sebab sebab penderitaan

PENGARUH PENDERITAAN

Menurut Huijbers (1986) hidup obyektif mempunyai peranan penting dalam menentukan tujuan hidup, dalam mengejarnya dan dalam menghayatinya. Hidup efektif atau perasan justru menjadi motor yang kuat untuk mengembangkan suatu hidup yang sesuai dengan tujuan hidup. Selanjutnya perasaan itu menjadi bagian suatu situasi hidup yang telah dicapai. Perkembangan hidup manusia terjalin erat dengan hidup emosionalnya. Bila hidup emosionalnya baik, kemungkinan besar hidupnya sebagai keseluruhan akan baik juga.
Apa sebabnya diantara dua oang yang menghadapi suatu masalah yang kurang lebih sama, seorang tetap sehat dan tidak menderita sedangkan yang lainnya jatuh sakit? Menurut Tandau, pada umumnya para ahli berpendapat bahwa individu yang jatuh sakit, karena di dalam diri individu yang bersangkutan ada sesuatu faktor yang menyebabkan seseorang itu lebih terdorong ke arah keadaan sakit.

Faktor itu ialah:

a) Keadaan fisik individu yang dibentuk selama pertumbuhan fisiknya, dan
b) Faktor-faktor yang terletak di dalam kepribadiannya, terutama yang bersifat pengalaman serta perkembangan mentalnya.
Perilaku manusia untuk sebagian besar merupakan pancaran perilaku yang telah dipelajari sebelumnya. Oleh karena itu perilaku manusia tidak pernah beku, dapat selalu berubah, dan dapat berbeda-beda dari satu individu ke individu yang lain dan dari satu saat ke saat yang lain. Dalam proses pembentukan kepribadiannya ini faktor enkulturasi dan sosialisasi memegang peranan yang penting. Manusia sejak lahir harus mempelajari cara-cara bagaimana supaya dapat mengatasi persoalanyang dihadapinya.
Jika di bidang fisik-somatik yang diperlukan oleh manusia ialah jasmani yang sehat, di bidang mental emosional yang diperlukan ialah kepribadian psikologik yang sehat. Jika salah satu unsur yang penting di bidang fisik-somatik supaya jasmani berada dalam kondisi sehat adalah vitamin, protein, karbohidrat, dan lemak maka unsur yang penting di bidang mental-emosional supaya tercapai kondisi kepribadian-psikologi yang sehat adalah perasaan bahwa dirinya terjamin, bahwa dirinya aman.
Hal ini diperlukan supaya tercapai kondisi kepribadian yang harmonis, stabil, dan sabar. Rasa diri terjamin dan rasa diri amn ini dapat diciptakan dalam bentuk kasih sayang. Oleh karena itu dalam rangka pembentukan kepribadian psikologi yang harmonis, stabil, dan penuh kesabaran diperlukan dimilikinya pengalaman-pengalaman cinta dan kasih sayang dari orang-orang yang berhubungan dengannya.
Seorang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negatif. Sikap negatif misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, dan ingin bunuh diri. Kelanjutan sikap negatif ini dapat timbul sikap anti, misalnya tidak punya gairah hidup.
Sikap positif yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan hidup, bahwa hidup bukan rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dari penderitaan, dan penderitaan itu adalah hanya bagian dari kehidupan. Sikap positif biasanya kreatif, tidak mudah menyerah, bahkan mungkin timbul sikap keras atau sikap anti.
Apabila sikap negatif dan positif ini dikomunikasikan oleh para seniman kepada para pembaca, penonton, maka mereka akan memberikan penilainnya. Penilaian itu dapat berupa kemauan untuk mengdakan perubahan nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat dengan tujuan perbaikan keadaan. Keadaan yang tidak sesuai ditinggalkan dan diganti dengan keadaan yang lebih sesuai.


Sumber: https://www.gurupendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

sejarah singkat renaissance

sejarah singkat renaissance

Latar Belakang Renaisans

Zaman pertengahan merupakan zaman kegelapan dimana pengaruh keagaaman sangat terasa. Gereja mengatur selurus aspek kehidupan masyarakat dari kreativitas sampai pemerintahan. Raja sendiri seolah tidak memiliki kekuasaan, karena gerejalah yang sebenarnya mengatur pemerintahan, ini dikarenakan semua kepentingan haruslah demi kepentingan gereja, jika tidak gereja akan memberikan hukuman yang kejam. Pemikiran manusia pada zaman ini mendapat doktrinasi dari gereja sehingga segala tujuan selalu dikaitkan dengan tujuan akhir yakni takdir manusia telah ditentukan oleh Tuhan.
Renaisans muncul dari timbulnya kota-kota dagang yang makmur akibat perdagangan. Mereka membebaskan diri menjadi masyarakat yang bebas, termasuk melepaskan diri dari ikatan agama sehingga fokus dalam hal kemajuan. Dukungan dari keluarga saudagar kaya memberikan semangat Renaisans sehingga menyebar ke seluruh Italia dan Eropa.
Zaman Renaisans terjadi pada abad ke-14 M sampai abad ke-17 M, dimulai dari Italia kemudian menyebar ke seluruh Eropa di akhir abad pertengahan. Renaisans merupakan kelahiran kembali dari budaya Yunani dan Romawi kuno, masyarakat Italia percaya bahwa zaman Renaisans merupakan kembalinya sumber pengetahuan dan standar dari keindahan maupun tata krama yang telah dibentuk oleh masyarakat Yunani dan Romawi Kuno.[1]
Sedangkan istilah Renaisans pertama kali disebut oleh Vasari, kemudian Michelet. Pada 1860 M Jacob Burckhardt kembali memperkenalkan istilah tersebut dalam karyanya: Die cultuur der Renaissance in Italien. Sejak tahun 1860 M itulah istilah Renaisans populer digunakan.
Pusat dan awal dari Renaisans Eropa terletak di Florence, Italia pada abad 14 M. Ini dikarenakan faktor kekhasan sosial dan kemasyarakatan Florence pada struktur politik, perlindungan keluarga bangsawan, serta keluarga Medici yang memberikan perlindungan kepada segolongan sarjana Yunani yang akhirnya mengabdikan diri ke keluarga tersebut.[2] Florence juga merupakan kota yang strategis dan pusat industri wol terbaik di Italia, sehingga Florencia menjadi pusat perdagangan dan kota pertemuan dagang yang kaya raya.
Dengan jatuhnya Konstatinopel di tahun 1453 M menghasilkan gelombang imigran yang membawa naskah dari Yunani Kuno, yang kemudian menjadikan fokus baru untuk mempelajari karya-karya Yunani, filsafat, serta matematika. Selain itu, selama abad ke 14 M, masyarakat Italia umumnya menghabiskan sebagain besar uangnya untuk mendukung seni. Sehingga banyak yang mengatakan bahwa Renaisans menjadi tempat mencari karya seni yang akan membantu talenta-talenta seni mengubah sejarah Barat dari zaman pertengahan ke zaman baru.[3]
Wabah hitam juga menjadi latar belakang secara tidak langsung terjadinya Renaisans. Wabah hitam yang terjadi pada tahun 1348 M menhancurkan hampir separuh populasi Italia, dan megakibatkan resesi ekonomi. Mereka yang akhirnya selamat dari wabah ini menjadi lebih kaya dari sebelumnya, serta bertindak sebagai pendorong untuk menjalani kehidupan yang mewah.[4] Masyarakat meningkatkan mobilitas sosial mereka, terutama di Florence, dimana rakyat ingin merekam status sosial dan politik masing-masing. Seni rumah, harta benda, dan pakaian adalah cara memeragakan status dan menyumbang kembali kebangkitan budaya.

Recent Posts

corak agama apakah yang dianut kerajaan kalingga

corak agama apakah yang dianut kerajaan kalingga

 

Adapun keadaan kerajaan di keling dalam jaman itu yang dikabarkan oleh orang Tiong Hoa ialah bahwa kota dikelilingi dengan pagar kayu ; rajanya beristana dirumah yang bertingkat, yang ditutup dengan atap;tempat duduk sang raja adalah Peterana gading. Orang-orangnya sudah pandai tulis-menulis dan mengenal ilmu perbintangan yang sangat tampak bagi orang tiong hoa adalah orang kaling (jawa) makan tidak makan dengan sendok atau cukit melainkan jarinya saja. Minuman kerasnya yang dibuat adalah air yang disadap dari tandan bunga kelapa (Toak). Dikatakan pula, bahwa tahun 640 atau 648 Masehi kerajaan jawa mengirimkan utusan ke negeri tiong hoa begitu pula dalam tahun 666. sesudah utusan jawa ke negeri tiongkok yang kedua kalinya itu dikatakan bahwa tanah jawa diperintah oleh raja perempuan yakni dalam tahun 674-675 Masehi. Adapun raja perempuan itu Si-Mo, dan memegang pemerintahan negerinya dengan keras.

D. Keadaan Ekonomi dan Agama

1. Matapencaharian
Kerajaan Ho-ling mempunyai hasil bumiberupa kulit penyu, emas dan perak, cula badak dan gading. Ada sebuah gua yang selalu mengeluarkan air garam yang disebut sebagai bledug. Penduduk menghasilkan garam dengan memanfaatkan sumber air garam yang disebut sebagai bledug tersebut.
2. Keagamaan
Salah satu sumber yang berbicara tentang keagamaan Kerajaan Ho-ling adalah sumber Cina yang berasal dari catatan perjalanan I-tsing, seorang pendeta agama Budha dari Cina dan kronik Dinasti Sung. Dikatakan bahwa pada 664-667 M, pendeta Budha Cina bernama Hwu-ning dengan pembantunya Yun-ki datang ke Ho-ling.
Di sana kedua pendeta tersebut bersama-sama dengan Joh-na po-t’o-lo menerjemahkan Kitab Budha bagian Nirwana. Terjemahan inilah yang dibawa pulang ke Cina. Menurut I-tsing, Kitab suci Budha yang diterjemahkan tersebut sangat berbeda dengan kitab Suci Budha Mahayana. Menurut catatan Dinasti Sung yang memerintah setelah Dinasti T’ang, terbukti bahwa terjemahan yang diterjemahkan Hwu-Ning dengan Yun-ki bersama dengan Njnanabhdra itu adalah kitab Nirwana bagian akhir yang menceritakan tentang pembakaran jenazah sang Budha, dengan sisa tulang yang tidak habis terbakar dikumpulkan untuk dijadikan relik suci.
Dengan demikian jelas bahwa Ho-ling tidak menganut agama Budha aliran Mahayana, tetapi menganut agama Budha Hinayana aliran Mulasarastiwada. Kronik Dinasti Sung juga menyebutkan bahwa yang memimpin dan mentahbiskan Yun-ki menjadi pendeta Budha adalah Njnanabhadra.
3. Hubungan Dengan Negeri Luar
Pada masa Chen-kuang (627-649 M) raja Ho-ling bersama dengan raja To-ho-lo To-p’o-teng, menyerahkan upeti ke Cina. Kaisar Cina mengirimkan balasan yang dengan dibubuhi cap kerajaan dan raja To-ho-lo meminta kuda-kuda yang terbaik dan dikabulkan oleh kaisar Cina. Kemudian Kerajaan Ho-ling mengirimkan utusan (upeti lagi) pada 666 M, 767 M dan 768 M. Utusan yang datang pada 813 M (atau 815 M) datang dengan mempersembahkan empat budak sheng-chih (jenggi), burung kakatua, dan burung p’in-chiat (?) dan benda-benda lainnya. Kaisar amat berkenan hatinya sehingga memberikan gelar kehormatan kepada utusan tersebut. Utusan itu mohon supaya gelar tersebut diberikan saja kepada adiknya. Kaisar amat terkesan dengan sikap itu dan memberikan gelar kehormatan kepada keduanya. Sampai dengan tahun 813 M, Ho-ling masih mengirim utusan ke negeri Cina dengan membawa “hadiah” berupa empat orang budak Sen-ki, burung kakatua, dan sejumlah jenis burung lainnya.


Sumber: https://belantaraindonesia.org/

pendiri kerajaan kalingga

pendiri kerajaan kalingga

 

A. Latar Belakang Berdirinya

Kalingga atau Ho-ling (sebutan dari sumber Tiongkok) adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang muncul di Jawa Tengah sekitar abad ke-6 masehi. Letak pusat kerajaan ini belumlah jelas, kemungkinan berada di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara sekarang. Sumber sejarah kerajaan ini masih belum jelas dan kabur, kebanyakan diperoleh dari sumber catatan China, tradisi kisah setempat, dan naskah Carita Parahyangan yang disusun berabad-abad kemudian pada abad ke-16 menyinggung secara singkat mengenai Ratu Shima dan kaitannya dengan Kerajaan Galuh. Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok.

B. Letak Kerajaan Kalingga
Keterangan geografi tentang letak ho-ling ditunjukkan dengan beberapa keterangan :
1. Sejarah lama Dinasti Tang
2. Sejarah baru Dinasti Tang
3. Karya I-tsing a Record and Memoire
1) Yun-Ki
Yun-Ki, pendeta kelahiran chiao-chih (TongKin) tinggal 10 tahun di ho-ling, dilaut selatan. Ia menjadi murid jnanabhadra, belajar K’un-lun dan bahasa Sansekerta. Ketika I-tsing menulis bukunya memoire, Yun-k’i tinggal di shih-li-fo-shih.
2) Ch’ang-Min
Ch’ang-Min, menumpang perahu yang panjangnya 200 kaki dan dapat mengangkut penumpang sebanyak 600 sampai 700 orang, menuju Ho-ling. Dari sana dia berlayar ke Melayu dalam perjalanan ke India. Tetapi perahunya karam tidak jauh dari tempat pangkalnya bertolak, karena terlalu berat muatannya. Ch’ang-Min meninggal.
3) Ming-Yuen
Ming-yuen, berangkat dari chiao-chih (Tongkin); perahunya dihantam ombak sampai di Ho-ling.
4) Tan-Yuen
Tan-yuen, berangkat ke chiao-chih melalui daratan. Ketika musim angin baik tiba, ia menumpang perahu ke arah selatan dengan harapan akan sampai di India. Dia meninggal sesampainya di P’u-pen di sebelah utara Ho-ling.
5) Fa-Lang
Fa-lang, berlayar dari pan-jong;pada akhir bulan dia sampai di fo-shih (Sriwijaya);sesudah beberapa lama tinggal disana, dia berangkat ke Ho-ling. Disana dia meninggal.
6) Tao-Lin
Tao-lin, melakukan perjalanan jauh berlayar menuju laut selatan. Dia sampai di lhan-chia, Ho-ling dan Lo-jeng-kuo. Di tiap negeri yang disinggahi, dia diterima oleh raja dan diperlakukan dengan baik. Sesudah beberapa tahun ia sampai di tan-mo-lo-ti (Tamralipti). Disana dia tinggal 3 tahun untuk belajar bahasa sansekerta.
7) Pendeta Hui-Ning
Pendeta Hui-Ning, berangkat ke Ho-ling pada tahun 665. di sana dia bekerja sama dengan pendeta setempat joh-na-po-to-lo (Jnanabhadra) untuk menterjemahkan bagian terakhir nirwana sutra tentang pembakaran jenazah budha dan pengumpulan peninggalan-penginggalannya. Setelah selesai, Hui-ning mengutus Yun-k’i membawa pulang ke negeri Cina hasil kerjanya. Sekembalinya Yun-k’i ke Ho-ling lagi, Hui-ning sudah tidak ada lagi disitu. Yun-k’i lalu berlayar ke Sriwijaya.


Sumber: https://robinschone.com/

Mengajarkan Ketauhidan. Rasulullah Saw

Misi, Tujuan dan Tugas Kerasulan Nabi

1. Mengajarkan Ketauhidan.

Rasulullah Saw mengajarkan untuk mengesakan Allah Swt dan memberantas kemusyrikan yang dilakukan oleh masyarakat Mekkah pada saat itu. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum engkau (Muhammad) melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya : 25)

2. Menyempurnakan Akhlak.
Akhlak Nabi Muhammad Saw. merupakan acuan yang tidak ada bandingannya. Bukan hanya dipuji oleh manusia, tetapi juga oleh Allah Swt. Hal ini dapat dilihat dalam firman-Nya: وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيم
Artinya: “Dan sesunguhnya kamu ( Muhammad ) benar-benar berbudi pekerti yang agung.“ (QS. Al-Qalam: 4 )
Ketika Aisyah binti Abu Bakar (istri Nabi Muhammad) ditanya tentang akhlak Nabi Muhammad saw., ia menjawab : “Akhlaknya adalah Al-Qur’an “. (HR. Ahmad dan Muslim)

Nabi Muhammad Saw. bersabda: Artinya: Diriwayatkan dari Abi Hurairah, Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad)
Hadits di atas mengisyaratkan bahwa akhlak merupakan ajaran yang diterima Rasulullah Saw dengan tujuan untuk memperbaiki kondisi umat yang pada saat itu dalam kejahiliyahan. Pada saat itu, manusia mengagungkan hawa nafsu dan sekaligus menjadi hamba hawa nafsu. Ajaran akhlak yang dibawa Nabi Muhammad Saw tersebut terangkum dalam sebuah hadits yang artinya:
“Hai Muhammad, beritahu padaku tentang iman, iman yaitu engkau percaya kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, dan hari kebangkitan. Kemudian, Jibril bertanya lagi, hai Muhammad apa yang dimaksud dengan Islam? Islam, yaitu engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selainAllah dan Muhammad adalah utusan-Nya,mendirikan salat,menunaikan zakat, puasa di bulan Ramadan, dan menunaikan haji ke Baitullah bila mampu. Kemudian, Jibril bertanya lagi, “Hai Rasulullah apa yang dimaksud dengan ihsan? Ihsan, yaitu engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatnya. Apabila engkau tidak melihatnya, maka Dia pasti melihatmu.” (HR. Muslim)
Hadits di atas menjelaskan bahwa ajaran akhlak yang dibawa Nabi Muhammad berupa tiga hal, yaitu: iman, Islam, dan ihsan. Ketiganya merupakan proses yang kontinu yang hendaknya dilakukan seorang Muslim. Ini semua tidak hanya merupakan kewajiban bagi seorang Muslim, tetapi juga merupakan pendidikan yang dilakukan seumur hidup guna membentuk akhlak yang baik terhadap Allah swt. dan sesama makhluk. Berdasarkan hadits tersebut, kita dapat mengetahui bahwa tujuan berakhlak itu supaya hubungan kita dengan Allah dan makhluk selalu terpelihara dengan baik dan harmonis.

Recent Posts

Di usia 14 pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Siti Khatijah

Kerasulan Nabi Muhammad SAW

Di usia 14 pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Siti Khatijah, Nabi Muhammad SAW sering menyendiri dan berkhalwat di goa Hira, yaitu goa yang berada di bukit Nur (jabal Nur) yang terletak di dekat Makkah. Berkhalwat ini dilakukan Nabi Muhammad SAW dengan khusuk, kadang sampai beberapa hari baru pulang jika bekal sudah habis. Di sanalah, beliau menghabiskan waktu selama berhari-hari dan bermalam-malam. Pada malam bertepatan dengan malam Jum’at tanggal 17 Ramadhan, yaitu ketika beliau sedang bertafakur di dalam goa Hira dan telah berusia empat puluh tahun, beliau didatangi malaikat Jibril yang seraya berkata kepadanya: “Bacalah!”, beliau menjawab: “Saya tidak bisa membaca”. Jibril mengulangi perintah ini untuk kedua kalinya dan ketiga kalinya. Dan pada yang ketiga kalinya, Jibril berkata kepadanya Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan; Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah; Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah;Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam; Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Al ‘Alaq : 1 – 5)

Setelah itu, Jibrilpun meninggalkannya, dan Rasulullah sudah tidak kuat lagi berada di goa Hira’.

Akhirnya beliau pulang ke rumahnya dan menghampiri Khadijah dengan gemetar sambil berkata: “Selimuti saya!, selimuti saya!”, maka Khadijah pun menyelimutinya, sehingga rasa takutnya sirna. Lalu memberitahu Khadijah tentang apa yang telah diperolehnya dan berkata: “Sungguh saya khawatir terhadap diriku”. Khadijah menanggapinya dan menenangkan serta meyakinkan Nabi Muhammad SAW: “Sekali-kali tidak, demi Allah, Dia tidak akan merendahkan dirimu untuk selamanya, karena sesungguhnya engkau adalah orang yang menyambungkan tali persaudaraan, menanggung beban kesusahan orang lain, memberi orang yang tak punya, menjamu tamu, dan menolong orang yang menegakkan kebenaran”. Setelah tenang Siti Khatijah mengajak Nabi Muhammad SAW untuk menemui saudaranya Waraqah bin Naufal. Di depan Waraqah Nabi Muhammad SAW menceriterakan semua yang terjadi, kemudian Waraqah membuka kitab Taurat dan Injil serta berkata “demi Tuhan, yang datang itu adalah Malaikat Jibril yang pernah datang pada Nabi Musa, baik-baiklah menjaga diri, tabahkan hatimu wahai Muhammad, kelak engkau akan diangkat menjadi Rasul, jangan takut, tapi gembiralah menerima wahyu itu”.
Nabi Muhammad SAW telah mendapat wahyu yang pertama dari Allah SWT dan telah mendapat nasehat dari Waraqah bin Naufal. Beberapa malam Nabi Muhammad SAW telah siap menerima wahyu kembali, tetapi wahyu tersebut tidak kunjung datang. Pada malam ke-40 barulah wahyu kedua turun, waktu itu Nabi sedang berjalan-jalan ke suatu tempat. Tiba-tiba mendengar suara : “ya Muhammad, engkau benar utusan Allah”. Nabi merasa takut mendengar suara itu, beliau segera kembali ke rumah menyuruh Siti Khatijah menyelimutinya, suara tadi terdengar lagi dengan jelas dan semakin dekat Jibril mendatanginya sambil duduk di atas kursi antara bumi dan langit, lalu turunlah ayat Artinya : “ Hai orang yang berkemul (berselimut); Bangunlah, lalu berilah peringatan!; Dan Tuhanmu agungkanlah!; Dan pakaianmu bersihkanlah; Dan perbuatan dosa tinggalkanlah.” (QS. Al Mudatsir : 1 – 5).
Mulai saat inilah Muhammad telah diangkat oleh Allah SWT menjadi Rasul. Tugas baru telah datang, yaitu menyebarkan agama Islam kepada seluruh umat manusia, setelah itu wahyu pun turun terus-menerus dan berkelanjutan.Nabi memulai dakwahnya, Khadijah masuk Islam dan bersaksi atas keesaan Allah dan kenabian suaminya yang mulia. Sehingga, ia adalah orang yang pertama kali masuk Islam. Kemudian, sebagai balas budi pada pamannya, Abu Thalib yang mengasuh dan menjaganya sejak kepergian ibunda dan kakeknya, Rasulullah memilih Ali dari sekian banyak putranya itu, untuk dididik di sisinya dan ditanggung nafkahnya. Dalam kondisi seperti ini, hati Alipun terbuka dan akhirnya masuk Islam. Setelah itu, barulah Zaid bin Haritsah, seorang budak yang telah dimerdekakan oleh Khadijah menyusul masuk Islam. Rasulullah juga bercerita kepada teman akrabnya, Abu Bakar, maka iapun beriman dan membenarkannya, tanpa ada keraguan kemudian Abu Bakar mengajak teman seperdagangannya mereka menyambut dengan baik, di antar mereka yang kemudian masuk Islam adalah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwan, Sa’ad bin Abi Waqas, Thalhah bin Ubaidillah dan Abdurrahman bin Auf.


Sumber: https://scorpionchildofficial.com/

Setelah kembali kepada ibunya, Muhammad diasuh dengan kasih sayang

Masa Kanak-Kanak Nabi Muhammad

Setelah kembali kepada ibunya, Muhammad diasuh dengan kasih sayang. Muhammad tumbuh menjadi anak yang terpuji. Perilakunya berbeda dengan anak-anak lain seusianya. Selain ibunya, kakeknya pun sangat sayang kepada Muhammad, sebagai pengganti anaknya, Abdullah. Suatu hari, Muhammad yang berusia 6 tahun di ajak oleh ibunya untuk berziarah ke makam ayahnya. Selain itu, ibunya pun hendak mengenalkan Muhammad kepada saudara-saudaranya. Perjalanan mereka ditemani oleh Ummu Aiman. Ummu Aiman adalah seorang budak perempuan. Saat perjalanan pulang, Aminah mengalami sakit keras. Karena sakitnya itu, Aminah akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Aminah wafat dan kembali kepada Allah. Muhammad saat itu sangat sedih dan tak kuasa menahan air matanya. Belumlah lama Muhammad merasakan kasih sayang Ibunya, kini Ibunya telah berpulang ke Rahmatullah. Sekarang, Muhammad menjadi yatim piatu. Ummu Aiman yang pada saat itu menemani Muhammad memeluk Muhammad dan menangis.

Sesampainya di Mekah, Muhammad kemudian diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib.

Kakeknya sangat menyayangi Muhammad. Kakeknya meratapi nasib Muhammad yang masih kecil sudah mengalami kepedihan yang begitu berat. Abdul Muthalib sangat mengistimewakan Muhammad. Muhammad diasuh dengan kasih sayang yang sangat besar. Namun, Muhammad tidak dapat merasakan kasih sayang kakeknya tersebut dalam waktu yang lama. Kakeknya akhirnya meninggal dunia ketika Muhammad berusia delapan tahun. Kepedihan dan kesedihan pun dirasakan kembali oleh Muhammad kecil. Sepeninggalan kakeknya, Muhammad kemudian diasuh oleh pamannya yang bernama Abu Thalib. Abu Thalib sangat mencintai Muhammad seperti anaknya yang lain, bahkan lebih. Begitu pula Fatimah, istri Abu Thalib, beliau pun sangat mencintai Muhammad.
Ketika usianya yang masih muda belia, semangat kerja keras dan keuletannya sudah muncul. Di saat anak-anak seusianya bermain dengan penuh suka cita, Muhammad dapat bekerja dan dapat membanggakan pamannya dan orang-orang di sekitarnya. Muhammad pun menjadi anak yang disayangi semua orang yang ada di sekitarnya. Suatu saat diceritakan ketika sedang menggembala kambing, Muhammad mendengar suara hiburan. Beliaupun meminta teman sesama penggembala untuk menjaga ternaknya, sedangkan beliau hendak melihat tempat suara itu. Ternyata, suara hiburan itu berasal dari pesta pernikahan. Saat beliau hendak memasuki tempat itu, rasa kantuk yang amat sangat menghinggapinya sehingga beliau tertidur. Allah telah menjaga Muhammad untuk tidak menyaksikan hiburan. Saat terbangun, hiburan itu telah berakhir dan beliau pun kembali ke ternaknya.
Selain membantu Abu Thalib, Muhammad pun sering membantu yang lainnya. Muhammad suatu hari pernah membantu pamannya Abbas untuk memindahkan batu-batu kecil di sekitar Ka’bah. Pamannya waktu itu meminta Muhammad untuk meletakkan sarungnya di pundak agar tidak menghalangi langkah bekerjanya. Namun, Muhammad tidak melakukannya. Dengan demikian, tidak ada seorangpun yang dapat melihat auratnya. Suatu saat Abu Thalib hendak berdagang ke negeri Syam beserta rombongan yang lainnya. Abu Thalib tak kuasa meninggalkan Muhammad. Kemudian, Muhammad pun diajaknya membantu berdagang ke negeri Syam. Selama di perjalanan, keajaiban pun selalu mengikuti para rombongan dagang. Awan selalu menaungi Muhammad ke mana pun Muhammad berjalan. Dengan demikian, Muhammad tidak merasakan panasnya matahari.
Peristiwa tersebut disaksikan oleh seorang pendeta Nasrani yang bernama Bahira. Bahira merupakan pendeta yang sangat memahami injil dan taurat. Bahira pun sangat paham akan tanda-tanda kehadiran rasul akhir zaman. Bahira kemudian mengundang para rombongan dagang tersebut untuk makan bersamanya. Setelah melihat Muhammad, Bahira mengetahui bahwa ada tanda-tanda kenabian di dalam diri Muhammad. Kemudian, BahiramenanyakanperihalMuhammadkepadaAbuThalib.
BahirakemudianbertanyakepadaAbuThalib.”Siapakahdia?”
Abu Thalib menjawab, “Dia anakku”.
“Bukan, dia bukan anakmu, orang tuanya pastilah telah meninggal”, kata Bahira.
“Memang benar, ayahnya telah meninggal ketika dia dalam kandungan. Selanjutnya, ibunya juga meninggaldunia,”jelasAbuThalib.
Bahira kembali berkata “Sebaiknya kamu bawa kembali anak ini ke negerimu. Jagalah baik-baik dan waspadalah terhadap orang Yahudi. Sebab, jika orang Yahudi tahu, mereka akan membunuhnya”. Abu Thalib pun membawa Muhammad pulang kembali ke Mekah dan menjaganya lebih hati-hati lagi. Abu Thalib yakin bahwa Muhammad mempunyai kelebihan daripada manusia yang lainnya.


Sumber: https://swatproject.org/

Biografi singkat tentang Putri Lopian Sisingamangaraja XII

PERAN WANITA PEJUANG DI SUMATERA UTARA

Biografi singkat tentang Putri Lopian Sisingamangaraja XII
Putri Lopian Sinambela adalah anak ke-3 dari tiga bersaudara dari Raja Sisingamangaraja XII. Ibunya adalah Boru Sagala Kakak tertuanya bernama Patuan Nagari dan Patuan Anggi adalah kakak keduanya. Ia lahir di Pearaja Dairi desa Sionomhudon. Kota ini adalah pusat perjuangan Sisingamangaraja XII. Lopian sedari kecil sering bergaul dengan para pejuang termasuk para panglima dari Aceh yaitu teuku Nyak Bantal dan Teuku Muhammad Ben.
Lopian tumbuh di pekarangan kerajaan yang membuatnya terdidik secara fikiran dan fisik. Ia belajar ilmu bela diri di Istana dan sering ikut andil dalam kemiliteran. Saat usianya 17 tahun, ia terjun langsung bergerilya melawan pasukan Belanda bersama sang ayah (SSM XII) dan akhirnya tewas tertembak dan bersimbah darah di pangkuan sang ayah.

2. Peran Putri Lopian pada perang melawan Belanda

Satu abad lebih telah silam.Tanggal 17 Juni 1907 adalah hari bersejarah bagi orang Batak, dikaitkan dengan sejarah perjuangan ”Patuan Bosar Ompu Pulo Batu (Raja Sisingamangaraja XII)”. Pada hari itu, di suatu tempat sepi di sekitar Pearaja, Sionom Hudon, Dairi, sejarah mencatat tragedi kematian Sisingamangaraja XII (SSM XII). Dua orang putranya yakni Patuan Nagari dan Patuan Anggi, serta empat orang panglimanya yang setia, ikut tewas pada waktu yang hampir bersamaan.
Dalam bingkai kisah tragis itu, anak perempuan SSM XII bernama Lopian (lazim disebut Putri Lopian) mengalami luka cukup parah terkena peluru senapan serdadu Belanda yang dipimpin kapten Christoffel. Saat itu Lopian masih berusia 17 tahun. Dia setia hingga akhir mengikuti ayahandanya ketika SSM XII diburu Belanda keluar masuk hutan belantara.
Meski dalam beberapa hal, kisah kematian SSM XII kadang ada selisih versi, namun secara umum merupakan gambaran historis tentang adegan klimaks yang amat dramatis dari seluruh mata rantai perjuangan SSM XII selama lebih kurang 30 tahun menentang Belanda. Momentum pertempuran sengit di sekitar Pearaja, Dairi, adalah fakta sejarah dimana hampir seluruh sanak keluarga SSM XII turut terlibat secara frontal menghadapi kepungan tentara Belanda yang penuh nafsu membunuh. Berdasarkan sejumlah referensi seputar tragedi kematian SSM XII, detik-detik terakhir pada media Juni 1907 itu, merupakan momentum sangat genting penuh ketegangan. Pada saat itu, SSM XII bersama isteri, anak-anak, para panglima dan sisa pasukannya, terlunta-lunta naik turun jurang, keluar masuk hutan, dalam kejaran tentara Belanda yang jumlahnya besar dengan kelengkapan senjata lebih modern.
Sore yang kelabu tanggal 17 Juni itu, agaknya sudah ditakdirkan sebagai akhir perlawanan SSM XII. Dalam posisi terjepit oleh pasukan Christoffel, pasukan SSM XII dengan persenjataan kelewang, tombak, dan bambu runcing, benar-benar tak berdaya menghadapi hujan peluru yang dimuntahkan serdadu- serdadu Belanda. Patuan Nagari tewas tertembak di antara desing peluru yang tiada hentinya. Sejumlah sisa pasukan SSM XII juga jatuh terkapar saat mencoba melakukan perlawanan. Sementara itu Kapten Christoffel berseru, agar SSM XII menyerah dan supaya piso gajah dompak yang terkenal keramat itu diberikan. Tetapi SSM XII dari tempatnya berlindung menyahut tegas: “Lebih baik mati dari pada menyerah kepada penjajah”.
Pada saat bersamaan, terdengar jeritan Lopian putri sang raja, yang rupanya terkena tembakan. Seketika SSM XII terkejut melihat putrinya tercinta rubuh bersimbah darah di atas rerumputan. Dengan piso gajah dompakterhunus di tangan, SSM XII mendekati Lopian dengan langkah gontai, dan langsung memangkunya. Amarahnya meluap. Hatinya luluh melihat putrinya sekarat diterjang peluru penjajah. Namun saat itulah SSM XII tersentak, sadar, bahwa ia berpantang kena darah. Tubuhnya digambarkan lesu, dan kesaktiannya yang legendaries itu seakan pudar. Lalu SSM XII berbisik:” Saatnya sudah tiba…” Tak berapa lama kemudian, beliau juga rubuh oleh tembakan yang dilepas Christoffel dalam jarak tak terlalu jauh. Melihat hal itu, para panglima dan pengikut SSM XII bagai terpana. Sulit mempercayai baginda bisa dilukai peluru.

Recent Posts

Estafet karir Siti Sukaptinah sebenarnya termasuk dalam perjuangan eksistensi perempuan di masyarakat

Perjuangan Siti Sukaptinah

Estafet karir Siti Sukaptinah sebenarnya termasuk dalam perjuangan eksistensi perempuan di masyarakat. Karena pada masanya perempuan dianggap tidak mampu bersaing dengan laki-laki. Namun pada masa itu Siti Sukaptinah mampu, tidak hanya memasuki organisasi perempuan namun juga menduduki posisi penting dari organisasi yang biasa diduduki oleh laki-laki seperti masuknya dia ke BPUPKI hingga DPR. Hal ini sebenarnya dapat merubah mindset bagi masyarakat Indonesia tentang persepsi kapasitas perempuan di segala urusan yang pada masa itu biasa ditangani oleh laki-laki, perempuan menjadi lebih yakin dan mantap untuk tidak ragu-ragu lagi bersuara dengan adanya pembuktian Siti Sukaptinah.
Selain itu secara tidak langsung estafet karir Siti Sukaptinah juga untuk mengedukasi perempuan, mengakomodir suara perempuan, dan memperjuangkan hak yang harusnya dimiliki perempuan. hal ini dapat dilihat ketika Sukaptinah menjadi seorang guru, kemudian menerbitkan majalah mingguan bernama Istri Indonesia, dan masuk dalam organisasi-organisasi keperempuanan guna membina perempuan dalam berjuang di ranah publik.
Pada hal lain bentuk dhohir dari perjuangan Siti Sukaptinah masa kolonial dapat di lihat secara teknis pada saat ia duduk di Istri Indonesia. Pada saat itu Dewan Rakyat yang bahkan di bentuk oleh Belanda sama tidak memberi kursi pada perempuan Indonesia. Pada saat itulah Siti Sukaptinah yang duduk sebagai anggota Dewan Rakyat Kota Semarang memprotes lewat pidatonya yang di muat di Istri Indonesia, cuplikannya sebagai berikut.
“Kita sudah hidup di masyarakat yang tidak membedakan satu bangsa dan bangsa lain, juga tidak membedakan laki-laki dan perempuan… bangsa kita membutuhkan tenaga perempuan baik di dalam maupun di luar raad (Dewan Rakyat)”
Pada masa kemerdekaan yang disertai dengan agresi militer Belanda, India mengundang Sukaptinah pada sebuah acara All Indian Women’s Congress yang diselenggarakan di Madras, November 1947. Pada saat itu Sukaptinah tidak mempunyai modal, paspor dan sarana pendukung lainnya untuk ke India, namun karena tekadnya ingin menyuarakan kemerdekaan Indonesia ke segala penjuru negeri maka Sukaptinah memimpin delegasi menuju India. Disertai oleh Utami, Herawati Diah (wartawan Harian Merdeka) mereka semua menumpang Kalingga Airlines milik Bijayananda Patnaik. Bijayananda Patnaik sendiri merupakan seorang kepercayaan Jawaharlal Nehru yang biasa mengemban misi bolak-balik Yogyakarta untuk membawa obat-obatan dan bantuan lain sehubungan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pada masa Sukaptinah menduduki parlemen,

ia bergabung di barisan Masyumi yang mendukung poligami. Hal ini berbelok dari pemikiran ia yang sebelumnya pada masa kolonial menolak poligami. Bahkan ketika Komisi Nikah talak dan Rujuk tak kunjung menggolkan RUU Perkawinan yang adil, Nyonya Sumari yang menolak Poligami dari fraksi PNI ditentang oleh Sukaptinah. Perubahan Sukaptinah ini ditulis oleh Saskia Eleonora Wierienga dalam Penghancuran Gerakan perempuan di Indonesia menuturkan bahwa alasan sukaptinah mendukung poligami adalah karena ia bergabung di Masyumi yang cenderung berada di posisi pro poligami. Hal ini membuat sayap perempuan organisasi terpaksa harus mengekor mengikuti arahan kaum laki-laki.


Sumber: https://bengkelharga.com/

Siti Sukaptinah atau biasa dikenal sebagai Nyonya Sunario Mangunpuspito

SITI SUKAPTINAH

Riwayat Hidup Siti Sukaptinah

Siti Sukaptinah atau biasa dikenal sebagai Nyonya Sunario Mangunpuspito Lahir di Yogyakarta tahun 1907 orang tuanya R. Sastra Wecana berasal dari kalangan abdi dalem. Masa kecilnya ia bersekolah di HIS (Hollandssch Inlandsche School) bentukan dari Hamengku Bowo, selain bersekolah Sukaptinah juga aktif di Siswapraja Wanita Muhammadiyah yang nantinya akan menjadi cikal bakal Nasiyatul Aisiyah. Setelah tujuh tahun menempuh pendidikan di HIS Sukaptinah melanjutkan pendidikannya ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Ngupasan, Sembari Aktif sebagai anggota di Jong Java. Pada tahun 1924 Siti Sukaptinah pindah ke Taman Siswa dan Melanjutkan pendidikannya hingga tamat pada tahun 1926. Sukaptinah merasa beruntung karena bisa langsung belajar dari Nyi dan Ki Hadjar Dewantara, dari merekalah Sukaptinah belajar nembang hingga bisa menggubah lagu sendiri.
Setelah lulus sukaptinah mengabdikan dirinya menjadi guru di Taman Siswa. Disini juga dia mulai menganal tokoh-tokoh gerakan perempuan yang juga menjadi guru tempat ia mengajar seperti Sri Wulandari yang dikenal sebagai Nyonya Mangun Sarkoro dan Sunaryati yang dikenal sebagai Nyonya Sukemi. Selain mengajar Sukaptinah juga aktif di Jong Islaminten Bond (JIB) dan menjadi ketua JIB Daames Afdelling Cabang Jogja. Dari organisasi inilah Sukaptinah dapat menjadi pengurus KPI (Konferensi Perempuan Indonesia). Pada 1929 Sukaptinah menikah dengan Sunaryo Mangunpuspito, pria yang dikenalnya ketika sama-sama aktif di Jong Java. Sunaryo merupakan lelaki yang progresif sehingga pernikahannya tidak menghambat keaktifan Sukaptinah dalam gerakan.
Pada tahun 1933 Sukaptinah diangkat menjadi ketua organisasi Istri Indonesia yang merupakan fusi dari organisasi-organisasi perempuan di Indonesia. Anggotanya antara lain adalah Maria Ulfah, Siti Danilah, dan Lasmidjah Hardi. Organisasi ini mempunyai majalah mingguan bernama Istri Indonesia. Organisasi ini berfungsi menyebarkan isu-isu mengenai perempuan, selain itu organisasi ini menanggapi masalah perempuan di ranah publik, mengawal isu tersebut dan menyelesaikannya di pemerintahan belanda. Setelah Belanda menyerah dan Jepang mengagresi Indonesia kondisi semarang menjadi morat-marit. Sukaptinah yang hamil tua bersama keluarganya pindah ke Yogyakarta. Tak lama setelah Sukaptinah melahirkan ia dipanggil Soekarno untuk menjadi ketua Fujinkai di Jakarta, yang setelah masa kemerdekaan ia ubah menjadi Persatuan Wanita Indonesia (Perwani)
Ketika BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Republik Indonesia) didirikan, Sukaptinah menjadi salah satu dari dua orang wanita yang ada di badan tersebut. Sukaptinah masuk di Panitia Ketiga yang membahas pembelaan Tanah Air. Ketika Indonesia merdeka Sukaptinah menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sekaligus bergabung dengan Masyumi sekaligus menjadi anggota Pengurus Besar Muslimat Masyumipada 1946. Agresi Belanda membuat kondisi indonesia kembali di masa perjuangan, karena rumah Sunaryo aktif untuk pergerakan maka Sukaptinah dan Sunaryo ditangkap oleh Sekutu dan di penjara Wirogunan kemudian dipindahkan ke Ambarawa. Sukaptinah baru dibebaskan setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949 kemudian setelah itu Sukaptinah melanjutkan perjuangannya.
Sukaptinah kemudian melanjutkan perjuangannya melalui Masyumi, pada Pemilu 1955 Sukaptinah mencalonkan diri sebagai wakil perempuan dari Masyumi untuk anggota DPR. Alhasil ia terpilih sebagai satu-satunya perempuan yang duduk di DPR sekaligus menjadi anggota Dewan Konstituante. Keaktifannya dalam tiga kota tidak membuat dirinya surut berjuang, rumah tangga di Yogyakarta, kerja DPR di Jakarta, dan Dewan Konstituante di Bandung. Masa Demokrasi Terpimpi era Soekarno mengakhiri perjuangannya di tiga kota karena partai yang menaunginya, Masyumi dibubarkan dan otomatis Sukaptinah keluar dari DPR.
Setelah pengeluaran Sukaptinah yang berujung kepulangannya ke Yogyakarta, Sukaptinah tetap berjuang menegakkan hak perempuan antara lain mendirikan Wanita Islam pada 1962. Selain itu ia juga membidani terbentuknya Badan Musyawarah Wanita Islam Yogyakarta (BMWIY), semacam forum kerjasama antar organisasi perempuan Islam di Yogyakarta. Atas jasanya di bidang politik dan gerakan perempuan pemerintah menganugerahi Bintang Mahaputra paa 1993, dua tahun setelah Sukaptinah meninggal.


Sumber: https://ngegas.com/