mudah menghakimi temannya sendiri, lalu merasa tidak nyaman.

Lakukan simulasi – Pada awal pendaftaran, pihak sekolah biasanya

menjelaskan tentang jadwal harian di asrama atau pondok. Sebaiknya jadwal itu diterapkan selama beberapa hari sebelum anak mulai sekolah. Manfaatkan pula pekan orientasi pondok atau asrama yang biasanya diberikan sekolah.

Tidak terlalu khawatir – Tidak jarang, ketika anak enjoy dengan kehidupan asrama atau pondok, justru orang tua yang panik. Khawatir si kecil ”tidak terurus”, mengalami bullying, sampai beranggapan anaknya masih terlalu kecil. Ini tidak perlu karena menandakan bunda dan ayah belum percaya sepenuhnya kepada anak.

Siapkan bekal secukupnya – Anak biasanya diizinkan membawa barang atau uang. Berikan perlengkapan yang memang dibutuhkan dalam jumlah yang cukup. Jangan membawa uang dan barang berlebih. Sebab, anak bisa jadi sasaran ejekan temannya.

 

Sumber :

https://articles.abilogic.com/372235/chemical-periodic-table-system.html

Mahasiswa Bikin Monopoli Khusus Penderita Kusta

Mahasiswa Bikin Monopoli Khusus Penderita Kusta

Mahasiswa Bikin Monopoli Khusus Penderita Kusta
Mahasiswa Bikin Monopoli Khusus Penderita Kusta

 

Tim mahasiswa Unair berhasil menemukan permainan khusus penderita kusta bernama Motif Kita Sehat (Monopoli Edukatif Penyakit Kusta Berbasis Kesehatan). Paket permainan yang bersifat edukatif itu berhasil diterapkan pada penderita kusta di Desa Sumber Glagah, Kabupaten Mojokerto.

Materinya terkait tentang perawatan self care penyakit kusta.

Tim mahasiswa Unair yang terdiri dari Lidya Victorya Pandiangan, Widya Reghsa Febriyantoro, Magita Novita Sari, M Habib Hidayatulloh, dan Moch Yazid Abdul Zalalil Amin tersebut menuangkan ide mereka tersebut pada Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKMM), dan berhasil lolos dari penilaian Dikti, sehingga berhak atas dana hibah program PKM Kemenristekdikti tahun 2017.

Lidya Victorya Pandiangan memaparkan, permainan Motif Kita Sehat ini diperuntukkan bagi penderita kusta dengan usia yang bervariasi, baik anak-anak hingga dewasa di RT 01 sampai RT 03 Desa Sumber Glagah, Kab. Mojokerto. Bentuk monopoli yang digunakan, pada dasarnya sama dengan permainan monopoli umumnya.

’’Bedanya hanya pada jenis bahan yang digunakan, materi yang disampaikan

, dan sedikit perubahan mekanisme bermain.Jenis bahan monopoli ini, tim PKMM menggunakan bahan banner dengan ukuran 2 meter persegi, diisi kotak berjumlah 20 dengan rincian kotak start, masuk rumah sakit (mendapatkan makanan dan minuman yang sehat), bebas berobat (bebas memilih tempat selanjutnya), rumah sakit (harus melempar dadu 3 kali dengan angka yang sama), tantangan, ayo cerita dan 14 kotak materi pengetahuan,’’ paparnya.

Pada materi, dibagi menjadi tiga tingkatan. Yang pertama tentang pengetahuan penyakit kusta. Kedua tentang sikap dan self care, dan materi ketiga tentang pengobatan MDT (Multi Drug Therapy).

Permainan ini dimainkan oleh 5 orang penderita kusta dan seorang sebagai mediator.

 

Pada akhir permainan ada sesi pemberian reward kepada peserta yang telah menjawab pertanyaan, tantangan, dan Ayo Cerita dengan benar dan paling banyak.

Reward-nya berupa paket sembako, peralatan rumah tangga dan pakaian. Tim Unair juga mempercantik tampilan dalam permainan “Motif Kita Sehat” dan mudah untuk dibawa kemana-mana. Dalam paket ini terdapat banner ukuran 2 meter persegi, 5 bidak orang, 2 buah dadu,

buku panduan tentang perawatan self care penyakit kusta, tata cara bermain dan CD yang berisikan visualisasi cara bermain dan perawatan self care. Tim mahasiswa Unair juga membentuk kader yang bertujuan agar program ini dapat dilakukan secara berkelanjutan.

 

Sumber :

https://articles.abilogic.com/372234/examples-explanatory-texts-definition-structure.html

 

Menentukan metode penelitian

Menentukan metode penelitian

Menentukan metode penelitian
Menentukan metode penelitian

Dalam penelitian ada dua metode utama, yaitu metode kuantitif dan metode kualitatif.

a. Metode kuantitatif adalah metode yang menitikberatkan pada pengolahan data yang diklasifikasikan dengan angka.
Contoh :
Penduduk kota Jambi berjumlah 175.000 jiwa
Jumlah petani di Desa Bagan Pete 5000 orang

b. Metode kuantitatif adalah pendekatan yang dipakai untuk mendapatkan data dan tidak dinyatakan dengan angka
Contoh :
Siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Sungai Pagu rajin
Menurut pendapat siswa pembelajaran e-learning menyenangkan dan menantang

PENGUMPULAN DATA

A. Pengantar

Pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting dalam penelitian. Oleh karena itu, pengumpulan data harus dilakukan secara sistematis, terarah dan sesuai dengan masalah yang diteliti. Dalam proses pengumpulan data, hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain adalah:
a. Jenis data yang diperoleh
b. Sumber data
c. Penyusunan instrumen sebagai alat untuk mengumpulkan data
d. Jumlah data yang diperlukan
e. Siapa saja yang menjadi responden dan bagaimana cara menghubunginya
f. Mempersiapkan orang-orang yang akan diminta bantuannya untuk mengumpulkan data
g. Menyiapkan surat izin untuk meneliti seseorang atau instansi tertentu
h. Biaya yang diperlukan untuk mengumpulkan data

B. Analisis Isi

Analisis isi dalam pelaksanaan penelitian bertujuan untuk mengungkapkan isi sebuah buku atau bacaan di media yang menggambarkan situasi penulis dan masyarakatnya pada waktu buku atau bacaan di media masa itu ditulis.

Dalam melakukan analisis, seorang peneliti dapat menghitung:
a. Frekuensi munculnya suatu konsep tertentu
b. Penyusunan kalimat menurut pola yang sama
c. Kelemahan pola berpikir yang sama
d. Cara menyajikan bahan ilustrasi, gambar dan lain-lain

Selain itu dengan cara ini dapat dibandingkan antara satu buku dengan buku yang lain dalam bidang yang sama, baik berdasarkan perbedaan waktu penulisannya maupun mengenai kemampuan buku-buku tersebut mencapai sasarannya sebagai bahan yang disajikan kepada masyarakat atau sekelompok masyarakat tertentu.

C. Observasi

Dalam pengertian psikologi, observasi meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh indra. Jadi, mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan dan pengecapan. Semua kegiatan itu disebut pengamatan atau observasi langsung.
Observasi ada dua macam, yaitu:

1. Observasi partisipasi
Dalam melakukan observasi partisipasi, pengamat ikut terlibat dalam kegiatan yang sedang diamatinya. Contohnya seorang antropolog yang tinggal bersama orang sakai di Riau untuk keperluan penelitian.

2. Observasi non partisipasi
Dalam melakukan observasi, pengamat tidak terlibat langsung dalam kegiatan orang yang sedang diamatinya.

D. Wawancara

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan di penjawab atau responden.
Hal-hal yang membedakan wawancara dengan percakapan biasa sehari-hari adalah:
a. Pewawancara dan responden pada umumnya belum saling mengenal
b. Pewawancara selalu bertanya
c. Responden selalu menjawab
d. Pertanyaan yang ditanyakan mengikuti alur pembicaraan yang telah disiapkan sebelumnya. Pertanyaan panduan ini dinamakan “interview guide”
e. Pewawancara bersifat netral

1. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil wawancara

a. Pewawancara → diharapkan menyampaikan pertanyaan kepada responden dan dapat merangsang responden untuk menjawabnya
b. Responden
c. Topik penelitian yang tertuan dalam daftar pertanyaan
d. Situasi wawancara → proses wawancara sangat dipengaruhi oleh situasi wawancara karena faktor waktu, tempat ada tidaknya orang ketiga dan sikap masyarakat pada umumnya.

2. Sikap pewawancara
Netral → jangan menentang atau bereaksi terhadap jawaban responden
Ramah → kesan yang diberikan akan besar pengaruhnya terhadap diri responded
Adil → tidak memihak, semua responden harus diperlakukan sama
Hindarkan ketegangan → hindarilah kesan seolah-olah responden sedang diuji

Panduan (pedoman) wawancara perlu juga disiapkan, agar hal-hal seperti tersebut di atas dapat dipenuhi. Panduan wawancara ini ada dua macam, yaitu:

a. Pertanyaan berstruktur
Yaitu pertanyaan yang semuanya telah dirumuskan sebelumnya dengan cermat, biasanya secara tertulis. Responden tinggal memilih di antara jawaban yang disediakan. Contoh:
Apakah anda setuju jika murid yang merokok dikeluarkan dari sekolah?
Sangat setuju
Setuju
Tidak tahu
Tidak setuju
Sangat tidak setuju
Pertanyaan terbuka
Yaitu pertanyaan yang memberikan kesempatan kepada responden untuk menjawab sesuai dengan keinginannya sendiri dan memberikan komentar terhadap jawaban pertama yang berstruktur.
Contoh: Bagaimana pendapat anda jika murid yang merokok dikeluarkan dari sekolah?

Baca : 

Menurut sifatnya, data terdiri dari:

Menurut sifatnya, data terdiri dari

Menurut sifatnya, data terdiri dari
Menurut sifatnya, data terdiri dari

1) Data kualitatif, yaitu data yang tidak berbentuk angka.
2) Data kuantitatif, yaitu data yang berbentuk angka.

Secara garis besar data penelitian dapat dibedakan menjadi empat yaitu: data nominal, ordinal, interval dan rasio.

a. Data nominal (data diskrit)
adalah data yang hanya dapat dikelompokkan secara terpisah menjadi dua atau beberapa kelompok yang tidak ada hubungannya, disebut juga data diskrit, pilah, kategorik. Data nominal memisahkan antara sesuatu yang termasuk ke dalam kategori tertentu dan yang tidak.

Sebagai contoh data nominal:
1) Data yang dipisahkan menjadi dua dengan kategori “ya” dan “tidak”, “laki-laki dan wanita”. Perbedaan ini disebut “dikhotomi”.
2) Data yang dapat dipisahkan menjadi beberapa kategori dan antara kategori yang satu dengan kategori yang lain tidak merupakan kelanjutan. Jika seseorang atau sesuatu sudah digolongkan ke dalam suatu kategori tidaklah mungkin menjadi anggota dari kategori yang lain. Contoh kategori : “kawin”, “belum kawin”, “janda”, “duda”.
3) Data yang ditunjukkan oleh bilangan-bilangan yang bukan merupakan hasil penghitungan tetapi hasil pencacahan , misalnya banyaknya benda, banyaknya orang, banyaknya kejadian dan sebagainya. Contoh: “banyaknya pensil ada 120 buah”.
4) Data yang ditunjukkan oleh bilangan-bilangan bukan hasil perhitungan dan juga bukan hasil pencacahan, misalnya nomer rumah, nomer telpon, nomer urut dan sebagainya.

b. Data Ordinal
Data ordinal adalah data yang menunjuk pada tingkatan sesuatu. Istilah “ordinal” sendiri sudah menunjuk pada “tingkatan”. Dalam bidang pendidikan data ordinal dapat dikenakan pada semua predikat yang menunjukkan tingkatan. Pandai, Kurang pandai dan Tidak pandai, menunjukkan pada tingkata kepandaian. Di dalam kaitan dengan analisis data, terhadap data ordinal seringkali diberikan “skor” sesuai tingkatannya. Istilah “skor” diberi tanda petik karena skor tersebut bukan skor sebenarnya, tetapi hanya sebagai atribut yang menunjukkan tinggatan.
Contoh : “Sangat pandai …………. diberi atribut 5
“Pandai” …………. diberi atribut 4
“Sedang” …………. diberi atribut 3
“Bodoh” …………. diberi atribut 2
“Sangat Bodoh” …………. diberi atribut 1

c. Data Interval
Data interval tergolong sebagai data yang mempunyai tingkatan lebih tinggi lagi dibandingkan dengan data ordinal karena mempunyai tingkatan yang lebih banyak lagi. Data interval menunjukkan adanya jarak antara data yang satu dengan data yang lain.

Contoh : Sepuluh orang siswa mendapat nilai hasil ulangan umum IPS dengan variasi antara 1 dan 10. Di antara sepuluh orang siswa tersebut : nilai Surti 8, nilai Amir 10, nilai Wahyu 4. Dalam pengertian data, nilai-nilai merupakan interval karena antara satu nilai dengan yang lain diketahui jaraknya. Antara 8 dengan 10 berjarak 2; antara nilai 8 dengan 4 berjarak 4. Namun yang kita ketahui hanya jaraknya dan tidak boleh mengatakan perbandingan terhadap nilai-nilai tersebut. Jika nilai Surti 8 dan nilai Wahyu 4 tidak boleh diartikan bahwa kepandaian Surti dau kali kepandaian Wahyu.

e. Data Rasio
Data rasio merupakan data yang lebih tinggi tingkatannya dari data interval, karena dalam data rasion diperbolehkan perbandingan. Contoh: berat badan Ibu adalah 50 kg sedangkan berat badan noni adalah 10 kg. Dengan demikian maka berat badan ibu adalah 5 kali lipat berat badan Noni. Berat 50 kg mengandung arti bahwa berat tersebut dibandingkan dengan satuan berat yang digunakan sebagai ukuran. Satuan ukuran tersebut adalah “kilogram” yang merupakan satuan ukuran yang sudah terstandar. Disamping itu masih banyak lagi satuan ukuran terstandar yang lian seperti meter, mil inci, dan sebagainya.

1) Data kualitatif, yaitu data yang tidak berbentuk angka.
2) Data kuantitatif, yaitu data yang berbentuk angka.

Secara garis besar data penelitian dapat dibedakan menjadi empat yaitu: data nominal, ordinal, interval dan rasio.

Data nominal (data diskrit)

adalah data yang hanya dapat dikelompokkan secara terpisah menjadi dua atau beberapa kelompok yang tidak ada hubungannya, disebut juga data diskrit, pilah, kategorik. Data nominal memisahkan antara sesuatu yang termasuk ke dalam kategori tertentu dan yang tidak.

Sebagai contoh data nominal:
1) Data yang dipisahkan menjadi dua dengan kategori “ya” dan “tidak”, “laki-laki dan wanita”. Perbedaan ini disebut “dikhotomi”.
2) Data yang dapat dipisahkan menjadi beberapa kategori dan antara kategori yang satu dengan kategori yang lain tidak merupakan kelanjutan. Jika seseorang atau sesuatu sudah digolongkan ke dalam suatu kategori tidaklah mungkin menjadi anggota dari kategori yang lain. Contoh kategori : “kawin”, “belum kawin”, “janda”, “duda”.
3) Data yang ditunjukkan oleh bilangan-bilangan yang bukan merupakan hasil penghitungan tetapi hasil pencacahan , misalnya banyaknya benda, banyaknya orang, banyaknya kejadian dan sebagainya. Contoh: “banyaknya pensil ada 120 buah”.
4) Data yang ditunjukkan oleh bilangan-bilangan bukan hasil perhitungan dan juga bukan hasil pencacahan, misalnya nomer rumah, nomer telpon, nomer urut dan sebagainya.

Data Ordinal

Data ordinal adalah data yang menunjuk pada tingkatan sesuatu. Istilah “ordinal” sendiri sudah menunjuk pada “tingkatan”. Dalam bidang pendidikan data ordinal dapat dikenakan pada semua predikat yang menunjukkan tingkatan. Pandai, Kurang pandai dan Tidak pandai, menunjukkan pada tingkata kepandaian. Di dalam kaitan dengan analisis data, terhadap data ordinal seringkali diberikan “skor” sesuai tingkatannya. Istilah “skor” diberi tanda petik karena skor tersebut bukan skor sebenarnya, tetapi hanya sebagai atribut yang menunjukkan tinggatan.
Contoh : “Sangat pandai …………. diberi atribut 5
“Pandai” …………. diberi atribut 4
“Sedang” …………. diberi atribut 3
“Bodoh” …………. diberi atribut 2
“Sangat Bodoh” …………. diberi atribut 1

 

Data Interval

Data interval tergolong sebagai data yang mempunyai tingkatan lebih tinggi lagi dibandingkan dengan data ordinal karena mempunyai tingkatan yang lebih banyak lagi. Data interval menunjukkan adanya jarak antara data yang satu dengan data yang lain.

Contoh : Sepuluh orang siswa mendapat nilai hasil ulangan umum IPS dengan variasi antara 1 dan 10. Di antara sepuluh orang siswa tersebut : nilai Surti 8, nilai Amir 10, nilai Wahyu 4. Dalam pengertian data, nilai-nilai merupakan interval karena antara satu nilai dengan yang lain diketahui jaraknya. Antara 8 dengan 10 berjarak 2; antara nilai 8 dengan 4 berjarak 4. Namun yang kita ketahui hanya jaraknya dan tidak boleh mengatakan perbandingan terhadap nilai-nilai tersebut. Jika nilai Surti 8 dan nilai Wahyu 4 tidak boleh diartikan bahwa kepandaian Surti dau kali kepandaian Wahyu.

 

Data Rasio

Data rasio merupakan data yang lebih tinggi tingkatannya dari data interval, karena dalam data rasion diperbolehkan perbandingan. Contoh: berat badan Ibu adalah 50 kg sedangkan berat badan noni adalah 10 kg. Dengan demikian maka berat badan ibu adalah 5 kali lipat berat badan Noni. Berat 50 kg mengandung arti bahwa berat tersebut dibandingkan dengan satuan berat yang digunakan sebagai ukuran. Satuan ukuran tersebut adalah “kilogram” yang merupakan satuan ukuran yang sudah terstandar. Disamping itu masih banyak lagi satuan ukuran terstandar yang lian seperti meter, mil inci, dan sebagainya.

Sumber : http://bupropion.lo.gs/contoh-teks-eksplanasi-singkat-a165655880

Menurut kedudukannya dalam analisis

Menurut kedudukannya dalam analisis

Menurut kedudukannya dalam analisis
Menurut kedudukannya dalam analisis

1) Variabel bebas (independen variable)
Adalah variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi variabel terikat.
2) Variabel terikat/tergantung (dependent variable)
Adalah variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel bebas.

Menurut jenis

1) Organismic variable
Adalah variabel yang karakteristiknya berkaitan erat dengan individu manusia, seperti jenis kelamin, intelegensi, dan sikap.
2) Intervening variable
Adalah variabel yang keberadaannya hanya dapat disimpulkan dari adanya suatu teori tertentu, tetapi tidak dapat dimanipulasi atau dikur.
3) Control variable
Merupakan variabel penelitian yang dampaknya terhadap dependent variable dapat diketahui oleh peneliti.
4) Moderator variable
Adalah variabel penelitian yang memiliki akibat secara tidak langsung terhadap dependent variable. Artinya, variabel tersebut dapat memperkuat atau melemahkan hubungan atau pengaruh independet variable terhadap dependent variable.

5. Memilih Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian dari seluruh individu yang menjadi objek penelitian (populasi). Tujuan penentuan sampel adalah untuk memperoleh keterangan mengenai objek penelitian dengan cara mengamati sebagian saja dari populasi.

Suatu metode pengambilan sampel yang ideal mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
a. Dapat menghasilkan gambaran yang dapat dipercaya dari seluruh popolasi yang diteliti
b. Dapat menentukan hasil penelitian
c. Sederhana dan mudah dilaksanakan
d. Dapat memberikan keterangan sebanyak mungkin dengan biaya yang serendah-rendahnya.
e. Merupakan penghematan yang nyata dalam soal waktu, tentaga dan biaya.

 

Cara-Cara Pengambilan Sampel

a. Sampel Random (Sampel Acak)
Acak maksudnya setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih ke dalam keseluruhan unit populasi.

b. Sampel Berstrata (stratified sampling)
Apabila populasi terbagi atas tingkat atau strata maka pengambilan sampel harus diwakili oleh setiap strata. Contohnya penelitian tentang kehadiran siswa, peneliti harus mengambil sampel dari wakil tiap-tiap tingkatan kelas.

c. Sampel Wilayah (area sampling)
Dilakukan apabila terdapat perbedaan ciri antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain. Sampel wilayah adalah cara yang dilakukan dnegna mengambil wakil dari setiap wilayah yang terdapat dalam populasi. Misalnya suatu Provinsi yang dibagi atas 10 daerah dipilih beberapa daerah secara random untuk dijadikan sampel.

d. Cluster Sampling
Adalah sampel yang ditarik dengan cara memilih secara random beberapa strata. Seluruh anggota strata yang terpilih atau sebagian besar dimasukkan ke dalam sampel.

e. Sampel Proporsi
Sampel ini dilakukan untuk menyempurnakan penggunaan teknik sampel berstrata atau sampel wilayah. Kadangkala banyaknya subjek pada setiap strata atau wilayah tidak sama, maka pengambilan subjek dari setiap strata atau wilayah ditentukan seimbang dengan banyaknya subjek dalam masing-masing strata atau wilayah.

e. Sampel Bertujuan (purposif)
Pemilihan sampel dilakukan atas dasar tujuan tertentu sesuai dengan tujuan penelitian

Mengenali Jenis-Jenis Data

a. Pengertian
Data ialah bahan keterangan yang berupa himpunan fakta-fakta, angka-angka, huruf-huruf, kata-kata, grafik, tabel, gambar dan lambing-lambang yang menyatakan sesuatu pemikiran, obyek, kondisi dan situasi. Dapat pula dikatakan bahwa data adalah kejadian-kejadian khas yang dinyatakan sebagai fakta tetapi dalam bentuk hasil pengukuran seperti jumlah pemuda yang putus sekolah, angka kematian bayi dan sebagainya.

b. Kegunaan Data

1) Untuk mengetahui atau memperoleh gambaran tentang suatu keadaan atau persoalan. Misalnya, pemerintah mengumpulkan data tentang pendidikan, data penduduk dan sebagainya.
2) Untuk membuat keputusan atau memecahkan persoalan. Setiap persoalan yang timbul pasti ada penyebabnya. Memecahkan persoalan berarti berusaha menghilangkan faktor penyebab tersebut.

c. Jenis-jenis data

Menurut cara memperoleh atau sumbernya, data terdiri dati:
1) Data primer, yaitu data yang dikumpulkan dari tangan pertama. Misalnya petugas sensus penduduk mendatangi setiap rumah tangga dan menanyakan tentang jumlah keluarga.
2) Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari pihak lain yang telah mengumpulkan dan mengolahnya. Misalnya suatu departemen memperoleh data dari Biro pusat statistik.

Sumber : http://ecoledespirates.eklablog.com/teks-eksplanasi-a165655848