SMA Toshima Dialog Terbuka dengan SMA SRIT

SMA Toshima Dialog Terbuka dengan SMA SRIT

SMA Toshima Dialog Terbuka dengan SMA SRIT
SMA Toshima Dialog Terbuka dengan SMA SRIT

Senin 20 Februari lalu ada kejutan di SRIT. Sebuah kunjungan yang berbeda dengan kunjungan-kunjungan sekolah lainya. SMA Toshima dengan rombongan 7 siswa ( 4 putra dan 3 putri ) dan satu orang guru (Mr. Matshumoto Taka Aki) berkunjung ke SRIT dalam suasana hujan deras dan dingin yang menggigil di sore hari. Apa yang mengejutkan dari mereka?

SMA Toshima adalah sebuah sekolah milik pemerintah Tokyo yang terletak di wilayah Toshima dekat Ikebukuro. Kunjungan mereka ini bermula dari pertemuan Mr.Matshumoto Taka Aki dengan Mr.Ubedilah Badrun saat Bazar bulan Ramadhan Oktober tahun lalu di SRIT. Pada saat itu Mr.Toshima tertarik ingin mengajak berdialog antara siswa SMA Toshima dengan siswa-siswi SRIT yang mayoritas siswanya beragama Islam. Ada sesuatu yang menarik yang ingin diketahui Mr.Matshumoto tentang kehidupan beragama di SRIT dan tentang pendidikan di SRIT.

Sore itu (20 Feb) keingintahuan Mr.Matshumoto dan siswa-siswinya menjadi kenyataan. Dialog berlangsung menarik, dimulai dengan sambutan oleh wakil kepala sekolah bidang akademik (Mr.Ubedilah Badrun) kemudian dilanjutkan dengan dialog. Dialog berlangsung dari pertanyaan tentang sekolah SRIT dan Sekolah Toshima , sampai tentang apakah siswa-siswi muslim disini kesulitan untuk menemukan makanan yang halal?, tentang sholat? Dan lain-lain.

Ketika siswa SRIT menanyakan tentang kondisi pendidikan di SMA Toshima. Mereka mengemukakan bahwa secara umum sama saja dengan sekolah-sekolah Jepang lainya dengan fasilitas yang standar SMA di Jepang (punya lapangan olah raga yang luas, fasiltas yang beragam, dan media pemebelajaran yang mendukung). Nahh serunya lagi mereka juga mengemukakan bahwa kalau musim dingin mereka tidak menggunakan hitter dan kalau musim panas mereka tidak menggunakan AC. Wow..itulah semangat yang hebat dari manusia Jepang. Belajar berjalan terus meski musim dingin begitu menggigil dan musim panas begitu menggerahkan kelas-kelas mereka.

Hal menarik lainya adalah ketika dialog berkembang antara siswa siswi Toshima dengan siswa-siswi SRIT (Luthfi, Thea, Virgin, Ridho, Alvan). Dalam dialog itu ditemukan beberapa ungkapan menarik tentang keinginan mereka ingin mengetahui bagaimana ajaran Islam dijalankan. Menurut mereka puasa dan sholat subuh adalah dua kewajiban yang terlihat susah. Bagaiman hal itu bisa dilaksanakan? Siswa-siswi SRIT menjawab dengan penuh semangat bahwa jika sesuatu yang berat sudah menjadi kebiasaan dan menjadi kewajiban yang membuat perasaan damai maka semuanya akan terlihat begitu mudah. Selain itu ketertarikan mereka berdialog juga ternyata mereka penasaran ketika melihat di televisi tentang terorisme yang dikait-kaitkan dengan Islam sementara diantara mereka ada yang pernah ke Turki dan melihat keindahan masjid Turki yang nampak begitu indah dan mendamaikan. Mereka penasaran ingin tahu lebih banyak tentang ajaran ini. Nahh…selain itu ternyata di SMA Toshima ini Agama Islam adalah Ekskul pilihan disana dan yang ikut ekskul ini jumlahnya 11 siswa-siswi. Naah..ini yang mengejutkan.

Di penghujung acara Mr.Ubedilah Badrun mengemukakan bahwa pengajaran agama Islam di SRIT juga mengajarkan toleransi antar umat beragama, menghargai perbedaan agama yang ada di SRIT baik dengan Kristen, Katolik, maupun Hindu. Bahkan pernah mengadakan acara kerohanian dalam waktu yang sama yakni saat pesantren kilat, juga diadakan Retret bagi yang beragama Kristen dan pendalaman kitab suci bagi yang beragam Hindu. Inilah yang ditanamkan sejak dini di SRIT, menghargai perbedaan dan mencintai perdamaian. Terhadap pernyataan ini nampak rombongan SMA Toshima terkagum-kagum. Setelah acara ini berakhir kemudian diadakan foto bersama dan ramah-tamah sambil menikmati pisang goreng dan lemon tea. Sebuah ending yang mengasyikkan, semoga dialog terbuka seperti ini mampu memepererat hubungan cultural anatara dua bangsa yang memiliki akar-akar sejarah agama yang berbeda.

Baca Juga :