Pembentukan ruang simbolik baru

Pembentukan ruang simbolik baru

Pembentukan ruang simbolik baru
Pembentukan ruang simbolik baru

Integrasi ekonomi ke tatanan ekonomi global telah terbukti juga merupakan integrasi sosial budaya ke dalam suatu tatanan dunia, yang kehadirannya dapat dilihat di kalangan penduduk kota. Revolusi teknologi elektronik dan teknologi komunikasi/ trasnportasi telah merupakan jembatan yang menghubungkan berbagai tempat dengan berbagai belahan dunia lain. Hal yang mencolok terjadi dalam kecenderungan ini adalah tumbuhnya consumer culutre di kota-kota yang merupakan proses dari ekspansi pasar. Dasar materi yang tampak dalam prosesmkonsumsi penduduk kota menunjukkan satu usaha aktif penduduk dalam membangun identitas pribadi. Perubahan-perubahan di kota terjadi disebabkan oleh ledakan penduduk. Laju pertumbuhan penduduk di kota berasal dari peningkatan jumlah pendatang dari daerah pedesaan dan dari kota-kota lain yang lebih kecil. Pemusatan kegiatan ekonomi di kota-kota besar telah menyebabkan konfigurasi penduduk semakin terpusat di wilayah perkotaan.

Ada beberapa implikasi dari tekanan penduuduk di perkotaan. Pertama, tingkat kepadatan penduduk yang tinggi akan membawa implikasi pada fasilitas publik perkotaan. Berbagai sarana dan prasarana menjadi kurang memadai. Kedua, tingkat kepadatan penduduk yang tinggi mempengaruhi pengelolaan ruang yang lebih rumit, yang secara langsung mempengaruhi harga tanah. Dengan naiknya harga tanah, biaya hidup di perkotaan menjadi semakin tinggi. Ketiga, kenyamanan untuk tinggal di kota menjadi persoalan penting akibat tekanan penduduk. Polusi udara dan suara, rawan kebakaran, kecelakaan, dan tingkat kriminalitas merupakan faktor yang mempengaruhi kenyamanan.

Konteks ruang tersebut telah mengubah kota menjadi suatu ruang konsumsi yang membentuk suatu gaya hidup kota. Dua proses merupakan tanda dari transformasi sosial perkotaan semacam ini, yaitu proses konsumsi simbolis dan transformasi estetis. Proses konsumsi simbolis merupakan tanda penting dari pembentukan gaya hidup di mana nilai-nilai simbolis dari suatu produk dan praktik telah mendapat penekanan yang besar dibandingkan dengan nilai-nilai kegunaan dan fungsional. Hal ini paling tidak dapat dijelaskan dengan tiga cara. Pertama, kelas sosial telah membedakan proses konsumsi di mana setiap kelas menunjukkan proses identifikasi yang berbeda. Nilai simbolis dalam konsumsi tampak diinterpretasikan secara berbeda oleh kelompok yang berbeda. Pasar dalam masyarakat seperti ini lebih berfungsi sebagai pembatas dan penegas batas-batas kelompok.

Kedua, barang yang dikonsumsi kemudian menjadi wakil dari kehadiran. Hal ini berhubungan dengan aspek-aspek psikologis di mana konsumsi suatu produk berkaitan dengan perasaan atau rasa percaya diri yang menunjukkan bahwa itu bukan hanya sekedar aksesoris, tetapi barang-barang merupakan isi dari kehadiran seseorang karena dengan cara itu ia berkomunikasi (Goffman, 1951). Demikian pula bagi kelompok yang memiliki wilayah pertukaran sosial terbatas, maka ia tidak merasa membutuhkan suatu benda atau praktik. Perbedaan kelompok disini memperlihatkan perbedaan wilayah, dimana wilayah tersebut telah menjadi wilayah kebudayaan yang memiliki orientasi dan bentuk-bentuk pertukaran sosial yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa proses konsumsi itu juga bersifat fungsional karena melayani atau disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok.

Ketiga, berdasarkan proses konsumsi dapat dilihat bahwa konsumsi citra (image) disatu pihak telah menjadi konsumsi yang penting dimana citra yang dipancarkan oleh suatu produk dan praktik (seperti pakaian atau makanan) merupakan alat ekspresi diri bagi kelompok. Bagi kelas menengah citra yang melekat pada suatu produk (global) merupakan instrumen modernitas yang mampu menegaskan keberadaannya dan identitasnya. Dalam proses konsumsi dan pergeseran orientasi kehidupan kota, referensi tradisional tampak melemah. Hal ini terutama disebabkan oleh kebudayaan lebih terikat pada lokalitas yang spesifik dan kendali kelas yang tegas. Dalam seting sosial baru seperti kota-kota baru, simbol-simbol lebih merupakan sesuatu yang dikonstruksikan untuk kepentingan-kepentingan yang lain yang kemudian menciptakan kultur tersendiri yang tidak terintegrasi ke dalam sistem kebudayaan di luarnya.

Sumber : https://jalantikus.app/