Wanita Lebih Jago Bernegosiasi Saat Berjuang guna Tim

Wanita Lebih Jago Bernegosiasi Saat Berjuang guna Tim

Cara lelaki bernegosiasi ternyata bertolak belakang dengan wanita. Sebuah studi mengenai negosiasi yang dipublikasikan dalam Journal of Consumer Research tahun 2016 memutuskan bahwa pria tak mau untuk berkompromi dalam menggali kata sepakat.

Wanita sendiri ingin dinilai sebagai sosok yang lembut, emosional dan irasional. Sebuah stigma yang buruk guna negosiasi. Sebab dalam proses negosiasi diinginkan untuk berperilaku agresif, sebagaimana yang dipercayai selama ini. Feminin dirasakan bukan sifat yang baik guna proses negosiasi. Begitu jelas peneliti Laura J. Kray dari University California of Berkeley.

Sebaliknya dengan wanita, dalil pria tak mau berkompromi untuk dapat mencapai kesepakatan karena negosiasi antar lelaki akan ingin menjadi adu kekuatan dan sulit baginya guna mau berkompromi, sebagaimana diungkapkan Cait Lamberton, associate professor of business administration dari University of Pittsburgh, Amerika Serikat yang merangkai studi tersebut.

Sebab negosiasi bukanlah sifat maskulin, menurut keterangan dari Hristina Nikolova, asisten penguji studi. Lucunya, pria malah mau bernegosiasi saat berhadapan dengan perempuan atau andai ada perempuan dalam grup ‘lawannya’, yang disebutkan Hristina sebagai Compromise Effect Bias. Sepertinya, lelaki memang tak mau untuk tampak lemah di hadapan sesama pria.

Lalu, mana yang lebih baik, teknik pria atau perempuan yang lebih efektif menjangkau win win solution? Berdasarkan kajian tidak sedikit riset ternyata tidak sedikit wanita malah semakin termotivasi andai merasa tidak sedikit orang yang bergantung nasib kepadanya, bakal membuatnya mendahului pria dalam menjaga apa yang diinginkannya.

Sebagai contoh, dari penelitian Harvard University di Amerika Serikat, bisa jadi eksekutif wanita sukses mendapatkan bonus yang tinggi untuk timnya bakal lebih tinggi ketimbang dilaksanakan oleh eksekutif pria. Begitupun dengan semua politikus perempuan di Amerika Serikat yang secara rutin dapat menjamin finansial yang lebih baik untuk partainya ketimbang yang dilaksanakan oleh politikus pria.

Baca Juga :