Siti Sukaptinah atau biasa dikenal sebagai Nyonya Sunario Mangunpuspito

SITI SUKAPTINAH

Riwayat Hidup Siti Sukaptinah

Siti Sukaptinah atau biasa dikenal sebagai Nyonya Sunario Mangunpuspito Lahir di Yogyakarta tahun 1907 orang tuanya R. Sastra Wecana berasal dari kalangan abdi dalem. Masa kecilnya ia bersekolah di HIS (Hollandssch Inlandsche School) bentukan dari Hamengku Bowo, selain bersekolah Sukaptinah juga aktif di Siswapraja Wanita Muhammadiyah yang nantinya akan menjadi cikal bakal Nasiyatul Aisiyah. Setelah tujuh tahun menempuh pendidikan di HIS Sukaptinah melanjutkan pendidikannya ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Ngupasan, Sembari Aktif sebagai anggota di Jong Java. Pada tahun 1924 Siti Sukaptinah pindah ke Taman Siswa dan Melanjutkan pendidikannya hingga tamat pada tahun 1926. Sukaptinah merasa beruntung karena bisa langsung belajar dari Nyi dan Ki Hadjar Dewantara, dari merekalah Sukaptinah belajar nembang hingga bisa menggubah lagu sendiri.
Setelah lulus sukaptinah mengabdikan dirinya menjadi guru di Taman Siswa. Disini juga dia mulai menganal tokoh-tokoh gerakan perempuan yang juga menjadi guru tempat ia mengajar seperti Sri Wulandari yang dikenal sebagai Nyonya Mangun Sarkoro dan Sunaryati yang dikenal sebagai Nyonya Sukemi. Selain mengajar Sukaptinah juga aktif di Jong Islaminten Bond (JIB) dan menjadi ketua JIB Daames Afdelling Cabang Jogja. Dari organisasi inilah Sukaptinah dapat menjadi pengurus KPI (Konferensi Perempuan Indonesia). Pada 1929 Sukaptinah menikah dengan Sunaryo Mangunpuspito, pria yang dikenalnya ketika sama-sama aktif di Jong Java. Sunaryo merupakan lelaki yang progresif sehingga pernikahannya tidak menghambat keaktifan Sukaptinah dalam gerakan.
Pada tahun 1933 Sukaptinah diangkat menjadi ketua organisasi Istri Indonesia yang merupakan fusi dari organisasi-organisasi perempuan di Indonesia. Anggotanya antara lain adalah Maria Ulfah, Siti Danilah, dan Lasmidjah Hardi. Organisasi ini mempunyai majalah mingguan bernama Istri Indonesia. Organisasi ini berfungsi menyebarkan isu-isu mengenai perempuan, selain itu organisasi ini menanggapi masalah perempuan di ranah publik, mengawal isu tersebut dan menyelesaikannya di pemerintahan belanda. Setelah Belanda menyerah dan Jepang mengagresi Indonesia kondisi semarang menjadi morat-marit. Sukaptinah yang hamil tua bersama keluarganya pindah ke Yogyakarta. Tak lama setelah Sukaptinah melahirkan ia dipanggil Soekarno untuk menjadi ketua Fujinkai di Jakarta, yang setelah masa kemerdekaan ia ubah menjadi Persatuan Wanita Indonesia (Perwani)
Ketika BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Republik Indonesia) didirikan, Sukaptinah menjadi salah satu dari dua orang wanita yang ada di badan tersebut. Sukaptinah masuk di Panitia Ketiga yang membahas pembelaan Tanah Air. Ketika Indonesia merdeka Sukaptinah menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sekaligus bergabung dengan Masyumi sekaligus menjadi anggota Pengurus Besar Muslimat Masyumipada 1946. Agresi Belanda membuat kondisi indonesia kembali di masa perjuangan, karena rumah Sunaryo aktif untuk pergerakan maka Sukaptinah dan Sunaryo ditangkap oleh Sekutu dan di penjara Wirogunan kemudian dipindahkan ke Ambarawa. Sukaptinah baru dibebaskan setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949 kemudian setelah itu Sukaptinah melanjutkan perjuangannya.
Sukaptinah kemudian melanjutkan perjuangannya melalui Masyumi, pada Pemilu 1955 Sukaptinah mencalonkan diri sebagai wakil perempuan dari Masyumi untuk anggota DPR. Alhasil ia terpilih sebagai satu-satunya perempuan yang duduk di DPR sekaligus menjadi anggota Dewan Konstituante. Keaktifannya dalam tiga kota tidak membuat dirinya surut berjuang, rumah tangga di Yogyakarta, kerja DPR di Jakarta, dan Dewan Konstituante di Bandung. Masa Demokrasi Terpimpi era Soekarno mengakhiri perjuangannya di tiga kota karena partai yang menaunginya, Masyumi dibubarkan dan otomatis Sukaptinah keluar dari DPR.
Setelah pengeluaran Sukaptinah yang berujung kepulangannya ke Yogyakarta, Sukaptinah tetap berjuang menegakkan hak perempuan antara lain mendirikan Wanita Islam pada 1962. Selain itu ia juga membidani terbentuknya Badan Musyawarah Wanita Islam Yogyakarta (BMWIY), semacam forum kerjasama antar organisasi perempuan Islam di Yogyakarta. Atas jasanya di bidang politik dan gerakan perempuan pemerintah menganugerahi Bintang Mahaputra paa 1993, dua tahun setelah Sukaptinah meninggal.


Sumber: https://ngegas.com/