Pengertian pasar komoditas

Pengertian pasar komoditas

Pasar komoditas merupakan pasar yang dikembangkan bersama dengan dewan syariah nasionla majelis ulama Indonesia (DSN-MUI) untuk mendukung aktivitas industri keuangan syariah di Indonesia. Industri keuangan dunia menggunakan transaksi jual beli sebagai underlying aktivitas bisnisnya. DSN-UMI melihat potensi bahwa Indonesia sebagai penghasil terbesar komoditi dan JFX sebagai bursa komoditas.

Komoditas merupakan barang yang diperdagangkan dan laku di pasaran dunia internasional. Komoditas yang diperjual belikan merupakan hasil pertanian, pertambangan ,industri kayu dan jasa yang memiliki standar internasional.

  1. Fungsi pasar komoditas

Ada beberapa fungsi pasar komoditas ;

  1. Tempat informasi tentang jenis barang yang diperdangkan di pasar dunia
  2. Tempat mengadakan transaksi jual beli berbagai komoditas
  3. Tempat informasi tentang negara yang membutuhkan barang/komoditas.
  1. Terdapat dua transaksi dalam pasar komoditas
  2. Transaksi efektif yaitu transaksi jual beli di bursa barang yang diakhiri dengan penyerahan barang dagangan.
  3. Transaksi spekulasi yaitu merupakan bentuk transaksi yang bersifat spekulasi saja, bukan merupakan transaksi murni, dengan tujuan penerimaan dan penyerahan barang di terima setelah beberapa bulan melakukan kesepakatan.

perdagangan internasional sudah dilakukan secara lebih mendalam dan mengglobal. Perkembangan teknologi, transformasi dan komunikasi yang semakin modern menjadi penyebab semakin menipisnya batas-batas antar negara.tujuan perdagangan adalah untuk memaksimumkan surplus perdagangan dimana ekspor melebihi impornya sehingga negara mendapat tambahan kekayaan (emas) yang besar.

Ketergantungan Indonesia pada perdagangan internasional sebagai mesin penggerak perekonomian nasional cukup besar. Beberapa menurut para ahli ekonomi bahwa  salah satu aktivitas perekonomian yang tidak dapat dilepaskan dari perdagangan internasional adalah aktivitas aliran modal, baik yang sifatnya masuk maupun keluar, dari suatu negara. Ketika terjadi aktivitas perdagangan internasional berupa kegiatan ekspor dan impor maka besar kemungkinan terjadi perpindahan faktor-faktor produksi dari negara eksportir ke negara importir yang disebabkan oleh perbedaan    biaya dalam proses perdagangan     internasional.

Perdagangan internasional (ekspor dan impor) dan FDI merupakan dua aktivitas penting bagi perekonomian Indonesia yang memiliki keterkaitan satu sama lainnya. Penelitian mengenai keterkaitan antara perdagangan internasional dan FDI pun telah banyak dilakukan baik itu di luar negeri maupun di Indonesia. Namun dengan adanya perbedaan tersebut  menyimpulkan bahwa terdapat hubungan satu arah atau hubungan dua arah dan hubungan positif antara perdagangan internasional dan FDI namun ada pula yang berhubungan negatif. Berdasarkan pemaparan tersebut, kajian mengenai hubungan antara FDI dan perdagangan internasional menjadi penting untuk dilakukan.

secara umum sistem pemasaran komoditas pertanian termasuk hortikultura masih menjadi bagian yang lemah dari aliran komoditas. Suatu sistem pemasaran yang efisien harus mampu memenuhi dua persyaratan yaitu: (1) mengumpulkan hasil pertanian dari produsen ke konsumen dengan biaya serendah-rendahnya; dan (2) mampu mendistribusikan pembagian balas jasa yang adil dari keseluruhan harga konsumen akhir kepada semua pihak yang terlibat mulai dari kegiatan produksi hingga pemasaran. Secara empiris di lapangan seringkali dijumpai bahwa para petani produsen tampaknya tetap saja menghadapi fluktuasi harga terutama saat panen, dan para pedaganglah yang dapat lebih akses untuk dapat memperoleh harga yang lebih tinggi tersebut terutama bagi pasar modern.

  1. Reformasi Perdagangan Sektor Pertanian

Sebagai negara agraris, perdagangan merupakan kunci keberhasilan pengembangan sistem agribisnis. Kesepakatan World Trade Organization (WTO) yang dicapai pada tahun 1994 melalui pertemuan Putaran Uruguay (Uruguay Round) diberlakukan mulai 1 Januari 1995 dan berakhir pada 31 Desember 2005. Kesepakatan di bidang pertanian (AoA) merupakan bagian sangat penting dalam kesepakatan umum tersebut. Sebagai salah satu negara yang ikut meratifikasi kesepakatan itu, Indonesia telah mengajukan komitmennya sebagaimana yang tertuang dalam Schedule XXI. Isi komitmen untuk perdagangan hasil-hasil pertanian penurunan tarif (tariff reduction), tarif kuota (quota tariff), pengamanan khusus (Special Safegard=SSG), dan subsidi ekspor (export subsidy).

Faktor-faktor dalam perdagangan dibagi menjadi faktor internal dan eksternal:

  1. Faktor internal

Faktor internal yang dapat meningkatkan volume impor adalah:

(i)                 penurunan areal tanam yang mengakibatkan penurunan produksi,

(ii)               rendahnya efisiensi usahatani sehingga daya saingnya rendah;

(iii)             peningkatan konsumsi hasil dari pertanian dalam negeri sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan industri olahan tani.

  1. Faktor Eksternal

Faktor eksternal dalam bahasan ini adalah faktor yang berasal dari luar sistem agribisnis, terutama kebijakan perdagangan, baik dari pemerintah sendiri maupun kebijakan negara lain. Sesuai dengan perjanjian pertanian (AoA= Agreement on Agriculture) dari WTO, segala bentuk proteksi, subsidi, dan pembatasan non tariff untuk impor harus secara bertahap dikurangi. Namun demikian, negara-negara maju justru sangat melindungi petaninya, baik dengan memberikan subsidi produksi maupun subsidi ekspor. Sampai batas tertentu, hal ini memang diperbolehkan dalam AoA yang baru disadari sekarang negara berkembang, mempunyai banyak kelemahan dan celah. Bantuan dalam kelemahan yang terdapat dalam hal ini dengan  berupa subsidi input atau peralatan untuk menekan biaya produksi, dan bisa juga berupa subsidi ekspor untuk pelaku usaha yang mengekspor usaha pertanian ke negara-negara importir. Kebijakan ini dilakukan untuk meningkatkan pendapatan petani dan eksportir di negara-negara maju.

https://radiomarconi.com/