Pengganti Muhammad Ghuri yang bergelar Qutbuddin

Sejarah Dan Perkembangan Kesultanan Delhi

Kesultanan ini didirikan pada 1206 oleh Qutub al-Din Aibak, Pengganti Muhammad Ghuri yang bergelar Qutbuddin, memulai karirnya sebagai budak. Karena ia cerdas dan mahir dalam berbagai ilmu terutama dibidang kemiliteran, maka Ghuri mengangkatnya sebagai kepala pengurusan kuda-kuda perang di istana. Setelah ia dibebaskan dalam belenggu perbudakan, Aibak dinikahkan dengan putrinya, dan diangkat menjadi panglima perang saat Ghurri menaklukan India di peperangan Tarin II. Sebelum Ghurri pulang ke Ghur, Qutub al-Din di tetapkan menjadi wakil tetap Ghurri di India. Setelah Ghurri wafat dan tidak ada yang datanag dari Ghur untuk memerintah India maka para pembesar istana mengangkat Aibak sebagai sultan di India.
Aibak Mendirikan Masjid Raya Delhi yang bernama Quwat al-Islam, dan membangun sebuah menara yang besar dan diberi nama Qutub Minar atas nama guru Spiritualnya, seorang ulama besar dan sufi dari tarekat Chistiyah yaitu Qutub al-Din Baktiar Ka’ki , yang sampai saat ini berdiri dengan megah dan menjadi perhatian para wisatawan karena kehebatan nilai arsitekturnya. Di Azmir didirikannya pula sebuah masjid raya yang memakai namanya.
Setelah Aibak wafat, putranya Aram Syah menjadi sultan, karean ia tidak cakap dan tidak punya kemampuan sama sekali dalam urusan negara , maka para pembesar istana Delhi mengangkat seorang raja Islam yang besar bernama Iltutmish (1211-1236). Dia juga karirnya sama dengan Aibak sebagai budak, ia menantu Aibak juga sedang menjabat menjadi gubernur Badaun. Dia adalah seorang raja Islam yang besar, pandai mengatur negara, dan berjasa. Ia melanjutkan kekuasaan dan perluasan kekuasaan Islam ke wilayah Utara dengan menaklukan negri Malwa. Jasa Iltutmish yang paling besar adalah karena kekuatan pribadinya, kuat persiapan, dan pertahanannya dapat membendung penjarahan Bangsa Mongol yang telah menghancurkan Samarkand, Bukhara, dan tanah Islam yang lain, yang dipimpin oleh Chengis Khan.
Sebelum wafat, Iltutmish menunjuk putrinya, Razia sebagai pengganti dengan alasan semua anak laki-lakinya tidak ada yang mampu. Para pembesar istana yang keberatan dengan sultan perempuan menganggkat Rukunuddin Firuz sebagai sultan, ternyata ia tidak mampu maka Razia diangkat kembali sebagai penguasa Delhi. Pada masa pemerintahannya terjadi pemberontakan dimana mana yang menolak sultan perempuan, akhirnya Razia jatuh dari kekuasaannya dan diganti oleh Bahram Shah, putra dari Iltutmish. Sama seperti saudaranya ia pun tak mampu memimpin.

Pamannya Nasiruddin, naik menjadi sultan pada 1246 M.

Sultan Nasiruddin (1246-1266) adalah sultan yang saleh dan paling baik pribadinya antara penguasa abad 13 M. ia hidup dengan menulis al- Qur’an dan menjahit topi pada waktu senggang. Ia juga tidak pernah menerima satu sen pun uang negara sebagai gaji, namun ia tidak memiliki anak laki laki. Sebagai penggantinya ia menunjk Ghiasuddin Balban (1266-1287) seorang pahlawan dan bekas budak sultan Iltutmish. Ia terkenal sebagai seorang raja dengan tangan besi, tetapi pada zamannya kebudayaan amat berkembang di Delhi. Lebih dari 15 orang raja dari luar Delhi, terutama bagian Iran mendapat perlindungan disana sebab segan kepada Bangsa Mongol, yang memerangi negri-negri mereka dibawah pimpinan keturunan Chengis Khan. Ia juga berjasa dapat menahan serangan Bangsa Mongol ke anak benua India. Balban dapat mengusir mereka, jasanya itu tidak bisa dilupakan oleh raja raja Islam sehingga ia diakui sebagai sultan (1266-1287). Harapan Sultan Balban akan memimpin kesultanan Delhi tidak terwujud, dikarnakan pangeran Muhammad yang ahli dalam urusan pemerintahan gugur dalam serangan bertubi tubi Bangsa Mongol, Sultan yang brkabung ini akhirnya meninggal. Putranya Bughra Khan menolak tawaran kursi Kesultanan Delhi sebab kondisi cuaca dan kesehatannya . Akhirnya cucunya, Kaikobad putra Bughra Khan diangkat menjadi sultan. Sultan Kaikobad tidak mampu menjalankan roda kepemerintahan dengan baik, akhrirnya para pembesar istana bersekongkol dan berhasil menjatuhkannya dengan menggantikan putranya Kaimus yang baru berumur tiga tahun menjadi sultan. Dengan sultan balita maka situasi sudah sangat kacau dan akhirnya dinasti ini berakhir dan berdiri Dinasti Khalji.

Sumber: https://vds.co.id/