Upaya dalam melaksanakan gatt/wto oleh indonesia.

Upaya dalam melaksanakan gatt/wto oleh indonesia.

          Salah satunya dengan melakukan liberalisasi perdagangan di sektor pertanian. Kebijakan ini membawa dampak yang sangat signifikan terhadap perkembangan perdagangan komoditas agroindustri Indonesia. Salah satu kebijakan yang berpengaruh terhadap komoditas sektor agroindustri adalah pencabutan subsidi pupuk dan dilepaskannya distribusi pupuk kepada mekanisme pasar. Meski memiliki tujuan positif untuk meningkatkan daya saing di pasar internasional, ternyata kebijakan ini menimbulkan permasalahan baru di tingkat petani. Ketidaksiapan di tingkat pelaksana ternyata mengakibatkan biaya produksi tidak dapat ditanggung oleh harga jualnya karena terlalu tinggi. Kebijakan tersebut sangat mempengaruhi pertumbuhan produktivitas, serta kinerja daya saing komoditas agroindustri Indonesia di pasar global.

Pada komoditas yang langsung menggunakan pupuk sebagai salah satu faktor produksinya, seperti komoditas dengan kode ISIC golongan 0, kebijakan itu akan memberi pengaruh langsung pada penurunan kinerja daya saing. Penurunan yang paling banyak terjadi pada  komoditas , dengan penurunan masing- masing mencapai 0.20 dan 0.48. Kondisi ini, tentu akan berimbas pada komoditas- komoditas yang menggunakannya sebagai input  antara (intermediate input) karena produk akhirnya (final output) akan semakin berdaya saing rendah karena biaya produksinya akan semakin tinggi.

Salah satu sasarannya adalah untuk mendukung peningkatan ekspor dan substitusi impor melalui perkembangan tanaman rempah dan penyegar dengan melakukan indikator yaitu :

 (1) mengembangkan tanaman cengkeh, pala, kopi, kakao, lada, dan teh,

 (2) memberdayakan pekebun tanaman rempah dan penyegar,

(3) mengembangkan sumber benih tanaman rempah dan penyegar,

dan (4) koordinasi pengembangan tanaman rempah dan penyegar.

secara umum daya saing ekspor rempah Indonesia mengalami pergeseran dari kategori pengembangan ke kategori potensial selama periode pra dan pasca krisis ekonomi. Namun demikian tidak semua (ekspor) komoditas rempah Indonesia memiliki daya saing yang tinggi dan faktor keterikatan mata rantai perdagangan rempah dengan negara-negara ASEAN yang lebih mendominasi dalam aliran perdagangan rempah Indonesia. Untuk itu penekanan pada konsolidasi internal pada subsektor perkebunan komoditas rempah menjadi langkah awal yang lebih realistis dalam mensiasati peningkatan daya saing rempah tersebut. Hal ini karena komoditas rempah belum menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi dan masih dibudidayakan secara sederhana serta terbatas. Oleh sebab itu, solusi peningkatan daya saing harus dilakukan secara terintegrasi, yaitu mulai dari (1) budidaya rempah yang meliputi teknik dan teknologi budidaya, (2) pasca budidaya melalui pengembangan industri hilir rempah, dan (3) kebijakan perdagangan yang mencakup fasilitasi perdagangan rempah. Teknik dan teknologi budidaya rempah bertujuan menstimulasi kenaikan daya saing. Selanjutnya tantangan dan permasalahan dalam teknik budidaya menyangkut solusi terhadap (a) serangan hama dan penyakit, seperti hama penggerek batang yang menyerang cengkeh, penyakit foot root pada lada hitam, dan sebagainya, (b) banyaknya tumbuhan rempah yang diperbanyak dengan vegetatif sehingga menyebabkan terbatasnya variabilitas genetik untuk program perbanyakan, contohnya pada tanaman pala yang berbeda akan sulit berbuah tanpa tanaman jantan, (c) kebutuhan penyerbukan buatan pada vanili, sehingga membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak sehingga tidak feasible secara ekonomi . Sedangkan dari sisi pengembangan teknologi budidaya rempah, petani rempah banyak terkendala dengan keterbatasan modal dan informasi.

Adapun komoditas rempah yang potensial untuk diperdagangkan adalah vanili, kayu manis, jahe, kunyit, safron, timi, daun salam, daun kari, dan lada. Sedangkan komoditas rempah yang memerlukan pengembangan lebih lanjut  adalah cengkeh. Di sisi lain intensitas kompetisi komoditas rempah negara-negara ASEAN di pasar Indonesia cenderung menurun antara periode pra dan pasca krisis ekonomi. Meskipun tidak dominan, Indonesia perlu mewaspadai kompetitor rempah lain, yaitu Filipina untuk lada, Thailand untuk vanili, dan Malaysia untuk cengkeh. Secara umum daya saing rempah Indonesia sangat potensial untuk ditingkatkan di masa mendatang, di samping sumber dayanya yang besar. Upaya-upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan potensi tersebut dapat dilakukan melalui (a) teknik budidaya (aplikasi teknologi benih, pest control management, dan teknologi pascapanen) yang baik dan terjangkau bagi petani-petani berskala kecil, (b) pengembangan industri hilir rempah untuk meningkatkan nilai tambah dan sekaligus kualitas produk rempah, dan (c) penggunaan bursa komoditas sebagai sarana mengurangi fluktuasi harga rempah, ketidakkontinuitasan bahan baku, dan memberikan kepastian dalam berproduksi. Selain itu intensitas persaingan rempah yang cenderung menurun harus tetap diperhatikan oleh pemerintah dengan melakukan perbaikan fasilitasi perdagangan sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing rempah dengan mengurangi dwelling time dan biaya perdagangan rempah dari dan ke pasar Indonesia.

Sektor agroindustri Indonesia sudah memiliki keunggulan komparatif yaitu sumber daya alam yang melimpah dan tenaga kerja yang banyak dan murah. Perlu dilakukan research and development (R & D) agar keunggulan komparatif tersebut menjadi keunggulan kompetitif sehingga menguntungkan bagi devisa negara. Sasaran yang harus dicapai adalah menghasilkan final product yang bernilai tambah tinggi.

Strategi kebijakan untuk meningkatkan daya saing komoditas sektor agroindustri dapat dibuat berdasarkan skala prioritas yaitu penekanan pada akumulasi modal (capital accumulation), akumulasi pengembangan sumberdaya manusia (human resource development accumulation) atau penekanan pada akumulasi teknologi (technological accumulation). Kunci keberhasilan kinerja daya saing komoditas agroindustri di perdagangan global adalah konsistensi serta sinergi yang baik antara kebijakan yang dibuat untuk merangsang perkembangan ekspor melalui inovasi R & D, serta kebijakan yang dibuat untuk melindungi komoditas agroindustri di dalam negeri melalui kebijakan proteksi, subsidi dan bea masuk barang impor.

 

https://9apps.id/