Percepat pemulihan pascabencana, Menkominfo keluarkan Kepmen

Percepat pemulihan pascabencana, Menkominfo keluarkan Kepmen

Percepat pemulihan pascabencana, Menkominfo keluarkan Kepmen

Menteri Komunikasi dan Informatika mengeluarkan Surat Keputusan Menteri No.773

Tahun 2018 tentang percepatan pemulihan infrastruktur dan layanan sektor komunikasi dan informatika pascabencana gempa bumi dan tsunami di wilayah Sulawesi Tengah dan wilayah sekitar yang terdampak.

Dalam kebijakan tersebut Kominfo memberi kemudahan pemberian izin frekuensi radio sementara. Sehingga jika ada perusahaan memberikan radio, masyarakat bisa memanfaatkan sebagai sarana komunikasi.

“Tidak perlu ke KPID, ke KPI,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara di kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Jumat.

Kominfo juga memperbolehkan penyelenggara jaringan untuk membuka akses jelajah (roaming) nasional sementara di wilayah yang mengalami gangguan layanan akibat bencana gempa bumi dan tsunami.

Kebijakan ini berlaku paling lama satu tahun, dan dapat dilakuakan berdasarkan

kesepakatan yang dituangkan dalam perjanjian kerjasama tertulis antar penyelenggara jaringan bergerak seluler.

“Pelanggan operator A tidak dapat sinyal dari operator A, tapi operator B ada, bisa menggunakan sinyal operator B. Disilakan operator memanfaatkan, kami tidak memaksa, tapi kami memperbolehkan,” ujar Rudiantara.

Selain itu, Kominfo juga mengeluarkan kebijakan sim card ready to use.

Penyelenggara jasa telekomunikasi memberikan kemudahan kepada pengguna untuk melakukan aktivasi kartu prabayar di wilayah Sulawesi Tengah dan wilayah sekitar terdampak bencana bumi dan tsunami.

“Bukan berarti tidak registrasi, tetap tresgitrasi, hanya yang registrasi tanggung jawabnya adalah operator,” ujar Rudiantara.

 

sumber :

http://dewi_marisa12u.staff.ipb.ac.id/2020/05/18/seva-mobil-bekas/

Apple tegaskan tak temukan tanda-tanda serangan peretasan

Apple tegaskan tak temukan tanda-tanda serangan peretasan

Apple tegaskan tak temukan tanda-tanda serangan peretasan

Bagian keamanan Apple mengatakan kepada Kongres AS, Minggu (7/10), bahwa mereka tidak menemukan tanda-tanda transmisi yang mencurigakan atau bukti lain bahwa Apple telah ditembus serangan canggih pada rantai pasokannya.

Dilansir Reuters, Senin, Wakil Presiden Apple untuk Keamanan Informasi, George Stathakopoulos,

menulis dalam surat kepada komite perdagangan dan Senat bahwa Apple telah berulang kali menyelidiki hal tersebut.

Apple juga tidak menemukan bukti untuk poin utama artikel Bloomberg Businessweek, yang diterbitkan Kamis (4/10), yang menyebutkan bahwa chip di dalam server yang dijual ke Apple oleh Super Micro Computer memungkinkan untuk transmisi “pintu belakang” ke China.

“Alat keamanan milik Apple terus memindai untuk jenis lalu lintas keluar, karena menunjukkan adanya malware atau aktivitas jahat lainnya. Tidak ada yang ditemukan,” tulisnya dalam surat yang diberikan kepada Reuters.

Stathakopoulos mengulangi pernyataan Apple bahwa dia tidak pernah menemukan chip

atau kerentanan jahat yang sengaja ditanam di server mana pun atau telah dihubungi oleh Biro Investigasi Federal (FBI) tentang kekhawatiran tersebut.

Dia mengatakan akan bersedia bertemu staf Kongres untuk membahas masalah tersebut pekan ini.

Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris, Jumat (5/10), dan Departemen

Keamanan Dalam Negeri AS, Sabtu (6/10), menyatakan bahwa mereka telah menemukan chip “pintu belakang” pada Apple.

Menanggapi pernyataan tersebut, surat dari Apple ini menegaskan bahwa lembaga-lembaga tersebut tidak memiliki alasan untuk meragukan penyangkalan dari Apple.

 

sumber :

http://linux.blog.gunadarma.ac.id/2020/05/18/seva-mobil-bekas/

Perkembangan Pada Bumi

Perkembangan Pada Bumi

Perkembangan Pada Bumi
Perkembangan Pada Bumi

Adanya desakan magma cair

Dari perut bumi menurut para pakar geologi dapat menimbulkan terjadinya pelebaran alur-alur dasar samudra, gerakan-gerakan benua, pola seismik dunia, dan pola kegiatan vulkanik.

 

Ada enam bentang  besar lempeng benua di bumi ini

Keseluruhannya bersifat keras walaupun relatif tipis jika dibandingkan dengan keseluruhan bola bumi. Ketebalan lempeng-lempeng benua tersebut tidak lebih dari 150 km. Lempeng-lempeng benua itu saling bergeser. Gerakan-gerakan pergeseran kerak bumi ini juga di- sebabkan oleh desakan hebat dari energi yang dikeluarkan oleh perut bumi.

 

Di Benua Asia terdapat tiga lempeng benua yang besar

Yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng India. Dua dari tiga lempeng tersebut relatif aktif bergerak, sedangkan yang satu statis. Lempeng Pasifik dan India terus menerus bergerak, menggeser ke arah barat laut (Pasifik) dan utara (India), sedangkan Lempeng Eurasia relatif statis dan me- rupakan lempeng terbesar dari ketiganya. Gerakan bertabrakan antarlempeng memunculkan jajaran kepulauan dan pegunungan seperti pegunungan di Pulau Jawa yang relatif sejajar dalam satu barisan.

 

Hal-hal yang perlu diketahui tentang teori tektonik lempeng adalah sebagai berikut :

  1. Kulit bumi kita padat, dingin, dan terapung di atas lapisan mantel. Kerak bumi yang membentuk dasar samudra di sebut lempeng samudra, sedang kerak bumi yang membentuk benua disebut lempeng benua. Di bawah lapisan lempeng terdapat lapisan mantel berupa massa cair pijar yang sangat panas.
  2. Pemanasan yang terus-menerus pada lapisan inti bumi menyebabkan terjadinya arus konveksi pada lapisan mantel dan menumbuk kerak bumi yang terapung di atasnya sehingga lama-kelamaan bengkok, retak, dan menimbulkan patahan. Magma akan menerobos lempeng benua di atasnya melalui celah atau retakan atau patahan, dan terbentuklah gunung api. Gejala semacam ini disebut vulkanisme.
  3. Jika tumpukan energi di daerah penunjaman sangat besar, akan menggetarkan lempeng dan menimbulkan gempa. Terjadinya peristiwa tabrakan antar lempeng di sebut gejala tektoisme. (perhatikan peta lempeng-lempeng di bumi)
  4. Gerakan dasar batuan yang meleleh yang merupakan batuan muda akan mendesak bagian kerak bumi atau batuan kerak bumi yang berumur tua, dan bagian yang tua inilah yang menyangga benua- benua. Terjadinya gempa disebabkan pertemuan dua ujung dari penyangga benua akibat aktivitas di bawahnya. Benturan dua ujung tersebut menimbulkan gempa bumi. Inilah yang terjadi di dalam laut di lepas pantai Amerika Selatan. Satu bagian bumi didorong masuk ke selubung untuk meleleh kembali, bagian lainnya didorong ke atas sehingga membentuk pematang.
  5. Teori tektonik lempeng berhubungan erat dengan fenomena persebaran gunung api di muka bumi dan lokasi serta persebaran gempa bumi.

Baca Juga :

Pasar Monopoli Adalah

Pasar Monopoli Adalah

Pasar Monopoli Adalah
Pasar Monopoli Adalah

Pasar monopoli (dari bahasa Yunani: monos, satu + polein, menjual) adalah

suatu bentuk pasar di mana hanya terdapat satu penjual yang menguasai pasar. Penentu harga pada pasar ini adalah seorang penjual atau sering disebut sebagai “monopolis”.

 

Sebagai penentu harga (price-maker), seorang monopolis

Dapat menaikan atau mengurangi harga dengan cara menentukan jumlah barang yang akan diproduksi; semakin sedikit barang yang diproduksi, semakin mahal harga barang tersebut, begitu pula sebaliknya. Walaupun demikian, penjual juga memiliki suatu keterbatasan dalam penetapan harga. Apabila penetapan harga terlalu mahal, maka orang akan menunda pembelian atau berusaha mencari atau membuat barang subtitusi (pengganti) produk tersebut atau —lebih buruk lagi— mencarinya di pasar gelap (black market).

 

Ciri dan sifat

Ada beberapa ciri dan sifat dasar pasar monopoli. Ciri utama pasar ini adalah adanya seorang penjual yang menguasai pasar dengan jumlah pembeli yang sangat banyak. Ciri lainnya adalah tidak terdapatnya barang pengganti yang memiliki persamaan dengan produk monopolis; dan adanya hambatan yang besar untuk dapat masuk ke dalam pasar.
Hambatan itu sendiri, secara langsung maupun tidak langsung, diciptakan oleh perusahaan yang mempunyai kemampuan untuk memonopoli pasar. Perusahaan monopolis akan berusaha menyulitkan pendatang baru yang ingin masuk ke pasar tersebut dengan dengan beberapa cara; salah satu di antaranya adalah dengan cara menetapkan harga serendah mungkin.
Dengan menetapkan harga ke tingkat yang paling rendah, perusahaan monopoli menekan kehadiran perusahaan baru yang memiliki modal kecil. Perusahaan baru tersebut tidak akan mampu bersaing dengan perusahaan monopolis yang memiliki kekuatan pasar, image produk, dan harga murah, sehingga lama kelamaan perusahaan tersebut akan mati dengan sendirinya.

Cara lainnya adalah

dengan menetapkan hak paten atau hak cipta dan hak eksklusif pada suatu barang, yang biasanya diperoleh melalui peraturan pemerintah. Tanpa kepemilikan hak paten, perusahaan lain tidak berhak menciptakan produk sejenis sehingga menjadikan perusahaan monopolis sebagai satu-satunya produsen di pasar.
Monopoli yang Tidak Dilarang
• Monopoli by Law
Monopoli oleh negara untuk cabang-cabang produksi penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak.
• Monopoli by Nature
Monopoli yang lahir dan tumbuh secara alamiah karena didukung iklim dan lingkungan tertentu.
• Monopoli by Lisence
Pasar monopoli adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dan penawaran yang ditandai oleh adanya satu penjual/produsen dipasar berhadapan dengan permintaan seluruh pembeli atau konsumen.


Sumber: https://abovethefraymag.com/star-trek-timelines-apk/

Peperangan era Napoleon

Peperangan era Napoleon

Peperangan era Napoleon
Peperangan era Napoleon

Peperangan era Napoleon adalah serangkaian peperangan yang terjadi selama Napoleon Bonaparte memerintah Perancis (1799–1815).

Perang ini terjadi (khususnya) di benua Eropa, tetapi juga di beberapa tempat di benua lainnya dan merupakan kelanjutan dari perang yang dipicu oleh Revolusi Perancis pada tahun 1789.

Perang ini menyebabkan perubahan besar pada sistem militer di Eropa terutama artileri dan organisasi militer, dan juga pada masa inilah pertama kalinya diadakan wajib militer secara resmi sehingga jumlah tentara berlipat ganda.

Kekuatan Perancis dengan cepat berkembang, menaklukkan sebagian besar Eropa dan juga cepat ambruknya setelah mengalami kekalahan telak dari Rusia pada tahun 1812. Setelah kekalahan ini Napoleon menyerah total, sehingga dinasti Bourbon kembali berkuasa di Perancis. Sementara itu wilayah kekaisaran Spanyol satu persatu daerah jajahannya mulai lepas akibat invasi Perancis, yang mengakibatkan lemahnya Spanyol sehingga memicu timbulnya revolusi di Amerika Latin.

Tidak ada kesepakatan para sejarawan untuk memastikan kapan Perang Revolusi Perancis berakhir dan peperangan era Napoleon dimulai. Beberapa tanggal yang diajukan antara lain:

* Tanggal 9 November 1799, ketika Napoleon merebut kekuasaan di Perancis
* Tanggal 18 Mei 1803, ketika Inggris dan Perancis melanggar gencatan senjata yang mereka sepakati sebelumnya
* Tanggal 2 Desember 1804, ketika Napoleon mengangkat dirinya sendiri sebagai kaisar.

Peperangan era Napoleon berakhir ketika ia mengalami kekalahan dalam Pertempuran Waterloo (18 Juni 1815) dan disepakatinya pakta Paris yang kedua. Beberapa sumber sejarah (terutama di Inggris) menamakan peperangan dari tahun 1792 sampai 1815 ini dengan nama Perang Perancis Raya, atau sebagai babak penutup dari Perang 200 Tahun antara Inggris dan Perancis yang dimulai sejak tahun 1689 sampai dengan tahun 1815.

Latar belakang, 1789–1802

Revolusi Perancis mengancam kerajaan-kerajaan lain di benua Eropa, dan menjadi persoalan yang lebih serius dengan ditangkapnya raja Louis XVI pada tahun 1792 dan pelaksanaan hukuman mati terhadapnya di bulan Januari tahun 1793. Usaha pertama untuk menghancurkan Republik Perancis ini dimulai pada tahun 1792 ketika Austria, Kerajaan Sardinia, Kerajaan Napoli, Prusia, Spanyol, dan Kerajaan Britania Raya membentuk koalisi pertama. Dengan ditetapkan undang-undang Perancis yang baru, termasuk wajib militer secara serentak (levée en masse), pembaharuan sistem militer, dan perang secara total, memberikan kontribusi bagi kemenangan Perancis atas koalisi pertama. Perang berakhir ketika Austria dituntut oleh Napoleon menerima syarat-syarat dalam perjanjian Campo Formio. Kerajaan Britania Raya menjadi satu-satunya kerajaan yang tersisa dari koalisi pertama yang memerangi Perancis sampai dengan tahun 1797.

Koalisi kedua dibentuk pada tahun 1798, yang terdiri atas beberapa kerajaan: Austria, Britania Raya, Kerajaan Napoli, Kesultanan Utsmaniyah, Negara Kepausan, Portugal, dan Rusia. Napoleon Bonaparte, sang arsitek utama kemenangan Perancis pada tahun lalu atas koalisi pertama, melancarkan aksi militer ke Mesir (beberapa ilmuwan diikutsertakan dalam ekspedisi ini termasuk Jean Baptiste Joseph Fourier dan Jean-Francois Champollion).

Napoleon kembali ke Perancis pada tanggal 23 Agustus 1799. Kemudian ia mengambil alih pemerintahan pada tanggal 9 November 1799 dalam sebuah kudeta bernama 18 Brumaire. Napoleon menata ulang sistem militer dan membuat pasukan cadangan untuk mendukung aksi militer di sekitar Rhine dan Italia. Di semua pertempuran, Perancis lebih unggul. Di Italia, Napoleon memenangkan pertempuran dengan Austria dalam Marengo pada tahun 1800. Tetapi pertempuran yang menentukan terjadi di Rhein, wilayah Hohenlinden pada tahun 1800. Dengan kalahnya Austria ini, kekuatan koalisi kedua hancur. Akan tetapi Britania Raya tetap kuat dan memberi pengaruh yang besar kepada negara-negara lainnya agar dapat mengalahkan Perancis. Napoleon menyadari hal ini, tanpa kekalahan Inggris atau perjanjian damai dengannya maka ia tidak akan pernah mencapai perdamaian secara penuh di benua Eropa.

Perang Inggris dan Perancis, 1803–1814

Tidak seperti anggota koalisi lainnya, Inggris tetap berperang secara kecil-kecilan dengan Perancis. Dengan perlindungan dari armada lautnya yang sangat kuat (seperti yang diucapkan Admiral Jervis “Saya tidak menjamin bahwa Perancis tidak akan datang menyerang kita, tetapi saya menjamin bahwa mereka tidak akan datang lewat laut”), Inggris dapat tetap mensuplai dan mengadakan perlawanan didarat secara global selama lebih dari satu dekade. Bala tentara Inggris juga menyokong pemberontak di Spanyol melawan Perancis dalam perang Peninsular pada tahun 1808-1814. Dilindungi oleh kondisi alam yang menguntungkan, serta dibantu dengan pergerakan gerilyawan yang sangat aktif, pasukan Anglo-Portugis ini sukses mengganggu pasukan Perancis selama beberapa tahun. Puncaknya pada tahun 1815, tentara Inggris memainkan peran penting dalam mengalahkan pasukan Napoleon pada pertempuran Waterloo.

Sebenarnya perjanjian damai (Persetujuan Amiens) antara Inggris dan Perancis telah disepakati pada tanggal 25 Maret 1802. Tetapi kedua belah pihak tidak pernah mematuhinya. Aksi militer kedua belah pihak selalu merusak perjanjian ini seperti misalnya Perancis ikut andil dalam kericuhan sipil di Swiss (Stecklikrieg) dan menduduki beberapa kota di Italia, sementara Inggris menduduki Malta. Napoleon juga berusaha mengembalikan hukum kolonial di laut. Pada awal ekspedisi ini kelihatan sukses, akan tetapi dengan cepat berubah menjadi bencana. Komandan Perancis, juga saudara ipar Napoleon dan hampir sebagian besar tentaranya meninggal akibat wabah penyakit kuning, dan juga karena serangan musuh.

Napoleon menjadi Kaisar Perancis pada tanggal 18 Mei 1804 dan menobatkan dirinya sendiri sebagai penguasa Notre-Dame pada tanggal 2 Desember.

Koalisi ketiga, 1805

Pada bulan April 1805, Inggris dan Rusia menandatangani kesepakatan dengan tujuan mengusir Perancis dari Belanda dan Swiss. Austria ikut serta dalam aliansi ini setelah pencaplokan wilayah Genoa dan penobatan Napoleon sebagai Raja Italia pada tanggal 17 Maret 1805.

Austria memulai peperangan dengan menginvasi Bayern dengan bala tentaranya yang berjumlah 70 ribu jiwa di bawah pimpinan Karl Mack von Leiberich. Dengan segera tentara Perancis keluar dari Boulogne pada akhir Juli 1805 untuk menghadapinya. Keduanya bertemu di Ulm (25 September – 20 Oktober). Napoleon mengepung tentara Mack memaksanya menyerah. Dengan dikalahkannya tentara Austria di utara pegunungan Alpen (tentara lainnya di bawah pimpinan Adipati Agung Charles berputar balik sehingga bertemu tentara Perancis lainnya pimpinan marsekal André Masséna di Italia), Napoleon menduduki Wina. Jauh di belakang garis suplainya, ia berhadapan dengan bala tentara Austria-Rusia yang lebih besar di bawah komandan Mikhail Kutuzov, juga kaisar Alexander dari Rusia turut serta. Pada tanggal 2 Desember, Napoleon menyerbu gabungan tentara dua negara ini yang berada di Moravia, Austerlitz (inilah kemenangan terbesar Napoleon). Napoleon hanya kehilangan 7 ribu tentaranya, sementara kerugian tentara gabungan sekitar 25 ribu jiwa.

Austria menandatangani kesepakatan Pressburg pada tanggal 26 Desember 1805 dan keluar dari koalisi. Perjanjian ini meminta Austria menyerahkan Venesia kepada Kekaisaran Perancis yang meliputi Italia dan Tyrol sampai dengan Bayern.

Dengan mundurnya Austria dari perang ini, tentara Napoleon mencatat kemenangan terus-menerus di daratan, akan tetapi kekuatan penuh tentara Rusia belumlah ikut serta saat itu.

Koalisi keempat, 1806–1807

Koalisi keempat terbentuk beberapa bulan setelah runtuhnya koalisi ketiga dan terdiri dari Prusia, Rusia, Saxon, Swedia, dan Inggris. Pada bulan Juli 1806, Napoleon membentuk Konfederasi Rhein untuk menyatukan negara-negara kecil di Jerman.

Akibat terpecahnya kerajaan-kerajaan Jerman, dan atas desakan Napoleon, Kaisar Franz II dari Austria menyatakan bubarnya Kekaisaran Romawi Suci yang dipimpinnya pada tanggal 6 Agustus 1806. Sejak itu berakhirlah suatu imperium longgar bangsa-bangsa Jerman yang berlangsung hampir selama 850 tahun.

Karena tidak bisa menerima hal ini, Friedrich Wilhelm III dari Prusia, yang merupakan anggota imperium, pada bulan yang sama membuat keputusan yang berani dengan menyatakan perang secara terpisah melawan Perancis dan negara-negara koalisi. Di bulan September, Napoleon menggerakkan seluruh pasukannya yang berada di timur Rhein. Napoleon sendirilah yang mengalahkan tentara Prusia di Jena pada tanggal 14 Oktober 1806, dan Marsekal Davout mengalahkan lainnya di Auerstädt pada hari yang sama. Sekitar 160 ribu tentara Perancis (jumlah yang bertambah terus seiring dengan kemenangan-kemenangan yang diraih Napoleon) menyerang Prusia dengan strategi yang jitu disertai pergerakan yang cepat, sehingga berhasil menghancurkan kekuatan militer yang lebih besar dan kuat yaitu sekitar seperempat juta tentara Prusia; dengan korban jiwa 25 ribu orang, menahan sekitar 150 ribu orang, menyita 4 ribu artileri, serta lebih dari 100 ribu musket di Berlin.

Sebenarnya Napoleon hanya melawan satu detasemen tentara Prusia saja di Jena. Di Auerstädt-lah pertempuran besar terjadi, melibatkan satu korps tentara Perancis mengalahkan tentara Prusia yang berjumlah sangat besar. Napoleon memasuki Berlin pada tanggal 27 Oktober 1806. Dia mengunjungi makam Friedrich yang Agung dan menginstruksikan seluruh marsekalnya untuk melepas topi mereka untuk memberi penghormatan seraya berucap

Jika Friedrich yang Agung masih hidup, tentulah kita tidak akan sanggup berada di sini sekarang

Dalam perang melawan Prusia ini, Napoleon hanya membutuhkan waktu 19 hari saja untuk menyerang tentara Prusia di Jena dan Auerstädt, mengalahkannya, dan akhirnya menduduki Berlin. Hal ini sangat fantastis dan brilian, karena sebaliknya Prusia yang sudah bertempur selama 3 tahun sejak keiikutsertaan dalam koalisi pertama hanya sedikit saja memperoleh keberhasilan.

Selama konflik ini tercatat Malta mengirimkan bantuan kepada Rusia dan Prusia dengan harapan mereka mendapat aliansi politis melawan Napoleon dan Perancis, akan tetapi hal ini tidak berhasil karena bajak laut di sekitar Pantai Barbari menghadang dan merampas bantuan tersebut.

Babak selanjutnya dari peperangan era Napoleon ini, adalah dipaksanya Rusia keluar dari Polandia oleh Perancis dan didirikan negara baru bernama Kadipaten Warsawa. Kemudian Napoleon beralih ke utara untuk berhadapan dengan sisa-sisa tentara Rusia, dan berusaha untuk menduduki ibukota sementara Prusia, Koenigsberg. Dengan taktik berpindah di Pertempuran Eylau (7 Februari – 8 Februari 1807), Perancis berhasil memaksa Rusia mundur ke utara lebih jauh lagi. Lalu Napoleon mengepung mereka di Friedland (14 Juni 1807). Akibat kekalahan ini, Tsar Alexander terpaksa mengadakan perdamaian dengan Napoleon di Tilsit (7 Juli 1807). Pada bulan September, Marsekal Brune secara menyeluruh berhasil menduduki Pomerania. Meskipun demikian, dia tetap mengizinkan pasukan Swedia yang kalah untuk mundur bersama peralatan perang mereka.

Koalisi kelima, 1809

Koalisi kelima terdiri dari Britania Raya dan Austria yang dibentuk untuk melawan Perancis di daratan. Sementara di laut, sekali lagi Inggris berperang sendirian melawan sekutu-sekutu Napoleon. Tercatat sejak koalisi kelima terbentuk, angkatan laut kerajaan Inggris mencapai kesuksesan di daerah koloni Perancis dan memperoleh kemenangan yang besar melawan Denmark di Pertempuran Kopenhagen (2 September 1807).

Di daratan, koalisi kelima berusaha memperluas wilayah tetapi dengan pergerakan militer terbatas. Seperti yang terjadi pada ekspedisi Walcheren pada tahun 1809, yang melibatkan angkatan darat Inggris dibantu oleh angkatan lautnya untuk membebaskan tentara Austria yang berada dalam tekanan tentara Perancis. Ekpedisi ini berakhir menjadi bencana setelah tentara yang dikomandani oleh John Pitt (pangeran kedua dari Chatham) gagal mencapai target yaitu pangkalan angkatan laut Perancis di Antwerpen.

Dalam tahun-tahun selama koalisi kelima ini, pergerakan militer Inggris di daratan, terkecuali di jazirah Iberia (Al-Andalus), masih terbatas pada taktik serang dan lari dibantu oleh angkatan laut yang mendominasi laut setelah sukses menghancurkan hampir seluruh kemampuan angkatan laut Perancis dan sekutunya dan juga memblokade laut di sekitar pangkalan-pangkalan milik Perancis yang masih dipertahankan dengan kuat.

Serangan kilat ini mirip dengan metode serangan yang dilancarkan oleh para gerilyawan. Umumnya angkatan laut membantu angkatan darat untuk menghancurkan kapal-kapal Perancis, mengganggu pengiriman, komunikasi, dan garnisun-garnisun militer di sekitar pantai. Dan sering juga angkatan laut datang menolong dengan menurunkan tentara mereka untuk membantu operasi militer yang dilancarkan bermil-mil jauhnya dari pantai.

Kapal-kapal milik angkatan laut Inggris bahkan membantu dengan gempuran artileri dari moncong-moncong meriam mereka jika tentara Perancis yang bertempur tersesat hingga dekat dengan garis pantai. Tetapi bagaimanapun juga, kualitas dan kemampuan dari angkatan darat-lah yang sangat berpengaruh dari sukses tidaknya suatu operasi militer. Sebagai contoh, ketika taktik ini dilancarkan di Spanyol, kadangkala angkatan laut gagal mencapai target karena kurangnya kualitas dan kemampuan tentaranya.

Peperangan ini juga merembet ke perang ekonomi antara sistem kontinental yang diterapkan oleh Perancis menghadapi blokade laut oleh Inggris di setiap wilayah kekuasaan Perancis. Kedua belah pihak selalu membuat konflik baru agar sistem mereka bisa dilaksanakan. Inggris berperang dengan Amerika antara tahun 1812-1815, sementara Perancis ikut serta dalam perang di Semenanjung Eropa selama tahun 1808-1814. Konflik di Andalusia dimulai ketika Portugal melanjutkan perdagangan dengan Inggris meskipun ada larangan dari pihak Perancis. Ketika Spanyol mengalami kegagalan untuk mempertahankan aliansinya dengan Perancis, dengan segera tentara Perancis menyerang dan menduduki ibukota Madrid.

Austria yang sebelumnya menjadi sekutu Perancis, mengambil kesempatan untuk mengembalikan wilayah mereka di Jerman yang pernah dikuasainya sebelum mengalami kekalahan dalam perang di Austerlitz. Mereka memperoleh beberapa kemenangan atas tentara marsekal Davout yang memang terlalu sedikit dalam menjaga seluruh front timur. Napoleon hanya menempatkan sekitar 170.000 tentaranya untuk menjaga seluruh front timur ini. (bandingkan dengan tahun 1790-an, ada sekitar 800.000 tentara yang menjaga front timur ini bahkan lebih pendek jaraknya saat itu).

Napoleon sangat gembira dengan keberhasilan pasukannya merebut Spanyol dan menduduki Madrid dengan mudah, dan memaksa mundur sejumlah besar tentara Inggris dari Andalusia (Pertempuran Corunna, 16 Januari 1809). Akan tetapi serangan yang dilancarkan Austria mencegah Napoleon menyelesaikan pengusiran tentara Inggris dari Andalusia karena dia harus pergi ke Austria untuk memimpin pasukan dan tidak pernah kembali ke arena pertempuran di jazirah ini. Karena ketidakhadirannya beserta marshal terbaiknya (Davout tetap memimpin di timur selama peperangan), situasi di Spanyol makin memburuk, terutama ketika Jenderal Inggris Sir Arthur Wellesley yang terkenal itu tiba untuk memimpin pasukan.

Tentara Austria menyerbu ke kadipaten Warsawa tetapi mengalami kekalahan pada Pertempuran Radzyn pada tanggal 19 April 1809. Tentara Polandia menduduki Galicia barat menambah daftar kesuksesan mereka.

Kemudian Napoleon memimpin sendiri tentaranya untuk melakukan serangan balik ke Austria. Setelah melalui beberapa pertempuran kecil, Austria akhirnya dipaksa mundur dari Bayern, sementara Napoleon terus bergerak memasuki Austria. Akibat keinginannya untuk segera menyeberangi sungai Danube mengakibatkan pertempuran besar yang terkenal dengan nama Pertempuran Aspern-Essling (22 Mei 1809) — Kekalahan telak pertama yang diderita Napoleon dari pasukan Austria yang dipimpin oleh Jenderal Archduke Karl. Baru pada awal bulan Juli (5 Juli – 6 Juli), Napoleon berhasil merebut Vienna dengan mengalahkan tentara Austria pada Pertempuran Wagram. (Pada saat berlangsung pertempuran ini, Napoleon mencopot Marsekal Bernadotte dari jabatannya dan mempermalukan dia di hadapan marsekal senior lainnya. Segera setelah kejadian ini, Bernadotte menerima tawaran dari Swedia untuk mengisi posisi sebagai pangeran. Selanjutnya dia secara aktif berpartisipasi dalam peperangan ini melawan Napoleon.)

Perang koalisi kelima ini berakhir dengan kesepakatan Schönbrunn (14 Oktober 1809). Selanjutnya di timur hanya pemberontak Tyrol-lah yang dipimpin oleh Andreas Hofer yang tetap melanjutkan perlawanan terhadap tentara Perancis-Bayern sampai akhirnya mereka dikalahkan pada bulan November 1809, sementara itu perang di semenanjung Eropa Barat tetap berlanjut.

Kekaisaran Perancis mencapai puncak kejayaannya pada tahun 1810 dengan wilayah kekuasaan yang begitu luas. Sementara itu Inggris dan Portugal tetap menjaga area di sekitar Lisbon (di belakang garis depan di Torres Vedras) dan untuk mengepung Cadiz. Napoleon menikah dengan Marie-Louise, Putri dari Austria, dengan maksud untuk mempererat aliansi dengan Austria dan memperoleh keturunan untuk menjadi putra mahkota baru. Hal ini tidak didapatkannya dari istri pertama, Josephine. Sebagai kaisar Perancis, Napoleon mengontrol negara-negara konfederasi Swiss, konfederasi Rhine, kadipaten Warsawa dan kerajaan Italia. Wilayah-wilayah di bawah kekaisaraan Perancis termasuk:

* Kerajaan Spanyol (di bawah pimpinan Joseph Bonaparte, saudara laki-laki Napoleon)
* Kerajaan Westphalia (Jerome Bonaparte, saudara laki-laki Napoleon)
* Kerajaan Napoli (Joachim Murat, suami dari Caroline, saudara perempuan Napoleon)
* Kerajaan Lucca dan Piombino (saudara perempuan Napoleon Elisa Bonaparte dan suaminya Felice Bacciocchi)
* Bekas musuh Napoleon sebelumnya, Prusia dan Austria.

Invasi ke Rusia, 1812

Napoleon berencana menyerang Inggris , dan menyusun 180.000 tentara di Boulogne. Namun, untuk invasinya, ia membutuhkan keunggulan laut – atau paling tidak dapat memukul mundur Britania dari Selat Inggris. Rencana untuk menarik perhatian Britania dengan mengganggu jajahan mereka di India Barat gagal ketika armada Perancis-Spanyol di bawah Laksamana Villeneuve mundur setelah pertempuran Cape Finisterre pada 22 Juli 1805. Angkatan Laut Kerajaan memblokade Villeneuve di Cádiz sampai ia pergi menuju Naples pada 19 Oktober; skuadron Britania menangkap dan menaklukkan armadanya dalam Pertempuran Trafalgar tanggal 21 Oktober (komandan Britania, Lord Nelson, tewas dalam pertempuran). Napoleon tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk menantang Britania di laut. Napoleon membatalkan semua rencananya untuk menyerang Kepulauan Britania, dan membalikan perhatiannya ke musuhnya di Benua Eropa sekali lagi. Tentara Perancis meninggalkan Boulogne dan bergerak menuju Austria.

Seperti yang disebutkan di atas, hasil dari pakta Tilsit tahun 1807 mengakibatkan perang Anglo-Rusia 1807–1812. Tsar Alexander I menyatakan perang kepada Inggris setelah Inggris menyerang Denmark pada bulan September tahun 1807. Banyak pelaut Inggris yang ikut membantu armada laut Swedia selama perang Finlandia dan memperoleh kemenangan atas Rusia di teluk Finlandia pada bulan Juli tahun 1808 dan bulan Agustus tahun 1809, tetapi kemenangan tentara Rusia di daratan memaksa Swedia menandatangani perjanjian damai dengan Rusia pada tahun 1809 dan dengan Perancis pada tahun 1810 juga harus bergabung untuk memblokade Inggris.

Akan tetapi hubungan Perancis dan Rusia menjadi semakin buruk setelah tahun 1810, sementara perang Rusia dan Inggris telah berakhir. Pada bulan April tahun 1812, Rusia, Inggris dan Swedia menandatangani perjanjian rahasia untuk bergabung melawan Napoleon.

Napoleon menginvasi Rusia pada tahun 1812 dengan maksud memaksa kaisar Alexander I tetap mengikuti sistem kontinental yang diterapkannya dan memperkecil kemungkinan ancaman Rusia yang akan menginvasi Polandia. Dengan membawa pasukan dalam jumlah besar yaitu sekitar 650.000 orang (270.000 orang Perancis, sisanya tentara dari berbagai wilayah lain) pada tanggal 23 Juni 1812 mereka menyeberangi sungai Niemen. Rusia menyatakan ini sebagai perang patriotik membela negara sementara Napoleon menyatakannya sebagai perang Polandia Kedua. Hal ini tidak seperti harapan rakyat Polandia (ada sekitar 100.000 tentara Polandia yang bergabung dalam invasi ini) yakni Napoleon ternyata tidak ingin bernegosiasi dengan Rusia.

Rusia menerapkan strategi membumihanguskan kota sambil mundur teratur. Pertempuran hanya terjadi di Borodino pada tanggal 7 September 1812. Pada tanggal 14 September 1812, pasukan Napoleon berhasil masuk kota Moskwa yang sebenarnya sudah ditinggalkan penduduknya dan dibumihanguskan atas perintah gubernur-nya: Pangeran Fyodor Vasilievich Rostopchin.

Akhirnya dimulailah penarikan pasukan secara besar-besaran dari Kota Moskwa akibat cuaca yang sangat dingin dan juga makin hebatnya serangan Rusia yang memang memanfaatkan cuaca dingin sebagai senjata. Korban mencapai sekitar 380.000 jiwa (kebanyakan akibat kelaparan dan kedinginan) dan 100.000 ditawan. Korban jiwa pada pihak Rusia sekitar 210.000 jiwa. Pada bulan November, sisa dari pasukan besar ini menyeberangi sungai Berezina dan hanya sekitar 27.000 tentara yang masih dalam kondisi fit. Napoleon kemudian meninggalkan tentaranya dan kembali ke Perancis untuk menyiapkan pertahanan di Polandia dari serangan tentara Rusia.

Koalisi keenam, 1812-1814

Melihat adanya kemungkinan untuk mengalahkan Napoleon yang sudah lemah akibat kekalahan besar di Rusia, dengan segera Prusia, Swedia, Austria, dan beberapa negara kecil di Jerman ikut dalam peperangan lagi. Napoleon bersumpah dia akan membentuk tentara baru sebesar tentara yang dia kirimkan ke Rusia, dan memang dengan secara cepat dia membentuk tentaranya di timur dari 30.000 menjadi 130.000 dan pada akhirnya mencapai 400.000 orang. Pertempuran pun segera terjadi di Lützen (2 Mei 1813) dan Bautzen (20-21 Mei 1813) yang mengakibatkan kerugian besar di pihak koalisi yaitu sekitar 40 ribu jiwa. Tercatat lebih dari 250.000 tentara yang terlibat dalam dua pertempuran ini.

Sementara itu pada peperangan di semenanjung Eropa tepatnya di kota Vitoria ( 21 Juni 1813), pasukan Arthur Wellesley meraih kemenangan atas pasukan Joseph Bonaparte sehingga hancurlah kekuatan Perancis di Spanyol dan memaksa mereka mundur melewati pegunungan Pyrene.

Kedua belah pihak menyatakan gencatan senjata yang mulai efektif tanggal 4 Juni sampai dengan 13 Agustus 1813. Selama masa damai ini kedua belah pihak berusaha pulih dari kerugian yang dideritanya sejak bulan April yang telah menelan korban jiwa hampir seperempat juta. Pihak koalisi juga berhasil memengaruhi Austria agar berperang melawan Perancis. Akhirnya dua inti dari pasukan Austria yang berjumlah 300.000 orang ikut serta dalam koalisi sehingga menambah kekuatan mereka di Jerman. Total jumlah pasukan koalisi saat itu mencapai 800.000 tentara di garis depan Jerman, dengan cadangan mencapai 350.000 tentara.

Kesuksesan Napoleon dalam dua pertempuran melawan koalisi keenam di atas ternyata membawa pengaruh besar pada kekuatan angkatan perangnya sehingga menjadi sekitar 650.000 tentara  meskipun sebenarnya hanya 250.000 tentara yang langsung di bawah komandonya, sementara lainnya 120 ribu tentara di bawah komando marsekal Nicolas Charles Oudinot dan 30.000 di bawah komando marsekal Davout.

Negara-negara yang bergabung dalam konfederasi Rhine, terutama Saxon dan Bayern adalah penyumbang tentara terbesar untuk Napoleon. Di selatan, Kerajaan Napoli dan Kerajaan Italia turut menambah kekuatan dengan menyediakan sekitar 100.000 tentara. Sementara di Spanyol masih ada sekitar 150-200 ribuan tentara Perancis meskipun saat itu mereka sudah dipaksa mundur oleh Inggris dari wilayah tersebut. Jadi ada sekitar 900.000 tentara Perancis yang tersebar di semua medan pertempuran berhadapan dengan sekitar 1 juta tentara koalisi (belum termasuk tentara cadangan di Jerman).

Setelah masa gencatan senjata selesai, tampaknya Napoleon akan meraih kembali masa kejayaannya setelah meraih kemenangan besar atas tentara koalisi di Dresden pada bulan Agustus tahun 1813. Akan tetapi di medan pertempuran lain semua marsekalnya mengalami kekalahan sehingga kemenangan ini menjadi tidak ada artinya lagi. Pada Pertempuran Leipzig di Saxon (16-19 Oktober 1813) yang juga dikenal dengan nama pertempuran banyak bangsa, sekitar 190.000 tentara Perancis berhadapan dengan 300.000 tentara koalisi, yang pada akhirnya memaksa mereka mundur sampai ke kampung halamannya sendiri, Perancis. Kemudian Napoleon masih memimpin beberapa pertempuran lagi termasuk pertempuran Arcis-sur-Aube di Perancis sendiri, akan tetapi karena banyaknya jumlah tentara koalisi yang terlibat pertempuran membuat mereka kewalahan.

Akhirnya pasukan koalisi memasuki Paris pada tanggal 30 Maret 1814. Tercatat Napoleon masih memimpin pasukannya dan mendapat kemenangan berkali-kali atas pasukan koalisi yang maju terus menuju Paris. Akan tetapi dia hanya memimpin sekitar 70.000 tentara melawan 500.000 tentara koalisi, suatu jumlah yang tidak sebanding. Pada tanggal 9 Maret 1814 diadakan perjanjian Chaumont yang menyetujui agar koalisi tetap dipertahankan sampai pasukan Napoleon dapat dikalahkan seluruhnya.

Napoleon memutuskan tetap bertempur, meskipun dia sudah di ambang kekalahan. Selama masa ini tercatat dia mengeluarkan 900.000 surat keputusan wajib militer tetapi hanya beberapa saja yang berhasil dilaksanakan. Akhirnya Napoleon kalah dan turun takhta pada tanggal 6 April 1814, tetapi pasukannya di Italia, Spanyol dan Belanda masih terus melakukan perlawan selama musim semi tahun 1814.

Pihak koalisi memutuskan untuk mengasingkan Napoleon ke pulau Elba, dan mengembalikan Perancis menjadi kerajaan serta mengangkat Louis XVIII sebagai raja. Mereka juga mengadakan perjanjian di Fontainebleau (11 April 1814) serta kongres di Wina untuk menata ulang peta wilayah di Eropa.

Perang Denmark-Inggris, 1807-1814

Selama peperangan era Napoleon, sebenarnya Denmark – Norwegia menyatakan sebagai negara netral dan hanya mengadakan perdagangan dengan Perancis. Akan tetapi pihak Inggris yang terus-menerus menyerang, menangkap dan menghancurkan sebagian besar armada laut Denmark pada pertempuran Kopenhagen pertama (2 April 1801) dan hal ini diulangi lagi pada pertempuran Kopenhagen kedua (Agustus-September 1807) mengakibatkan Denmark melakukan perang gerilya terhadap armada Inggris di laut Denmark-Norwegia dengan menggunakan kapal-kapal kecil yang dilengkapi meriam. Perang ini akhirnya berhenti setelah Inggris meraih kemenangan pada pertempuran Lyngor pada tahun 1812, yang mengakibatkan kerusakan pada kapal Denmark yang terakhir, yaitu kapal perang Najaden.

Koalisi ketujuh, 1815

Koalisi ketujuh yang terdiri atas Britania Raya, Rusia, Prusia,Swedia, Austria, dan Belanda serta sejumlah negara kecil di Jerman terbentuk pada tahun 1815 setelah larinya Napoleon dari pulau Elba (tercatat sekitar seratus hari dia kembali memimpin Perancis). Napoleon mendarat di Cannes pada tanggal 1 Maret 1815. Dalam perjalanannya ke Paris, ia mengumpulkan tentara yang masih setia kepadanya, dan akhirnya menggulingkan raja Louis XVIII. Pihak koalisi segera mengumpulkan pasukan kembali untuk berhadapan dengannya. Napoleon berhasil mengumpulkan 280.000 orang, yang ia pecah menjadi beberapa kesatuan. Untuk menambah kekuatan, Napoleon memanggil kembali seperempat juta veteran perang serta membuat keputusan untuk mengadakan kembali wajib militer agar dapat menambah jumlah pasukan menjadi 2,5 juta tentara yang pada kenyataannya tidak berhasil dilakukan. Hal ini dilakukan untuk menghadapi pasukan koalisi yang berjumlah sekitar 700.000 tentara.

Dengan membawa 124.000 pasukannya yang berada di utara, Napoleon melakukan serangan kejutan ke posisi pasukan koalisi yang berada di Belgia. Serangan ini dia lakukan dengan harapan mendorong Inggris mundur ke laut dan memaksa Prusia keluar dari peperangan. Serangan kejutan ini mencapai sukses, memaksa Prusia bertempur di Ligny pada tanggal 16 Juni 1815 dan berhasil mengalahkan mereka sehingga mundur dalam keadaan kacau-balau. Pada hari yang sama tetapi di lain tempat, pasukan sayap kiri pimpinan marsekal Michel Ney sukses menahan bala bantuan yang akan datang dari tentara Wellington dalam Pertempuran Quatre Bras. Tetapi Ney gagal membersihkan persimpangan jalan Quatre Bras ini sehingga tentara Wellington dapat memperkuat kembali posisinya.

Dengan mundurnya Prusia, pasukan Welington yang tadinya ingin membantu menjadi mundur juga. Mereka kembali ke posisi semula di tebing Gunung Santa Jean, beberapa mil di selatan desa Waterloo. Napoleon membawa cadangan pasukannya yang ada di utara, dan bergabung dengan pasukan Ney untuk mengejar Wellington. Tetapi hal ini dia lakukan sebelum menginstruksikan kepada marsekal Grouchy untuk memimpin pasukan sayap kanan menahan tentara Prusia yang sudah bersatu kembali.

Grouchy gagal melaksanakan perintah ini, meskipun sebenarnya pasukan von Thielmann berhasil mengalahkan barisan belakang pasukan Prusia di Pertempuran Wavre pada tanggal 18-19 Juni, sisa pasukan Prusia tetap menuju Waterloo. Napoleon menunda Pertempuran Waterloo beberapa jam di pagi hari pada tanggal 18 Juni karena belum mengeringnya tanah akibat hujan pada malam sebelumnya. Ternyata sampai petang hari, pasukan Perancis belum mampu menaklukkan pasukan Wellington. Ketika pasukan Prusia akhirnya datang dan menyerang sayap kanan Perancis dalam jumlah besar, gagallah strategi Napoleon untuk tetap memecah kekuatan koalisi.

Marsekal Grouchy menebus kesalahannya di atas dengan sukses mengorganisasikan pasukan yang mundur dari kota Paris, sementara marsekal Davout dengan 117.000 tentaranya berhadapan dengan 116.000 tentara Blucher-Wellington. Secara militer sangat dimungkinkan Perancis mengalahkan gabungan kedua tentara ini akan tetapi situasi politik membuktikan bahwa kekaisaran sudah mulai jatuh. Jadi, meskipun akhirnya Davout sukses mengalahkan kedua gabungan pasukan ini, sekitar 400.000 tentara Rusia dan Austria tetap maju terus dari arah timur tidak terpengaruh akan kekalahan ini.

Ketika tiba di Paris pada hari ketiga sesudah kekalahan di Waterloo, Napoleon sebenarnya masih berharap timbulnya perlawanan rakyat untuk membela negara terhadap datangnya pasukan asing yang ingin menguasai Perancis. Akan tetapi hal ini tidak menjadi kenyataan karena secara umum rakyat Perancis menolak. Para politisi memaksa Napoleon untuk turun takhta lagi pada tanggal 22 Juni 1815. Meskipun akhirnya kaisar turun takhta, pertempuran sporadis masih terus berlanjut di sepanjang perbatasan timur dan di luar kota Paris sampai disepakatinya gencatan senjata tanggal 4 Juli. Baru pada tanggal 15 Juli, Napoleon menyerahkan dirinya ke skuadron Inggris di Rochefort yang selanjutnya membuangnya kembali ke pulau Saint Helena, tempat dia akhirnya meninggal dunia pada tanggal 5 Mei 1821.

Sementara itu di Italia, Joachim Murat yang masih menjadi Raja Napoli setelah menyerahnya Napoleon, sekali lagi menunjukkan loyalitas yang tinggi kepada saudara iparnya itu dengan melancarkan perang Neapolitan (bulan Maret sampai Mei 1815). Dia berharap mendapat dukungan para nasionalis yang saat itu sedang dilanda ketakutan atas berkembangnya pengaruh Habsburg. Tetapi dukungan yang diharapkannya tidaklah datang, dan akhirnya datanglah pasukan Austria sehingga pecah pertempuran Tolentino pada tanggal 2-3 Mei 1815 yang memaksanya untuk melarikan diri. Dinasti Bourbon akhirnya kembali menduduki takhta Napoli pada tanggal 20 Mei 1815. Murat dieksekusi di depan regu tembak pada tanggal 13 Oktober 1815.

Pengaruh politik

Peperangan era Napoleon membawa perubahan besar di Eropa. Meskipun hampir semua wilayah di Eropa Barat di bawah kekuasaan Napoleon (prestasi yang hanya bisa dibandingkan dengan kekaisaran Romawi tempo dulu), peperangan antara Perancis dengan kekuatan lain di benua Eropa selama lebih dari dua dekade akhirnya sampai pada titik penghabisan. Setelah peperangan era Napoleon berakhir, dominasi Perancis di Eropa praktis lenyap, dan kembali lagi seperti pada masa Louis XIV.

Inggris akhirnya muncul sebagai negara superpower di dunia dan tidak dapat dibantah lagi bahwa angkatan laut Inggris menjadi yang terkuat di dunia, demikian juga mereka menjadi negara maju di bidang ekonomi dan industri.

Hampir di semua negara Eropa, cita-cita dari Revolusi Perancis (seperti demokrasi, hak dan persamaan dalam bidang hukum, dll.) mulai diadopsi. Hal ini mengakibatkan sulitnya para raja di Eropa mengembalikan hukum lama mereka dan terpaksa tetap memegang hukum-hukum yang diterapkan oleh Napoleon. Bahkan hingga hari ini beberapa dari hukum tersebut masih dipakai, misalnya di banyak negara Eropa hukum sipilnya jelas-jelas mengadopsi kode Napoleon.

Faham nasionalisme yang relatif baru saat itu dengan cepat berkembang di Eropa dan nantinya banyak memengaruhi jalannya sejarah di sana, mulai dari berdirinya negara baru atau berakhirnya suatu negara. Peta politik di Eropa berubah drastis setelah era Napoleon, tidak lagi berbasis aristrokat atau monarki mutlak tetapi berdasarkan kerakyatan. Era Napoleon telah menyebarkan benih bagi berdirinya negara Jerman modern dan Italia modern dengan bergabungnya negara-negara bagian dan juga kerajaan-kerajaan kecil.

Ide lain yang diadopsi dari Napoleon (walaupun dia sendiri gagal mewujudkannya) adalah harapannya untuk mewujudkan Eropa yang bersatu (ide ini digulirkan lagi setelah berakhirnya Perang Dunia II. Ide ini kini sudah diwujudkan dengan adanya mata uang tunggal Uni Eropa, Euro.

Warisan militer

Peperangan era Napoleon juga memberikan perubahan yang sangat besar di dunia militer. Sebelum era Napoleon, negara-negara di Eropa biasanya memiliki tentara dalam jumlah sedikit dan itu pun banyak diisi oleh tentara bayaran – kadangkala mereka bertempur melawan negara asalnya sendiri. Inovasi militer yang timbul dalam era Napoleon yaitu mulai dikenalnya kekuatan rakyat yaitu jika seluruh rakyat ikut berperang.

Napoleon mempraktikkan inovasinya seperti yang dipertunjukkan pada pertempuran Austerlitz tahun 1805. Dengan taktik yang brilian untuk menghadapi musuh yang berjumlah lebih besar, ia memerintahkan pasukannya untuk senantiasa berpindah posisi secara cepat dari satu tempat ke tempat lainnya.

Tentara Perancis juga memperbaiki aturan main untuk divisi artileri mereka, menjadi kesatuan terpisah dan dapat bergerak cepat. Hal ini mengubah tradisi sebelumnya, yaitu tradisi artileri hanya digunakan sebagai alat untuk mendukung suatu pasukan. Napoleon juga membuat standardisasi ukuran bola-bola meriam agar mudah dibawa dan bisa dipakai di semua jenis artileri.

Dengan populasi jiwa terbesar keempat di dunia saat itu, yaitu sekitar 27 juta jiwa (seperti juga Inggris yang berjumlah 12 juta jiwa dan Rusia sekitar 30 sampai 40 juta jiwa), Napoleon dapat mengambil keuntungan dari diberlakukannya wajib militer. Banyak pengamat militer saat ini yang salah persepsi dengan menyatakan bahwa ide wajib militer ini sudah berkembang sejak revolusi Perancis bukan dari Napoleon. Memang tidak semua inovasi militer dari era Napoleon. Adalah Lazare Carnot yang memberi sumbangan besar dalam menata ulang tentara Perancis dari tahun 1793 sampai dengan tahun 1794.

Besarnya jumlah pasukan yang terlibat telah mengubah dunia militer saat itu. Sebelum era Napoleon, pada saat perang 7 tahun (1756-1763), hanya sedikit yang terlibat, paling banyak 200 ribu orang saja. Bandingkan dengan Perancis pada tahun 1790-an, telah memperbanyak jumlah personel-nya menjadi 1,5 juta jiwa. Dan total sekitar 2,8 juta personel yang bertempur di daratan dan 150 ribu di laut, sehingga jumlah keseluruhan tentara yang terlibat menjadi hampir 3 juta personel.

Inggris memiliki 747.670 tentara antara tahun 1792 sampai dengan 1815. Ditambah lagi dengan seperempat juta personel di laut. Pada bulan September 1812, Rusia memiliki sekitar 904 ribu tentara yang terdaftar, dan antara tahun 1799 sampai dengan 1815 memiliki total 2,1 juta personel, kemungkinan sekitar 400 ribu bergabung antara tahun 1792 sampai dengan 1799. Sedangkan di laut, Rusia memiliki 200 ribu tentara sejak tahun 1792 hingga 1815.

Austria memiliki 576 ribu tentara dan hanya sedikit atau tidak memiliki kekuatan di lautan. Mereka memberikan perlawanan terus-menerus kepada Perancis sehingga kemungkinan besar tentara yang terlibat bisa mencapai 1 juta sampai berakhirnya perang. Prusia hanya mempunyai 320 ribu tentara saja selama perang ini, sedangkan Spanyol sekitar 300 ribu ditambah beberapa unit pasukan yang bergerilya.

Amerika Serikat mengirim 286.730 personel, sedangkan konfederasi Maratha, Kesultanan Utsmaniyah, Italia, Napoli dan Kadipaten Warsawa menyumbang lebih dari 100 ribu personel. Bahkan setelah perang berakhir, banyak negara-negara kecil yang memiliki pasukan berkekuatan besar juga.

Tetapi data jumlah tentara yang disebutkan tadi berasal dari sumber militer resmi dan sering pada kenyataannya jumlahnya jauh lebih sedikit dikarenakan banyaknya tentara yang desersi, penipuan oleh komandan lapangan yang menyetor daftar prajurit yang dilebih-lebihkan untuk mengambil keuntungan dari gaji yang diberikan pemerintah kepada unitnya, kematian, dan di beberapa negara bahkan terang-terangan berbohong untuk memenuhi jumlah tentara yang ditargetkan.

Bangkitnya Revolusi Industri sendiri pada tahap awal banyak dipengaruhi oleh besarnya jumlah pasukan militer. Karena hal ini menjadikan banyak pabrik yang harus memproduksi senjata dan peralatan militer lainnya dalam jumlah besar. Inggris merupakan produsen peralatan perang yang terbesar selama konflik ini, mereka mengirimkan sebagian besar senjata ini kepada sekutu-sekutunya (dan hanya memakainya sedikit). Sebaliknya Perancis yang juga menjadi produsen peralatan perang nomor dua terbesar, memproduksinya untuk memperlengkapi pasukannya sendiri dan juga sekutu-sekutunya.

Warisan untuk dunia militer lainnya adalah digunakannya semaphore oleh Perancis untuk saling berkomunikasi antara Menteri Perang, Carnot, dengan pasukan di perbatasan selama tahun 1790-an. Dan Perancis tetap mempergunakan sistem ini sampai peperangan era Napoleon berakhir. Dan perlu ditambahkan pula bahwa pada konflik inilah pertama kali Perancis menggunakan balon udara untuk memantau posisi musuh pada pertempuran Fleurus, 26 Juni 1794, juga digunakannya roket serta meriam yang telah disempurnakan.


Sumber: https://abovethefraymag.com/empire-defense-apk/

Robot lunak GE membuat lubang seperti cacing tanah raksasa

Robot lunak GE membuat lubang seperti cacing tanah raksasa

 

Robot lunak GE membuat lubang seperti cacing tanah raksasa
Robot lunak GE membuat lubang seperti cacing tanah raksasa

Robot cacing tanah raksasa tidak ada dalam daftar hal-hal yang saya harapkan ketika saya masuk pagi ini. Tapi itu di sini,

dan aku di sini untuk itu. Dirancang oleh sebuah tim di GE Research, robot tersebut mendapatkan penghargaan $ 2,5 juta sebagai bagian dari Underminer DARPA. Program ini dibuat untuk mendorong penggalian terowongan cepat di lingkungan militer.

Seperti semua kemarahan dalam robotika hari ini, tim GE beralih ke inspirasi biologis untuk melaksanakan tugas. Apa yang mereka hasilkan adalah robot besar, tersegmentasi dan lunak yang inci seperti cacing tanah mekanik raksasa.

Otot-otot robot dirancang untuk meniru “kerangka hidrostatik” – struktur berisi cairan yang ditemukan pada invertebrata.

Dalam kasus robot, otot buatanlah yang melakukan kerja keras untuk menggerakkannya ke depan, dengan desain yang membuatnya dapat beradaptasi dengan lingkungan bawah tanah yang berbeda. Desainnya menawarkan berbagai kebebasan bergerak, bersama dengan kemampuan untuk masuk ke ruang sempit.

Kunci lain untuk sukses adalah membangun sensor yang tepat yang memungkinkannya berfungsi secara mandiri di bawah tanah. Lagipula itu bisa sulit untuk mengendalikan robot dari jarak jauh dalam skenario seperti itu.

“Karena sistem tunneling ini berada di bawah tanah, kita harus mampu membangun kemampuan otonom dan sensing yang

memungkinkan robot kita untuk bergerak dan terowongan di tempat yang tepat,” kata pemimpin proyek Deepak Trivedi

dalam rilisnya. “Untungnya, kami dapat menarik kontrol, AI dan merasakan para ahli dari seluruh Lab untuk membantu kami mengintegrasikan kemampuan baru ini.”

Proyek ini menjanjikan, tetapi masih jauh dari selesai. Tujuan akhirnya adalah robot yang dapat menggali terowongan 500 meter dan bergerak pada 10 cm / detik di bawah tanah. Cuplikan video lab di atas di GE’s Niskayuna, NY dipercepat 4x.

Baca Juga:

Google Cloud mendapatkan kemenangan kontrak pertahanan untuk alat manajemen multi-cloud Anthos

Google Cloud mendapatkan kemenangan kontrak pertahanan untuk alat manajemen multi-cloud Anthos

 

Google Cloud mendapatkan kemenangan kontrak pertahanan untuk alat manajemen multi-cloud Anthos
Google Cloud mendapatkan kemenangan kontrak pertahanan untuk alat manajemen multi-cloud Anthos

Google keluar dari pertarungan kontrak cloud JEDI Pentagon cukup awal dalam permainan, mengutip itu bertentangan dengan “prinsipal AI-nya.” Namun, hari ini perusahaan mengumumkan kontrak tujuh digit baru dengan Unit Inovasi Pertahanan (DIU) DoD, sebuah kemenangan besar bagi unit cloud dan CEO Thomas Kurian.

Sementara perusahaan tidak akan secara spesifik mengenai jumlah tersebut, kontrak baru melibatkan penggunaan Anthos,

alat yang diumumkan perusahaan tahun lalu untuk mengamankan lingkungan multi-cloud DIU. Terlepas dari kontrak JEDI yang melibatkan satu vendor, DoD selalu menggunakan solusi dari ketiga vendor cloud utama – Amazon, Microsoft dan Google – dan solusi ini akan memberikan cara untuk memantau keamanan di ketiga lingkungan, menurut perusahaan.

“Multi-cloud adalah masa depan. Mayoritas bisnis komersial menjalankan lingkungan multi-cloud dengan aman dan mulus,

dan ini sekarang juga datang ke pemerintah federal, ”Mike Daniels, Wakil Presiden Sektor Publik Global di Google Cloud mengatakan kepada TechCrunch.

Idenya adalah untuk mengelola keamanan di tiga lingkungan dengan bantuan dari vendor keamanan cloud Netskope , yang juga merupakan bagian dari kesepakatan. “Solusi multi-cloud akan dibangun di atas Anthos, memungkinkan DIU untuk menjalankan layanan web dan aplikasi di Google Cloud, Layanan Web Amazon, dan Microsoft Azure – sementara dikelola secara terpusat dari Google Cloud Console,” tulis perusahaan itu dalam sebuah pernyataan.

Daniels mengatakan bahwa sementara ini adalah kesepakatan dengan DIU, dia bisa melihatnya meluas ke bagian lain dari DoD. “Ini adalah kontrak dengan DIU, tetapi harapan kami adalah bahwa DoD akan melihat proyek sebagai model untuk bagaimana menerapkan postur keamanan mereka sendiri.”

Google Cloud Platform tetap jauh di belakang dalam paket infrastruktur cloud , di tempat ketiga dengan sekitar 8% pangsa

pasar. Untuk konteksnya, AWS memiliki sekitar 33% pangsa pasar dan Microsoft memiliki sekitar 18%.

Sementara JEDI, hadiah $ 10 miliar, pemenang-ambil-semua tetap terperosok dalam kontroversi dan pertempuran yang sedang berlangsung antara The Pentagon, Amazon dan Microsoft, kesepakatan ini menunjukkan bahwa departemen pertahanan sedang mencari teknologi canggih seperti Anthos untuk membantunya mengelola sebuah dunia multi-cloud terlepas dari apa yang terjadi dengan JEDI.

Sumber:

https://abovethefraymag.com/seva-mobil-bekas/

Apple dan Google meluncurkan pemberitahuan pemberitahuan eksposur, memungkinkan otoritas kesehatan masyarakat untuk merilis aplikasi

Apple dan Google meluncurkan pemberitahuan pemberitahuan eksposur, memungkinkan otoritas kesehatan masyarakat untuk merilis aplikasi

 

 

Apple dan Google meluncurkan pemberitahuan pemberitahuan eksposur, memungkinkan otoritas kesehatan masyarakat untuk merilis aplikasi
Apple dan Google meluncurkan pemberitahuan pemberitahuan eksposur, memungkinkan otoritas kesehatan masyarakat untuk merilis aplikasi

apel dan Googlehari ini menyediakan versi publik pertama dari API pemberitahuan eksposur mereka, yang pada awalnya memulai debutnya sebagai alat perangkat lunak pelacakan kontak bersama. Para mitra kemudian menamainya menjadi sistem Pemberitahuan Paparan untuk lebih akurat mencerminkan fungsinya, yang dirancang untuk memberi tahu orang-orang tentang potensi paparan kepada orang lain yang telah mengkonfirmasi kasus COVID-19, sambil menjaga privasi di sekitar pengidentifikasian info dan data lokasi.

Peluncuran hari ini berarti bahwa badan kesehatan masyarakat sekarang dapat menggunakan APIdalam aplikasi yang dirilis ke masyarakat umum. Hingga saat ini, Apple dan Google hanya merilis versi beta API untuk membantu proses pengembangan.

Agar lebih jelas, peluncuran ini berarti bahwa pengembang yang bekerja atas nama lembaga kesehatan masyarakat sekarang dapat menerbitkan aplikasi yang memanfaatkannya – Apple dan Google sendiri tidak membuat aplikasi paparan-notifikasi atau penelusuran-kontak. Perusahaan-perusahaan mengatakan bahwa banyak negara bagian AS dan 22 negara di lima benua telah meminta, dan telah diberi akses ke, API untuk mendukung upaya pembangunan mereka, dan mereka mengantisipasi lebih banyak akan ditambahkan ke depan. Sejauh ini, Apple dan Google mengatakan mereka telah melakukan lebih dari 24 briefing dan pembicaraan teknologi untuk pejabat kesehatan masyarakat, ahli epidemiologi dan pengembang aplikasi yang bekerja atas nama mereka.

API pemberitahuan eksposur berfungsi menggunakan sistem pengidentifikasi terdesentralisasi yang menggunakan kunci sementara yang dibuat secara acak yang dibuat pada perangkat pengguna (tetapi tidak terikat dengan identitas atau info spesifik mereka). Apple dan Google API memungkinkan lembaga kesehatan masyarakat untuk menentukan apa yang merupakan potensi paparan dalam hal waktu dan jarak yang terekspos, dan mereka dapat mengubah risiko penularan dan faktor-faktor lain sesuai dengan standar mereka sendiri.

Lebih lanjut, Apple dan Google akan memungkinkan aplikasi untuk menggunakan kombinasi API dan data pengguna yang dikirimkan secara sukarela yang mereka berikan melalui aplikasi individual untuk memungkinkan otoritas kesehatan masyarakat untuk menghubungi pengguna yang terpapar secara langsung untuk membuat mereka mengetahui langkah-langkah apa yang harus mereka ambil.

Selama pengembangan API, Apple dan Google telah melakukan berbagai perbaikan untuk memastikan bahwa privasi adalah pertimbangan terbaik, termasuk mengenkripsi semua metadata Bluetooth (seperti kekuatan sinyal dan daya pancar tertentu), karena itu berpotensi dapat digunakan untuk menentukan jenis apa perangkat digunakan, yang menawarkan kemungkinan tipis untuk menghubungkan individu dengan perangkat tertentu dan menggunakannya sebagai satu vektor untuk identifikasi.

Perusahaan juga secara eksplisit melarang penggunaan API di aplikasi apa pun yang juga mencari izin informasi geolokasi

dari pengguna – yang berarti beberapa aplikasi sedang dikembangkan oleh otoritas kesehatan masyarakat untuk pelacakan kontak yang menggunakan data geolokasi tidak akan dapat mengakses API pemberitahuan paparan . Itu telah mendorong beberapa orang untuk mempertimbangkan kembali pendekatan mereka yang ada .

Apple dan Google memberikan pernyataan bersama berikut tentang API dan bagaimana hal itu akan mendukung upaya penelusuran kontak yang dilakukan oleh pejabat dan lembaga kesehatan masyarakat:

Salah satu teknik paling efektif yang telah digunakan pejabat kesehatan masyarakat selama wabah disebut pelacakan kontak. Melalui pendekatan ini, pejabat kesehatan masyarakat menghubungi, menguji, merawat, dan memberi nasihat kepada orang-orang yang mungkin telah terpapar oleh orang yang terkena dampak. Satu elemen baru pelacakan kontak adalah Pemberitahuan Paparan: menggunakan teknologi digital pelestarian privasi untuk memberi tahu seseorang bahwa mereka mungkin telah terpapar virus. Exposure Notification memiliki tujuan khusus pemberitahuan cepat, yang sangat penting untuk memperlambat penyebaran penyakit dengan virus yang dapat disebarkan tanpa gejala.

Untuk membantu, Apple dan Google bekerja sama untuk membangun teknologi Pemberitahuan Paparan yang akan

memungkinkan aplikasi yang dibuat oleh lembaga kesehatan masyarakat untuk bekerja lebih akurat, andal dan efektif di kedua Androidtelepon dan iPhone. Selama beberapa minggu terakhir, kedua perusahaan kami telah bekerja bersama, menjangkau para ilmuwan pejabat kesehatan masyarakat, kelompok privasi dan pemimpin pemerintah di seluruh dunia untuk mendapatkan masukan dan bimbingan mereka.

Mulai hari ini, teknologi Pemberitahuan Paparan kami tersedia untuk lembaga kesehatan masyarakat di iOS dan Android. Apa yang kami bangun bukanlah aplikasi – melainkan lembaga kesehatan masyarakat akan memasukkan API ke dalam aplikasi mereka sendiri yang dipasang orang. Teknologi kami dirancang untuk membuat aplikasi ini bekerja lebih baik. Setiap pengguna dapat memutuskan apakah akan ikut serta atau tidak ke Pemberitahuan Paparan; sistem tidak mengumpulkan atau menggunakan lokasi dari perangkat; dan jika seseorang didiagnosis dengan COVID-19, terserah mereka apakah akan melaporkannya di aplikasi kesehatan masyarakat atau tidak. Adopsi pengguna adalah kunci keberhasilan dan kami percaya bahwa perlindungan privasi yang kuat ini juga merupakan cara terbaik untuk mendorong penggunaan aplikasi ini.

Saat ini, teknologi ini ada di tangan lembaga kesehatan masyarakat di seluruh dunia yang akan memimpin dan kami akan terus mendukung upaya mereka.

Perusahaan-perusahaan sebelumnya mengumumkan rencana untuk membuat Pemberitahuan Paparan fitur tingkat sistem

dalam pembaruan kemudian untuk kedua sistem operasi mobile masing-masing, yang akan dirilis beberapa waktu kemudian tahun ini. Namun, bagian “Fase dua” dari strategi ini mungkin sedang direvisi, karena Google dan Apple mengatakan mereka terus berbicara dengan otoritas kesehatan masyarakat tentang fitur tingkat sistem apa yang akan berguna bagi mereka dalam pengembangan mitigasi COVID-19 mereka. strategi.

Sumber:

https://anchorstates.net/seva-mobil-bekas/

Huawei berencana perkenalkan perangkat layar lipat 5G di MWC 2019

Huawei berencana perkenalkan perangkat layar lipat 5G di MWC 2019

Huawei berencana perkenalkan perangkat layar lipat 5G di MWC 2019

Huawei dilaporkan mengadakan demo tertutup dari prototipe perangkat 5G dengan layar yang dapat dilipat untuk sejumlah operator Korea.

Menurut media lokal ETNews, dikutip dari GSM Arena, Selasa, seorang pejabat

pemerintah mengonfirmasi Huawei tengah mengembangkan produk dengan layar yang dapat dilipat yang mendukung jaringan generasi selanjutnya.

Sementara itu, Kantor berita Korea mengatakan rencana Huawei adalah memperkenalkan perangkat tersebut dalam pameran teknologi Mobile World Congress (MWC) 2019.

Menurut laporan itu, Huawei cukup siap dengan produk tersebut.

Ketika tidak dilipat, ponsel 5G tersebut akan memiliki layar 8 inci, sementara saat dilipat ponsel akan berukuran 5 inci.

Ukuran layar ini sedikit lebih besar dari prototipe ponsel layar lipat Samsung

yang memiliki ukuran 7,3 inci saat tidak dilipat dan 4,6 inci saat dilipat.

Huawei menggunakan layar pabrikan BOE, sebuah perusahaan pembuat layar dengan markas besar di Beijing dan pusat R&D di seluruh dunia.

Meski perusahaan teknologi asal China itu mempresentasikan idenya

kepada para perwakilan telekomunikasi dan pejabat pemerintah Korea, tidak seorang pun perwakilan dari Huawei Korea mengkonfirmasi jika perangkat tersebut benar-benar akan meluncur di negara Asia.

 

Baca Juga :

Go-Jek akan perluas layanan Go-Car L

Go-Jek akan perluas layanan Go-Car L

Go-Jek akan perluas layanan Go-Car L

Penyedia layanan on-demand berbasis aplikasi, Gojek, berencana untuk memperluas

layanan Go-Car L (Large).

“Kita baru luncurkan di Surabaya, bentuknya pun sementara ini masih pilot. Sekarang respons-nya cukup baik, jadi tidak menutup kemungkinan untuk expand ke kota-kota lainnya,” ujar VP Corporate Affairs Go-Jek Michael Say dalam temu media di Kantor Go-Jek Jakarta, Jumat.

Sayangnya, Michael mengatakan bahwa Go-Jek belum menentukan kota-kota tersebut. Namun, dari postingan di situs resminya yang diunggah belum lama ini, Go-Jek menyebutkan bahwa layanan Go-Car L telah tersedia pula di Bandung.

Layanan Go-Car dapat melayani pelanggan hingga enam penumpang dalam satu mobil

miliki mitra pengemudi yang memiliki mobil berkapasitas besar.

Layanan ini, menurut Michael, menguntungkan baik mitra pengemudi maupun pelanggan. Mitra pengemudi akan mendapat tarif yang lebih tinggi hingga 20 persen, sementara konsumen dapat menghemat biaya.

Layanan lain yang telah dikembangkan Go-Jek adalah tipping. Sebelumnya, fitur tersebut hanya tersedia untuk layanan Go-Ride dan Go-Car, namun kini Go-Jek memperluas fitur tersebut untuk layanan Go-Send dan Go-Food.

Hal ini terkait dengan keluhan mitra pengemudi yang terbebani biaya tambahan,

seperti biaya parkir dan tol, saat melayani pelanggan. Dengan tipping, menurut Michael, pelanggan dapat dengan mudah membayar biaya tambahan.

Selain menyediakan fitur, untuk meningkatkan kesadaran pelanggan, Go-Jek juga telah membuat kampanye “Kasih Lebih”.

 

sumber :

https://sel.co.id/seva-mobil-bekas/