Aliran Realisme Hukum

Table of Contents

  Aliran Realisme Hukum

  Aliran Realisme Hukum

Aliran ini diprakarsai oleh Karl Llewellyn (1893-1962), Jarome Frank (1889-1957) dan Hakim Oliver W. Holmes (1841-1935) ketiganya orang Amerika. Mereka terkenal dengan konsep yang radikal tentang proses peradilan dengan menyatakan bahwa hakim-hakim tidak hanya menemukan hukum, akan tetapi bahkan membentuk hukum. Ahli-ahli pemikir dari aliran ini menaruh perhatian yang sangat besar terhadap keadilan, walaupun mereka berpendapat bahwa secara ilmiah tak dapat ditentukan apa yang dinamakan hukum yang adil. Aliran ini dengan buah pikirannya mengembangkan pokok-pokok pikiran yang sangat berguna bagi penelitian-penelitian yang bersifat interdisipliner, terutama dalam penelitian-penelitian yang memerlukan kerjasama antara ilmu hukum dengan ilmu-ilmu social.

            Selain bertolak dari pemikiran para ahli filsafat, aliran pemikiran sosiologi hukum juga dapat dilihat dari hasil-hasil pemikiran para sosiolog, antara lain : Emile Durkheim (1858 – 1917) dan Max Weber (1864 – 1920).

Emile Durkheim dari Perancis adalah seorang tokoh penting yang mengembangkan sosiologi dengan ajaran-ajarannya yang klasik. Di dalam teori-terinya tentang masyarakat, Durkheim menaruh perhatian yang besar terhadap kaidah-kaidah hukum yang dihubungkan dengan jenis-jenis solidaritas yang dijumpai dalam masyarakat. Dengan demikian, maka kaidah-kaidah hukum dapat diklasifikasikan menurut jenis-jenis sanksi yang menjadi bagian utama dari kaidah hukum tersebut. Di dalam masyarakat dapat ditemukan 2 macam kaidah hukum : represif dan restitutif. Teori Durkheim, berusaha untuk menghubungkan hukum dengan struktur social. Hukum dipergunakan sebagai suatu alat diagnose untuk menemukan syarat-syarat structural bagi perkembangan solidaritas masyarakat. Hukum dilihatnya sebagai dependent varaiable, yaitu suatu unsur yang tergantung pada struktur social masyarakat, akan tetapi hukum juga dilihatnya sebagai suatu alat untuk mempertahankan keutuhan masyarakat maupun untuk menentukan adanya perbedaan-perbedaan dalam masyarakat.

Sedangkan Max Weber, ajarannya tentang sosiologi hukum sangat luas; secara umum ditelaahnya hukum-hukum Romawi, Jerman, Perancis, Anglo Saxon, Yahudi, Islam, Hindu dan bahkan adat Polinesia. Karena latar belakangnya di bidang hukum, maka terlihat betapa luas dan mendalamnya uraian-uraiannya. Ia lebih dapat menghayati pikiran-pikiran ahli-ahli hukum maupun para sosiolog, serta mempertemukan beberapa titik paut. Bagi Weber, hukum yang rasional dan formal merupakan dasar bagi suatu Negara modern. Kondisi-kondisi social yang memungkinkan tercapainya taraf tersebut adalah system kapitalisme dan profesi hukum. Sebaliknya, introduksi unsure-unsur yang rasional dalam hukum membantu juga membantu system kapitalisme. Proses tersebut tak mungkin terjadi dalam masyarakat yang didasarkan pada kepemimpinan kharismatis atau dasar ikatan darah, oleh karena proses mengambil keputusan pada masyarakat-masyarakat

Sumber :

https://nomorcallcenter.id/