Mazhab Utilitarianism

Mazhab Utilitarianism

Mazhab Utilitarianism
Mazhab Utilitarianism

Jeremy Bentham (1748-1832) dapat dianggap sebagai salah seorang tokoh yang terkemuka dari aliran ini. Bentham adalah seorang ahli filsafat hukum yang sangat menekankan pada apa yang harus dilakukan oleh suatu system hukum. Dalam teorinya tentang hukum, Bentham mempergunakan salah satu prinsip dari aliran utilitarianism yakni bahwa manusia bertindak untuk memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi penderitaan. Ukuran baik buruknya suatu perbuatan manusia tergantung pada apakah perbuatan tersebut dapat mendatangkan kebahagiaan atau tidak. Bentham banyak mengembangkan pikirannya untuk bidang pidana dan hukuman terhadap tindak pidana. Menurut dia, setiap kejahatan harus disertai dengan hukuman-hukuman yang sesuai dengan kejahatan tersebut, dan hendaknya penderitaan yang dijatuhkan tidak lebih daripada apa yang diperlukan untuk mencegah terjadinya kejahatan. Ajaran ini didasarkan pada “hedonistic utilitarianism”

Tokoh lain dari aliran ini adalah Rudolp von Ihering (1818-1892) yang ajarannya biasanya disebut sebagai social utilitarianism. Von Ihering menganggap bahwa hukum merupakan suatu alat bagi masyarakat untuk mencapai tujuannya. Dia menganggap hukum sebagai sarana untuk mengendalikan individu-individu, agar tujuannya sesuai  dengan tujuan masyarakat dimana mereka menjadi warganya. Bagi Ihering, hukum juga merupakan suatu alat yang dapat dipergunakan untuk melakukan perubahan-perubahan social. Ajaran-ajaran Ihering banyak mempengaruhi jalan pikiran para sarjana sosiologi hukum Amerika, antara lain Roscoe Pound.

  1. Mazhab Sociological Jurisprudence

Eugen Ehrlich (1826-1922) seorang ahli hukum Austria dianggap sebagai pelepor aliran ini. Ajarannya berpokok pada pembedaan antara hukum positif dengan hukum yang hidup (living law) atau dengan kata lain suatu pembedaan antara kaidah hukum dengan kaidah social lainya. Hukum positif hanya efektif apabila selaras dengan hukum yang hidup dalam masyarakat (culture patterns). Ajaran sociological jurisprudence berkembang dan menjadi popular di Amerika Serikat terutama atas jasa Roscoe Pound (1870-1964). Ia berpendapat bahwa hukum harus dilihat atau dipandang sebagai suatu lembaga kemasyarakatan yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan social, dan adalah tugas dari ilmu hukum untuk memperkembangkan suatu kerangka dengan mana kebutuhan-kebutuhan social dapat terpenuhi secara maksimal. Pound menganjurkan untuk mempelajari hukum sebagai suatu proses (law in action) yang dibedakannya dengan hukum yang tertulis (law in the books). Pembedaan ini dapat diterapkan pada seluruh bidang hukum, baik hukum substantive maupun hukum ajektif. Ajarannya tersebut menonjolkan masalah apakah hukum yang ditetapkas sesuai dengan pola-pola perikelakuan. Ajarannya tersebut dapat diperluas lagi sehingga juga mencakup masalah-masalah keputusan-keputusan pengadilan serta pelaksanaannya, dan juga antara isi suatu peraturan dengan efek-efeknya yang nyata.’

Sumber :

https://callcenters.id/