Di usia 14 pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Siti Khatijah

Kerasulan Nabi Muhammad SAW

Di usia 14 pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Siti Khatijah, Nabi Muhammad SAW sering menyendiri dan berkhalwat di goa Hira, yaitu goa yang berada di bukit Nur (jabal Nur) yang terletak di dekat Makkah. Berkhalwat ini dilakukan Nabi Muhammad SAW dengan khusuk, kadang sampai beberapa hari baru pulang jika bekal sudah habis. Di sanalah, beliau menghabiskan waktu selama berhari-hari dan bermalam-malam. Pada malam bertepatan dengan malam Jum’at tanggal 17 Ramadhan, yaitu ketika beliau sedang bertafakur di dalam goa Hira dan telah berusia empat puluh tahun, beliau didatangi malaikat Jibril yang seraya berkata kepadanya: “Bacalah!”, beliau menjawab: “Saya tidak bisa membaca”. Jibril mengulangi perintah ini untuk kedua kalinya dan ketiga kalinya. Dan pada yang ketiga kalinya, Jibril berkata kepadanya Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan; Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah; Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah;Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam; Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Al ‘Alaq : 1 – 5)

Setelah itu, Jibrilpun meninggalkannya, dan Rasulullah sudah tidak kuat lagi berada di goa Hira’.

Akhirnya beliau pulang ke rumahnya dan menghampiri Khadijah dengan gemetar sambil berkata: “Selimuti saya!, selimuti saya!”, maka Khadijah pun menyelimutinya, sehingga rasa takutnya sirna. Lalu memberitahu Khadijah tentang apa yang telah diperolehnya dan berkata: “Sungguh saya khawatir terhadap diriku”. Khadijah menanggapinya dan menenangkan serta meyakinkan Nabi Muhammad SAW: “Sekali-kali tidak, demi Allah, Dia tidak akan merendahkan dirimu untuk selamanya, karena sesungguhnya engkau adalah orang yang menyambungkan tali persaudaraan, menanggung beban kesusahan orang lain, memberi orang yang tak punya, menjamu tamu, dan menolong orang yang menegakkan kebenaran”. Setelah tenang Siti Khatijah mengajak Nabi Muhammad SAW untuk menemui saudaranya Waraqah bin Naufal. Di depan Waraqah Nabi Muhammad SAW menceriterakan semua yang terjadi, kemudian Waraqah membuka kitab Taurat dan Injil serta berkata “demi Tuhan, yang datang itu adalah Malaikat Jibril yang pernah datang pada Nabi Musa, baik-baiklah menjaga diri, tabahkan hatimu wahai Muhammad, kelak engkau akan diangkat menjadi Rasul, jangan takut, tapi gembiralah menerima wahyu itu”.
Nabi Muhammad SAW telah mendapat wahyu yang pertama dari Allah SWT dan telah mendapat nasehat dari Waraqah bin Naufal. Beberapa malam Nabi Muhammad SAW telah siap menerima wahyu kembali, tetapi wahyu tersebut tidak kunjung datang. Pada malam ke-40 barulah wahyu kedua turun, waktu itu Nabi sedang berjalan-jalan ke suatu tempat. Tiba-tiba mendengar suara : “ya Muhammad, engkau benar utusan Allah”. Nabi merasa takut mendengar suara itu, beliau segera kembali ke rumah menyuruh Siti Khatijah menyelimutinya, suara tadi terdengar lagi dengan jelas dan semakin dekat Jibril mendatanginya sambil duduk di atas kursi antara bumi dan langit, lalu turunlah ayat Artinya : “ Hai orang yang berkemul (berselimut); Bangunlah, lalu berilah peringatan!; Dan Tuhanmu agungkanlah!; Dan pakaianmu bersihkanlah; Dan perbuatan dosa tinggalkanlah.” (QS. Al Mudatsir : 1 – 5).
Mulai saat inilah Muhammad telah diangkat oleh Allah SWT menjadi Rasul. Tugas baru telah datang, yaitu menyebarkan agama Islam kepada seluruh umat manusia, setelah itu wahyu pun turun terus-menerus dan berkelanjutan.Nabi memulai dakwahnya, Khadijah masuk Islam dan bersaksi atas keesaan Allah dan kenabian suaminya yang mulia. Sehingga, ia adalah orang yang pertama kali masuk Islam. Kemudian, sebagai balas budi pada pamannya, Abu Thalib yang mengasuh dan menjaganya sejak kepergian ibunda dan kakeknya, Rasulullah memilih Ali dari sekian banyak putranya itu, untuk dididik di sisinya dan ditanggung nafkahnya. Dalam kondisi seperti ini, hati Alipun terbuka dan akhirnya masuk Islam. Setelah itu, barulah Zaid bin Haritsah, seorang budak yang telah dimerdekakan oleh Khadijah menyusul masuk Islam. Rasulullah juga bercerita kepada teman akrabnya, Abu Bakar, maka iapun beriman dan membenarkannya, tanpa ada keraguan kemudian Abu Bakar mengajak teman seperdagangannya mereka menyambut dengan baik, di antar mereka yang kemudian masuk Islam adalah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwan, Sa’ad bin Abi Waqas, Thalhah bin Ubaidillah dan Abdurrahman bin Auf.


Sumber: https://scorpionchildofficial.com/

Setelah kembali kepada ibunya, Muhammad diasuh dengan kasih sayang

Masa Kanak-Kanak Nabi Muhammad

Setelah kembali kepada ibunya, Muhammad diasuh dengan kasih sayang. Muhammad tumbuh menjadi anak yang terpuji. Perilakunya berbeda dengan anak-anak lain seusianya. Selain ibunya, kakeknya pun sangat sayang kepada Muhammad, sebagai pengganti anaknya, Abdullah. Suatu hari, Muhammad yang berusia 6 tahun di ajak oleh ibunya untuk berziarah ke makam ayahnya. Selain itu, ibunya pun hendak mengenalkan Muhammad kepada saudara-saudaranya. Perjalanan mereka ditemani oleh Ummu Aiman. Ummu Aiman adalah seorang budak perempuan. Saat perjalanan pulang, Aminah mengalami sakit keras. Karena sakitnya itu, Aminah akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Aminah wafat dan kembali kepada Allah. Muhammad saat itu sangat sedih dan tak kuasa menahan air matanya. Belumlah lama Muhammad merasakan kasih sayang Ibunya, kini Ibunya telah berpulang ke Rahmatullah. Sekarang, Muhammad menjadi yatim piatu. Ummu Aiman yang pada saat itu menemani Muhammad memeluk Muhammad dan menangis.

Sesampainya di Mekah, Muhammad kemudian diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib.

Kakeknya sangat menyayangi Muhammad. Kakeknya meratapi nasib Muhammad yang masih kecil sudah mengalami kepedihan yang begitu berat. Abdul Muthalib sangat mengistimewakan Muhammad. Muhammad diasuh dengan kasih sayang yang sangat besar. Namun, Muhammad tidak dapat merasakan kasih sayang kakeknya tersebut dalam waktu yang lama. Kakeknya akhirnya meninggal dunia ketika Muhammad berusia delapan tahun. Kepedihan dan kesedihan pun dirasakan kembali oleh Muhammad kecil. Sepeninggalan kakeknya, Muhammad kemudian diasuh oleh pamannya yang bernama Abu Thalib. Abu Thalib sangat mencintai Muhammad seperti anaknya yang lain, bahkan lebih. Begitu pula Fatimah, istri Abu Thalib, beliau pun sangat mencintai Muhammad.
Ketika usianya yang masih muda belia, semangat kerja keras dan keuletannya sudah muncul. Di saat anak-anak seusianya bermain dengan penuh suka cita, Muhammad dapat bekerja dan dapat membanggakan pamannya dan orang-orang di sekitarnya. Muhammad pun menjadi anak yang disayangi semua orang yang ada di sekitarnya. Suatu saat diceritakan ketika sedang menggembala kambing, Muhammad mendengar suara hiburan. Beliaupun meminta teman sesama penggembala untuk menjaga ternaknya, sedangkan beliau hendak melihat tempat suara itu. Ternyata, suara hiburan itu berasal dari pesta pernikahan. Saat beliau hendak memasuki tempat itu, rasa kantuk yang amat sangat menghinggapinya sehingga beliau tertidur. Allah telah menjaga Muhammad untuk tidak menyaksikan hiburan. Saat terbangun, hiburan itu telah berakhir dan beliau pun kembali ke ternaknya.
Selain membantu Abu Thalib, Muhammad pun sering membantu yang lainnya. Muhammad suatu hari pernah membantu pamannya Abbas untuk memindahkan batu-batu kecil di sekitar Ka’bah. Pamannya waktu itu meminta Muhammad untuk meletakkan sarungnya di pundak agar tidak menghalangi langkah bekerjanya. Namun, Muhammad tidak melakukannya. Dengan demikian, tidak ada seorangpun yang dapat melihat auratnya. Suatu saat Abu Thalib hendak berdagang ke negeri Syam beserta rombongan yang lainnya. Abu Thalib tak kuasa meninggalkan Muhammad. Kemudian, Muhammad pun diajaknya membantu berdagang ke negeri Syam. Selama di perjalanan, keajaiban pun selalu mengikuti para rombongan dagang. Awan selalu menaungi Muhammad ke mana pun Muhammad berjalan. Dengan demikian, Muhammad tidak merasakan panasnya matahari.
Peristiwa tersebut disaksikan oleh seorang pendeta Nasrani yang bernama Bahira. Bahira merupakan pendeta yang sangat memahami injil dan taurat. Bahira pun sangat paham akan tanda-tanda kehadiran rasul akhir zaman. Bahira kemudian mengundang para rombongan dagang tersebut untuk makan bersamanya. Setelah melihat Muhammad, Bahira mengetahui bahwa ada tanda-tanda kenabian di dalam diri Muhammad. Kemudian, BahiramenanyakanperihalMuhammadkepadaAbuThalib.
BahirakemudianbertanyakepadaAbuThalib.”Siapakahdia?”
Abu Thalib menjawab, “Dia anakku”.
“Bukan, dia bukan anakmu, orang tuanya pastilah telah meninggal”, kata Bahira.
“Memang benar, ayahnya telah meninggal ketika dia dalam kandungan. Selanjutnya, ibunya juga meninggaldunia,”jelasAbuThalib.
Bahira kembali berkata “Sebaiknya kamu bawa kembali anak ini ke negerimu. Jagalah baik-baik dan waspadalah terhadap orang Yahudi. Sebab, jika orang Yahudi tahu, mereka akan membunuhnya”. Abu Thalib pun membawa Muhammad pulang kembali ke Mekah dan menjaganya lebih hati-hati lagi. Abu Thalib yakin bahwa Muhammad mempunyai kelebihan daripada manusia yang lainnya.


Sumber: https://swatproject.org/

Biografi singkat tentang Putri Lopian Sisingamangaraja XII

PERAN WANITA PEJUANG DI SUMATERA UTARA

Biografi singkat tentang Putri Lopian Sisingamangaraja XII
Putri Lopian Sinambela adalah anak ke-3 dari tiga bersaudara dari Raja Sisingamangaraja XII. Ibunya adalah Boru Sagala Kakak tertuanya bernama Patuan Nagari dan Patuan Anggi adalah kakak keduanya. Ia lahir di Pearaja Dairi desa Sionomhudon. Kota ini adalah pusat perjuangan Sisingamangaraja XII. Lopian sedari kecil sering bergaul dengan para pejuang termasuk para panglima dari Aceh yaitu teuku Nyak Bantal dan Teuku Muhammad Ben.
Lopian tumbuh di pekarangan kerajaan yang membuatnya terdidik secara fikiran dan fisik. Ia belajar ilmu bela diri di Istana dan sering ikut andil dalam kemiliteran. Saat usianya 17 tahun, ia terjun langsung bergerilya melawan pasukan Belanda bersama sang ayah (SSM XII) dan akhirnya tewas tertembak dan bersimbah darah di pangkuan sang ayah.

2. Peran Putri Lopian pada perang melawan Belanda

Satu abad lebih telah silam.Tanggal 17 Juni 1907 adalah hari bersejarah bagi orang Batak, dikaitkan dengan sejarah perjuangan ”Patuan Bosar Ompu Pulo Batu (Raja Sisingamangaraja XII)”. Pada hari itu, di suatu tempat sepi di sekitar Pearaja, Sionom Hudon, Dairi, sejarah mencatat tragedi kematian Sisingamangaraja XII (SSM XII). Dua orang putranya yakni Patuan Nagari dan Patuan Anggi, serta empat orang panglimanya yang setia, ikut tewas pada waktu yang hampir bersamaan.
Dalam bingkai kisah tragis itu, anak perempuan SSM XII bernama Lopian (lazim disebut Putri Lopian) mengalami luka cukup parah terkena peluru senapan serdadu Belanda yang dipimpin kapten Christoffel. Saat itu Lopian masih berusia 17 tahun. Dia setia hingga akhir mengikuti ayahandanya ketika SSM XII diburu Belanda keluar masuk hutan belantara.
Meski dalam beberapa hal, kisah kematian SSM XII kadang ada selisih versi, namun secara umum merupakan gambaran historis tentang adegan klimaks yang amat dramatis dari seluruh mata rantai perjuangan SSM XII selama lebih kurang 30 tahun menentang Belanda. Momentum pertempuran sengit di sekitar Pearaja, Dairi, adalah fakta sejarah dimana hampir seluruh sanak keluarga SSM XII turut terlibat secara frontal menghadapi kepungan tentara Belanda yang penuh nafsu membunuh. Berdasarkan sejumlah referensi seputar tragedi kematian SSM XII, detik-detik terakhir pada media Juni 1907 itu, merupakan momentum sangat genting penuh ketegangan. Pada saat itu, SSM XII bersama isteri, anak-anak, para panglima dan sisa pasukannya, terlunta-lunta naik turun jurang, keluar masuk hutan, dalam kejaran tentara Belanda yang jumlahnya besar dengan kelengkapan senjata lebih modern.
Sore yang kelabu tanggal 17 Juni itu, agaknya sudah ditakdirkan sebagai akhir perlawanan SSM XII. Dalam posisi terjepit oleh pasukan Christoffel, pasukan SSM XII dengan persenjataan kelewang, tombak, dan bambu runcing, benar-benar tak berdaya menghadapi hujan peluru yang dimuntahkan serdadu- serdadu Belanda. Patuan Nagari tewas tertembak di antara desing peluru yang tiada hentinya. Sejumlah sisa pasukan SSM XII juga jatuh terkapar saat mencoba melakukan perlawanan. Sementara itu Kapten Christoffel berseru, agar SSM XII menyerah dan supaya piso gajah dompak yang terkenal keramat itu diberikan. Tetapi SSM XII dari tempatnya berlindung menyahut tegas: “Lebih baik mati dari pada menyerah kepada penjajah”.
Pada saat bersamaan, terdengar jeritan Lopian putri sang raja, yang rupanya terkena tembakan. Seketika SSM XII terkejut melihat putrinya tercinta rubuh bersimbah darah di atas rerumputan. Dengan piso gajah dompakterhunus di tangan, SSM XII mendekati Lopian dengan langkah gontai, dan langsung memangkunya. Amarahnya meluap. Hatinya luluh melihat putrinya sekarat diterjang peluru penjajah. Namun saat itulah SSM XII tersentak, sadar, bahwa ia berpantang kena darah. Tubuhnya digambarkan lesu, dan kesaktiannya yang legendaries itu seakan pudar. Lalu SSM XII berbisik:” Saatnya sudah tiba…” Tak berapa lama kemudian, beliau juga rubuh oleh tembakan yang dilepas Christoffel dalam jarak tak terlalu jauh. Melihat hal itu, para panglima dan pengikut SSM XII bagai terpana. Sulit mempercayai baginda bisa dilukai peluru.

Recent Posts

Estafet karir Siti Sukaptinah sebenarnya termasuk dalam perjuangan eksistensi perempuan di masyarakat

Perjuangan Siti Sukaptinah

Estafet karir Siti Sukaptinah sebenarnya termasuk dalam perjuangan eksistensi perempuan di masyarakat. Karena pada masanya perempuan dianggap tidak mampu bersaing dengan laki-laki. Namun pada masa itu Siti Sukaptinah mampu, tidak hanya memasuki organisasi perempuan namun juga menduduki posisi penting dari organisasi yang biasa diduduki oleh laki-laki seperti masuknya dia ke BPUPKI hingga DPR. Hal ini sebenarnya dapat merubah mindset bagi masyarakat Indonesia tentang persepsi kapasitas perempuan di segala urusan yang pada masa itu biasa ditangani oleh laki-laki, perempuan menjadi lebih yakin dan mantap untuk tidak ragu-ragu lagi bersuara dengan adanya pembuktian Siti Sukaptinah.
Selain itu secara tidak langsung estafet karir Siti Sukaptinah juga untuk mengedukasi perempuan, mengakomodir suara perempuan, dan memperjuangkan hak yang harusnya dimiliki perempuan. hal ini dapat dilihat ketika Sukaptinah menjadi seorang guru, kemudian menerbitkan majalah mingguan bernama Istri Indonesia, dan masuk dalam organisasi-organisasi keperempuanan guna membina perempuan dalam berjuang di ranah publik.
Pada hal lain bentuk dhohir dari perjuangan Siti Sukaptinah masa kolonial dapat di lihat secara teknis pada saat ia duduk di Istri Indonesia. Pada saat itu Dewan Rakyat yang bahkan di bentuk oleh Belanda sama tidak memberi kursi pada perempuan Indonesia. Pada saat itulah Siti Sukaptinah yang duduk sebagai anggota Dewan Rakyat Kota Semarang memprotes lewat pidatonya yang di muat di Istri Indonesia, cuplikannya sebagai berikut.
“Kita sudah hidup di masyarakat yang tidak membedakan satu bangsa dan bangsa lain, juga tidak membedakan laki-laki dan perempuan… bangsa kita membutuhkan tenaga perempuan baik di dalam maupun di luar raad (Dewan Rakyat)”
Pada masa kemerdekaan yang disertai dengan agresi militer Belanda, India mengundang Sukaptinah pada sebuah acara All Indian Women’s Congress yang diselenggarakan di Madras, November 1947. Pada saat itu Sukaptinah tidak mempunyai modal, paspor dan sarana pendukung lainnya untuk ke India, namun karena tekadnya ingin menyuarakan kemerdekaan Indonesia ke segala penjuru negeri maka Sukaptinah memimpin delegasi menuju India. Disertai oleh Utami, Herawati Diah (wartawan Harian Merdeka) mereka semua menumpang Kalingga Airlines milik Bijayananda Patnaik. Bijayananda Patnaik sendiri merupakan seorang kepercayaan Jawaharlal Nehru yang biasa mengemban misi bolak-balik Yogyakarta untuk membawa obat-obatan dan bantuan lain sehubungan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pada masa Sukaptinah menduduki parlemen,

ia bergabung di barisan Masyumi yang mendukung poligami. Hal ini berbelok dari pemikiran ia yang sebelumnya pada masa kolonial menolak poligami. Bahkan ketika Komisi Nikah talak dan Rujuk tak kunjung menggolkan RUU Perkawinan yang adil, Nyonya Sumari yang menolak Poligami dari fraksi PNI ditentang oleh Sukaptinah. Perubahan Sukaptinah ini ditulis oleh Saskia Eleonora Wierienga dalam Penghancuran Gerakan perempuan di Indonesia menuturkan bahwa alasan sukaptinah mendukung poligami adalah karena ia bergabung di Masyumi yang cenderung berada di posisi pro poligami. Hal ini membuat sayap perempuan organisasi terpaksa harus mengekor mengikuti arahan kaum laki-laki.


Sumber: https://bengkelharga.com/

Siti Sukaptinah atau biasa dikenal sebagai Nyonya Sunario Mangunpuspito

SITI SUKAPTINAH

Riwayat Hidup Siti Sukaptinah

Siti Sukaptinah atau biasa dikenal sebagai Nyonya Sunario Mangunpuspito Lahir di Yogyakarta tahun 1907 orang tuanya R. Sastra Wecana berasal dari kalangan abdi dalem. Masa kecilnya ia bersekolah di HIS (Hollandssch Inlandsche School) bentukan dari Hamengku Bowo, selain bersekolah Sukaptinah juga aktif di Siswapraja Wanita Muhammadiyah yang nantinya akan menjadi cikal bakal Nasiyatul Aisiyah. Setelah tujuh tahun menempuh pendidikan di HIS Sukaptinah melanjutkan pendidikannya ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Ngupasan, Sembari Aktif sebagai anggota di Jong Java. Pada tahun 1924 Siti Sukaptinah pindah ke Taman Siswa dan Melanjutkan pendidikannya hingga tamat pada tahun 1926. Sukaptinah merasa beruntung karena bisa langsung belajar dari Nyi dan Ki Hadjar Dewantara, dari merekalah Sukaptinah belajar nembang hingga bisa menggubah lagu sendiri.
Setelah lulus sukaptinah mengabdikan dirinya menjadi guru di Taman Siswa. Disini juga dia mulai menganal tokoh-tokoh gerakan perempuan yang juga menjadi guru tempat ia mengajar seperti Sri Wulandari yang dikenal sebagai Nyonya Mangun Sarkoro dan Sunaryati yang dikenal sebagai Nyonya Sukemi. Selain mengajar Sukaptinah juga aktif di Jong Islaminten Bond (JIB) dan menjadi ketua JIB Daames Afdelling Cabang Jogja. Dari organisasi inilah Sukaptinah dapat menjadi pengurus KPI (Konferensi Perempuan Indonesia). Pada 1929 Sukaptinah menikah dengan Sunaryo Mangunpuspito, pria yang dikenalnya ketika sama-sama aktif di Jong Java. Sunaryo merupakan lelaki yang progresif sehingga pernikahannya tidak menghambat keaktifan Sukaptinah dalam gerakan.
Pada tahun 1933 Sukaptinah diangkat menjadi ketua organisasi Istri Indonesia yang merupakan fusi dari organisasi-organisasi perempuan di Indonesia. Anggotanya antara lain adalah Maria Ulfah, Siti Danilah, dan Lasmidjah Hardi. Organisasi ini mempunyai majalah mingguan bernama Istri Indonesia. Organisasi ini berfungsi menyebarkan isu-isu mengenai perempuan, selain itu organisasi ini menanggapi masalah perempuan di ranah publik, mengawal isu tersebut dan menyelesaikannya di pemerintahan belanda. Setelah Belanda menyerah dan Jepang mengagresi Indonesia kondisi semarang menjadi morat-marit. Sukaptinah yang hamil tua bersama keluarganya pindah ke Yogyakarta. Tak lama setelah Sukaptinah melahirkan ia dipanggil Soekarno untuk menjadi ketua Fujinkai di Jakarta, yang setelah masa kemerdekaan ia ubah menjadi Persatuan Wanita Indonesia (Perwani)
Ketika BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Republik Indonesia) didirikan, Sukaptinah menjadi salah satu dari dua orang wanita yang ada di badan tersebut. Sukaptinah masuk di Panitia Ketiga yang membahas pembelaan Tanah Air. Ketika Indonesia merdeka Sukaptinah menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sekaligus bergabung dengan Masyumi sekaligus menjadi anggota Pengurus Besar Muslimat Masyumipada 1946. Agresi Belanda membuat kondisi indonesia kembali di masa perjuangan, karena rumah Sunaryo aktif untuk pergerakan maka Sukaptinah dan Sunaryo ditangkap oleh Sekutu dan di penjara Wirogunan kemudian dipindahkan ke Ambarawa. Sukaptinah baru dibebaskan setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949 kemudian setelah itu Sukaptinah melanjutkan perjuangannya.
Sukaptinah kemudian melanjutkan perjuangannya melalui Masyumi, pada Pemilu 1955 Sukaptinah mencalonkan diri sebagai wakil perempuan dari Masyumi untuk anggota DPR. Alhasil ia terpilih sebagai satu-satunya perempuan yang duduk di DPR sekaligus menjadi anggota Dewan Konstituante. Keaktifannya dalam tiga kota tidak membuat dirinya surut berjuang, rumah tangga di Yogyakarta, kerja DPR di Jakarta, dan Dewan Konstituante di Bandung. Masa Demokrasi Terpimpi era Soekarno mengakhiri perjuangannya di tiga kota karena partai yang menaunginya, Masyumi dibubarkan dan otomatis Sukaptinah keluar dari DPR.
Setelah pengeluaran Sukaptinah yang berujung kepulangannya ke Yogyakarta, Sukaptinah tetap berjuang menegakkan hak perempuan antara lain mendirikan Wanita Islam pada 1962. Selain itu ia juga membidani terbentuknya Badan Musyawarah Wanita Islam Yogyakarta (BMWIY), semacam forum kerjasama antar organisasi perempuan Islam di Yogyakarta. Atas jasanya di bidang politik dan gerakan perempuan pemerintah menganugerahi Bintang Mahaputra paa 1993, dua tahun setelah Sukaptinah meninggal.


Sumber: https://ngegas.com/

Dinasti Khalji asal dari nama Khalj, daerah pegunungan di Afganistan

Dinasti Khalji 1290-1320 M

Dinasti Khalji asal dari nama Khalj, daerah pegunungan di Afganistan. Mereka sangat berjasa dalam islamisasi di Asia terutama di India. Saah seorang tentara Khalji menyelamatkan Muhammad Ghurri dari ambang kematian, saat ia diserang oleh musuh dalam perjalanan pulang setelah kalah di perang Tarin I. pada 1290 M, dan setelah Balban wafat (1287), tidak ada orang kuat lagi yang mempertahakan kekuasaan mereka,sehingga masuklah kekuatan baru dari Afganistan, yaitu Dinasti Khalji. Sultan pertama adalah Sultan Jalauddin Firuz (1290-1296 M) naik tahta. Sultan naik tahta dengan menginjak usia 75 tahun, sesungguhnya sultan tidak sanggup lagi memberikan perlawanan kepada bangsa Mongol. Oleh karena itu orang yang paling terkenal dan kuat, Alaudin Khalji naik tahta dengan membunuh paman dan mertuanya sendiri. Karena, saat ini negara dalam keadaan kacau dan dikhawatirkan orang-orang penjahat dari daerah pegunungan Mewat yang sudah menguasai Delhi. Setelah naik tahta Alauddin Khalji berulang kali menghadapi serangan baik dari musuh dalam negri maupun serangan bertubi tubi dari luar. Pada masa oitu kekuasaanya meliputi hampir seluruh wilayah India, oleh karena itu ia dijuluki sang penakluk Asia.
Pada tahun tahun setelahnya kesehatan sultan terganggu, ia cepat marah dan ketagihan minum minuman keras. Pemerintahan diserahkan kepada panglima Malik Kafur, yang menaklukan Deccan dan India bagian Selatan lainnya. Tanda tanda kekacauan sudah terlihat dalam kekacauan itu sultan meninggal akibat terlalu banyak minum minuman keras. Putra sultan, Qutubuddin Mubarak Khalji berhasil merebut istana dan mengangkat dirinya sebagai sultan. Ia memerintah selama dua tahun selaku raja yang ganas dan buas. Perbuatan merampas, membunuh, dan memperkosa tidak berkeputusan lagi. Perbuatannya yang sewenang wenang diberantas oleh gubernurnya Khusru seorang Hindu.
Sultan Mubarak dibunuh dan Khursu mengangkat dirinya menjadi sultan dengan nama Nasiruddin. Tetapi kenyataannya ia lebih buaas lagi dari sultan yang digantinya. Delhi mengalami pemerintahan yang selama satu tahun rakyat selalu ditindas. Pengharapan terletak pada Ghazi Malik, seorang panglima sultan yang mempertahankan batas utara dalam serangan Bangsa Mongol yang mendesak lembah India pada masa itu. Atas permintaan kaum ningrat ia memberantas Khusru dan para pengikutnya. Kesultanan Delhi dipersembahkan oleh pembesar pembesar kepada Ghazi Malik dari Bani Tughluq.

 

– Dinasti Tughlaq 1320-1414 M

 

Tahun 1320 M, Dinasti Tughlaq didirikan oleh Ghazi Malik yang mampu mengalahkan Dinasti Khalji. Ia merupakan pemipin dari suku Qarauna yang berdiam di antara pegunungan Sind dan Turkistan. Sultan ini mati dengan cara yang kontroversial. Putranya Juna Khan membuat panggung untuk menyambut ayahnya yang baru pulang dari Bangla. Namun, panggungnya roboh dan sultan mati diinjak oleh gajah.
Salah seorang raja dari dinasti ini Muhammad ibn Tughlaq terkenal dengan tidak konsisten dalam memutuskan dekrit sehingga rakyat India, baik yang Islam apalagi yang Hindu tidak tahan lagi. Muhammad ibn Tughlaq juga terkenal dengan gagasan lima butir yang terpuji, namun semuanya gagal. Yaitu, proyek pemindahan ibu kota Delhi ke Deogir, dengan alasan untuk mensejahterakan rakyat di daerah selatan dan mengislamkan daerah tersebut, namun setelah pindah ke Deogir, Delhi dikuasai oleh para penjahat, oleh karena itu ia memutuskan untuk kembali. Yang kedua, ekspedisi ke Khurasan, persiapan selama setahun dengan merekrut 370.000 orang dibatalkan. Sebab, ia bekerja sama dengan penguasa Mongol dan penguasa Mesir untuk mengalahkan Khurasan yang dipimpin oleh Abu Sa’id. Namun, usaha ini gagal karena penguasa Mongol telah berganti kekuasaaan dan penguasa Mesir membelot kepada Abu Sa’id. Yang ketiga, adalah usaha penaklukan Qarachil, orang Mewat sering kali mengacau dan mengganggu keamanan di daerah tersebut. Akhirnya, sultan mengirim 100.000 pasukan tentara, namun usaha inipun gagal disebabkan tidak berhasil mendapaatkan informasi kekuatan musuh yang benar. Di samping itu juga cuaca buruk hujan es, maka hampir seluruh tentaranya mati. Yang keempat, mencetak mata uang. Sultan terpengaruh dengan mata uang kertas dari China. Hal ini karena orang Hindu mencetak uang palsu di rumahnya. Sultan akhirnya menarik mata uang baik yang dipalsukan atau tidak. Yang kelima, penambahan pajak di Doab, Karena proyek proyek gagal, maka ia menarik pajak untuk menutupi anggaran guna mengganti mata uang perunggu yang diganti dengan emas. Namun, proyek ini mengalami kegagalan karean para petani membakar sawah dan ari ke hutan. Karena para petugan penarik pajak melipatgandakan pungutan pajak tidak sesuai dengan ketetapan sultan. Karena kondisi yang demikian, maka kemudian banyak bermunculan pemberontakan. Akibatnya raja raja dari kekuasaan Delhi melepaskan diri. Yang tersisa hanyalah Doab dan Punjab. Muhammad Shah tidak dapat mempertahankan kekuasaannya lagi hingga akhirnya ia wafat. Ia digantikan oleh Firuz Shah. Sultan Firuz wafat dalam usia 90 tahun sesudah memerintah selama 42 tahun. Dengan wafatnya, kerajaan yang mulai rapuh itu pecah belah dalam beberapa kerajaan kecil yang dikuasai oleh panglima-panglima, bergelar sayyid. Khizir Khan mengalahkan sultan terakhir dari dinasti ini, maka berdirilah Dinasti Sayyed.

Recent Posts

Pengganti Muhammad Ghuri yang bergelar Qutbuddin

Sejarah Dan Perkembangan Kesultanan Delhi

Kesultanan ini didirikan pada 1206 oleh Qutub al-Din Aibak, Pengganti Muhammad Ghuri yang bergelar Qutbuddin, memulai karirnya sebagai budak. Karena ia cerdas dan mahir dalam berbagai ilmu terutama dibidang kemiliteran, maka Ghuri mengangkatnya sebagai kepala pengurusan kuda-kuda perang di istana. Setelah ia dibebaskan dalam belenggu perbudakan, Aibak dinikahkan dengan putrinya, dan diangkat menjadi panglima perang saat Ghurri menaklukan India di peperangan Tarin II. Sebelum Ghurri pulang ke Ghur, Qutub al-Din di tetapkan menjadi wakil tetap Ghurri di India. Setelah Ghurri wafat dan tidak ada yang datanag dari Ghur untuk memerintah India maka para pembesar istana mengangkat Aibak sebagai sultan di India.
Aibak Mendirikan Masjid Raya Delhi yang bernama Quwat al-Islam, dan membangun sebuah menara yang besar dan diberi nama Qutub Minar atas nama guru Spiritualnya, seorang ulama besar dan sufi dari tarekat Chistiyah yaitu Qutub al-Din Baktiar Ka’ki , yang sampai saat ini berdiri dengan megah dan menjadi perhatian para wisatawan karena kehebatan nilai arsitekturnya. Di Azmir didirikannya pula sebuah masjid raya yang memakai namanya.
Setelah Aibak wafat, putranya Aram Syah menjadi sultan, karean ia tidak cakap dan tidak punya kemampuan sama sekali dalam urusan negara , maka para pembesar istana Delhi mengangkat seorang raja Islam yang besar bernama Iltutmish (1211-1236). Dia juga karirnya sama dengan Aibak sebagai budak, ia menantu Aibak juga sedang menjabat menjadi gubernur Badaun. Dia adalah seorang raja Islam yang besar, pandai mengatur negara, dan berjasa. Ia melanjutkan kekuasaan dan perluasan kekuasaan Islam ke wilayah Utara dengan menaklukan negri Malwa. Jasa Iltutmish yang paling besar adalah karena kekuatan pribadinya, kuat persiapan, dan pertahanannya dapat membendung penjarahan Bangsa Mongol yang telah menghancurkan Samarkand, Bukhara, dan tanah Islam yang lain, yang dipimpin oleh Chengis Khan.
Sebelum wafat, Iltutmish menunjuk putrinya, Razia sebagai pengganti dengan alasan semua anak laki-lakinya tidak ada yang mampu. Para pembesar istana yang keberatan dengan sultan perempuan menganggkat Rukunuddin Firuz sebagai sultan, ternyata ia tidak mampu maka Razia diangkat kembali sebagai penguasa Delhi. Pada masa pemerintahannya terjadi pemberontakan dimana mana yang menolak sultan perempuan, akhirnya Razia jatuh dari kekuasaannya dan diganti oleh Bahram Shah, putra dari Iltutmish. Sama seperti saudaranya ia pun tak mampu memimpin.

Pamannya Nasiruddin, naik menjadi sultan pada 1246 M.

Sultan Nasiruddin (1246-1266) adalah sultan yang saleh dan paling baik pribadinya antara penguasa abad 13 M. ia hidup dengan menulis al- Qur’an dan menjahit topi pada waktu senggang. Ia juga tidak pernah menerima satu sen pun uang negara sebagai gaji, namun ia tidak memiliki anak laki laki. Sebagai penggantinya ia menunjk Ghiasuddin Balban (1266-1287) seorang pahlawan dan bekas budak sultan Iltutmish. Ia terkenal sebagai seorang raja dengan tangan besi, tetapi pada zamannya kebudayaan amat berkembang di Delhi. Lebih dari 15 orang raja dari luar Delhi, terutama bagian Iran mendapat perlindungan disana sebab segan kepada Bangsa Mongol, yang memerangi negri-negri mereka dibawah pimpinan keturunan Chengis Khan. Ia juga berjasa dapat menahan serangan Bangsa Mongol ke anak benua India. Balban dapat mengusir mereka, jasanya itu tidak bisa dilupakan oleh raja raja Islam sehingga ia diakui sebagai sultan (1266-1287). Harapan Sultan Balban akan memimpin kesultanan Delhi tidak terwujud, dikarnakan pangeran Muhammad yang ahli dalam urusan pemerintahan gugur dalam serangan bertubi tubi Bangsa Mongol, Sultan yang brkabung ini akhirnya meninggal. Putranya Bughra Khan menolak tawaran kursi Kesultanan Delhi sebab kondisi cuaca dan kesehatannya . Akhirnya cucunya, Kaikobad putra Bughra Khan diangkat menjadi sultan. Sultan Kaikobad tidak mampu menjalankan roda kepemerintahan dengan baik, akhrirnya para pembesar istana bersekongkol dan berhasil menjatuhkannya dengan menggantikan putranya Kaimus yang baru berumur tiga tahun menjadi sultan. Dengan sultan balita maka situasi sudah sangat kacau dan akhirnya dinasti ini berakhir dan berdiri Dinasti Khalji.

Sumber: https://vds.co.id/

Adanya pembangkangan di barisan petinggi tentara Utsmani untuk meneruskan peperangan di Persia

Keadaan Dinasti Syafawiyah Pasca Peristiwa Perang Chaldiran tahun 1514 M

Sutan Salim I merasa cukup dengan kemenangannya di Chaldiran.

Dia terpaksa kembali ke negaranya dan tidak melakukan pengejaran karena berapa sebab :

1. Adanya pembangkangan di barisan petinggi tentara Utsmani untuk meneruskan peperangan di Persia, setelah Sultan Salim I berhasil mewujudkan tujuannya dan mampu melemahkan kekuatan Syah Ismail.
2. Sultan Salim I merasa khawatir pasukannya akan jatuh ke dalam perangkap orang-orang Syafawi jika mereka terlalu dalam memasuki negeri mereka.
3. Dia berpendapat bahwa sudah saatnya untuk menaklukkan kerajaan Mamluk. Sebab, perangkat keamanan Dinasti Utsmani mengawasi adanya surat-menyurat antara kaum Mamalik dengan orang-orang Syafawi yang menunjukan ada kerjasama untuk melawan Dinasti Utsmani.
Kekalahan Dinasti Syafawiyah pada Perang Chaldiran, tersebut meruntuhkan kebanggaan dan kepercayaan diri Syah Ismail. Akibatnya, kehidupan Ismail I berubah. Ia lebih senang menyendiri, menempuh kehidupan hura-hura dan berburu. Keadaan ini menimbulkan dampak negatif bagi kerajaan Syafawi, yaitu terjainya persainan segitiga antara pimpinan suku-suku Turki, pejabat-pejabat keturunan Persia, dan Qizilbash dalam merebut pengaruh untuk memimpin kerajaan Syafawi.
Konflik antara Dinasti Utsmani dengan Dinasti Syafawi tidak berhenti setelah perang Chaldiran berakhir. Sepeninggal Ismail, peperangan-peperangan antara dua kerajaan besar Islam ini terjadi beberapa kali pada zaman pemerintahan Tahmasp I (1524-1576 M ), Ismail II (1576-1577 M), dan Muhammad Khudabanda (1577-1587 M). Pada masa tiga Raja tersebut, Dinasti Syafawi dalam keadaan lemah. Di samping karena seringnya terjadi peperangan melawan Dinasti Utsmani, yang lebih kuat, juga karena sering terjadi pertentangan antara kelompok-kelompok di dalam negeri. Kondisi memprihatinkan ini baru bisa diatasi setelah raja Syafawi ke lima, Abbas I, naik tahta. Ia memerintah dari tahun 1588-1628 M.
Langkah-langkah yang ditempuh oleh Abbas I dalam rangka memulihkan kerajaan Syafawi ialah: pertama, berusaha menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash atas kerajaan syafawi dengan cara membentuk pasukan baru yang anggotanya budak-budak, berasal dari tawanan perang bangsa Georgia, Armenia, dan Sircassia yang telah ada sejak raja Tahmasp I. kedua, mengadakan perjanjian damai dengan Turki Utsmani. Untuk mewujudkan pernjanjian ini, Abbas I terpaksa harus menyerahkan wilayah Azerbaijan, Georigia, dan sebagian wilayah Luristan. Di samping itu, Abbas berjanji tidak akan menghina tiga Khalifah pertama dalam Islam (Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Usman) dalam khotbah-khotbah Jumat. Sebagai jaminan atas syarat-syarat itu, ia menyerahka saudara sepupunya, Haidar Mirza sebagai sanera di Istanbul.
Adapun dampak yang ditimbulkan akibat Perang Chaldiran adalah sebagai berikut:
1. Masuknya wilayah Irak bagian utara dan Diyarbakir ke dalam kekuasaan Dinasti Utsmaniah.
2. Bangsa Turki Utsmani mengamankan batas-batas Negara mereka di sebelah Timur.
3. Mazhab Sunni menjadi dominan di Asia Kecil setelah Sultan Salim I berhasil menumpas para pengikut dan pendukun Syah Ismail, ditambah kekalahan orang-orang Syiah di Chaldiran. Ini menunjukkan bahwa Dinasti Utsmaniah memiliki rasa tangung jawab terhaap Dunia Islam, khususnya setelah ia mengumumkan dirinya sebagai pelindung kaum muslimin.
4. Tumbuhnya kesadaran Dinasti Utsmaniah akan pentingnya menumpas kekuatan yang kedua, yakni Dinasti Mamluk.
5. Konflik bersenjata antara Dinasti Utsmaniah dengan Dinasti Syafawiyah mengakibatkan turunnya pendapatan bea cukai pemerintahan Utsmani dari jalur-jalur perdagangan yang lama di Anatolia. Pemasukan Negara mengalami penurunan setelah tahun 918 H (1512M) sebagai akibat dari peperangan-peperangan yang terjadi anatara kaum Syafawi dengan bangsa Turki Utsmani. Sebab, sebagian besar jalur perdagangan yang lama ditutup, di sampig timbulnya berbagai macam bahaya. Akibatnya, perdagangan bilateral antara wilayah-wilayah Iran dan Utsmani menjadi terbatas. Karena itu, pemasukan pemerintahan Utsmani menurun dari Sutra Persia.
6. Bangsa Portugal memanfaatkan konflik yang terjadi antara Dinasti Syafawiyah dengan dinasti Utsmani. Mereka berusaha melakukan blokade total terhadap lautan-lautan di sebelah timur dan menutup jalan-jalan lama yang menghubungkan antara timur dan barat.
7. Orang-orang Eropa bergembira atas peperangan-peperangan yang terjadi antara bangsa Turki dan kaum Syafawi. Orang-orang Eropa berusaha memberikan bantuan kepada kaum Syiah Syafawi dalam melawan Dinasti Utsmaniyah untuk melemahkannya, sehinga Turki Utsmani tidak mampu melanjutkan penyerangan terhadap wilayah-wilayah Eropa.

Sumber: https://pss-sleman.co.id/

Perbedaan Pengukuran dan Penilaian

Istilah penilaian dan pengukuran dalam akuntansi seringkali tidak dapat dibedakan karena terdapat penggunaan satuan moneter yang menggunakan ekonomi salah satunya dalam laporan keuangan dalam bentuk pengukuran atau evaluasi aset. Untuk proses evaluasi, kita perlu melakukan pengukuran terlebih dahulu. Dalam proses pengukuran digunakan 3 standar yaitu pengukuran standar (meter, kilogram, pengukuran, dll), pengukuran nonstandar (depan, bentang, tangga, dll), dan perkiraan pengukuran berdasarkan pengalaman. Sedangkan untuk penilaian perilaku kualitatif lebih membutuhkan penjelasan yang spesifik. Perbedaan pengukuran dan penilaian dalam akuntansi adalah sebagai berikut.

1. Pemahaman

a. Pengukuran

Pengukuran adalah proses membandingkan pengukuran tertentu dengan pengukuran kuantitatif karena terdapat satuan pengukuran tertentu. Measurement (pengukuran) adalah kegiatan pemberian bilangan atau upaya untuk menemukan deskripsi bilangan dari level tertentu yang telah mencapai karakteristik tertentu. Pengukuran adalah penentuan ukuran, ukuran, atau kapasitas suatu standar standar atau satuan ukur yang tidak terbatas pada besaran fisik, dapat juga ditambahkan untuk mengukur hampir semua hal yang dapat dibayangkan seperti tingkat ketidakpastian atau kepercayaan pengguna.

b. Penilaian

Evaluasi adalah kegiatan yang diputuskan berdasarkan kriteria pengguna baik dan buruk serta kualitatif. Asesmen (assesment) adalah penerapan berbagai metode dan penggunaan berbagai alat asesmen untuk menginformasikan informasi tentang hasil belajar siswa atau kompetensi prestasi siswa (jaringan kemampuan). Penilaian ini juga dilakukan untuk menjawab pertanyaan tentang hasil yang akan diperoleh.

2. Konsep Pengukuran dan Penilaian dalam Akuntansi

a. Pengukuran

Sebenarnya akuntansi menyediakan teori pengukuran yang berkaitan dengan modal dan laba sebagai ukuran derivatif. Modal asli dari transaksi dan penilaian di pasar keuangan dan keuntungan yang diperoleh dari penarikan yang berhubungan dengan pendapatan atau perubahan modal dari waktu ke waktu. Modal dapat didefinisikan dan diturunkan dari sejumlah faktor seperti biaya operasi, biaya historis, biaya keuangan, atau nilai wajar. Standar internasional menggunakan konsep nilai yang lebih alami. Perubahan tersebut lebih menitikberatkan pada penilaian neraca, bergeser dari sistem pengukuran alokasi laba yang sederhana dan menekankan pada hubungan dengan realitas komersial dan pengambilan keputusan kapitalis dari reliabilitas.

b. Penilaian

Berdasarkan prinsip prinsip akuntansi, nilai diarahkan pada aset atau properti. Aset merupakan salah satu elemen yang membentuk suatu posisi keuangan (neraca) yang kemudian menciptakan informasi semantik bagi investor dan kreditor sehingga tujuan penilaian aset tersebut berkaitan dengan jenis pelaporan keuangan. Tujuan pelaporan keuangan adalah untuk memberikan informasi yang dapat membantu investor dan kreditor tentang jumlah dan ketidakpastian laporan arus kas bersih yang masuk ke badan usaha. Kebijakan penilaian aset harus diikuti dengan arus kas ke badan evaluasi agar lebih relevan. Arus kas dan badan usaha dapat diprediksi melalui informasi semantik yang meliputi posisi keuangan, profitabilitas, likuiditas, dan solvabilitas. Keempat informasi tersebut berperan penting dalam penentuan / kompilasi analisis keuangan analisis evaluasi aset untuk merepresentasikan laporan keuangan terkait pelaporan keuangan dengan menggunakan kebijakan tertentu sesuai dengan standar akuntansi keuangan.

Metode pengukuran dan evaluasi berbeda dalam akuntansi yang harus dipahami ketika memanfaatkan akuntansi dan pengetahuan tentang fungsi akuntansi.

Sumber: https://blog.malavida.co.id

Nova Launcher Prime

Sekarang orang sudah pasti membawa smartphone. Hidupnya hampir sangat dibutuhkan oleh perangkat ini. Karenanya, ini memainkan peran yang sangat penting. Bagi mereka yang tidak terbiasa dengan ponsel, sistem ini terasa hebat. Tetapi beberapa orang menggunakan ponsel dan mengetahui bahwa kinerja perangkat dasar tidak seperti yang diharapkan. Atau memiliki fungsi yang tidak ditentukan oleh pabrikan. Pengguna yang ingin meningkatkan kinerja ponselnya membutuhkan beberapa aplikasi.

Sebelumnya, saya juga menggunakan beberapa peluncur tetapi tidak menemukan kinerjanya buruk. Tetapi Nova Launcher Prime menghadirkan perspektif yang berbeda karena ponsel bekerja dengan sangat lancar. Ada beberapa fitur tambahan yang mudah digunakan dan dipersonalisasi untuk telepon Anda. Ini adalah satu-satunya produk Perangkat Lunak TeslaCoil yang berhasil. Mereka baru saja membuat ekstensi file untuk produk yang satu ini agar lebih bertenaga. Mungkin ini adalah strategi bisnis pabrikan yang bijaksana karena versi utamanya memiliki sekitar 50 juta unduhan dan versi yang sangat baik juga memiliki lebih dari satu juta unduhan.

Pada artikel ini, saya akan memperkenalkan fitur paling populer di versi gratis dan memberi Anda poin baru saat Anda membeli versi Perdana. Fitur luar biasa ini akan sangat berguna, sehingga versi yang diperbarui menjadi lebih berguna. Ini akan menggabungkan tindakan untuk mengontrol, daripada harus mengakses fungsi tetap. Bilah utilitas juga ditambahkan untuk meningkatkan kinerja.

Fitur spesial

Fitur utama dari Nova Launcher yang terkenal itu adalah variasi penyesuaian dari semua hal yang tidak diperbolehkan secara tidak langsung. Peluncur ini akan menyediakan banyak ikon tema bagi pengguna untuk mengubah tampilan layar ponsel. Selain itu, berbagai fungsi seperti label, folder, lencana yang belum dibaca, tab laci, dan latar belakang semuanya didistribusikan dan dikontrol warna untuk membuat ponsel lebih teratur.

Kemudian, pengguna dapat menggunakan Nova Launcher untuk mendesain berbagai hal dan fungsi untuk memudahkan pengelolaan. Sistem laci akan menjadi alat yang hebat. Hal-hal yang akan tersedia dalam versi premier adalah Peringatan, Jumlah Belum Dibaca, Grup Laci Kustom, Sembunyikan Aplikasi, Efek Lainnya. Semua ini membuat pengguna sangat puas. Terima kasih telah menambahkan sinyal yang berguna dan penyesuaian lanjutan untuk mengoptimalkan kontrol pengguna.

Download di https://Apk.ruangguru.co