karena ABRI dan mahasiswa ini adalah

Perjalanan konflik antara ABRI dengan mahasiswa

Perjalanan konflik antara ABRI dengan mahasiswa tersebut baiknya dapat diselesaikan secara damai untuk menghindari perpecahan dalam negara dan juga kerugian secara finansial, karena ABRI dan mahasiswa ini adalah aspek penting dalam sebuah demokrasi di Indonesia. Dan juga konflik ini ditakutkan nantinya akan meluas juga di daerah-daerah lain.

Menurut Menhankam/Pangab Jenderal Wiranto menawarkan dan bersedia melakukan dialog tersebut. Dialog antara Mahasiswa dengan ABRI yang akan berlangsung tanggal 4 April 1998. Tujuan utama dialog itu tentunya mencari jalan keluar untuk mengatasi kebangkrutan yang sedang melanda Indonesia.

Mencuatnya masalah dialog ini terjadi karena[5]:

1. Ada perjuangan yang terus-menerus dari kalangan mahasiswa, sarjana dan rakyat yang konsern dengan perlu adanya perubahan sosial, politik, hukum, ekonomi dan lain-lainnya yaitu dari sistem pemerintahan yang bersifat militeristis menjadi pemerintahan sivil yang demokratis.

2. Bahwa tatanan sosial politik yang bertumpu pada sistem militeris paternalisme, walaupun diselubungi dengan marka demokrasi Pancasila, ternyata menjadi dasar dan sumber kebobrokan sosial, politik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan lain aspek kehidupan dewasa ini, khususnya krisis moneter dan ekonomi yang berkepanjangan dengan dampak yang luas dan dalam sekali.

3. Dampak negatif tatanan militeristik/paternalis yang mengakibatkan adanya kolusi, korupsi, manipulasi nepotisme, represif, munafik, sudah sampai pada suatu titik kulminasi yang merintangi/menghambat masyarakat Indonesia memasuki kehidupan abad 21, abad demokrasi dan keterbukaan, abad globalisasi (mendunianya sistem kapitalis). Tanpa demokrasi dan keterbukaan maka rakyat Indonesia akan dibawak tetap menjadi budak penguasaan kapital global tanpa bisa mereaksi apapun kecuali sesuai dengan kepentingan penguasa yang militeristis dan paternalistik.

Untuk itu banyak juga dilakukan dialog antara ABRI dan mahasiswa. Memang tidak mudah untuk mendamaikan kedua belah pihak ini, karena keduanya mempunyai tujuan masing-masing. Mahasiswa menginginkan adanya reformasi politik dan ekonomi, sedangkan pihak aparat tidak menginginkan adanya letupan-letupan yang dapat mengganggu stabilisasi dan harmonisasi kehidupan masyarakat. Selain itu, dialog ini juga sangatlah sulit terjadi jika mahasiswa menuntut hanya akan melakukan dialog dengan Presiden bukan dengan ABRI yang tidak ada kaitannya. Selain itu, menurut mahasiswa dengan diadakannya dialog tersebut hanyalah sebbagai tipu muslihat untuk menghentikan gerak maju proses demokratisasi.

Tapi mengingat masih banyaknya bentrokan yang terjadi maka dialog antara kedua puhak ini masih sangatlah penting. Pihak ABRI menyikapi baik dengan rencana adanya dialog ini, mereka menginginkan cara penyampaian aspirasi secara proporsional dan konstitusional. Salah satu keuntungan jika dialog antara ABRI dan mahasiswa terjadi adalah dapat mencegah munculnya disintegrasi elite politik bangsa Indonesia. Dan juga dapat menimbulkan kesadaran instropektik dalam kedua belah pihak yang nantinya akan dapat ditru oleh semua lapisan masyarakat. Jadi kedua belah pihak harus menahan egonya masing-masing demi terciptanya masyarakat yang sejahtera.

SUmber: https://cipaganti.co.id/